Plak, tangan mulus Bianca mendarat tepat di pipi Reyhan. Dia seketika berdiri, karena terkejut dengan apa yang diperbuat Bianca. Awalnya dia ingin menjelaskan semuanya nanti sore pulang dari kantor, tapi tidak disangka Bianca sudah lebih dulu menemuinya. Saat dia ingin menjelaskan, tiba-tiba saja Rani muncul di belakang Bianca.
"Maaf, Pak. Tadi saya sudah melarang Nona ini masuk, tapi dia memaksa," ucap Lisa yang mengikuti Bianca di belakang. Seketika dia kaget dengan apa yang dilakukan Lisa pada Reyhan.
Reyhan menatap tajam Lisa, menyuruhnya kembali bekerja, "Tidak apa-apa, kamu keluar dulu!"
Setelah Lisa keluar, Reyhan mulai menjelaskan semuanya dari awal. Tapi Bianca tetap diam, dia tak bergeming sama sekali. Sampai berkali-kali Reyhan membujuk dan merayunya.
Melihat Bianca yang hanya diam, Rey mulai kesal. Dia membiarkan Bianca duduk diam di sofa ruanganya, dan kembali bekerja. Dia menghela nafas panjang, karena tidak bisa konsentrasi dalam mengerjakan pekerjaannya. Sesekali matanya melirik Bianca untuk melihat ekspresi wajahnya, namun sayang, ternyata ekspresinya tidak berubah masih dingin seperti tadi.
Keheningan menyelimuti ruangan itu, bahkan Rey bisa mendengar dengan jelas bunyi jarum jam di dinding.
"Apa yang sudah dilakukan perempuan sialan itu padamu? Sampai kamu sekarang mulai mengacuhkan aku?" Bianca bertanya dengan nada dingin, memecah keheningan di ruangan itu.
"Aku itu hanya mencintaimu, harus berapa kali aku bilang? Aku tidak pernah melakukan apapun denganya, aku menikah karena terpaksa."
"Enak ya, di paksa nikah sama gadis cantik seperti ini?" Bianca mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto pernikahan Rani dengan Rey. Rey tidak habis pikir, entah dari mana Bianca bisa mendapatkan foto itu.
"Aku sangat kagum dengan Mama mu, aktingnya sungguh luar biasa. Di awal dia bersikap seolah menerimaku, tapi ternyata malah menikahkan mu dengan perempuan lain," Bianca mengucapkan itu dengan nada mengejek.
Mendengar ucapan Bianca, Rey hanya diam. Rey tidak bisa marah, karena yang dikatakan Bianca juga tidak salah. Dia juga tidak mengerti, kenapa Mamanya tiba-tiba membenci Bianca.
"Aku ingin pu_tus!" Bianca mengucapkan kata terakhir dengan penuh penekanan.
Setelah mengatakan semua itu, Bianca berlalu pergi meninggalkan Rey yang masih terpaku ditempatnya. Dia berjalan dengan angkuh, saat melewati meja kerja Lisa dia berhenti. Menatap Lisa dengan senyum meremehkan, karena sudah berani melarangnya masuk.
Lisa pun tak mau kalah, dia balik menatap Bianca dengan tatapan jijik, seolah sedang melihat seonggok sampah. Bianca yang melihat tatapan jijik dari Lisa menjadi kesal, dia menghentakkan kakinya beberapa kali kemudian berlalu pergi.
"Dasar wanita tidak tahu malu," Lisa menggerutu di tempatnya. Ya, dari semua karyawan yang ada di kantor, hanya Lisa yang tahu kalau Rey sudah menikah dengan Rani. Lisa adalah satu-satunya karyawan yang di undang oleh Indira.
Rey duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, sambil memijit pelipisnya yang berdenyut serasa mau pecah. Dia ingin mengejar Bianca, tapi kepalanya terasa sedikit pusing.
Pulang dari kantor, dia menjalankan mobilnya menuju gedung apartemen Bianca bermaksud minta maaf. Sesampainya di sana, dia mengurungkan niatnya. Rey hanya memandangi gedung itu dari dalam mobil, dia meremas kemudinya dengan kuat saat teringat ucapan Bianca tadi siang.
Lama memandangi apartemen Bianca, Rey akhirnya menyalakan mobilnya dan memutuskan untuk pulang.
Setibanya Rey di rumah, ternyata Rani dan Indira sedang membantu Mbok Jah menyiapkan makan malam. Indira dan Rani hampir bersamaan menyapa Rey, tapi Rey tidak memperdulikan mereka berdua, dan berlalu menaiki tangga.
Indira segera menyuruh Rani menyusul Rey keatas, Rani patuh dan segera mengekori langkah panjang Rey.
Tanpa banyak bicara, Rani bermaksud melepas sepatu kerja Rey. Tapi tanpa di sangka olehnya, Rey malah mendorong Rani hingga terjatuh.
"Jangan sentuh aku! Aku jijik melihatmu!" Tanpa sadar Rey mengatakan kalimat menyakitkan itu. Dia tidak tahu bahwa kalimat itu sangat melukai hati Rani.
Bukannya marah, Rani malah tersenyum mendengar ucapan Rey, semua itu berbanding terbalik dengan keadaan hatinya sekarang. Dia tidak membalas atau berkata sedikitpun, tidak mau membuat suaminya mengatakan hal yang lebih menyakitkan. Rani berdiri dan beranjak pergi dari kamar meninggalkan Rey sendiri.
Dia masih berdiri di balik pintu, tidak langsung turun kebawah. Air mata yang dari tadi ditahan olehnya, kini lolos begitu saja. Dia menghirup nafas dalam-dalam, dan menghembuskan secara perlahan. Rani mulai mengusap air matanya, dia tidak mau mertuanya melihat kejadian ini. Rani mengatur ekspresi sebaik mungkin, berusaha tersenyum kemudian berjalan menuruni anak tangga untuk melanjutkan aktivitasnya.
Indira heran karena Rani turun begitu cepat dan juga melihat mata Rani yang sedikit sembab. Dia kemudian pura bertanya, "Reyhan mana, Rani? kok nggak turun bareng kamu?"
"Mas Rey masih mau mandi, Ma. Katanya aku di suruh turun duluan dan tunggu di bawah saja."
"Kamu nggak papa kan? apa Rey berkata sesuatu?" Indira bertanya pada Rani dengan nada penuh selidik.
"Nggak, Ma. Aku ambil lauk yang ada di dapur dulu ya." Rani segera meninggalkan meja makan menuju dapur, berusaha menghindari pertanyaan Indira.
Setengah jam kemudian Rey turun, langsung duduk di tempatnya. Tidak seperti biasanya, Rey lebih banyak diam, dan wajahnya terlihat murung tidak seperti hari- hari biasa. Dia hanya bicara ketika Indira menanyakan sesuatu padanya.
Rey pamit meninggalkan meja makan lebih dulu, dengan alasan mau menyelesaikan pekerjaannya. Rani menatap punggung Rey yang mulai menjauh, dan menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
"Kapan kamu bisa menerima kehadiranku." batin Rani penuh kekecewaan.
Indira hanya memperhatikan Rani yang menatap Rey dengan tatapan terluka. Dia merasa kasihan dengan Rani, tapi dia percaya ketulusan hati Rani bisa meluluhkan hati Reyhan.
Sadar sedang di perhatikan, Rani kemudian mengalihkan pandanganya.
"Mama istirahat saja, biar Rani yang bereskan."
"Baiklah, Mama tunggu kamu di depan televisi. Nanti temenin mama nonton ya?" Indira meninggalkan Rani yang mulai membereskan meja makan.
Indira tertawa lepas menonton acara lucu di televisi, dan tak sadar ternyata Rani sudah duduk di sebelahnya.
"Ya ampun, Rani, kamu ngagetin Mama." Indira menepuk pundak Rani yang duduk disebelahnya.
Rani nyengir dan mulai ikut menonton acara yang sama dengan Indira, mereka berdua tak sadar dan saling tertawa menonton acara lucu itu.
Setelah acara yang ditonton habis, mereka memutuskan untuk tidur. Rani berpikir Rey sudah tidur karena sudah larut, tapi ternyata dia tidak ada di kamar.
Rani memberanikan diri mengintip keruang kerja, dengan pelan dia membuka pintu. Hanya terlihat cahaya remang-remang, diapun masuk dan mendapati Rey yang telah tidur di kursi dan kepalanya berada di meja. Dia kembali ke kamar, mengambil selimut dan menyelimuti Rey.
Setelah itu dia kembali ke kamarnya, membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia memegang dadanya yang terasa sakit.
"Tenyata memang sudah tidak ada harapan untukku," ucap Rani, tertawa seperti orang sinting.