Kelas pertama hari ini Musik klasik. Kelas tambahan, namun jadi pelajaran paling awal, aneh. Yang buat aku resah adalah, entah tahun berapa yang akan menjadi pembahasan, aku sudah membaca semalam. Dan ...? Sama sekali tak ada satupun musik yang aku ketahui dari era 60, 70, dan 80an. Rasanya membawa nenek kemarin akan membawa keberuntungan untukku.
Kelas ramai sekali, aku berjalan dan duduk di kursi paling belakang. Benar, semua yang ada di sana terlihat berbeda, baju yang mereka pakai, gaya dan cara bicara. Kelas ini seperti taman model fashion show. Semua berkelas, aku? Aku hanya memakai kemeja putih oversize, lalu celana jeans hitam, sepatu kets bekel milikku sejak SMA, dengan rambut panjang yang terikat. Semua aku beli dari pusat grosir.
Pintu terbuka lalu semua hening, duduk dengan rapi seseorang berjalan masuk, Om Yogi. Buat hening seruangan, tak ada senyum disaat ia berdiri di depan kelas.
"Selamat pagi, sebagian di sini sudah mengenal saya pasti dan juga sistem pengajaran yang saya berikan." Ia terdiam menatap ruangan. "Saya tidak suka kelas bising. Poin pertama tidak ada yang boleh lalai tugas, poin kedua jangan bising dan ke tiga?"
Mematuhi poin satu dan dua! Seru sebagian mahasiswa yang ada di sana.
"Good." Ia menyahut kemudian mengambil semua tingkat di meja dan sebuah toples berisi permen warna-warni. "Sebagian di sini ada mahasiswa semester 2 sampai 4 karena akan bersaing untuk pertukaran mahasiswa. Betul?"
Sebagian yang ada di sana mengangguk. Berarti mereka yang mengangguk adalah para senior.
"Ayo untuk anak baru, silahkan perkenalkan diri kalian. Sa—"
Ucapan Om berhenti saat pintu terbuka. Seorang mahasiswa berjalan masuk, ia meminta maaf lalu menuju tempat duduk. Ia berjalan ke arah belakang. Seseorang di depanku menoleh.
"Pindah aja anak baru, ini tempat duduk dia." Kata mahasiswa itu.
"Ah, oke."
Mahasiswa yang terlambat itu kini ada di hadapanku. Menatap tanpa senyum, buat seruangan memerhatikan.
"Maaf," ucapku lalu merapikan tas.
Ia menahan tas milikku lalu mendorong lebih ke dalam. Kesal sebenarnya di perlakukan seperti ini. Hanya kali ini tak mau buat masalah di hari pertama kuliah.
"Emang gue ngusir Lo?" Ia bertanya, judes, ketus, nyebelin semua hal yang aku benci. Muka dia aja kelihatan banget sebuah pengusiran.
"Kata, dia—" Aku melirik mahasiswa yang memberitahu tadi. "Ini kursi kamu?"
"Ngomong apa Lo Jim?" tanya si judes. Sumpah, ada lagi makhluk kaya gini di kampus?
"Neng, sini duduk sama Abang Jimmy aja, sama Kuki galak, " tawar mahasiswa yang tadi memberitahu perihal kursi ini. Bisa dibilang wajahnya lumayan juga dengan tatapan mata sayu. Aku suka matanya.
Si judes mendesis, ia lalu sedikit mendorongku sedikit ke dalam memang masih ada kursi kosong di sana. "Pindah besok." Katanya lagi.
"Ah, tapi." Aku membawa tas berniat pindah, setelah dia malah seolah meminta aku tetap disini. 'Situasinya rumit sekali, maunya apa sih?
Ia menahan dengan memegang tanganku yang berniat beranjak. "Lo enggak ngerti besok?"
"Ah, maaf." Aku kembali duduk, daripada buat ribut lebih lama. tentu aku tau besok masih 23 jam 50 menit lagi. Ada apa sebenarnya sama si judes ini sih? Sementara aku duduk dengan gusar perlahan ia menatapku dingin. Juga si cowok manis yang membelaku tadi menoleh ke belakang.
"Kuki, stop nakutin anak baru. Dia cantik, cewek cantik enggak boleh di buat takut."
Aish, tercium bau Playboy dari mulut manisnya. Oke, fix si Jimmy ini playboy cap kadal.
Laki-laki bernama Kuki itu menatapku lagi, semakin tajam seolah membaca sesuatu entah apa. "Apa gue nyakitin lo?"
Aku tak takut hanya saja tak ingin membuat ribut. Aku gelengkan kepala. "Enggak kok lo eng—"
"Kalau begitu lo boleh di sini," tegasnya lalu melirik tajam ke arah Jimmy. "Lo dengar? Sekarang liat ke depan." Titahnya dengan sudut alisnya yang seolah mengarahkan Jimmy untuk menatap ke depan.
Jimmy dengan malas mengangguk dan kembali ke menatap ke depan.
Tuk! Tuuk!!
"Aww!!" Pekikku dan Kuki bersamaan sesuatu mengenai keningku.
Lalu juga Jimmy menyusul memekik kesakitan, dari depan aku lihat Om Yogi melempar permen dengan ketapel, lalu tatapannya tajam menatap kami bertiga.
"Kalian sudah selesai dengan drama ini?" tanyanya dingin. "Buka buku kalian bagian musik klasik era 60an."
Good musik 60an. Tuhan, selamatkan hambamu ini. Beri aku 100 soal matematika saja daripada harus belajar tentang musik klasik.
"Kamu siapa kamu?" Om Yogi menunjukku, menatap sekilas lalu ia kembali melihat ke buku yang ia bawa.
"Saya Om?"
Pertanyaan ku buat satu ruangan tertawa riuh. Aku lupa posisi kami.
"Om? Sejak kapan saya nikah sama Tante kamu?"
Sialan emang si Om, emang om enggak nikah sama Tante ku. Tapi, nikah sama aku. Jangan sampai aku keceplosan manggil dia sayang. Bisa heboh satu dunia persilatan.
"Maaf, Pak Yogi."
"Apa musik favorit kamu? Siapa nama kamu?"
Hmm, kelakuan si nyebelin pura-pura tanya nama? Bilang aja dia kesal karena aku buat kerusuhan di kelasnya.
"Saya Reya Pak," jawabku.
"Good, Reya, sekarang kamu jawab pertanyaan saya. Siapa penyanyi favorit kamu?"
" Aah, GOT7, BTS, Twice, straykids, dan DAY6." Jawabku sekenanya, buat seluruh kelas tertawa riuh.
"Musik, genre di era 60an,' Ia menatapku dengan senyum penuh dengan penghinaan. Astagfirulaah, Ya Allah ya Tuhan kami. Kuatkanlah hambamu ini.
Aku terdiam, ya ampun Om aku belum lahir! Aish! Siapa yang mau dengar lagu era 60an sekarang ini? Bukan enggak ada tapi, yang jelas itu bukan aku. Catat itu!
Aku melirik Kuki si cowok judes itu yang bahkan tersenyum di sudut bibirnya. Kuki 'kan namanya? tadi aku dengar Jimmy panggil dia Kuki.
"Apa mereka ada di era 60an?" tanya di Bapak Guru Yogi lagi. ia menatapku benar-benar layaknya seorang guru tanpa pri-kesuamian. Nyebelin!
"Enggak ada Pak."
Om Yogi, menggeleng lalu mengalihkan tatapannya. "Reya, pelajari itu buat laporan tentang musik klasik era 50 sampai 70. Dan kirim ke meja saya Minggu depan."
***
Aku merebahkan kepala di meja kantin merutuki kesialan ku karena kuliah di sini. Aku harusnya bertanya di mana aku akan kuliah, kampus seperti apa? Ah! Reya hidupmu bakal sial terus selama beberapa tahun ke depan.
"Rey, kenapa lo?"
Aku tau siapa yang berbicara tanpa harus menengadahkan muka, Tedi.
"Diem, jangan tanya apa-apa!"
Sesuatu diletakkan tepat di depanku dan itu adalah makan siang. Aku melirik sekilas, juga melihat Tedi yang juga merebahkan kepala.
"Ted, jauh-jauh dari gue sana," pintaku lemah.
"Kenapa sih lo? Lo tiba-tiba ilang sejak kirim pesan aneh itu. Terus sekarang lo ada di sini. Ada sesuatu kan?" Tedi khawatir aku tau. Tapi, aku belum bisa mengatakan apapun. Akan sulit untuk diungkapkan dan dijelaskan apalagi, perihal pernikahan aku dan Om Yogi, si guru musik klasik sekaligus pemilik yayasan Valerie.
"Lo mendingan jauh-jauh sana dari gue. Gue bakal tercatat dalam sejarah Valerie sebagai murid paling bodoh. Daripada lo malu mending lo menjauh sekarang."
Tedi tak bergeming hanya menatap tajam meminta penjelasan. Memang dari dulu dia enggak malu kalau malu sama-sama aku, hix terharu.
"Lo kan tau kalau dari dulu nilai kesenian gue jelek. Gue enggak bakal bertahan di sini."
"Lo itu bisa tau," ucap Tedi ia terdiam lalu berpikir sebentar. "Ya, sedikit sih."
Sialan kan, udah diyakinkan terus dijatuhkan ke dasar jurang.
"Hari pertama udah belajar Musik klasik era 60an. Gue kan bukan nenek, mana gue tau lagu itu?"
"Cukup enak lo pasti juga tau, Nonton Bioskop? Lo tau? Benyamin Sueb penyanyinya."
"Malam minggu aye pergi ke bioskop?" aku nyanyikan sepenggal liriknya.
Tedi mengangguk. "Itu lagu jaman 60an, tepatnya 1969. Sepanjang Jalan Kenangan? Lo tau kan? Itu juga lagu era 60an penyanyinya Tetty Kadi, tahun 1967. Bus Sekolah? Penyanyinya Koes Bersaudara. Banyak banget yang di remake jadi enak. Tapi gue juga suka versi lama. Sederhana, lo tau jaman dulu studio rekaman enggak semaju sekarang. Mereka bisa buat rekaman musik kaya gitu udah keren banget. Gue dengerin dari era 50an buat penelitian laporan. Dikit-dikit lo bakal suka deh."
Ya Tedi memang suka musik, bernyanyi dan menulis lirik. Tapi, aku? Aku suka seni hanya sebatas suka.
"Lo bisa, pasti! Lo cuma perlu belajar lebih banyak." Tedi berbicara layaknya motivator dan aku akan mempercayainya.
"Tapi sejujurnya, gue juga menunggu lo jadi mahasiswi terbodoh. Hahahahhha!"
Sialan memang, ku lempar permen yang tadi mendarat di keningku ke arah si bodoh yang tengah tertawa riang di atas penderita kawan. Ia masih tertawa sementara aku masih saja muram karena kesal. lihat akan buktikan bahwa aku, Reya bisa dapatkan nilai baik. Ya,aku enggak bisa berjanji lebih dari itu.
"Pak Yogi? lo dapat hukuman di kelas pertama lo?"
"Apa dia memang begitu?"
Tedi mengangguk seraya mengambil sesuatu dari kantong seragam. Sebuah tube cream, aku rasa itu obat penghilang memar. Tedi lalu mengoleskan itu dengan sedikit tekanan di akhir membuatku memekik kesakitan.
"Sakit ih!"
"Bawa ini, dia pasti kaya itu kalau mahasiswanya berisik. Bawa kaleng permen yang isinya dia buat untuk ngehukum mahasiswa nya."
Aku tau satu kebiasaan suamiku, menghukum murid dengan mengarahkan permen ke kening. Luar biasa!
***
Aku selesai memasak makan malam dan menatanya di meja. Perasaanku lebih baik setelah tiba di rumah sore tadi. Sejujurnya, sekolah itu membuat bingung. Aku tak terbiasa dengan materi yang diajarkan. Dan semua yang sudah terjadi akan aku terima. Aku tak suka terlalu memberontak, jika keadaan tak baik lebih baik mengalah dan menerima.
Pintu terbuka aku tau itu pasti dia, benar ia melangkah cepat menghampiri. Lalu menarik, mengajak duduk di sofa, setelahnya membuka tas miliknya.
"Om udah makan?"
Tak menjawab ia mengoleskan krim yang sama seperti yang diberikan Tedi tadi.
"Saya enggak mau nenek marah karena membuat kening kamu merah."
Ralat, sebenarnya ini tadi memar buka sekedar merah. Namun, beruntung aku punya sahabat baik yang sudi mengobati membuat lebih baik.
"Besok, jangan repot-repot Masak. Mungkin saya enggak pulang karena harus ke perusahaan."
Perusahaan? Dia kerja juga?
"Aku akan memasak, Om. Om tuh sibuk dan makan makanan beku bukan kebiasaan yang sehat. Dan ini bukan karena pernikahan ini. Aku menghargai Om karena Om lebih tua dan Om itu Pak guru aku."
Ia menatap serius, lalu berpaling. "baik, sesukamu saja," ucapnya singkat lalu berjalan ke kamar dengan cepat.
Apa dia sedang marah?
***
..
.
.