"Ma, aku berangkat dulu ya?"
"Tunggu, Rey, sarapan dulu! Ini Rani sudah siapin buat kamu," suruh Indira, menunjuk sepiring nasi lengkap beserta lauknya.
"Kalian makan saja, hari ini aku nggak sempat sarapan. Ada janji dengan client penting, Ma." Rey berlalu pergi meninggalkan mereka berdua di ruang makan.
Rey berangkat ke kantor pagi sekali, bahkan dia juga melewatkan sarapan. Indira dan Rani merasa heran melihat sikap Rey. Padahal semalam kelihatan lesu, tapi pagi ini tiba-tiba dia terlihat bersemangat.
Rey mengemudikan mobilnya menuju apartement Bianca, tidak lupa dia juga membeli sebuket bunga mawar merah yang cantik. Berharap bisa membujuk kekasihnya.
Sampailah dia di depan sebuah gedung mewah. Setelah memarkirkan mobilnya, tanpa membuang waktu lagi dia segera masuk dan menaiki lift.
Tibalah Rey di depan unit apartement Bianca, dia mengetuk pintu namun belum ada jawaban. Dia mencobanya sekali lagi, tetapi masih sama. Karena sekian kali mencoba namun tetap tidak ada hasil, akhirnya Rey menggunakan kunci akses apartement miliknya. Ya, Rey juga memiliki kunci akses apartement milik Bianca, karena Rey lah yang membeli apartement itu sebagai hadiah ulang tahun untuk Bianca. Jadi Rey juga memiliki akses penuh atas apartement itu.
Bianca segera menuju pintu depan karena mendengar suara pintu yang terbuka, "Mau apa kamu kesini?" tanyanya dengan nada ketus. Bianca yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya masih berdiri di depan pintu, tanpa ada niat sedikitpun menyuruh Rey masuk.
Rey mengangkat sebelah tangan dan tangan satunya menyodorkan buket bunga mawar pada Bianca, dia mengucapkan beberapa kata, berharap Bianca mau memaafkannya, "Maafin aku ya, sumpah demi Tuhan. Aku sama sekali nggak ada perasaan dengan wanita itu, ini murni rencana Mamaku dan wanita itu. Aku terpaksa menikah demi kesehatan Mama, tolong ya maafin aku, aku nggak mau putus sama kamu."
"Baik, aku maafin kamu. Tapi ingat, kamu nggak boleh dekat-dekat dengan wanita itu, apalagi sampai jatuh cinta." Bianca mengatakan itu agar Rey percaya, bahwa dia juga mencintainya. Dalam hati dia bersorak, dan tersenyum puas. Dari awal dia tahu bahwa Rey tidak akan bisa jauh darinya, makanya dengan percaya diri dia meminta putus dari Rey.
Bianca menerima buket bunga mawar dari Rey, membawanya masuk ke dalam kamar. Sedangkan Rey juga ikut masuk, dan duduk di sofa ruang tamu, menunggu Bianca.
"Kita sarapan dulu di restoran bawah, setelah itu aku antar kamu ke kantor," ucap Rey, begitu melihat Bianca keluar dari kamar.
Bianca menyetujui usul Rey, mereka berdua berjalan beriringan. Tak sedikit mata wanita yang memandang kearah mereka, ada yang memandang kagum, ada juga yang memandang iri ke arah Bianca.
"Wah ... lihat pria itu tampan sekali, wanita nya juga cantik. Mereka terlihat serasi yah," ucap berbisik, beberapa wanita yang duduk di samping tempat mereka.
Rey dan Bianca melanjutkan sarapan mereka, tanpa perduli pada ucapan wanita-wanita itu. Setelah selesai, Rey menggandeng tangan Bianca, mengajaknya keluar dari restoran.
Dia membuka pintu mobil untuk Bianca dan memakaikan sabuk pengaman. Dia kemudian melajukan mobilnya ke perusahaan tempat Bianca bekerja. Saat akan turun, Rey menarik tangan Bianca dan mencium keningnya.
Setelah memastikan Bianca masuk, Rey segera melajukan mobilnya ke kantor. Di perjalanan, dia bersenandung ria seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta.
Sementara itu, di butik, Indira menyuruh semua karyawan berkumpul. Dia mengumumkan, bahwa sekarang Rani adalah bos di sana. Dan menyuruh mereka membantu Rani jika ada masalah.
Indira mengajak Rani masuk keruang kerja, menunjukkan dan mengajari Rani membuat beberapa laporan barang masuk.
"Mama percayakan Reyhan dan butik ini pada kamu. Jangan kecewakan Mama, Rani." Setelah memasrahkan butik itu pada Rani, Indira kemudian pamit pulang.
Rani berniat mengantar Indira sampai pintu depan, akan tetapi Indira menolaknya dan menyuruh Rani mulai membiasakan diri dengan pekerjaan barunya.
Setengah jam kemudian Indira sampai di rumah, dia meletakkan barang-barangnya di kamar. Dia memutuskan untuk mandi agar badannya terasa lebih segar.
Saat ini, dia sedang duduk di teras belakang sambil menikmati secangkir teh melati yang menenangkan. Dia memandang kearah taman, terlihat seorang pria paruh baya dan dua anak laki-laki sedang bermain kejar-kejaran di sana. Tiba-tiba matanya meneteskan benda bening, dan mengalir begitu saja di pipi, Indira segera menghapus air matanya, begitu tersadar dari lamunan.
"Sekarang Reyhan sudah menikah dengan wanita yang sangat baik, Mas. Semoga kalian bahagia di sana," Indira mengucapkan itu dengan Suara serak, menahan tangis.
Indira menyuruh Mbok Jah, yang kebetulan mengantarkan sepiring buah yang sudah di kupas untuknya ikut duduk menemaninya. Awalnya Mbok Jah merasa sungkan, dan duduk di lantai. Tapi Indira malah memarahi Mbok Jah dan menyuruhnya duduk di kursi yang sama.
"Selama ikut keluarga ini, setahuku Mbok Jah nggak pernah pulang kampung. Apa si mbok nggak rindu dengan keluarga?"
"Mbok sudah nggak punya keluarga, Bu. Suami mbok kecelakaan dan meninggal saat masih muda, sedangkan mbok juga tidak punya anak," ucap Mbok Jah menjelaskan kepada Indira.
"Kita bernasib sama, Mbok. Ditinggalkan orang yang kita sayangi karena kecelakaan."
"Ibu yang sabar, Tuan dan Den Rio sudah bahagia di alam sana."
Indira mengangguk setuju, setelah kepergian dua orang terpenting dalam hidupnya, kebahagiaan seolah ikut pergi dari dirinya. Tapi kini kebahagiaan itu sedikit demi sedikit mulai datang, kembali kepadanya menggantikan rasa sunyi di separuh jiwanya.
Indira masuk kembali kedalam rumah, diikuti oleh Mbok Jah dibelakangnya. Mbok Jah mengikuti langkah Indira yang masuk kedalam dapur, untuk menyiapkan makan siang.
"Mbok kita masak semur daging ya untuk makan siang, aku lagi ingin makan itu." Mbok Jah mengambil bahan-bahan untuk masak semur yang ada di dalam kulkas.
Indira mulai mengupas bumbunya, Mbok Jah sudah melarang Indira melakukanya tapi dia tetap ngotot ingin membantu. Akhirnya Mbok Jah menyerah, karena dia tahu Indira adalah orang yang keras kepala dan susah dibujuk.
Mereka berdua makan siang bersama, karena Indira menyuruhnya untuk menemani makan.
"Mbok tolong beresin ya, aku mau istirahat dulu!"
Indira masuk kedalam kamar, meninggalkan Mbok Jah yang masih membereskan meja makan. Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, mulai memejamkan mata.
Tak terasa Indira tertidur cukup lama, dia bangun dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul empat. Dia bangun dan memutuskan menyirami bunga yang ada di taman belakang.
Lanjut mandi dan bersantai di ruang tamu menunggu kepulangan putra putrinya. Dia membuka ponselnya, dan melihat media sosial Rey. Betapa terkejutnya dia saat melihat tidak ada foto pernikahannya dengan Rani, tapi malah melihat unggahan terbaru foto-foto Rey bersama Bianca.
"Kurang ajar! Dasar wanita ular," gumamnya kesal. Menggenggam ponsel itu dengan kuat.
Melihat Rani pulang dan sudah masuk kedalam, membuatnya kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya. Beberapa saat kemudian, Rey juga pulang.
Setelah membersihkan diri, mereka makan malam bersama, Indira bersikap seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa.