Bab 7

1049 Kata
Ketika akan berangkat kerja, Rani mendapati tiga orang pria sedang berdiri di depan kontrakan. Salah satu dari mereka ialah Pak Imam, si rentenir kejam, dia buru-buru menutup pintu, tapi sayangnya salah satu anak buah Pak Imam melihatnya. "Lihat, Bos, dia ada di rumah," ucap orang yang bertubuh besar dan berkulit hitam. Menunjuk pintu yang tertutup kembali. Rani panik, dia segera mengunci pintu dan berlari masuk ke kamar. Dia mengambil ponselnya, coba menghubungi nomor Vita. "Ayo angkat telponnya," batin Rani gelisah. Menggigit ujung kuku jempol tanganya, berjalan mondar-mandir di dekat pintu. Wajahnya terlihat pucat, keringat dingin mulai keluar, menuruni punggung, membuat baju kerja yang dia kenakan mulai basah. "Aku masih di jalan sebentar lagi sampai." Terdengar suara sambungan terputus. Rani coba menghubungi nomor Vita lagi, kali ini langsung diangkat. Dia langsung menjauhkan ponselnya dari telinga, begitu terdengar ocehan dari sabatnya. "Aku kan sudah bilang sebentar lagi sampai, jangan telpon terus dong!" semprot gadis cantik bersuara cempreng itu. "Maaf, ini darurat. Kamu jangan jemput aku, di depan rumah ada rentenir dan anak buahnya. Aku harus bagaimana ... ?" tanya Rani dengan suara lirih, setengah berbisik. "Kamu tunggu di situ dulu, jangan keluar. Aku akan cari bantuan." "Rani, keluar kamu!" teriak Pak Imam. Kini, suara yang awalnya hanya ketukan dan teriakan, berubah menjadi suara gedoran dan makian yang seolah ingin merobohkan pintu. "Keluar kamu! Atau saya dobrak pintunya!" Tubuh Rani seketika menegang mendengar ancaman Pak Imam. Dia jatuh terduduk di lantai, tak hentinya berdoa, berharap Vita bisa menolongnya. Brakk! Tiba-tiba terdengar suara pintu depan yang dibuka dengan paksa. Kedua anak buah Pak Imam masuk, menggeledah seluruh ruangan, mencari keberadaan Rani. Tibalah mereka di sebuah kamar yang terletak di dekat dapur. Salah satu dari anak buah Pak Imam yang bernama Joko mencoba membuka pintu itu, namun terkunci. "Buka pintunya anak manis," suruh Joko. Pak Imam yang awalnya menunggu di luar, kini ikut masuk. Dia menyuruh Joko untuk melakukan tugasnya dengan cepat. "Sudah, kamu dobrak lagi saja pintunya. Anak ini memang keras kepala, buang-buang waktu. Mami sudah tidak sabar, ingin melihat tambang emasnya." Joko mengangguk, keduanya segera membuka pintu kamar Rani dengan paksa. Rani kaget, matanya membulat syok, dia seperti mengalami Dejavu, tak percaya dengan apa yang terjadi padanya sekarang. Joko dan Beni masuk kedalam kamar, Manarik tangan Rani dengan kasar memaksanya keluar. Sekuat tenaga dia berontak, tapi sia-sia. Tenaganya tak sebanding dengan kedua orang yang menariknya. "Lepaskan saya, Pak. Beri saya waktu lagi, saya berjanji akan segera melunasi hutang itu," ucap Rani mengiba. Tapi Pak Imam tak perduli dengan permintaan Rani. Kedua anak buahnya tetap menarik tangan Rani dengan paksa, menyeretnya ke mobil. Matanya terasa panas dan pandanganya mulai berkabut, tak terasa air mata yang ditahannya dari tadi, kini mulai menetes. Banyak yang melihat kejadian itu, bukanya menolong, mereka malah menonton dan saling berbisik. Saat ini dia merasa sendirian, benar-benar sendiri. "Ya Tuhan, kenapa begini? Apakah harus berakhir seperti ini? Seseorang, tolong selamatkan aku." Rani membatin. Perasaanya campur aduk. Antara malu, takut, marah, sedih, kecewa, semua rasa itu berkumpul menjadi satu, dan hanya terwakilkan oleh air mata. Joko memaksa dan mendorong tubuh Rani untuk masuk kedalam mobil. Akan tetapi Rani dengan susah payah menahan tubuhnya, bersandar pada badan mobil, kedua tangannya berpegang pada pintu dengan kuat. "Cepat masuk, gadis sialan. Jangan sampai aku berbuat kasar padamu!" Beni berucap dengan nada kasar menggeram. Menarik tubuh Rani dari dalam. "Hentikan! Apa yang kalian lakukan pada calon menantuku?" teriak wanita paruh baya yang tak lain adalah Indira, dia berjalan dengan angkuhnya menuju mobil Pak Imam. Semua orang yang ada di situ dibuat kaget oleh ucapannya. Terlebih lagi Angga dan Vita yang datang bersama dirinya. "Menantu ...," ucap keduanya bingung, mata mereka saling tatap seolah bertanya satu sama lain. Sebuah tamparan, mendarat tepat dimuka Joko yang sedang berdiri di dekatnya. "Berani sekali kamu menyentuh calon menantuku." Sekali lagi dia melayangkan tamparannya pada Joko. Pak Imam yang melihat kegaduhan itu, turun dari mobil. Dia mendekati Indira, bertanya dengan gaya yang tak kalah sombong, "Kamu siapa? berani-beraninya buat masalah di sini. Ini wilayah saya." "Kamu sudah mengganggu calon menantuku, lepaskan dia. Aku akan melunasi seluruh hutangnya. Berapa hutang Rani padamu?" "Hutang beserta bunganya, 70 juta." "Ini, 100 juta. Ambil sisanya, anggap saja ongkos untuk ke neraka. Dasar lintah darat, cuih." Indira melempar selembar cek kemuka Pak Imam, kemudian meludah di sampingnya. Direndahkan seperti itu, sebenarnya Pak Imam merasa marah. Tapi dia menahannya, dia tidak perduli lagi dengan harga dirinya, memungut cek yang terjatuh ketanah dengan cepat. Seperti seekor anjing kelaparan yang menemukan daging. Dia mengibaskan tangan, memberi isyarat untuk melepaskan Rani. Joko segera mendorong Rani keluar dan masuk kedalam mobil. Melihat tubuh Rani yang akan terjatuh, Angga dan Indira segera menahannya . Angga menggendong tubuh Rani, dan membawanya masuk kedalam. Wajahnya terlihat pucat, Vita segera ke dapur untuk mengambilkan Rani segelas air. "Terimakasih ya, kalian sudah menolongku." Rani pingsan setelah berterima kasih pada mereka. "Kalian kembalilah dulu ke butik, Rani biar saya yang jaga. Ada hal yang ingin saya bicarakan padanya." "Tapi, Bu ...," ujar Angga keberatan dengan perintah Indira. "Baik, Bu." Vita mencubit lengan Angga dan menariknya keluar. Mengajaknya kembali ke butik. Indira mengamati kontrakan Rani, memandang dinding yang sudah rusak dan beberapa perabotan rumah yang jauh dari kata layak. Beberapa saat kemudian, Indira kaget karena Rani tiba-tiba saja mengigau. "Lepaskan, lepaskan aku," ucapnya, setengah meracau tidak jelas. Indira berusaha membangunkan Rani, tapi dia kaget saat menyentuh pipi Rani yang terasa panas. "Ya ampun, dia demam." Indira segera memanggil sopir taksi yang menunggu di depan gang, menyuruhnya mengangkat Rani. Segera membawanya ke rumah sakit. "Ibu tidak perlu khawatir, tidak ada masalah serius. Dia hanya syok, istirahat beberapa hari akan memulihkan kesehatannya." "Baik, Dok. Terimakasih." Dia duduk di samping ranjang Rani, memegang tangannya. Merasa iba dengan kehidupan Rani. Hari pun mulai larut, dia memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum itu dia sudah menghubungi Vita dan menyuruhnya untuk menemani Rani di rumah sakit. Begitu Vita dan Angga tiba, Indira langsung pulang. Dan menitipkan Rani kepada mereka. Setibanya di rumah, saat berpapasan dengan Rey, Indira malah memalingkan muka ke arah lain. "Mama sudah makan? kok pulang malem banget?" tanya Rey yang melihat Indira seolah tak peduli padanya. Bukanya menjawab pertanyaan Rey, Indira malah balik bertanya, "Apa kamu masih menganggap aku sebagai Mama?" Rey tercengang mendengar pertanyaan Mamanya, dia masih berdiri mematung ditempatnya. Sedangkan Indira masuk kedalam kamar, tanpa perduli sedikitpun pada Rey.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN