Bab 8

1070 Kata
Setelah semalan pingsan, Rani mulai sadar. Dia membuka mata dan mengerjapkannya beberapakali, untuk memulihkan penglihatannya yang sedikit buram. Hal pertama yang dilihatnya adalah ruangan bernuansa putih, dan aroma obat. Matanya menelusuri seluruh ruangan, Rani baru sadar jika dia sedang berada di rumah sakit. Rani berusaha bangun, "Auw!" pekiknya. Dia memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. "Kamu sudah sadar, Rani. Gimana keadaanmu, apa sudah baikan?" tanya wanita paruh baya yang baru saja masuk. Dia menoleh, melihat siapa yang sedang bertanya, kemudian menjawab wanita itu dengan sedikit gugup, "Oh, sudah, Bu." Indira datang untuk menggantikan Vita menjaga Rani, karena sudah semalaman Vita menjaganya. Dia menyuruh Vita untuk pulang dan istirahat Dia berjalan mendekat ke tempat tidur Rani, dia meletakkan telapak tanganya ke kening Rani. Memastikan suhu badannya sudah turun. "Bagus, sudah tidak panas lagi. Sekarang kamu sarapan dulu, biar saya suapi." Indira mengambil semangkuk bubur yang ada di meja, mulai menyuapkan benda lembek itu sesendok demi sesendok ke mulut Rani. Baru beberapa suap, Rani mulai meneteskan air mata. Indira yang melihat hal itu, menjadi bingung. "Ada apa, Rani?" Rani tidak menjawab, dia hanya diam dan menundukkan kepala. "Apa ada yang sakit?" tanyanya lagi, karena khawatir dengan kondisi Rani. Rani mengusap air matanya, menatap kearah Indira. Dia tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak ada, Bu. Saya hanya teringat almarhumah ibu saya." Indira mulai penasaran tentang kehidupan Rani. Dia kemudian menanyakan beberapa hal. Mulai dari anggota keluarga, serta kronologi hutang piutangnya dengan si rentenir. Mendengar cerita Rani, Indira merasa terharu sekaligus kasian. Dia tidak menyangka ternyata selama ini Rani berjuang sendirian untuk kehidupannya. Dia semakin yakin untuk menikahkan Reyhan dengan Rani. Setelah sarapan, Indira membawa Rani jalan-jalan. Dia mendorong kursi roda yang diduduki Rani menuju taman. Mereka berdua duduk di dekat air mancur, menikmati udara pagi yang masih sejuk. "Terimakasih karena Bu Indira sudah menolong saya. Saya akan berusaha secepat mungkin mengembalikan uang itu," ucap Rani berusaha tersenyum manis, mengatur nada bicaranya setenang mungkin. Berbanding terbalik dengan keadaan hatinya saat ini, yang sudah ingin menangis sejadi jadinya. "Kamu tidak perlu mengembalikan uang itu, tapi ada syarat yang harus kamu penuhi." "Syarat apa itu, Bu?" tanyanya takut- takut. "Kamu harus menikah dengan putra saya." Duarr. Seperti tersambar petir di siang bolong, antara percaya dan tidak. Dia tidak menyangka ucapan Indira kemarin bukanlah main-main. Dia menggelengkan kepala, dan mengorek telinganya dengan jari, seolah ada sesuatu yang menyumbat telinga. "Apa saya tidak salah dengar?" tanyanya sekali lagi, untuk memastikan pendengarannya tidak terganggu. "Kamu tidak salah dengar. Setelah pulih dan keluar dari rumah sakit, kamu pindah ke rumah saya. Saya akan mengenalkan kamu dengan Reyhan, dan sesegera mungkin melangsungkan pernikahan." "Oh ya, kata dokter, lusa kamu sudah boleh pulang. Kamu tidak perlu memikirkan apapun, saya yang akan urus semuanya. Dan ingat kamu tidak bisa menolak, jika kamu menolak, saya akan tuntut kamu," imbuhnya lagi. Memperingatkan Rani, sebenarnya dia tidak sampai hati mengucapkan kalimat terakhir. Akan tetapi, itu satu-satunya cara agar Rani menyetujui tawarannya. Mendengar ancaman Indira, Rani hanya bisa mengangguk pasrah. Setuju dengan syarat yang diajukan bosnya. Awan yang awalnya terlihat cerah dimata Rani, kini berubah menjadi mendung. Begitupun udara yang awalnya terasa segar saat dihirup, kini berubah menjadi penuh debu membuat Rani kesulitan bernapas. "Ya Tuhan, setelah keluar dari mulut buaya kini aku malah kau masukkan ke kandang singa. Harus menikah dengan pria yang tidak aku kenal dan cintai, seperti apa kehidupan rumah tangga ku nanti?" batinya menangis pilu. "Kamu tidak perlu khawatir, Rani. Aku akan memperlakukanmu dengan baik, seperti putriku sendiri. Kamu tidak perlu sungkan, mulai sekarang panggil aku Mama. Karena sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga." Indira berharap setelah mengatakan itu, beban dihati Rani sedikit berkurang, dan mulai terbiasa dengannya. "Mama?" ujarnya tak sengaja, karena menirukan ucapan Indira. Indira menganggukkan kepala dan tersenyum mendengar Rani memanggilnya dengan sebutan Mama. Karena melihat Rani yang mulai kelelahan, Indira memutuskan membawanya kembali ke kamar. Sesampainya di dalam, dia membantu Rani berbaring di ranjang rumah sakit. Indira menyuruh Rani beristirahat, dan pamit untuk pulang. Dia menyetop taksi yang kebetulan lewat, dan menyuruh si sopir mengantarnya ke kantor Rey. Setelah membayar, dia keluar dan memandangi gedung kantor milik putranya. Dengan langkah pasti dia memasuki gedung itu dan menaiki lift menuju lantai atas. "Apa Reyhan ada di dalam?" tanya Indira menatap Lisa. "Pak Rey ada di dalam, Bu, silakan masuk." Lisa berdiri, segera membuka pintu untuk Indira, kemudian kembali bekerja. "Kok tumben, Mama kesini?" tanya Rey, mengalihkan pandangannya dari laporan yang sedang di teliti olehnya. "Kenapa? Apa wanita itu juga menyuruhmu untuk melarang Mama datang ke kantor?" ucapnya balik bertanya dengan nada kesal, tanganya mengepal menahan amarah di d**a. Entah kenapa setiap membicarakan Bianca, tiba-tiba amarahnya menggelegak. Rey kaget dengan ucapan Mamanya, akhir-akhir ini Mamanya sering marah-marah. Dia khawatir dengan kesehatannya, jika terus marah begini. "Mama jangan begitu, Rey kan hanya bertanya. Jangan marah-marah terus, Ma. Nggak baik untuk kesehatan." Rey memegang pundak Indira, mengajaknya duduk di sofa. "Bagaimana Mama bisa tenang, kalau kamu masih berhubungan dengan wanita itu? Sudahlah, membahas wanita itu hanya akan membuat kepala Mama sakit." Rey menghela nafas lelah, mendengar ucapan Mamanya. "Mama datang kesini mau ngomongin hal penting sama kamu," ujar Indira. "Ada apa, Ma?" "Tiga hari lagi, kamu harus menikah dengan calon yang sudah Mama siapkan. Dan segera putuskan hubunganmu dengan wanita ular itu." Deng. Setelah mendengar ucapan Mamanya, seperti ada batu besar yang jatuh tepat di atas kepalanya. "Apa? Menikah? Aku tidak akan menikah, kecuali dengannya. Dan ada satu hal yang harus Mama tahu, namanya Bianca, bukan wanita ular!" Rey mengatakan hal itu dengan emosi tertahan. Raut wajah yang tadinya lembut, kini berubah suram, sama sekali tidak ada keramahan di wajah tampan Reyhan. "Ya Tuhan, kepalaku sakit. Lihat apa yang sudah diperbuat wanita itu pada putra kesayanganku?" ucapnya pada diri sendiri. Indira menangis, dia memijit kepalanya yang terasa sakit. Tiba-tiba saja dia jatuh pingsan. Rey panik, menyuruh Lisa memanggil Dokter Herman, dia adalah dokter keluarga yang biasa menangani keluarga Rey. "Bagaimana keadaan Mama saya?" "Tekanan darah beliau sangat tinggi, hindari stres berlebih dan kalau bisa jangan membuatnya marah. Akan berakibat fatal pada kesehatan beliau." Setelah kepergian Dokter Herman, Rey duduk di samping Indira, menggenggam tangan lemah Mamanya. Beberapa saat kemudian Indira sadar, dia melihat Rey sekilas, kemudian memalingkan pandangannya ke arah lain. "Ma ...," panggil Rey. Hening. "Mama jangan marah-marah lagi, Rey setuju me_nikah dengan wanita pilihan Mama," ucap Rey dengan berat hati. "Baik, Mama pegang janjimu." Mendengar ucapan Rey, Indira tersenyum puas. Tak sia-sia dia membayar Dokter Herman untuk berpura-pura di depan Rey.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN