Kelakuan Kakak Ipar

1331 Kata
"Jadi bagaimana, Ma. Ya ... bukan sekarang sih. Aji juga lagi ngumpulin uang untuk bangun rumah sederhana." Mama diam saja. Menggoyang kursi goyang yang didudukinya sambil manatap kosong ke depan. Aku terus saja menunduk. Merasa bersalah karena aku yang memaksa Mas Aji untuk bicara sama Mama. "Ji, dari ketiga saudaramu. Harapan Mama bergantung padamu. Kamu, anak bungsu dari 4 bersaudara. Kalau boleh jujur, kamu yang paling perhatian dengan Mama di rumah ini. Sebelum Neza datang, semua pekerjaan rumah ini hampir seluruhnya Mama yang kerjakan. Mama tidak pernah protes atau marah, karena Mama ingin keluarga ini akur dan tidak terpecah. Mama mau anak-anak Mama dekat dengan Mama." Mendengar kata-kata Mama rasa bersalah itu semakin menggulung dalam d**a. "Za, makasih ya! Karena kamu pekerjaan Mama menjadi ringan di rumah ini. Karena yang lain sibuk berkarier, jadi mereka cuma sempat ngurusin pakaian, yang lainnya nggak sempet lagi. Semenjak sama kamu, Mama merasa ada temennya." Aku tersenyum samar, kemudian menoleh ke arah Mas Aji. Memang jika dibandingkan dengan yang lain Mas Aji yang paling dekat dengan Mama, apa mungkin karena Mas Aji anak bungsu, jadi seperti itu. "Sama-sama, Ma." "Pertama kali lihat kamu, Mama sudah jatuh sayang sama kamu, Za. Mama yakin kamu itu beda sama yang lain." Aku menggigit bibir bawah, terus berusaha tersenyum meskipun kata-kata Mama cukup membuat hatiku gerimis. Selesai bicara dengan Mama kami langsung menuju atas, masuk ke kamar. "Gimana, Yang?" Tanpa mengatakan apa-apa aku langsung memeluk Mas Aji. Entah perasaan apa ini. Ingin pergi, tapi tak tega meninggalkan Mama di sini. ***SM*** Kerroompyang!! Aku kaget mendengar keributan di dapur. Kulirik jam di atas kepala ranjang, jam delapan pagi. Ya ampun aku ketiduran setelah salat subuh tadi. Mas Aji juga masih terlihat pulas mengingat hari ini hari libur, jadi semua ada di rumah. Segera aku bangun dan menyambar hijab instan dari balik pintu, lalu segera keluar kamar. Aku menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Sampai di dapur kulihat Mbak Rima sedang mencuci piring dengan wajah merah bak kepiting rebus. "Hari libur, bukannya istirahat. Malah bersih-bersih rumah. Yang nggak kerja malah enak-enakan bangun siang!" rutuknya sambil melirik sinis ke arahku. "Maaf, Mbak aku ketiduran." Aku berusaha menjelaskan. "Tuh, sarapan dulu nyonyah." Terdengar suara dari belakang, terlihat Mbak Aulia meletakkan gorengan di meja. Sungguh aku merasa tidak enak. Biasanya setelah salat subuh aku langsung turun ke bawah untuk beres-beres rumah, tapi karena Mas Aji menarikku kembali ke kasur kami jadi tidur lagi berdua sambil berpelukan. Aku bingung harus bagaimana, akhirnya mendekati Mbak Rima untuk menyusun piringnya, tapi. "Nggak usah! Malah ribet dibantuin orang. Aku bisa kerja sendiri. Nyonya besar duduk aja di meja makan sono!" Mbak Aulia tersenyum kecil. Akhirnya aku berbalik naik ke kamar dan diam-diam menangis. Puas menangis aku melihat wajah Mas Aji. Jika aku memaksa pindah dari sini kasihan sama dia. Yang satu istri yang satu orang tua. Dia pasti berat. Lagi pula, Mas Aji berjanji akan mengajak pindah setelah uangnya cukup untuk membangun rumah. Kuhapus air mata dan kembali turun ke bawah untuk melakukan pekerjaan lainnya. Mereka makin marah jika aku diam saja dalam kamar. Terlihat Mama sedang menanam bunga di halaman depan. Aku mendekat dan ikut membantunya. "Udah bangun, Za?" "Maaf, Ma. Aku kesiangan." "Nggak apa-apa. Sekali-kali nggak apa lah kamu juga setiap harinya kan yang ngerjain semua. Hari libur seperti ini gantian mereka, supaya mereka merasakan juga pekerjaan rumah tangga. Biar tangannya nggak kaku." Mama terkekeh. Andai Mama tahu kalau tadi Mbak Rima dan Mbak Aulia menyindirku. Aku hanya tersenyum, ikut membantu Mama menanam bunga. Mama menjelaskan kalau semua bunga yang ada di sini adalah hasil karya tangannya sendiri. Ia juga bercerita kalau menanam adalah caranya untuk menghilangkan stress. "Melihat bunga tumbuh subur dan bunganya bermekaran ada kesenangan tersendiri di hati Mama, Za. Beban yang ada dalam d**a rasanya hilang kalau lihat bunga pada mekar." "Oya, Ma?" Mama mengangguk. "Nanti sore Mama mau arisan, tolong kamu siram bunga-bunga ini ya, Za. Kalau nggak disiram takutnya layu dan biasanya dalam beberapa hari mati. Mama nggak mau itu." "Siap, Ma." Ada berbagai macam bunga di sini. Berbagai bunga mawar dan anggrek indah menghiasi taman. Ada bunga peninggalan Almarhum Papa mertua. Bunga mawar putih. Kata Mama yang menanam adalah beliau, karena itu Mama terus menjaganya supaya tetap segar, indah dan terawat. ***SM*** Aku dan Mas Aji baru saja pulang dari JJM alias jalan-jalan malam. Kami membeli mie ayam pakde blankon dan bandrek hangat. Sampai di rumah aku langsung mengambil mangkuk, sendok dan gelas, lalu kuletakkan di meja makan. Melihat kami pulang membawa makanan Acio memanggil semua orang. Semua berkumpul di meja makan kecuali Mama, sepertinya beliau kelelahan istirahat dalam kamar. Nampak wajah Mbak Rima dan Mbak Aulia tak bersahabat. "Beli di mana, Ji?" tanya Mas Tama. "Deket alun-alun, Mas," sahut Mas Aji singkat. "Yang di sana nggak enak. Tempatnya juga kurang bersih. Iya sih murah." Mbak Aulia bersuara. Seperti jijik dia mengambil satu dan membukanya, lalu memasukkannya dalam mangkuk. "Tapi berhubung nggak ada makanan, Hayuk aja! Aji biasanya nggak pernah beli di sana, pasti inisiatif orang lain ini." Ia melirikku sambil membuka mulut dan memulai makan lebih dulu. "Mbak nggak suka beli di sana?" tanya Mas Aji. Dia mengangguk anggun. Mas Aji menggelengkan kepala dengan senyum tipis. "Tapi Mbak tau persis harga dan tempatnya ya? Penjualnya juga titip salam sama Mbak. Katanya Mbak biasa nggak mau pake sayur dan minta banyakin ayamnya." Uhukk!!uhukk!! Mbak Aulia terbatuk, segera dia meminum segelas air putih yang ada di meja. "Eh, uhuk! Itu itu ... Dulu." Ia berusaha mengelak. "Kalau sekarang nggak suka?" sekali lagi Mas Aji bertanya. "Nggak pernah lagi," sahutnya singkat. "Tapi katanya baru kemarin Mbak mampir sama Farel ke sana." Kini Mas Aji menoleh ke arah Farel. "Mas Farel, suka nggak makan mie ayam Deket alun-alun?" Nampak anak itu berpikir. "Suka, kata Mama murah dan enak, bisa nambah juga jadi beli di sana terus. Kemarin kita ke sana kan Ma?" Mbak Aulia diam saja. "Sudah, gitu aja dipeributkan. Makan nggak boleh sambil bicara. Keburu dingin mie ayamnya nggak enak lagi." Mas Hersa menengahi. Semua kembali makan dengan khusyuk. Aku tertawa kecil melihat semua ini. Nampak wajah Mbak Aulia merah menahan malu. Ternyata Mas Aji diam-diam suka memperhatikan aku juga sering diganggu mereka. Mbak Rima beberapa kali melirik Mbak Aulia, sedangkan yang lain biasa saja seperti tak terjadi apa-apa. "Za, kapan-kapan temeni aku ke salon yuk!" Tiba-tiba Mbak Kartika bersuara. "Ke salon, Mbak?" "Iya. Rambutku mau ganti warna biru aja. Bosen warna coklat terus." "Oh iya. Nanti kasih tahu aja kapan." Mbak Rima dan Mbak Aulia saling pandang, kemudian seperti menunjukkan muka aneh seolah-olah mengejekku. Ah, kenapa pula aku memperhatikan mereka. Bikin sakit hati aja. "Mas, kok tadi gitu sama Mbak Aulia di meja makan?" tanyaku saat kami sudah berada dalam kamar. "Sebel. Dia kayak cari masalah terus sama kamu, Yang. Kamu jangan diem aja, nanti kamu makin diinjak-injak sama mereka." "Aku nggak suka keributan, Mas. Lagian kalau kami sering berselisih paham kan kasian Mama juga. Nanti dia jadi kepikiran. Mama aja selama ini terus mengalah dan berusaha sabar. Jadi, kita ngalah ajalah, kecuali mereka dah keterlaluan." Mas Aji manatap, aku tersenyum. "Ini anak siapa sih baik sekali?" "Anaknya Pak Brotowali." "Anaknya Pak Brotowali, tapi kenapa manis sekali." Kami sama-sama tertawa, kemudian bercanda. Kalau Mbak Aulia dan mbak Rima adalah racun, Alhamdulillah aku memiliki penawarnya, dialah mas Aji. Suami sekaligus partner seumur hidupku. ***SM*** Pagi-pagi sekali rumah digegerkan oleh tangisan Mama. Aku yang sedang memasak nasi di dapur langsung ke depan melihatnya. Ternyata bunga mawar putih kesayangan Mama layu dan beliau khawatir akan mati. Aku ingat sudah menyiramnya kemaren sore, lalu kenapa bisa layu. "Apa Mama lupa siram bunganya, Ma?" tanya Mbak Kartika sambil menenangkan. "Mama emang nggak siram, karena Mama pergi arisan, tapi Mama sudah minta tolong Neza untuk menyiramnya. Kenapa masih layu? Papa, Maafkan Mama nggak becus urus bunga peninggalan Papa." Pilu sekali mama menangis. Bersamaan dengan itu semua orang menatapku, mengulitiku dengan tatapan tajam itu. Seolah mereka menuduh bahwa akulah yang pantas bertanggung jawab atas kesedihan mama pagi ini. Ya Allah, bagaimana caraku menjelaskannya. Demi Allah, aku sudah menyiramnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN