Indira baru keluar dari kamar, sedangkan Reyhan sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan bersama.
"Kamu nanti berangkat jam berapa?"
"Aku berangkat agak siang, ada apa, Ma?"
"Kebetulan, nanti mama nebeng mobil kamu ya, sekalian anterin ke cafe langganan mama. Nanti mau ada arisan sama teman-teman."
Reyhan mengangguk tanda setuju, setelah sarapan Rey kembali ke ruang kerja melanjutkan aktivitasnya. Sedangkan Indira kembali ke kamar untuk bersiap-siap.
Pukul 10, Rey melajukan mobilnya mengantar Indira ke sebuah cafe, kemudian langsung berangkat ke kantor.
Indira masuk ke dalam cafe, pandanganya menyisir seluruh ruangan mencari keberadaan teman arisannya. Salah satu dari mereka melambaikan tangan memberitahu keberadaannya.
Indira tersenyum, dengan langkah anggun berjalan menghampiri mereka.
"Kalian sudah lama menunggu ya? maaf telat, tadi jalanan agak macet," ujarnya memberi alasan.
"Enggak kok, kami juga baru datang."
Mereka memesan beberapa camilan, sebelum memulai arisan. Karena keasyikan mengobrol, tak terasa waktu cepat berlalu.
Dua jam kemudian, ketiga teman arisan Indira pulang lebih dulu. Menyisakan Indira dan Dewi di sana, mereka berdua memutuskan untuk makan siang bersama sekalian berbincang.
"Kamu sudah tahu belum, Mbak? ternyata putriku bekerja di kantor putramu."
"Aku sudah tahu, justru aku yang menyuruh Rey untuk memperkerjakan Lisa. Lisa itu anak yang cerdas dan juga rajin, aku merasa dia itu cocok jadi sekertaris Rey. Aku juga sudah menganggap Lisa seperti putriku sendiri."
"Aku malah baru tahu kemarin, tak terasa ya, mereka sudah besar dan bisa akur. Biasanya jika bersama mereka selalu bertengkar."
Keduanya tertawa, saling menceritakan kekonyolan anaknya di masa lalu.
Indira dan Dewi berdiri, hendak keluar setelah membayar makanan. Tapi dia mengurungkan niatnya, begitu melihat seseorang yang di kenalnya sedang bergelayut manja di lengan seorang pria. Dia menarik tangan Dewi agar kembali duduk di kursi, jari telunjuknya menyentuh bibir mengisyaratkan untuk diam.
Pria dan wanita itu duduk tepat di belakang Indira, cukup lama mereka menguping tapi tak ada pembicaraan berarti. Hanya terdengar rengekan manja si wanita minta ini dan itu. Hingga akhirnya terdengar kalimat yang membuatnya naik pitam.
"Apa si pecundang itu tidak memberikan uang padamu?" tanya si pria.
"Dia itu perhitungan, dan kamu tahu? mamanya itu cerewet sekali, menyuruh aku menikah dengan anaknya. Aku sampai kesal, siapa juga yang ingin menikah dengan dia. Aku tuh cuma mau morotin hartanya, nanti kalau sudah habis ya di buang. Seperti biasalah, kamu kan paling tahu gimana sifat aku." Mereka berdua saling tertawa, seolah menertawakan kebodohan Rey.
Indira memegang sendok dengan kuat, seolah akan mematahkan sendok itu. Kesabarannya sudah habis.
Dia berdiri hendak menjambak rambut wanita itu, tapi dengan sigap Dewi memegang tangannya kemudian menggeleng.
"Wanita licik seperti itu harus dibalas dengan cara yang halus ... ," ucapnya berbisik.
Setelah mengetahui kebenaran tentang kekasih putranya, Indira mulai bingung memikirkan cara yang tepat memisahkan keduanya.
Sebenarnya setelah arisan, Indira berniat untuk pergi ke butik. Tapi dia membatalkan rencananya, dan memilih pulang ke rumah. Dia mengajak Dewi sekalian mampir, untuk membantunya mencari cara menjauhkan Rey dari Bianca.
"Menurutmu aku harus berbuat apa?"
"Coba, Mbak, bicara pelan-pelan dulu dengan Rey. Buat dia mengerti seperti apa wajah asli pacarnya," ucap Dewi memberi saran.
"Atau langsung nikahkan saja Rey dengan wanita pilihan, Mbak." Timpalnya memberi saran yang lain.
"Bagaimana kalau kita nikahkan saja anak-anak kita? Mereka sudah lama berteman, pasti sudah saling mengenal satu sama lain."
"Nggak bisa, Mbak, bukanya saya tidak setuju. Masalahnya Lisa itu sudah menganggap Rey seperti kakak kandungnya, dia tidak akan setuju dengan pernikahan ini," jawabnya beralasan. Sebenarnya dia tidak mau jika Lisa menikah karena terpaksa, dia ingin Lisa bahagia dengan pilihannya.
Dewi pun pamit pulang, karena sudah sore. Indira duduk di sofa, menunggu Rey pulang sambil memikirkan berbagai cara.
Dia menghubungi Vita, menyuruhnya membawa kunci karena tidak bisa datang ke butik. Teringat ucapan Bianca, tiba-tiba kepalanya berdenyut hebat.
"Mbok ... Mbok Jah, tolong buatkan saya wedang jahe campur lemon. Antar ke kamar, nanti sekalian pijitin kepala saya."
"Baik, Bu".
Mbok Jah langsung masuk ke kamar Indira yang pintunya memang sudah terbuka. Meletakkan gelas berisi wedang jahe dan lemon di meja samping tempat tidur, mulai memijat kepala majikanya.
"Sungguh sial nasibmu Rey, harus memiliki hubungan dengan wanita berbisa seperti Bianca. Mama pastikan kalian akan berpisah, akan Mama Carikan wanita yang tepat untukmu." Batinnya bicara pada diri sendiri penuh tekat.
"Sudah cukup, Mbok, aku mau istirahat dulu."
"Baik, Bu, kalau begitu mbok keluar dulu."
Indira menganggukkan kepala dengan mata terpejam, menanggapi ucapan Mbok Jah.
Indira bangun, meminum wedang hangat. Berharap bisa sedikit meredakan rasa sakit di kepalnya.
Dia berjalan menuju kamar mandi, berniat membersihkan diri. Saat keluar dari kamar, ternyata Mbok Jah sudah selesai memasak. Dia membantu menata beberapa makanan di meja. sambil menunggu putranya pulang.
Sesaat kemudian terdengar suara mobil putranya memasuki halaman.
"Ma, aku pulang." Reyhan menghampiri tempat duduk Indira, kemudian mencium keningnya.
"Sudah sana mandi dulu, setelah itu kita makan bersama. Jangan lama-lama."
"Iya, Ma," ucap Rey berjalan masuk ke kamar.
Rey keluar dengan baju santai, hanya memakai celana jeans dan kaos oblong. Dia menarik kursi, duduk di samping Indira.
"Rey ... ," panggil Indira.
"Hm ...." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulutnya, karena dia sedang mengunyah makanan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Bianca?"
"Hubunganku baik-baik saja, Ma. Ada apa kok tumben?" Rey balik bertanya pada Indira. Dia meletakkan sendoknya, menghentikan aktivitas makanya dan menatap Indira.
"Jika harus memilih untuk percaya, kamu lebih percaya Bianca atau Mama?"
"Kenapa Mama menanyakan hal seperti itu? Ada apa sebenarnya?" tanya Rey dengan sorot mata kebingungan.
"Tadi saat di cafe, Mama melihat Bianca bermesraan dengan seorang pria. Dia hanya memanfaatkan kamu saja, Rey. Kamu harus memutuskan hubunganmu dengannya."
"Mama jangan bercanda, mungkin Mama salah lihat. Bianca tidak seperti itu, dia gadis yang baik."
"Buka mata kamu, Rey. Kamu hanya pria yang di butakan oleh cinta, Mama tidak akan pernah setuju kamu menikah dengan wanita ular itu."
"Cukup, Ma! Bukanya kemarin Mama yang menyuruh Rey segera menikah? Kemarin juga Mama sangat setuju dengan pilihan Rey, tapi sekarang apa?" tanya Rey, dengan nada suara mulai meninggi.
"Kemarin Mama telah salah menilai dia, Mama pikir dia wanita baik-baik. Ternyata semua sikapnya kemarin hanya pura-pura. Mama mohon, kamu tinggalin dia ya? dia itu nggak pantas buat kamu."
Indira mulai meneteskan air mata, hanya itu satu-satunya cara agar Rey mau mendengarkan omongannya. Indira tahu Rey tidak akan sanggup melihatnya menangis.
"Aku nggak bisa, Ma." Rey beranjak dari kursinya meninggalkan meja makan.