Bab 14

1014 Kata
Rey menghampiri seorang wanita cantik yang sedang duduk dengan manis di kursi tunggu Bandara. Tidak lain, wanita itu adalah Bianca. Setelah menyetujui ide Indira untuk berbulan madu dengan Rani, Rey menghubungi Bianca untuk sekalian mengajaknya, tentu tanpa sepengetahuan Indira dan Rani. Parahnya lagi, dia juga memesan kamar di hotel yang sama dengan tempatnya menginap. Tentu Bianca tidak menolak tawaran Rey. Justru dia merasa senang tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia mengajak Bianca berkeliling, setelah sebelumnya menyuruh pelayan memasukkan barang-barang Bianca ke kamar yang sudah dia pesan. Setelah puas berkeliling, Rey mengajaknya masuk kesebuah restoran yang menyajikan makanan khas daerah. Rey memesan beberapa makanan untuk Bianca. Satu per satu makanan pesanan Rey datang, dari sate lilit, ayam betutu, bebek timbungan dan beberapa menu lainya menemani makan mereka. Hari semakin larut, Rey mengajak Bianca untuk kembali ke hotel. Dia mengantar Bianca sampai didepan pintu kamarnya, kemudian berjalan kearah berlawanan menuju kamarnya. Saat sudah memasuki kamarnya, dia tidak melihat Rani dimana pun. Samar terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Tanpa memperdulikan itu, Rey langsung saja berbaring di ranjang dan memainkan ponselnya. Perlahan knop pintu terbuka, Rani yang masih berbalut handuk, dengan santainya melangkah keluar dari kamar mandi. Dia belum menyadari keberadaan Rey yang bahkan saat ini tengah mengamatinya. Rey mengamati setiap gerak-gerik Rani tanpa berkedip. Sesekali dia menelan saliva, untuk membasahi tenggorokannya yang terasa mulai kering. "Aaaa ...," teriak Rani, saat melihat Rey diranjang, dan tengah memperhatikannya. Rey segera berlari kearah Rani, dan membungkam mulutnya sebelum teriakan keras Rani terdengar oleh orang. Rani panik, dia meronta-ronta mencoba melepaskan kedua tangan Rey yang memeluk dan membungkam mulutnya. Gerakan dari Rani tak sengaja menyenggol bagian bawah Rey, membuat adik kecil Rey bangun dari tidurnya. Rey dengan cepat melepaskan kedua tanganya. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Rani dengan nada tinggi. "Harusnya aku yang bertanya begitu, kenapa kamu teriak seperti orang gila?" protes Rey kesal, balik bertanya pada Rani. "Maaf, aku, aku tadi kaget dengan kemunculan mu yang tiba-tiba." Rani menunduk, menjawab pertanyaan Rey dengan nada lirih. Amarah yang tadi muncul, tiba-tiba saja menguap dan hilang begitu saja. "Kamu sengaja menggodaku, bukan?" Rey menampilkan smirk menakutkan saat mengatakan kalimat itu. Rey mendekat dan kembali memeluk Rani, memaksa menciumnya, akan tetapi Rani kembali meronta dan menghindar. Dengan tergesa, Rey mendorong tubuh Rani ketempat tidur. Menarik dengan paksa handuk yang sedikit terbuka dari tubuhnya. Dengan cepat, Rey menindih tubuh Rani. Kembali menciumi bibir ranum dan leher jenjang Rani dengan kasar. "Hentikan, kumohon hentikan ...," ucap Rani memohon, berharap Rey akan melepaskannya. Rani tidak munafik, dia juga menginginkan hubungan badan dengan Rey layaknya suami istri. Akan tetapi dia ingin melakukanya atas dasar suka sama suka, bukan karena paksaan seperti ini. "Jangan munafik, aku tahu kamu juga menginginkan ini. Sayang bukan, jika harus menyia-nyiakan makanan yang sudah di beli oleh Mamaku?" ucapnya dengan nada menyakitkan. Rey kembali menciumi bibirnya, turun ke leher dan sampailah dia di bukit kembar milik Rani. Lidahnya yang panas dan basah, menyapu puncak bukit yang berdiri tegak menggoda. Membuat satu desahan tertahan keluar dari mulut Rani. "Dasar, jalang," desis Rey, sekali lagi menghina Rani. Rani hanya pasrah, dia sudah tidak ada lagi tenaga untuk melawan atau membalas ucapan-ucapan menyakitkan dari Rey. Air matanya semakin deras mengalir seiring perbuatan hina Rey padanya. Rey mendongak, melihat wajah sembab Rani yang basah oleh air mata, dia memutuskan untuk menyudahi permainan nya dan menutupi tubuh Rani dengan selimut. Melihat air mata Rani, rasa bersalah tiba-tiba saja hinggap dihatinya. Dia berjalan masuk kekamar mandi meninggalkan Rani sendirian. Rey berendam air dingin, berharap bisa meredakan nafsu yang sudah mulai naik ke ubun-ubun. Sementara itu, Rani yang melihat Rey sudah menghilang di balik pintu kamar mandi segera bangkit dari tempat tidur dengan cepat memakai bajunya. Dia kembali berbaring, menutupi seluruh badannya dengan selimut. Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, dengan cepat Rani memejamkan mata, pura-pura tertidur. Rey juga membaringkan tubuhnya di atas ranjang, mulai memejamkan mata dan ikut tertidur. Rani yang awalnya hanya pura-pura, kini juga mulai terlelap, tertidur dengan nyenyak. Rey terbangun ketika mentari mulai menampakkan sinarnya melalui celah korden. Dia duduk dan mengucek mata untuk memperjelas Indra penglihatnya, menoleh keranjang tempat tidur Rani. Tanpa sadar, Rey tersenyum mengamati wajah Rani yang sedang tertidur pulas, bagaikan seorang bayi. "Dia ternyata manis juga." "Dasar bodoh! Apa yang kau pikirkan?" batin Rey. Mengingatkan dirinya sendiri yang mulai goyah. "Argh ...." Rey meremas rambutnya frustasi, dia benci dengan konflik batin seperti ini. Rey segera melangkahkan kaki ke dalam kamar mandi, mulai membersihkan diri. Dia menyalakan shower, mengarahkannya tepat di atas kepala berharap bisa menghapus gambaran kejadian tadi malam. Perasaan Rey campur aduk saat mengingat kejadian tadi malam. Amarah, benci, rasa bersalah dan rasa nikmat, semua bercampur menjadi satu menimbulkan sensasi aneh di hatinya. Selesai mandi dan ganti baju, Rey keluar dari kamar meninggalkan Rani yang masih tertidur pulas. Tak lupa, dia juga menyuruh pelayan menyiapkan sarapan untuk Rani, dia tidak mau disalahkan oleh Mamanya jika terjadi sesuatu dengan Rani. Rey berjalan melewati beberapa kamar, dia juga berpapasan dengan beberapa turis yang masuk kedalam kamar bersama pasangannya. Sampailah dia didepan pintu kamar Bianca, tanpa basa-basi dia langsung masuk karena pintunya sedikit terbuka. Dia kaget karena melihat Bianca hanya memakai handuk, rambutnya juga basah menandakan dia baru selesai mandi. Rey mendekatinya, dan memeluk Bianca dari belakang, berniat melanjutkan hasrat yang tertunda. Dia memang tergoda melihat keadaannya seperti itu, akan tetapi dia heran, kenapa saat menyentuh Bianca dia tidak merasakan sensasi yang sama seperti saat menyentuh Rani. Rey melepaskan pelukannya, dan mengurungkan niatnya. "Aku tunggu didepan ya, kamu selesaikan dulu kegiatanmu." Setelah mengatakan itu, Rey melangkah menjauh. Dia menunggu Bianca di sofa dekat televisi. Bianca keluar, menggunakan dress berwarna merah dan juga sebuah topi pantai. Sebelum memulai aktivitas, mereka mampir kesebuah restoran untuk sarapan. Rey mengirimkan pesan untuk Rani agar memakan sarapannya, dan tidak pergi kemanapun. Dia menyuruh Rani agar menunggunya dikamar, dengan alasan masih ada pekerjaan. Rey mengajak Bianca jalan-jalan ke sebuah pantai, menikmati keindahan alam di sana. Tak lupa mereka juga mampir ke pasar seni Kuta, Bianca membeli pernak-pernik lucu khas Bali. Rey merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Bahkan dia melupakan keberadaan Rani, yang ditinggalkannya sendirian di kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN