Hati Yang Pecah

1158 Kata
Bab 4 Malam ini, Alina hanya akan mencari ketenangan. Gerak laju taksi di Jalan Sudirman, seolah mempercepat kejatuhannya. Lampu-lampu Jakarta yang seharusnya menyambut kepulangannya kini terasa menghakimi. Mereka bersinar terlalu terang, menelanjangi semua ketidaksempurnaan yang baru saja ia temukan. Rasa sakit itu tidak menyerang dalam bentuk tangisan, tetapi dalam mati rasa yang meluas, seperti obat bius lokal yang diberikan di gigi sebelum dicabut. Sebagai auditor, ia telah dilatih untuk menunda emosi, untuk memproses kerugian secara logis. Malam ini, jiwanya mengeluarkan laporan darurat. Raka Sanjaya adalah aset Gagal. Citra Kirana adalah Risiko yang tidak dipertimbangkan. Raka yang menyedihkan, berdiri tanpa daya saat gaun mahalnya robek. Raka yang gemetar saat layar televisinya pecah. Alina memejamkan mata, kilasan adegan perpisahan yang membeku itu kembali muncul, wajah Raka yang memohon, mata Citra yang penuh air mata dan rasa takut. "Kau tidak akan menghancurkan reputasiku hanya karena hal bodoh ini." Suara Raka kembali menggema di kepalanya. Alina mengulum senyum pahit. Kehancuran apa yang bisa dibandingkan dengan fakta bahwa dia harus terbang melintasi benua, bersemangat untuk kejutan yang ternyata adalah hadiah pahit? Reputasi Raka hanyalah serbuk gandum di hadapan gempa bumi. Mati rasa adalah hal terbaik yang pernah ia kenakan. Selama lima belas menit di dalam taksi itu, Alina hanya bernapas, tanpa berpikir. Ia mencintai Raka—tidak. Ia mencintai ide Raka. Ia mencintai kenyamanan dan tatanan yang dibawa Raka ke dalam kotak kehidupan sempurnanya. Sekarang kotak itu pecah, dan ia tidak merasa terlepas. Ia merasa... lega. Lega karena kepura-puraan itu berakhir. Alina mengeluarkan dompetnya, hanya untuk memastikan kartu-kartu di dalamnya. Aku masih punya ini. Aku punya pekerjaanku. Aku punya diriku sendiri. Aku punya segalanya yang Raka pikir bisa dia kontrol dengan kehadirannya yang busuk. Ia membiarkan amarah dingin mengalir. Itu jauh lebih baik daripada kesedihan yang lumpuh. Kemarahan itu memberikan fokus yang brutal. “Pak, berhenti di District 8,” katanya kepada supir taksi, suaranya kembali menemukan nadanya, serak tetapi jelas. “Bar yang di sudut. Yang paling gelap.” Taksi melambat. Lampu neon klub malam berwarna ungu dan merah mulai terlihat. Suara musik house yang kencang, dentuman bass yang menggetarkan kaca. Alina membuka tas tangannya. Ponselnya menyala otomatis saat getaran dihentikan. Ada pesan baru, bukan dari Raka kali ini. Itu dari Citra. “Alina, aku bersumpah aku tidak tahu harus bilang apa. Aku sungguh menyesal. Aku akan pindah, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Kumohon jangan rusak reputasi Raka. Ini salahku.” Alina tertawa keras, tawa yang tidak menyenangkan, yang membuat supir taksi di depan melirik melalui kaca spion. Alina hanya melihat ketidakdewasaan dalam permintaan maaf itu. Citra hanya takut pada konsekuensinya, bukan pada rasa sakit Alina. Ia menekan ikon balas, ibu jarinya bergerak cepat, didorong oleh gelombang emosi yang telah ia tahan selama berjam-jam. "Kau ingin aku tidak merusak Raka? Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjelaskan saat aku di sana. Sekarang, aku tidak punya waktu. Hancurkan dirimu sendiri. Kalian berdua cocok untuk itu." Tekan tombol kirim. Ia tidak lagi mencari penutupan, ia hanya mencari pembersihan. Ia menghapus nomor Citra. Ia menghapus nomor Raka. Semua data tentang dua manusia parasit itu kini dihapus dari memorinya. Taksi berhenti tepat di depan gerbang klub yang dihiasi dengan lampu-lampu gemerlap. “Totalnya enam puluh lima ribu, Nona,” kata supir itu. Alina mengeluarkan selembar seratus ribu tanpa meminta kembalian. “Ambil saja. Terima kasih telah membawaku ke sini.” Dia membuka pintu mobil. Udara malam yang dingin langsung dipotong oleh aroma rokok premium, parfum mahal, dan alkohol yang tumpah. Bising. Sempurna. Tempat ini menjanjikan ketenangan, pelarian sejati dari wanita bernama Alina Prameswari yang memiliki hidup sempurna. Ia melangkah keluar. Gaun hitam minimalisnya membalut tubuhnya dengan anggun, meskipun tatapan matanya tajam dan berbahaya. Penjaga pintu, seorang pria bertubuh besar dengan seragam hitam, membungkuk kecil, mengenali aura wanita berkelas yang baru saja turun dari mobil. Alina bukan mencari perhatian dia hanya tidak tahu bagaimana cara menjadi tak terlihat. Dia duduk di kursi tinggi beludru merah, menjatuhkan tasnya dengan sedikit suara. Sesuatu yang kuat, yang bisa mematikan saklar di kepalanya. Seorang bartender mendekat. “Selamat malam, Nona. Pesanan Anda?” Alina tidak perlu berpikir. Dia butuh sesuatu yang dingin, keras, dan brutal. “Aku mau Double Espresso Martini, tapi dengan sentuhan pribadi,” ujar Alina, matanya mengamati setiap gerakan di sekitarnya. “Ganti vodka-nya dengan yang paling mahal yang kau punya. Jangan pelit dengan takarannya.” Bartender itu, yang tampaknya terbiasa dengan permintaan gila dari wanita-wanita SCBD yang patah hati, hanya mengangguk kecil, menyeringai. “Dengan senang hati. Malam ini kau akan terbang, Nona.” Aku harus terbang. Jauh sekali, batin Alina. Ia meraih tasnya, memeriksa. Ponselnya masih mati. Koneksi dengan dunia nyata telah terputus. Beberapa menit kemudian, gelas martini yang indah dengan busa halus diletakkan di depannya. Aromanya yang pahit dan kuat seperti janji akan kebodohan yang manis. Alina tidak mencicipinya. Ia meneguknya cepat, sekaligus. Rasa kopi pahit bercampur dengan alkohol dingin yang membakar tenggorokannya. Sensasi itu hampir menyenangkan, seperti menampar wajah sendiri untuk memastikan dirinya masih hidup. Dia menaruh gelas kosong itu di meja bar, bunyi benturan itu tajam, mengalahkan musik untuk sesaat dalam pendengarannya. Matanya mulai berkunang-kunang, padahal itu baru tegukan pertama. Mungkin syok dari pengkhianatan itu membuat daya tahannya nol. Lagi, pikirnya. Dia tidak ingin memikirkan Raka. Dia tidak ingin memikirkan Citra. Dan dia pasti tidak ingin memikirkan dr. Gibran Mahesa yang entah kenapa memutuskan untuk meneleponnya malam ini, seperti hantu dari masa lalu yang datang untuk merayakan keruntuhannya. Alina menoleh ke arah bartender itu, yang sedang melayani pasangan di sebelahnya. “Hey!” panggil Alina. Bartender itu menoleh, terkejut dengan nada yang tiba-tiba mendesak itu. “Buatkan aku Whiskey Sour. Double shot. Aku tidak ingin menghabiskan malam ini sendirian dalam kejernihan.” Saat bartender itu mulai menyiapkan minumannya, Alina kembali melirik ke sekitar ruangan. Pesta, tawa, dansa, tubuh berdesakan, nafsu yang mentah. Semua kekacauan yang ia hindari selama ini, kini menjadi penyelamatnya. Dia menatap tumpukan botol premium di rak, berbaris rapi. Begitu banyak botol, begitu banyak cara untuk melarikan diri. Dan malam ini, Alina Prameswari, sang Auditor yang sempurna patah, berniat mencobanya semua. Ketika gelas Whiskey Sour itu diletakkan di tangannya, matanya mulai sedikit buram, tetapi resolusinya mengeras. Dia meminumnya. Kehangatan bourbon, sentuhan asam lemon. Sambil menikmati sensasi terbakar itu, Alina menoleh ke samping. Matanya yang kabur oleh alkohol tiba-tiba bertemu dengan seseorang. Ada seorang pria di sudut bar yang agak tersembunyi. Pria itu baru saja menoleh, dan matanya langsung terkunci pada Alina. Posturnya tegap, mengenakan kemeja putih mahal yang dipadukan dengan blazer gelap, memegang segelas cairan amber di tangannya. Dia tidak berdansa. Dia tidak tertawa. Dia hanya mengamati, seperti makhluk asing di tengah lautan kebisingan. Bahkan dalam kondisi setengah sadar, Alina mengakui ketampanan yang brutal itu. Garis rahangnya tajam, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya… matanya gelap dan tenang, sangat sesuai dengan hiruk pikuk di sekitarnya. Ada sesuatu yang akrab, familiar, tetapi otak Alina terlalu lelah untuk memprosesnya. Dia hanya melihat seorang pria. Pria yang menarik, kuat, dan tampaknya juga sedang mencari pelarian. Mata pria itu tidak menjanjikan kejelasan. Ia menjanjikan bahaya yang...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN