Bab 5
...begitu familier, begitu dekat.
Namun, bahaya sejati Alina Prameswari tidak berada di bilik kaca remang-remang ini, atau pada mata gelap seorang pria asing. Bahaya yang nyata adalah sisa-sisa yang menunggu di apartemen sunyi, di mana puing-puing hidup yang sempurna masih mengambang di udara, menunggu untuk dibersihkan. Keheningan pasca-badai yang mengunci napas, mencekiknya.
Ia berhenti. Kakinya terasa menempel ke lantai marmer yang dingin. Matanya, yang sebelumnya mengamati bartender dengan tatapan mendesak, kini hanya melihat kabut.
Bukan. Ini tidak benar. Dia tidak boleh di sini.
Bukan ini yang seharusnya terjadi sekarang. Babak kehancuran Raka harus diselesaikan di tempat ia dimulai di apartemennya sendiri.
Sebuah lonjakan amarah tiba-tiba membalik perutnya, mengirim gelombang mual dingin yang membekukan darahnya, menolak efek alkohol yang baru saja ia tenggak. Alina berbalik dari bar, melangkah keluar dari dentuman musik. Ia bergerak cepat, meninggalkan Whiskey Sour-nya yang masih separuh penuh, dan gaun minimalisnya berkibar mengikuti gerakan burunya. Pria berblazer gelap itu hanya menoleh sejenak, tatapannya tidak terbaca, sebelum ia kembali memandang ke dalam gelasnya sendiri.
Alina tidak menyewa taksi mewah untuk kembali. Ia hanya berlari, keluar dari kawasan Senopati, menembus bayangan Jakarta yang bermandikan neon. Pikirannya kosong dari rencana; hanya ada kebutuhan brutal untuk kembali, untuk mengakhiri apa yang telah ia mulai.
Tiga puluh menit kemudian, ia tiba di lobi apartemennya yang berkelas. Ia melewati lobi dengan cepat, mengabaikan senyum sopan petugas keamanan. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena kelelahan berlari, melainkan karena energi murni yang terbuat dari amarah murni.
Saat pintu unit apartemennya tertutup dengan bunyi klik yang tajam, semua kepura-puraan akhirnya terlepas.
Di sana, di tengah ruangan yang pernah menjadi kuil kebahagiaannya, semua sisa Raka Sanjaya tergeletak seperti bukti kriminal. Cangkir kopi yang belum dicuci, kemeja mahal yang dilipat sembarangan, dan bingkai foto—foto yang menampilkan senyum palsu di bawah tatapan mata yang penuh pengkhianatan.
Alina maju satu langkah, dua langkah. Kaki jenjangnya tersandung pada sisa serpihan kristal yang pecah saat ia menampar wajah Raka tadi.
Aku tidak akan menangis.
Kata-kata itu, mantra internal yang ia ulangi sejak malam ia menemukan tubuh dingin ayahnya, kembali terulang. Menangis adalah mengakui kekalahan. Menangis adalah memberi Raka dan Citra kekuatan bahwa mereka bisa menghancurkannya.
Tiba-tiba, ia melihatnya. Jam tangan mahal pemberian Raka yang tergeletak di nakas. Jam tangan yang selalu ia pakai saat menghadiri pertemuan dewan, melambangkan status mereka. Jam tangan itu memancarkan kilau di bawah cahaya malam, mengejeknya dengan kemewahan palsu.
Sebuah dengusan kecil keluar dari tenggorokan Alina. Ia mengambil jam itu, memandangnya sebentar—berat, dingin, penuh kepalsuan.
Ia mengayunkan tangannya, melemparkannya sekuat tenaga ke dinding. Suara brak!, jam itu menabrak permukaan keras, rantainya terlepas, dan kristalnya pecah, jatuh ke lantai. Fragmen-fragmen waktu yang rusak. Sempurna.
Sensasi kebebasan yang brutal menyeruak. Itu jauh lebih baik daripada mati rasa.
Pandangannya kemudian tertuju pada bingkai foto pernikahan sahabatnya yang diletakkan Raka di rak buku. Citra dan suaminya, tersenyum. Sebuah ironi yang menjijikkan.
Alina meraih bingkai itu. Bingkai dari perak murni yang sangat berharga bagi Citra.
“Kau kira aku tidak berani menghancurkan milikmu?” bisiknya, suaranya parau oleh luapan adrenalin. “Kau menghancurkan hidupku, Citra. Aku tidak punya apa-apa lagi yang perlu dilindungi.”
Ia membanting bingkai itu ke meja kopi kaca. Suara pecahan itu begitu memekakkan telinga. Kaca hancur berkeping-keping. Kaca meja. Kaca foto. Kebenaran yang pecah menjadi pecahan tajam yang tidak bisa dirangkai lagi.
Tangan Alina berdarah. Setetes darah merah pekat mengalir di telapak tangannya yang menggenggam bingkai perak yang bengkok itu. Dia bahkan tidak merasakannya.
Amuknya meningkat, tak terbendung. Ini bukan lagi tentang Raka, bukan lagi tentang Citra. Ini tentang kemarahan terhadap dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa begitu bodoh? Begitu yakin pada kepalsuan? Tujuh puluh dua jam lalu, ia berada di Singapura, percaya ia memiliki semua kendali atas nasibnya. Kini ia berdiri di tengah reruntuhan yang diciptakannya sendiri.
Dia menuju dapur. Area itu harus dibersihkan. Itu adalah domain bersama mereka, tempat mereka biasa memasak makan malam pada hari Jumat. Tempat Raka berjanji untuk pensiun dan membangun rumah impian mereka di Bali.
“Rumah impian?” Ia mengulang, suaranya serak. “Kebohongan.”
Alina meraih piring keramik kesukaan Raka, yang bertuliskan kata-kata "Mr. Perfect." Dia telah membelinya sebagai hadiah ulang tahun pertama mereka, sebagai lelucon, merujuk pada sifat Raka yang terlalu terorganisir.
Piring itu dilemparkan ke lantai. Kali ini, suaranya lebih tebal, lebih tumpul, diikuti oleh gemeretak banyak pecahan kecil.
Setelah piring, gelas anggur yang baru ia beli dari Eropa, bantal sofa tempat Raka sering tertidur saat menonton pertandingan bola, mantel musim dingin yang masih tergantung di dekat pintu—semua dilempar, diseret, dan dirobek.
Dia mengambil sekantong surat cinta yang pernah ditulis Raka—semua janji manis tentang masa depan, masa depan yang tidak pernah ada—dan merobeknya dengan kedua tangan, lembar demi lembar, merobek tinta dan kertas seperti merobek kulitnya sendiri.
“Tidak akan ada masa depan bersamamu,” raungnya. Hanya ada gema. Hanya ada keheningan yang tersisa setelah dentuman pecahan kaca terakhir.
Ketika napasnya terengah-engah dan energinya habis, Alina kembali ke tengah ruangan, terhuyung. Ia berdiri di sana, dikelilingi oleh bukti fisik dari keruntuhannya serpihan kayu, kaca yang berkilauan seperti salju hitam, pakaian robek, dan bau tembaga samar dari darahnya yang mengering di tangannya.
Dia telah menghancurkan semua bukti.
Dia jatuh berlutut di tengah kekacauan, mengabaikan serpihan kaca di bawah lututnya. Gaun mahalnya, gaun yang seharusnya merayakan kepulangannya, sekarang berlumuran debu dan beberapa bercak darah.
Tidak ada alasan untuk bertahan.
Barulah saat itulah, setelah badai amarah mereda, ia merasakan kekosongan yang mengerikan.
Air mata. Akhirnya, air mata itu datang. Bukan tangisan histeris, melainkan tetesan air mata panas yang mengalir di pipinya, membasahi debu dan kotoran. Tangisan yang ia tahan sejak pagi buta. Tangisan karena pengkhianatan yang terlalu dalam untuk diukur, dan kehilangan atas masa depan yang ia bangun dengan begitu cermat.
Tiba-tiba, sebuah suara asing menusuk keheningan.
Dering telepon.
Bukan ponselnya. Ponselnya ia matikan, ditinggalkan di tas tangan. Suara itu berasal dari mantel yang ia lemparkan ke sofa. Sebuah mantel yang ternyata disampirkan Raka sebelum ia diusir. Suara asing itu, nada dering kantor yang jarang digunakan, memanggil lagi.
Alina terhuyung, berjuang untuk berdiri, berjalan melewati reruntuhan ke sofa. Dia merogoh saku mantel Raka yang mahal itu, menarik ponselnya.
Layar bercahaya, menampilkan sebuah nama.
Ibu.
Bukan ibu Alina, tetapi ibunda Raka. Wanita yang begitu menghormati Alina, wanita yang selama tiga tahun terakhir selalu bertanya kapan ia akan dipanggil mertua. Alina membiarkan ponsel itu berdering. Apa yang akan dia katakan? Bahwa putranya adalah pecundang? Bahwa hidup yang ia rencanakan hancur karena nafsu bodoh di atas seprai yang baru dibeli?
Ia mematikan deringnya. Ia melempar ponsel Raka ke dalam sisa-sisa mangkuk buah di meja kopi, memastikan benda itu mendarat tepat di antara serpihan kaca.
Lalu, hening. Sunyi yang mematikan.
Alina kembali merosot ke lantai, punggungnya menyentuh dinding yang dingin. Ia kelelahan. Terkuras habis. Kepalanya pusing bukan karena alkohol, tetapi karena kepedihan yang meluas. Dia menutup mata.
Apa selanjutnya?