Bab 9

1034 Kata
Kediaman Aditama "Sah," ucap beberapa tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan Reyhan dan Rani. Seharusnya hari ini, adalah hari yang membahagiakan untuk Rani, karena menikah dengan pria tampan yang ditemuinya beberapa hari yang lalu. Pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, pria yang membuatnya merasakan debaran aneh di dalam hatinya. Akan tetapi, kenyataan mereka menikah hanya karena paksaan, menghancurkan kebahagian itu. Rani masih ingat, bagaimana Reyhan memperlakukan dirinya kemarin. Terlihat dengan jelas bahwa dia terkejut sekaligus jijik dengan Rani, bahkan hanya untuk sekedar berbasa-basi dengan dirinya. Wajah tampan penuh kehangatan yang dilihat olehnya beberapa hari lalu, kini sirna, berubah dingin tanpa ekspresi seperti balok es, namun tidak mengurangi ketampanan pria itu. Rani sudah menyiapkan hati, jika Reyhan berpikir dia w************n yang menikah hanya demi uang. Bukan pernikahan sempurna, tidak ada pesta, ataupun gaun pengantin mewah. Bahkan acara pernikahan ini hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa orang saja. Selesai acara, Reyhan dan Rani menyalami beberapa tamu yang berpamitan untuk pulang. "Selamat, atas pernikahannya, Pak," ucap Angga pada Reyhan. Kemudian dia beralih menatap Rani dan juga memberi selamat, Angga berusaha tetap tersenyum. Namun tidak bisa menutupi sorot mata kecewa dan terluka dari matanya. "Selamat ya, Rani, semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah, amin." Vita mencium pipi Rani secara bergantian setelah memberi ucapan selamat, dia ikut bahagia karena Rani mendapat keluarga yang baik meski dia juga sedikit kasihan dengan Angga. Sepulangnya para tamu undangan, Indira menyuruh Rey mengajak Rani istirahat di kamar. Tanpa banyak bicara, Rey menuruti semua perintah Indira, dia tidak mau jika terjadi apa-apa dengan Mamanya. Setelah menutup pintu, Rey langsung menarik tangan Rani dengan kasar, dan mendorongnya ketempat tidur. "Dasar w***********g!" ucapnya dengan nada marah, dia mengepalkan tangan dan meninju dinding di samping tempat tidur. Rani tidak menyangka, akan mendengar perkataan menyakitkan itu keluar dari mulut Reyhan. Dia mulai menangis sesegukan di atas tempat tidur. "Hapus air mata palsu itu, dasar w************n. Kamu pasti sudah merencanakan hal ini sejak malam itu kan?" Rani masih menangis dan tidak berniat menjawab pertanyaan Reyhan. Karena kesal tidak mendapat jawaban, akhirnya Reyhan pun berdiri. Dia membuka pintu kamar mandi kemudian masuk dan menutupnya dengan keras. Rani buru-buru menghapus air mata yang ada di pipinya, ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar. " Iya sebentar," sahut Rani dari dalam. "Ada apa ya, Mbok?" Rani bertanya karena tiba-tiba saja Mbok Jah sudah berdiri di depan kamar dan membawa sekeranjang pakaian. "Ini, Non, saya di suruh Nyonya mengantarkan baju ini untuk Non Rani." "Taruh saja di situ, Mbok. Terimakasih kasih ya," ucap Rani menyuruh Mbok Jah meletakkan keranjang itu di samping lemari. Setelah menutup pintu, Rani memeriksa keranjang itu. Di dalamnya ada handuk, dan beberapa stel baju. Rani berniat memasukkan baju itu ke lemari, tapi saat dia membuka lemari sebuah tangan kekar mencekalnya. "Mau apa kamu? jangan-jangan kamu mau maling? hahaha," terdengar tawa jahat yang penuh ejekan dari Reyhan. "Jangan lancang menyentuh barang orang!" ucapnya dengan angkuh. Reyhan mengibaskan tangan Rani kebelakang, membuatnya jatuh terduduk di lantai. Rani dengan susah payah berdiri, dia mengumpulkan keberanian untuk membalas ucapan Reyhan yang begitu menyakiti hatinya. "Asal kamu tahu, aku bukan w************n atau wanita seperti yang kamu pikirkan. Meski berasal dari keluarga miskin aku masih punya harga diri," Rani mengucapkan itu dengan berderai air mata, mengeluarkan seluruh emosi yang dari tadi sudah di tahan olehnya. "Cih, siapa yang bisa percaya ucapan wanita sepertimu. Mulai sekarang aku yang mengatur kamar ini, kamu taruh bajumu di lemari paling bawah. Kamu bisa tidur di ranjang, aku akan tidur di sofa. Tidak perlu bicara denganku aku benci mendengar suaramu, kecuali ada Mama. Dan satu lagi, jangan pernah menyentuh barang milikku atau ikut campur urusanku." Rani tidak menjawab, dia segera memasukkan bajunya ke lemari. Melihat Rey yang keluar dari kamar, Rani segera mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. "Rani mana? kenapa turun sendirian?" Indira bertanya pada putranya, karena tidak melihat Rani. "Ada kok, Ma. Dia lagi mandi dan beres-beres baju." "Sebentar lagi panggil dia, ajak makan malam bersama." "Iya, Ma," Rey menjawab dengan nada malas. Beberapa saat kemudian, Rey menaiki anak tangga menuju kamarnya, dia masuk dan melihat Rani ternyata sudah berganti pakaian dan sedang berdiri di balkon. "Ayo turun, Mama sudah menunggu kita." Rey menuruni anak tangga, sedangkan Rani mengekor di belakang. Indira menatap keduanya dengan tersenyum. "Kapan kalian bulan madu?" tanya Indira dengan santainya, menyuapkan sesendok nasi beserta lauk kemulut. Rani dan Reyhan saling menoleh, pandangan mereka saling bertemu. Pipi Rani bersemu merah, dia kemudian memalingkan pandangan ke sisi lain, tidak mau Reyhan melihat wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus. "Belum tahu, Ma. Di kantor masih banyak kerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan," jawab Reyhan sekenanya. Indira mendengus meremehkan mendengar jawaban Rey, dia tau dengan jelas alasan putranya belum mau bulan madu. "Lihat saja nanti," ucap Indira dalam hati. Selesai makan malam, Rani membantu Mbok Jah membereskan peralatan makan. Dia mencuci piring dan gelas bekas mereka. "Sudah, Non Rani istirahat saja, biar Mbok Jah yang nyuci ini semua," ucap Mbok Jah berusaha merebut piring yang sedang di cuci oleh Rani. Dia merasa tidak enak, jika istri dari majikannya mengerjakan pekerjaan seperti ini. "Enggak papa. Mbok Jah saja yang istirahat, lagipula ini sudah malam." Karena merasa tidak enak hati, akhirnya Mbok Jah duduk di kursi, menunggu Rani dan menemaninya mengobrol. Tepat pukul 20.34, Rani memutuskan masuk kedalam kamar. Mungkin kelelahan karena acara tadi siang, Indira dan Mbok Jah sudah istirahat di kamar. Dia membuka pintu secara perlahan, melihat sekeliling kamar, namun tidak menemukan keberadaan Rey. Dia juga melihat ke balkon, tetapi Rey juga tidak ada di sana. Rani yang sudah lelah, membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia berusaha memejamkan mata, akan tetapi matanya enggan terpejam. Dia merasa was-was, takut jika tiba-tiba saja Rey meminta haknya sebagai suami. "Ya Tuhan, kenapa aku jadi berdebar-debar begini?" Rani berucap dengan nada lirih, dia memegangi dadanya yang terasa seperti mau loncat. Meski mendapat berbagai cibiran dari Rey, tapi entah kenapa hatinya tidak bisa membenci pria kejam itu. Rani memandang pintu, Kedua matanya tak mau beralih barang sedetik pun dari pintu itu. Ceklek Tiba-tiba saja, Rey membuka pintu dan masuk kedalam. Rani yang panik melihat kedatangan Rey segera memejamkan mata, pura-pura tidur. Rey yang melewati ranjang Rani, tiba-tiba berhenti dan memandang ke arahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN