Alina mundur, dua langkah. Ketukan di pintu itu berhenti. Digantikan oleh keheningan yang lebih hening dari yang sebelumnya. Gibran Mahesa hanya menunggu. Dan penantiannya terasa seperti menarik ke konflik yang baru.
“Tidak,” bisik Alina, menggelengkan kepalanya dengan kuat, “Aku tidak akan bicara denganmu!"
Apartemen itu sekarang terasa sesak, berbau darah kering, alkohol, dan keputusasaan. Setiap pecahan kaca mencerminkan jiwanya yang hancur. Ini bukan lagi tempat tinggal ini adalah kuburan bagi masa depan yang ia rancang. Jika Gibran sudah tahu ia di sini, ia tidak punya pilihan lain selain lari.
Alina meraih ponselnya lagi, jari-jarinya yang kotor dengan debu dan darah gemetar di atas layar. Ia menekan nomor Santi, sahabatnya yang tadi mengirim pesan. Santi adalah stabilitas, Santi adalah tempat pelarian.
Panggilan itu tersambung di dering kedua.
“Alina!” Suara Santi di seberang terdengar panik dan lega. “Astaga, syukurlah. Kau tidak membalas pesanku. Aku hampir menelepon keamanan apartemenmu. Bagaimana, apakah kau baik-baik saja?”
Alina menarik napas dalam-dalam. Upaya yang gagal. Suaranya pecah saat ia menjawab.
“Tidak, San. Aku… tidak baik-baik saja,” ucapnya, hampir tak terdengar.
“Ya Tuhan. Dengarkan aku,” suara Santi beralih menjadi suara komandan yang tegas, suara yang sangat dikenal Alina dari proyek-proyek auditor yang genting. “Jangan katakan apa-apa. Jangan menangis. Jangan pikirkan Raka, jangan pikirkan Citra. Itu tidak pantas. Sekarang, ambil kunci mobilmu. Aku sudah menunggu di… Tidak, tunggu. Lebih baik kau naik taksi. Jangan mengemudi dalam kondisi seperti itu. Kami akan ke Senopati. Bar ‘Whisper’s Corner’. Kita akan minum sampai kau lupa namamu sendiri.”
Alina menunduk, mengamati noda darah di gaun slip dress-nya. Ini adalah gaun yang ia pakai dengan gembira saat turun dari pesawat tadi pagi, gaun yang seharusnya ia pakai saat memeluk Raka.
“Aku… aku tidak bisa, San. Aku—ruanganku berantakan. Aku tidak sanggup bergerak,” gumam Alina. Kelelahan yang brutal membebani setiap persendiannya.
“Berantakan? Biarkan saja. Biarkan kekacauan itu jadi pemandangan bagi Raka jika dia kembali. Alina, dengarkan aku baik-baik,” suara Santi melembut sedikit, ada nada kesakitan yang tulus di dalamnya. “Kau di ambang jurang kehancuran. Kalau kau tetap di sana, kau hanya akan tenggelam dalam amarahmu. Kau tidak pantas untuk dihancurkan oleh pria pecundang itu.”
Santi berhenti, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih menggoda. “Malam ini, kau bukan lagi Alina Prameswari si wanita sukses. Malam ini, adalah masalahmu. Malam ini kau keluar dan minum bersama kami, lupakan masalahmu, dan cari alasan untuk kembali menjadi manusia normal. Ada Tania dan Vania juga. Kita tunggu. Lima belas menit. Bersihkan darah di tanganmu, dan jangan lirik apartemen tetangga yang membuatmu sebam itu.”
Pernyataan terakhir itu membuat Alina tersentak.
“Tetangga? Kenapa kau sebut tetangga?” tanyanya, suaranya kembali menjadi waspada, kaku.
“Ya ampun, Lin. Semua orang tahu kau dan Raka pindah ke apartemen SCBD, dan beberapa bulan lalu dr. Gibran Mahesa juga pindah ke unit di sebelahmu. Mereka gosip—tunggu, kau tidak tahu? Kau benar-benar tidak pernah bertemu dengannya?” Santi terdengar terkejut.
Alina menutup mata. Tentu saja, Gibran. Ia baru tahu Gibran tetangganya kurang dari dua puluh menit yang lalu. Tetapi mengetahui bahwa seluruh lingkaran sosial mereka juga menyadari Gibran berada persis di sebelah unit Raka membuat situasinya jauh lebih buruk, dan itu terasa seperti pengkhianatan lain.
“San, dia… dia baru saja mengetuk pintu.”
Ada jeda yang panjang dan berat di seberang sana.
“Astaga. Apa yang dia mau?” tanya Santi dengan suara tertahan.
“Aku tidak tahu. Aku tidak membuka pintu. Itu… itu lebih baik. Itu tidak akan terjadi. Kami tidak akan bicara. Dia milik orang lain. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama dua kali. Aku harus pergi, San. Sekarang,” ujar Alina, dorongan untuk melarikan diri tiba-tiba menguat, jauh melampaui rasa lelahnya. Gibran adalah alasan yang sempurna. Jika dia pergi, Gibran akan pergi.
Santi terdengar menarik napas lega. “Bagus. Itu kau yang kukenal. Jangan pernah menghadapi hantu di tengah reruntuhanmu. Tinggalkan saja tempat itu. Oke. Kita bertemu di Whisper’s. Segera.”
Panggilan berakhir. Alina menatap layar ponsel, kemudian menatap reruntuhan. Keputusan telah dibuat.
Dengan sisa tenaga, Alina menuju kamar mandi. Air hangat yang mengalir membersihkan debu dan darah di telapak tangannya. Dia membersihkan pecahan kaca dari lukanya. Wajahnya di cermin adalah bayangan asing yang tampak pucat, mata sembab.
Dia melepas gaun kotor itu dan mengenakan dress hitam polos yang ia temukan di lemari, salah satu yang paling minimalis dan tertutup. Iatidak ingin terlihat malam ini.
Sebelum keluar, Alina melakukan satu hal terakhir. Ia menuju pintu. Bukan untuk membukanya, melainkan untuk melihat kunci ekstra yang ia taruh di rak dekat pintu—kunci cadangan Raka.
Alina ke tempat ia menghancurkan piring Raka. Alina membuka jendela yang tertutup, membiarkan sedikit angin malam Jakarta yang pengap masuk, seolah untuk memberi ruang pada kekosongan.
Dengan gerakan tanpa emosi, ia mengangkat kunci cadangan itu tinggi-tinggi. Ia membiarkan bayangan dari lampu jalan menelan bentuknya.
“Kau tidak akan kembali ke sini,” katanya kepada Raka yang tidak ada. “Kau sudah keluar. Kau tidak diundang masuk lagi.”
Alina mengayunkan tangannya, sekuat tenaga ia melemparkan kunci itu. Bukan ke dinding, melainkan ke luar jendela apartemen, dari lantai lima belas, jatuh bebas ke kegelapan belantara beton Jakarta Selatan.
Dia menarik napas lega. Selesai. Setidaknya satu pintu telah tertutup selamanya.
Ponselnya berdering lagi. Sebuah pesan teks dari Santi. “Kami sudah sampai. Ayo cepat. Jangan biarkan dia menunggumu lagi.”
Alina meraih tasnya, menekan dompet dan kunci mobil yang takkan ia pakai. Kunci apartemen di saku gaun hitamnya terasa berat—satu-satunya hal yang ia miliki yang tersisa.
Dia berbalik dari apartemen yang telah menjadi petaka, membiarkan keheningan mengisinya. Melarikan diri. Hanya itu yang tersisa. Melarikan diri dari Raka, melarikan diri dari Gibran, melarikan diri dari dirinya sendiri.
Ia membuka pintu, melangkah keluar, dan mengunci pintu dari luar, tidak repot-repot menoleh. Koridor yang sunyi dihadapinya. Hanya beberapa meter memisahkannya dari lift, dan beberapa meter pula memisahkannya dari unit di sebelahnya.
Dia berbalik, mengambil langkah pertama yang panjang di atas karpet mewah yang menyerap suara langkahnya. Alina bergerak cepat, bertekad untuk sampai di lift, pergi, dan tidak pernah melihat ke belakang. Tetapi bahkan sebelum dia bisa mencapai titik aman itu, tepat di ujung koridor, di persimpangan yang menuju ke arahnya.
Pria itu memandangnya, matanya yang tajam dan gelap menyapu gaun hitamnya, rambutnya yang acak-acakan, dan luka yang baru dibalut di tangan kanannya. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan kejutan, seolah-olah dia telah tahu Alina akan keluar. Jantung Alina terlonjak ke tenggorokan.
Itu adalah Gibran Mahesa. Bukan lagi tetangga misterius, bukan lagi hantu masa lalu, melainkan fisik nyata yang kini menghalangi jalannya.
Gibran Mahesa maju satu langkah, dua langkah, mengisi ruang di koridor yang sebelumnya terasa begitu luas. Dia terlihat bahkan lebih tinggi dan lebih dingin dari yang Alina ingat dari pertemuan singkat di taksi tadi.
Alina memaksakan dirinya untuk berjalan melewatinya, untuk mengabaikannya sepenuhnya. Dia harus melewati pintu lift, mencapai dunia luar, dan menghindari percakapan ini dengan biaya berapa pun. Ini bukan waktunya untuk cinta masa lalu, atau tanggung jawab tetangga. Dia butuh alkohol.
Saat Alina berpapasan, Gibran berhenti. Matanya terkunci pada matanya. Dan dia berbicara, suaranya dalam dan pelan, menggetarkan keheningan koridor itu.
“Alina. Aku melihatmu kembali dari bar tadi. Apa yang terjadi denganmu—,”
“Bukan urusanmu, Dokter,” potong Alina dingin.
Gibran mengabaikannya, tangannya terangkat bukan untuk menyentuh, hanya untuk menahan laju perginya.
“Kau berdarah. Kau juga berteriak keras. Semua orang di koridor tahu sesuatu yang buruk terjadi di unitmu. Aku tidak ingin ikut campur, tetapi sebagai sesama penghuni, aku harus—”
“Jangan pura-pura peduli!” sentak Alina. Kata-kata itu keluar dengan dorongan amarah yang tiba-tiba. “Kau bukan tetangga yang peduli, Gibran. Kau—,”
Tiba-tiba, mata Gibran berubah. Ketegasan seorang dokter di wajahnya mencair menjadi ekspresi yang lebih lembut, lebih manusiawi, ekspresi yang langsung membuat hati Alina perih karena mengingatkannya pada Gibran yang dulu, Gibran yang menolaknya.
“Kau benar. Ini lebih dari sekadar urusan tetangga. Aku melihat namamu di daftar unit. Aku tidak menyangka… tapi sekarang setelah kau di sini, aku rasa ada sesuatu yang harus kita selesaikan. Mengenai apa yang terjadi sepuluh tahun lalu. Aku minta maaf atas apa yang kulakukan padamu waktu itu, Alina, tetapi malam ini, saat aku mendengar suaramu—”
Gibran menghentikan kata-katanya, memandang Alina dengan sorot mata yang menyiksa.
“Aku harus tahu. Aku harus memastikannya. Kenapa kau hancur seperti ini?”
Air mata baru kembali menusuk mata Alina, bukan karena Raka, tetapi karena kenyataan bahwa cinta pertamanya, pria yang menikah dengan orang lain, kini berdiri di sana, mencoba menyelamatkannya. Itu adalah belas kasihan, dan Alina membencinya. Dia membenci belas kasihan Gibran.
“Pergilah. Aku harus pergi sekarang. Aku harus—”
“Ke mana kau pergi, jam segini, dalam kondisi ini? Aku seorang dokter, Alina. Aku bisa tahu kau sedang di ambang batas.” Gibran berbicara dengan nada yang sangat tegas, menghalangi pintu lift yang menjadi satu-satunya jalur pelarian Alina. “Berikan ponselmu. Aku akan menelepon temanmu dan mengatakan bahwa kau perlu waktu sendiri. Kemudian aku akan mengantarmu."