Sudah sebulan lebih, Rani dan Rey menikah. Akan tetapi, tidak ada kemajuan di hubungan keduanya. Rani sudah berkali-kali mencoba mendekati Rey, tapi tidak ada respon yang baik darinya.
Sampai suatu hari saat makan malam, tiba-tiba saja Indira menyodorkan sebuah amplop putih kepada Rey.
Rey mengamati amplop itu dan bertanya pada Indira, "Apa ini, Ma?"
"Itu hadiah pernikahan untuk kalian, dari Mama."
Rey yang penasaran dengan isi amplop itu, segera membukanya. Mata Rey membulat tak percaya melihat isi di dalamnya. Rani yang juga penasaran, ikut melirik kearah amplop yang di pegang sang suami. Akan tetapi isinya tidak bisa terlihat jelas oleh Rani, dia hanya melihat dua lembar kertas.
"Itu tiket bulan madu untuk kalian."
"Apa!!" teriak Rani dan Rey bersamaan. Mereka berdua tak menyangka jika Indira merencanakan semua ini.
"Tidak perlu bereaksi berlebihan, Mama tahu kalian senang. Tidak perlu berterimakasih." Indira mengatakan itu tanpa rasa bersalah. Bahkan saat ini, wajah Indira memerah menahan senyum geli melihat reaksi keduanya.
"Tapi, Ma ... di kantor masih banyak kerjaan yang harus Rey selesaikan," ucap Rey beralasan, agar bisa membatalkan rencana bulan madu itu.
"Kamu tidak perlu khawatir, Mama sudah suruh Lisa meng-handle semua pekerjaanmu. Mama juga akan membantunya jika ada masalah."
Kali ini Rey tidak bisa mengelak, mau tak mau dia harus berangkat bulan madu. Rani juga tidak bisa menolaknya, karena selama ini Indira sudah memperlakukannya dengan baik seperti anak sendiri.
Setelah makan malam, Rani kembali kekamar untuk menyiapkan beberapa barang keperluannya dan juga barang-barang suaminya.
Keesokan paginya, setelah sarapan dan berpamitan pada Indira. Rey malajukan mobilnya menuju bandara. Di sampingnya, Rani sedang duduk dengan gugup menatap lurus ke depan. Pasalnya, baru pertama kali Rani naik pesawat, jadi dia merasa sedikit kurang nyaman. Setelah pesawat lepas landas, mereka berdua hanya saling diam duduk di kursi masing-masing. Tak ada percakapan antara keduanya.
Satu jam kemudian, pesawat mendarat dengan aman di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Rani mengamati sekitar, terlihat banyak sekali toko oleh-oleh. Tanpa sadar dia mulai melangkahkan kakinya, ingin melihat-lihat beberapa oleh-oleh khas kota Bali.
Tangan Rey dengan sigap mencekal tangan Rani yang tiba-tiba lepas dari genggamannya, sampai dia meringis kesakitan. Rani menoleh dan memelototinya, seolah sedang protes.
"Awas, kalau kamu pergi sembarangan, aku tidak mau diomeli Mama hanya karena kamu yang tiba-tiba menghilang." Setelah memberi peringatan pada Rani, Rey berjalan lebih dulu, menarik kopernya diikuti Rani yang ada di belakang.
"Dasar egois! Tidak boleh hilang tapi aku malah ditinggal." Rani menggerutu dalam hati. Dia mengepalkan kedua tangan, mengayunkannya beberapakali ke depan setinggi kepala Rey, seolah sedang meninju kepalanya berulang kali.
Beberapa orang yang berpapasan dengan Rani tertawa melihat tingkah konyol itu. Rani segera menghentikan kelakuannya saat Rey tiba-tiba menoleh ke belakang karena heran, beberapa orang tertawa saat melihatnya.
Rey memesan sebuah hotel yang tidak jauh dari Bandara, dia memesan sebuah kamar dengan dua tempat tidur di dalamnya. Rey memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, karena tubuhnya yang terasa lelah setelah melakukan perjalanan. Sedangkan Rani mulai mengemasi barangnya.
Kini giliran Rani yang membersihkan diri setelah melihat Rey keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Dia menuangkan sabun cair kedalam bathtub yang sudah diisi air dan berendam didalamnya.
Aroma segar dan wangi bunga membuat badannya yang tegang karena perjalanan, menjadi sedikit rileks. Dia memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di ujung bathtub.
Sementara itu di dalam kamar, Rey sedang berbincang dengan seseorang.
"Iya, aku juga baru sampai. Ok kalau sudah sampai kamu kabari aku, nanti aku jemput," ucapnya mengakhiri panggilan itu.
Rey mengamati pemandangan dari jendela kamarnya. Terlihat banyak wisatawan yang berlalu lalang.
Rey menoleh saat mendengar pintu terbuka. Rani keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk, karena lupa untuk membawa baju.
Rey masih pada posisinya, memandang Rani tanpa berkedip. Sedangkan Rani tetap berdiam diri di tempatnya seperti patung, kakinya terasa berat untuk melangkah pergi. Ini adalah pertamakalinya Rey melihat Rani dalam keadaan seperti ini. Biasanya jika dirumah, dia lebih banyak menghabiskan waktunya diruang kerja untuk menghindari Rani.
Tatapan mereka saling bertemu, Rani menundukkan wajahnya yang tampak memerah karena malu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tanpa sadar, Rey menelan Saliva nya dengan susah payah melihat pemandangan indah di depannya. Dia berdehem beberapa kali untuk mencairkan suasana yang sedikit kaku.
Mendengar Rey berdehem, Rani pun tersadar, dari pikirannya. Dia berlari kecil kearah lemari, mengambil pakaiannya dan masuk kembali kekamar mandi.
"Apa yang sudah aku pikirkan, Ya Tuhan?" batinya bingung dengan kejadian yang terjadi barusan.
Di dalam kamar mandi, Rani memukul kepalanya berkali-kali. Dia mengolok dirinya sendiri, "Dasar bodoh, bodoh, bodoh. Apa yang kamu lakukan, Rani? Dia pasti berpikir kamu sedang menggodanya."
Setelah kejadian tadi, keadaan semakin canggung. Rey merebahkan tubuhnya di ranjang menghadap jendela, sedangkan Rani menghadap kearah lain. Rani mencoba memejamkan mata, akan tetapi tidak bisa tidur.
Dia menoleh keranjang Rey, melihat Rey yang tidak bergerak, Rani mengira dia sudah tertidur.
Rani bangkit dan duduk ditepi ranjang, mengelus perutnya yang terasa lapar.
Tiba-tiba saja perutnya berbunyi,
"Krucukk ... krucuk...."
Sontak, Rey langsung menoleh kearah Rani, karena mendengar perutnya yang berbunyi lumayan keras. Wajah Rani seketika memerah, dia langsung kembali berbaring keatas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Rey bangun dari tempat tidurnya, dan melangkah mendekat ketempat tidur Rani. Dia mencoba membuka selimutnya, tapi ditahan dengan kuat oleh Rani.
"Ayo kita pergi cari makan." Rey menarik selimutnya sekali lagi, tapi tetap ditahan oleh Rani.
"Aku tidak lapar," ucap Rani, masih berada didalam selimut, enggan membukanya.
"Apa kau yakin?" tanyanya dengan nada setengah mengejek.
Kali ini bukan dirinya yang menjawab, melainkan cacing diperutnya yang sudah demo minta diberi makan. Akhirnya Rani dengan terpaksa membuka selimutnya, dan mengangguk setuju dengan tawaran Rey. Melihat tingkah konyol Rani, Rey tertawa kecil, tapi segera mengubahnya dengan ekspresi datar seperti biasanya.
Awalnya mereka ingin makan siang di restoran hotel, tapi sayang tempatnya sudah penuh. Jadi mereka berjalan mencari restoran yang cocok dengan selera keduanya.
Ponsel Rey berdering, dia mencari tempat yang sepi untuk menerima panggilan itu. Rani tetap melanjutkan makan siang dan menunggu Rey kembali.
"Apa sudah selesai?" tanyanya, setelah kembali.
"Sudah," Rani menjawab pertanyaan Rey dengan singkat. Dia masih ingat jika Rey tidak suka mendengar suaranya.
Setelah makan siang, Rey mengajak Rani kembali kekamar.
"Ini uang jika kamu ingin jalan-jalan atau membeli sesuatu. Jangan pergi terlalu jauh, aku masih ada urusan penting. Berapa nomor ponselmu?" tanya Rey sambil menyodorkan beberapa lembar seratus ribuan.
Rani menulis nomornya di ponsel dan menyodorkannya pada Rey. Setelah mencatat nomor ponsel Rani, Rey men- dial nomor itu.
"Itu nomor ku, kalau ada apa-apa kamu telepon saja," tambah Rey, kemudian meninggalkan Rani dikamar sendirian.