9. Kak Kuki

2151 Kata
Hari libur berlalu begitu saja. Tak melakukan apa-apa berada di rumah bersama Si Om yang terus saja diam. Kami tak banyak bicara. Aku diam di kamar dan ia juga beberapa kali pergi ke luar rumah. Kami bukan seperti sepasang suami istri. Hanya seperti orang asing yang tunggal bersama. Ya, bagus juga sih, aku jadi merasa aman. Aman dari segala kegiatan manusia dewasa yang sudah menikah pada umumnya. Bukannya tak mau merasakan dicumbu. Seumur hidup dicium saja aku belum pernah. Sejak lahir dan menghirup udara di bumi sampau kini dua puluh satu tahun usiaku, aku jomblo sejati. Tak ada ciuman merasa, pelukan manja, kata nenek kalau masih muda harus jauh-jauh dari sentuhan lelaki demi jaga harga diri sendiri juga keluarga. Sudah miskin, jangan cari gara-gara kata ayah. Apalagi aku anak satu-satunya tanpa ibu. Lidah tetangga dan netizen sama pedasnya. Aku yang diam di rumah saja dan sibuk kerja jadi bahan gibah. Bagaimana kalau aku sampai aneh-aneh sama laki-laki? Akan setajam apa mulut mereka? Hari ini aku sudah di kampus sejak pagi. Meski aku ada kelas jam sepuluh, pagi ini enak dihabiskan dengan bermain di taman belakang. Kelas hari ini tentang bisnis dalam bidang musik tentu saja. Dan yang menjadi pembahasan adalah bisnis musik di Korea yang akhirnya menjadi salah satu pemasukan utaman di negara ginseng tersebut. Setelah selesai kelas aku makan siang, lalu mengelilingi kampus. Tedi tak terlihat tadi, seharusnya ia ada kelas hari ini. Langkahku terhenti mendengar dentum musik dari salah satu ruang, menoleh ke kiri, terlihat Jimmy, Pak Joko dan seorang siswi menari dengan sangat apik. Gila! Keren! harmoni dari keduanya menyatu, aku memang tak mengerti banyak. Namun,aku penikmat musik dan tari yang cukup kritis. Ya, meskipun cuma lihat acara tari oppa-oppa Korea. Tapi serius, bagiku tarian Jimmy luar biasa lentur dan dinamis. Seolah dia punya sayap lalu berlenggak dan bergerak dengan lincah. "Itu Arin sama Jimmy," suara bariton yang cukup mengejutkanku. Aku menatap dengan kesal sementara ia tersenyum. Kemana coba dia, dari tadi baru muncul sekarang? Dasar Tedi muncul di saat yang enggak di buruhkan. "Lo kenal mereka Ted? Gue kenal si Jimmy waktu kelas tambahan musik klasik." tanyaku pada temanku itu. Aku mengenal Jimmy yang jelas bertingkah seperti playboy aktif di awal kami bertemu dulu. "Kenal dua-duanya satu angkatan sama gue di semester empat." jasa. Tedi sambil asih mengunyah permen dalam mulutnya. Ia lalu menoleh dan tersenyum padaku. Ku anggukan kepala. Kemudian menoleh padanya. "BTW, bisa enggak Lo enggak ngagetin gue?" "Maaf, padahal gue tuh ngikutin Lo dari tadi di tangga. Bisa-bisanya Lo enggak sadar." jelasnya terkekeh senang sekali sepertinya kalau berhasil buat aku jantungan. Sejujurnya aku sering merasa enggak akan bisa bertahan di sekolah ini. Bukan karena muridnya, tapi karena pelajaran yang tak bisa ku laksanakan sepenuh hati. Sungguh pelajaran di kampus ini sama sekali bukan tipeku. Enggan belajar rasanya setiap kali aku ingat apa saja yang harus aku pelajari. Tedi menatapku. "Lo sakit ya?" tanyanya. "Gue lagi enggak enak badan sedikit." Jawabku. Tedi memegang keningku. "Enggak demam Lo, baik-baik aja. Lo lagi PMS?" Aku menggeleng, aku baru saja selesai beberapa hari lalu. Pasti setiap aku sakit atau sensi Tedi mengira aku PMS "Udah lah gue mau ikut kegiatan ekskul." "Ikut kelas kerajinan tangan, Lo kan suka bikin pernak-pernik." "Lo terlambat kasih tau. Gue emang mau ke sama." sahutku. Temanku itu mengacak rambutku. "Pulang ngampus ada waktu 'kan? Gue pingin ngajak ngopi." Kujawab dengan anggukan, aku tau Tedi ingin membicarakan rahasia yang belum bisa aku ungkap. Ia masih penasaran dengan chatku terkahir kali. Setelahnya, berjalan menuju ruang kerajinan tangan yang berada di gedung belakang. Aku suka kerajinan tangan, berharap ini bisa menjadi pelipur dari semua hal yang rasanya masih sulit aku terima. Aku bukan tak bisa menerima, karena terbiasa menerima keadaan aku berusaha menyukainya. Hanya butuh waktu, lebih lama. Meski aku tau keadaan menguntungkan aku. Masuk ke ruang dengan tulisan 'ruang kerajinan', hanya ada empat orang yang aku rasa tak serius mengikuti kelas ini. Semua mahasiswa yang terlihat sangat tak antusias. Ruangan ini liat biasa, punya banyak lemari laci besar dengan banyak perlengkapan, bahan dan banyak barang yang diperlukan untuk membuat aksesoris. Mataku tercerahkan, melihat banyak pernak-pernik untuk membuat kerajinan. Dari aneka manik, kristal buatan dari batu alam, tanah liat aneka kain. Ini surga untuk pecinta kerajinan seperti aku. Seorang lain masuk, dengan pakaian rapi. Aku rasa dia tentor kelas ini. "Aah, member baru," katanya senang. Lalu ada orang lain masuk ke dalam ruangan. Aku menoleh dan kami saling tatap, Kak Kuki. Ia berjalan lalu duduk di kursi paling belakang. Sementara aku masih berdiri melihat-lihat. "Perkenalkan dirimu." Pinta sang kakak mentor padaku. Aku berjalan mendekat ke depan kelas dan memperkenalkan diri. "Hai, aku Freya Anggun Kinanti. Kalian bisa panggil aku Reya ." "Oke Reya lo boleh manggil gue Kak satria. Sekarang silahkan duduk." Aku harus duduk di mana? Bukan karena tak ada kursi kosong. Tapi, malah terlalu banyak kursi kosong. Kuputuskan duduk di tengah kuletakkan tas dan —Kuki? Kak Kuki pindah dan duduk di sampingku tanpa berbicara apapun juga tetap menatap ke depan. Aku juga enggak mau terlalu memikirkan itu. "Kelas ini kelas tempat untuk melepaskan penat. Kerajinan tangan adalah karya seni yang limited. Sekalipun orang yang sama membuat benda yang sama itu tak akan sama seratus persen. Maka, hasil buatan tangan adalah barang tanpa harga. Bahkan sebuah gelang tali bisa berharga jutaan." Aah, menyenangkan! Aku suka, aku suka! Mendengar penjelasan Kak Satria dengan cermat. Meski sebuah penjelasan umum. Bahkan, kami diajarkan cara menghitung menentukan harga jual. "Sekarang silahkan membuat aksesoris. Aku akan memilih nanti untuk di pasarkan di galeri kampus. Juga untuk dijadikan aksesoris penampilan mahasiswa yang menjalani showcase atau pertandingan unjuk bakat lain. Silahkan, pilih kebutuhan kalian." Semua berjalan lalu mengambil sebuah keranjang plastik untuk menempatkan bahan pilihan mereka. Aku memilih kristal imitasi dari batu alam yang sejak tadi ku lirik, tali untuk gelang, Mutiara imitasi, jepit rambut juga yang lain. Aku melihat Kak Kuki sudah kembali ke kursi. Aku juga telah selesai dan saatnya kembali. Haruskah aku menyapa? "Kak mau buat apa?" tanyaku seraya duduk dan meletakkan bahan pilihanku. "Enggak tau," jawabnya singkat dan terlihat tak tertarik dengan bahan-bahan miliknya. Aku mulai dengan membuat gelang dari tali yang kubuat dengan simpul tali. Cukup mudah karena aku sering membuatnya. Setengah jam aku telah membuat enam gelang dan ku lanjutkan dengan membuat jepit rambut dari kristal imitasi aku membuat pola dari kain flanel hitam, lalu menjahitnya menjadi satu kususun sesuai dengan warna yang kuinginkan. "Reya." "Iya Kak?" Ku menoleh dan tersenyum, ini bukan centil atau gimana tapi, ini refleks yang kumiliki. Aku akan menoleh dan senyum ke setiap orang yang memanggilku saat aku sedang serius. "Itu, gelang itu." Tunjuk Kak Kuki. "Ini?" tanyaku menunjuk gelang hitam bersimpul abu dan putih. Ia mengangguk. "Buat gue." "Ini?" Tanyaku mengangkat gelang buatanku. Lalu ja mengarahkan tangannya, segera aku memakaikan di pergelangan tangannya dan itu pas sekali. "Thanks," ucapnya lalu kembali menatap ke depan seraya menatap gelang di tangannya. Aku juga kembali menatap ke depan. kembali mengerjakan kerajinan milikku. Akan aku buat beberapa yang spesial semoga akan memberikan nilai lebih. dan yang aku ketahui kalau kerajinan tangan yang dibuat di sini sering kali di pakai untuk pertunjukan para mahasiswa yang menjalankan showcase. Aku harap milikku ini akan menjadi salah satunya. * Kelas terakhir hari ini adalah penilaian bernyanyi duet dan aku tak punya teman duet. Aku belum meminta siapapun untuk jadi rekan duet. Katena hanya Tedi yang baku kenal. Dan kami memiliki jadwal yang berbeda. Aku bersama beberapa teman masuk ke ruangan yang terlihat seperti ruang karaoke tapi, dengan penataan lebih sederhana. Ada kursi tersusun di depan sebuah panggung kecil yang di atasnya ada dua buah mikrofon. Guru Hari ini adalah Pak Joko. Sebenarnya dia guru apa sih? Pria dengan tubuh besar dan juga memiliki tampang yang lucu. Beliau sering sekali membuat kelas riuh dan cukup menyenangkan. Banyak materi yang ia berikan sama sekali tak aku mengerti apalagi mengenai aransemen musik. "Semua sudah berkumpul?" tanyanya dijawab dengan riuh. "Pastikan, kalian punya rekan duet." Aku mengangkat tangan. "Pak Joko!" "Ya, kenapa kamu?" Ia bertanya dengan menunjuk tongkat yang ia pegang. "Saya belum—" Seseorang menurunkan tanganku tiba-tiba. "Masalah selesai," ucapnya. Kak Kuki ... Baguslah, setidaknya aku punya rekan duet. "Enggak jadi Bapak," ucapku lagi buat Pak Joko hela napas. Sepertinya ia agak kesal. "Baiklah, kita mulai." Aku menatap Kak Kuki. "Kak maaf nih, aku enggak pintar nyanyi, suaraku pas-pasan, nadaku rendah juga. Apa enggak masalah? Kakak bisa dapat nilai jelek lho." "Lo lagi suka lagu duet apa?" Si judes bertanya dengan nada yang berbeda. Ada apa ini? Ah, ia mungkin bersikap seperti itu karena sangat berterima kasih atas gelang pemberianku tadi. "Belakangan aku lagi suka Best Part Daniel Caesar." "Coba Lo nyanyi satu bait." katanya kemudian seolah tertarik dan kini menatapku. Aku menyanyikan lirik reff. Kak Kuki mendengarkan dengan serius. Meski jujur aku tak percaya diri dengan suaraku yang pas-pasan ini. Sementara aku bernyanyi Kak Kuki memerhatikan dengan seksama, ia perhatian sekali pada tiap lirik yang aku nyanyikan. "Oke kita nyanyi itu, pahami liriknya baik-baik. Tugas Lo cuma perlu dalami lagu yang kita nyanyiin nanti. Gue juga tau lagu ini turunin nadanya setengah." Aku anggukan kepala, mengerti maksudnya. Lalu ku tanamkan, baik baik ingatan saat aku jatuh cinta saat sekolah menengah pertama dulu. Ya, meski bertepuk sebelah tangan sih. "Kuki dan ... Reya?" panggilan dari Pak Joko membuat kami mengangkat tangan. "Udah pada siap?" Kak Kuki itu melirikku, aku jawab dengan anggukan. Kami berdiri, melangkah ke depan. Ini pertama kalinya aku bernyanyi di depan hampir tiga puluh orang lain. Gugup, takut, bagaimana kalau aku pingsan? Kak Kuki berjalan lebih dulu, berbicara dengan Pak Joko. Sepertinya, ia memberi tau lagu apa yang akan kami nyanyikan juga meminta nada lagu kami diturunkan setengah. Tentu saja itu terpaksa kami lakukan karena nada dasar suaraku yang rendah. Aku berdiri di depan ruangan, gugup. Kak Kuki jalan mendekat lalu memberikan aku mic segera ku genggam. "Jangan gugup, lihat gue aja. Lo cukup lihat mata gue anggap enggak ada yang lain. Yang lain cuma batu. Ngerti?" ia coba memberi saran yang pasti akan aku lakukan. Aku meanggukkan kepala, mengiyakan perkataan Kak Kuki. Aku harap ini berjalan lancar, semoga enggak merusak nilainya. Musik di mulai aku akan memulai dengan baik, tatapanku beralih pada Kak Kuki yang kini menatapku juga. Lagu kami di mulai dengan awalan yang manis tentang sepasang kekasih yang saling dekat dan kecup. tentu saja aku harus mencoba mencari perasaan untuk menyalurkan pesan dari lagu kamu. apalagi, aku dan Kak Kuki baru kali ini bernyanyi bersama. **R n K* You don't know babe (Kau tak tahu sayang) When you hold me (Saat kau mendekapku) And kiss me slowly (Dan menciumku perlahan) It's the sweetest thing (Itu adalah hal termanis yang pernah ada) Kak Kuki mendekat buat tubuh kami bertemu. Lalu rangkul pinggulku sebentar. Tidak aku enggak gugup, semua demi nilai. lagu yang dinyanyikan keduanya benar-benar menuntut perasaan. Kini bagian pria yang merasa bahwa wanitanya adalah segalanya. Sang wanita yang ia cintai sebagai pelepas dahaga, wanita yang ia cintai sebagai pengobat sakit kepala, dan juga seorang gadis yang menjadi Sinta dalam hidupnya. Hanya wanita itu yang diinginkan prianya. Tatapan kak Kuki intens menatap ku yang sesekali mengedarkan pandangan karena gugup.. Lagu itu masuk ke bagian kami berdua. tentang dua orangnya yang saling jatuh cinta, tentang pria yang merasa bahwa sang wanita adalah bintang dalam hidupnya. Tak peduli seberapa jauh melangkah ia akan mengikuti. Dalam hidupnya orang yang mereka cintai adalah bagian terbaik.lagu ini benar-benar manis dan aku merasa Kak Kuki benar-benar baik dalam menyampaikan perasaannya dalam lagu. Aku gugup setiap kali menatap penonton. Seolah tau aku merasa gugup Kak Kuki menyenggol tanganku. Lagu berhenti tepat saat Kak Kuki tersenyum. Gila aku bisa lihat Kak Kuki senyum? pertama kalinya aku melihatnya tersenyum sejak semua kejudesan yang dia buat. Manis ...si dingin dan ketus berubah menjadi kelinci manis. Sesaat kemudian ia kembali menjadi muram. Aku tak tau apa alasannya tapi anak-anak di ruangan terdiam terkejut? Semua dia lalu tepuk tangan bergemuruh. Entah,aku tak bisa memahami ekspresi mereka semua. "A!" Kata Pak Joko beri penilaian. "Yes!" seruku senang tentu saja bisa dapat nilai A. Saat aku larut dalam kebahagiaan Kak Kuki kembali duduk. Aku mengejar dengan cepat, dan kembali duduk di sampingnya. Aku , lalu menatap padanya dan tersenyum. Sungguh senang sekali rasanya. sepertinya, ini adalah nilai terbaik yang bisa kau dapatkan selama aku di kampus ini. A? luar biasa aku dapat A dalam praktek bernyanyi. Aku akan memberitahu ayah nanti saat pulang. "Terima kasih ya Kak." ucapku saat kini berada di meja kami dan ia sudah duduk dengan kembali memasang wajah judesnya. "Berhenti senyum dan bersikap manis gitu, atau—" ketusnya, baru sebentar udah judes lagi. "Atau?" tanyaku penasaran. Wajahnya mendekat, "Lo," ia menekankan. "Enggak bakal gue lepasin Freya Anggun Kinanti." Kata-katanya terdengar seperti ancaman. tak akan melepaskan seperti apa? kenapa ibu buat aku sedikit takut? Aku duduk kembali dan kini menatap ke depan. sungguh sikap Kak Kuki benar benar buat aku bingung. Dia baik sekali tadi saat kami bersama bernyanyi di depan kelas. *** .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN