Bab 10

1010 Kata
Mendengar langkah kaki Rey yang berjalan mendekat kearahnya, membuat Rani semakin rapat memejamkan mata. Tidak bisa dipungkiri, sekarang hati Rani berdetak tak karuan, antara takut dan malu. Rey mengambil bantal dan selimut, kemudian tidur di sofa yang berukuran panjang dan lumayan lebar. Dia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di sofa empuk itu. Tak perlu waktu lama, akhirnya Rey pun tertidur. Rani mengubah posisi tidurnya menyamping, karena penasaran dia membuka sedikit matanya, mencoba mengintip keadaan. Melihat Rey yang sudah memejamkan mata di sofa, entah kenapa tiba-tiba hati Rani terasa sedikit sakit, seperti ada yang mencubit hatinya. "Apa yang kamu harapkan, Rani? jangan bodoh! kamu itu hanya istri kertas baginya." Rani berulangkali mengingatkan hati dan pikirannya agar tidak berharap terlalu jauh. Suara dengkuran halus mulai terdengar, menandakan Rey mulai hanyut ke alam mimpi. Rani turun dari ranjang, mengambil selimut dari dalam lemari. Awalnya Rani ingin mematikan AC di kamarnya, dikarenakan udara yang terasa semakin dingin, tapi dia mengurungkan niatnya, takut mengganggu tidur suaminya. Sesaat kemudian Rani pun ikut terlelap dalam buaian mimpi. Keesokan paginya Rani bangun pukul lima, dia melihat ke sofa tempat tidur suaminya, tenyata Rey masih tertidur dengan pulas. "Andai saja kita menikah karena cinta," Rani berucap pada diri sendiri. Dia tersenyum melihat wajah damai dan polos suaminya, yang tidur seperti seorang bayi. Rani berjalan ke kamar mandi, untuk mencuci muka setelah itu turun ke bawah untuk membantu Mbok Jah memasak. Setelah semua masakan matang, Rani dan Mbok Jah segera menatanya di meja makan. Mbok Jah membereskan dapur, sedangkan Rani kembali ke kamar berniat membangunkan Reyhan. Tapi saat tiba di kamar, ternyata Rey sudah bangun dan sedang mandi. Akhirnya Rani duduk di tepi ranjang, sambil memainkan ponselnya. Tring, bunyi pesan masuk. Hampir saja ponselnya terjatuh kelantai karena kaget, tiba-tiba ada pesan masuk sepagi ini. "Gimana rasanya jadi pengantin baru? enak nggak?" tanya Vita. Membaca isi pesan Vita, membuat Rani melamun. Dia teringat kejadian semalam, jangankan menyentuhnya, tidur seranjang saja dia tidak mau. "Hei, di tanya malah diam. Gimana, enak enggak?" Vita mengirimi Rani pesan sekali lagi, karena tidak ada balasan darinya. "Dasar kepo! Kalau ingin tahu rasanya buruan nikah sana. Dasar jomblo abadi," ejek Rani. "Biarin. Kamu tahu nggak? Angga sangat kecewa begitu tahu kamu akan menikah dengan anaknya Bu Indira." "Aku tahu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tahu kan gimana keadaanya, sudah dulu ya aku mau mandi." Begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka, Rani segera menyudahi obrolan pesan nya dengan Vita. Rani berdiri hendak ke kamar mandi, tapi seketika dia menutupi matanya dengan kedua telapak tangan langsung berbalik kearah sebaliknya. Dia kaget melihat Rey keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk dari pinggang sampai di atas lutut, dan memperlihatkan d**a bidang dan perutnya yang sispex penuh dengan roti sobek. "Apa-apaan sih dia, apa nggak lihat kalau di sini ada orang lain selain dia." Rani menggerutu, berjalan ke kamar mandi sambil menolehkan pandanganya kearah lain. Berusaha menghindari pemandangan yang bisa merusak iman kaum hawa. Rey yang sekilas mendengar ocehan Rani, bersikap acuh dan masa bodoh. Dia tidak perduli dengan semua itu, pikirannya sekarang hanya tertuju pada Bianca, memberi penjelasan agar Bianca tidak salah paham dengannya. Rani melongok kan kepalanya di balik pintu, memeriksa keadaan sekitar. Setelah tidak melihat keberadaan Rey, dan dirasa keadaan aman, Rani segera keluar dari kamar mandi. Dia dengan cepat memakai seragam kerja, menyisir rambut dan memakai lip balm untuk melembabkan bibirnya. Rani segera turun menuju meja makan, tidak mau membuat Bu Indira menunggu terlalu lama. Benar, saat tiba di meja makan ternyata Indira dan Rey sudah duduk di sana menunggu Rani untuk sarapan. "Lihat, Rey, ini semua yang masak istrimu loh. Tidak salah memang Mama memilih menantu," ucap Indira bangga, menunjuk beberapa lauk kesukaan Reyhan. Mendengar penuturan Indira, Rani hanya tertunduk malu sedangkan Rey tersenyum terpaksa, seperti orang yang sedang sakit gigi. Selesai sarapan, Rey pamit berangkat ke kantor. Tinggalah Indira dan Rani di rumah, Rani membantu Indira dan Mbok Jah membereskan bekas sarapan mereka. "Rani, cepat ganti baju! Mulai sekarang kamu adalah Putriku yang artinya pemilik butik itu, jadi kamu tidak perlu lagi pakai baju karyawan." Indira menyuruh Rani berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, dia kemudian turun mencari keberadaan Indira. Dia mulai memutari seluruh ruangan, tapi tidak menemukan keberadaan Indira. "Mbok Jah, lihat Bu Indira tidak?" Rani bertanya pada Mbok Jah yang kebetulan lewat di depannya. "Nyonya ada di belakang, Non. Lagi duduk di dekat kolam renang." Rani berjalan menuju teras belakang, dari kejauhan dia melihat Indira sedang melamun. Dia mendekati Indira yang sedang duduk di kursi sebuah taman kecil yang menghadap kolam renang. "Kita berangkat sekarang, Bu?" Indira menoleh mendengar pertanyaan Rani, dia tidak menjawab, justru menepuk kursi kosong di sebelahnya menyuruh Rani menemaninya duduk di sana. "Kamu tidak perlu pergi kerja, ini adalah hukuman mu karena memanggilku dengan sebutan Ibu lagi. Bukankah sudah kukatakan panggil aku Mama, karena kamu adalah Putriku sekarang." "Maaf, Ma," ucap Rani sambil menunduk. "Mulai sekarang Mama percayakan Reyhan padamu. Sejak kematian Ayah dan Kakaknya, Rey seolah menutup diri dari dunia luar. Dia selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan, sampai pada akhirnya Mama baru tahu jika Rey menjalin cinta dengan wanita yang salah. Makanya Mama menikahkan kamu dengan Rey, karena Mama tahu kamu wanita baik-baik. Dan bersabarlah menghadapi sikap Reyhan, sebenarnya dia tipe penyayang dan penurut, Mama yakin pelan-pelan dia pasti akan mencintaimu." "Baik, Ma. Aku akan menjaga Reyhan dengan baik dan berusaha menjauhkan Reyhan dari wanita itu," ucap Rani tersenyum tulus. Indira sangat bersyukur pada Tuhan mendapatkan menantu sebaik Rani, sekarang dia bisa tenang menjalani masa tuanya. Tak terasa mereka menghabiskan banyak waktu mengobrol di taman, menceritakan masa kecil Reyhan sampai keduanya tertawa lepas seperti tak ada beban. Rani mengajak Indira masuk ke rumah, karena taman mulai panas terkena sinar matahari. Indira bersiap untuk mengecek butik, dia menyuruh Rani istirahat di rumah. Karena bosan tak ada kerjaan, Rani akhirnya naik ke lantai atas dan masuk kedalam kamar. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya, karena tidak juga mengantuk akhirnya dia hanya berguling-guling seperti anak kecil. Di kantor, setelah jam makan siang Bianca menerobos masuk ke ruangan Reyhan. Dari raut wajahnya, dia terlihat sangat marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN