Aku kembali ke kursi setelah bernyanyi tadi. Kata-kata yang diucapkan Kak Kuki masih terdengar ditelingaku. Aku meliriknya yang menatap ke arahku. Ia tersenyum, lalu berpaling menatap ke depan kelas.
Oke Freya ... Please jangan kepedean. Itu bisa aja karena kak Kuki mau kerjain aku tadi. Oke anggap ini biasa saja. Mungkin memang kelakuan mahasiswa iseng yang cuma niat bikin baper.
Di ruangan ini waktu berjalan begitu lama sekali. Meski menyenangkan melihat yang lain bernyanyi seperti ini. Anggap saya lihat pentas seni.
Seperti janjiku siang tadi. Bahwa akan bertemu dengan Tedi setelah selesai kelas. Dan di sini aku saat ini, sebuah kafe dengan tema laut membuatku rindu kampung halaman. Letaknya tak jauh dari kampus sehingga mudah ditemukan. Saat pulang tadi sahabatku itu menungguku di gerbang. Tedi tak pernahkah ingkar atau terlambat jika berjanji. Ya, mungkin Tedi jadi satu dari sedikit orang yang tidak membudayakan, Budaya ngaret.
Tadi Kamri berjalan tak lenih dari lima menit. Kini aku duduk dengan manis seraya mengetik pesan untuk ayah sementara Tedi memesan minuman. Setiap hari aku selalu mengirim chat pada ayah. Jangan sampai ayah khawatir, jadi lengkap aku kirim dengan foto terbaru atau apa yang aku lakukan. Aku juga memberitahukan pada ayah. Kalau, aku bertemu Tedi di kampus. Tadi kami juga mengambil foto bersama. Ayah membalas kalau dia jadi lebih tenang karena ada Tedi di kampus.
Aku pun senang memiliki Tedi di sini. Setidaknya, ada yang bisa aku ajak bicara meski tak bisa untuk ceritakan semua yang aku alami. Aku bersahabat sejak kami kecil, dan saat ia berada di kelas tiga sekolah menengah pertama, Bibi Melati menikah lagi. Ayah Tedi sudah tiada sejak ia masih kecil. Lalu mereka pindah ke Jakarta. Kini aku tau bahwa Tuhan bermurah hati karena mempertemukan kami kembali.
Ia datang membawa dua gelas Thai tea dingin, juga beberapa kue. Iaa Meletakan di meja dan menatapku, rahangnya mengeras karena kesal sepertinya saat aku menceritakan apa yang terjadi denganku dan Kuki di kelas pengambil nilai.
"Kenapa sih Ted? Muka lo begitu?" tanyaku yang takut juga lihat sahabatku itu marah.
"Harusnya gue bilang sama Lo sejak awal. Kayanya gue terlambat." Ia terhenti lalu menyeruput kopi miliknya. "Lo boleh dekat sama siapapun. Jimmy, Arron, Farrel, Caesar semua itu anak-anak populer."
"Lo?" Aku bertanya memotong ucapannya.
"Gue juga populer. Cuma enggak mau sombong. Ih, dengerin gue dulu. Deket sama siapapun asal jangan Kuki. Inget jangan Kuki!"
"Ted, Lo kok suudzon gitu sih sama orang?"
"Lo enggak kenal dia. Jangan-jangan Lo tebar senyum lagi ke dia. Lo kan suka senyum gitu kalau dipanggil?"
Aku alihkan pandangan ke sisi lain restoran, tak suka jika orang menilai orang lain buruk, jika belum mengenalnya. Ya, maksudku Kak Kuki memang terkesan galak dan kejam. Tapi, dia baik ... Dan buktinya ia bisa tersenyum tadi.
"Ted, udahlah enggak usah kaya gitu. Lo kam enggak deket juga kan sama dia? Jangan buat penilaian seolah Lo akrab sama Kak Kuki."
"Gue kenal sama dia! Maka, karena gue kenal sama Kuki. Gue bilang gak ini ke Lo." Tedi berhenti sejenak. Mengatur napas baik-baik untuk mengatur emosinya. "Gini, Lo enggak usah kaget ya. Kuki itu—saudara tiri gue. Anak dari ayah tiri gue. Gue kenal dia banget, udah berapa banyak cewek yang akhirnya dia cuekin. Dia suka banget nge-ghosting. Gue takut, begitu Lo terpikat terus Lo ditinggalin "
Amarah Tedi beralasan. Hanya saja, aku tak mungkin jadi salah-satunya, menjadi salah satu korban Kuki. Yang pasti karena aku telah menikah dan suamiku alasan utamanya. Kami sudah menikah dan semua kami lakukan secara agama dan sah. Meski tak ada yang mengetahui selain keluarga kami sendiri.
"Gini lho Ted—"
"Kalau begitu gue aja, biar gue jadi pacarku. Daripada lo harus pacaran sama Kuki? Gue enggak akan rela lo disakiti."
Tunggu, apa-apaan ini? Ada apa nih sama Markoted Butar Butar.
Aku menyentil keningnya. "Istighfar! Kesurupan setan Valeri ya Lo?!"
"Gue dulu enggak bisa bilang apa-apa karena nyokap gue bilang. Lo udah nikah sejak kecil. Lo sudah bersuami, semua dilakukan secara adat dari kakek Lo. Jadi, gue tahan perasaan selama ini. Dan sekarang kalau akhirnya Lo sama Kuki? Ah udahlah —"
"Lo tau gue udah punya suami?"
"Semua tau kali, kata nyokap gue dulu ada acara juga. Cuma masyarakat enggak tau karena kakek Lo kan keturunan Chinese. Adat dan acara apa juga kami enggak ngerti. Kakek gue juga bilang kalau gue harus jagain Lo karena hoki Lo bagus. Mitos sih, cuma gue akuin waktu kita sekolah dekat sama Lo hoki gue bagus."
"Sialan Lo emang."
Sejujurnya aku terkejut, karena sepertinya hanya aku yang tak mengetahui pernikahan ku sendiri.
"Jangan bilang Lo enggak tau kalau Lo udah punya suami sejak kecil?"
Kuanggukan kepala seraya menyesap Thai tea dari sedotan di tangan. Kesal juga sih, tapi mau gimana lagi? Toh sekarang aku sudah tau kan?
"Ah sial! Harusnya gue bilang perasaan gue ke Lo dari dulu. Lo kan enggak tau kalau udah nikah." Tedi berucap kesal lalu menggaruk tengkuknya.
Aku jadi penasaran sejak kapan si Tedi menyukaiku?
"Sejak kapan Lo suka sama gue?"
"Tunggu, tunggu ... Jangan bilang Lo ke sini dan kuliah di Valerie karena suami Lo?" Si bodoh ini tak menjawab dan malah balik bertanya.
"Yak! Gue tanya!" kesalku sambil mencubit bahu tegapnya.
"Sakit," sejurus kemudian Tedi meniup bahunya yang baru saja ku serang sepenuh hati.
"Jawab Ted~" aku merengek dan memang sering kulakukan.
"Gue juga enggak tau. Cuma kayanya sejak Lo di kejar kejar sama Saipul deh. Sakit hati gue waktu itu." jawabnya lalu meneguk minumannya.
"Jaman SD dong itu."
"Enggak tau kapan, lupa juga gue. Terus ayo kasih tau gue siapa suami Lo?"
"Tak bisa,"
"Kenapa enggak bisa?"
"Karena enggak bisa." Jelas aku belum bisa memberitahu siapa suamiku.
Ia menghela napas lalu menatapku serius, "dia pasti enggak ganteng, sampai Lo malu ngenalin sama gue ."
Kulayangkan tangan ke kepala i***t di hadapanku itu. Ia memekik dengan wajah meringis sambil mengusap kepalanya. Tedi memang harus diperlakukan seperti itu jika menyebalkan.
***
Aku duduk malam ini bersama guru yang juga suamiku. Ia duduk membaca buku, ini sudah larut tapi aku masih sibuk mengerjakan tugas di ruang tengah. Ditemani si om yang sama sekali tak membantu. Ia bilang, aku harus mengerjakan semua sendiri karena aku adalah mahasiswinya.
"Laporan kamu itu ancur banget. Lenih hancur dari laporan yang terakhir kali saya terima seminggu terakhir," ucapnya memecah keheningan di antara kami.
Sambil terus menulis aku sahuti ucapannya, "aku telah berusaha keras Pak guru."
"Ya sudah, setidaknya saya tau kamu mengerjakan sendiri." Ia masih sibuk membaca. Sepertinya, mengawasi aku yang tengah mengerjakan tugas.
"Don Giovanni pertama kali di tampilkan di?" Tanyaku cepat.
"Estates Theatre di Praha 29 Oktober 1787." Jawabnya cepat. "Tanya untuk apa?"
Ia bertanya sementara aku terkekeh senang mendapat jawaban yang kuinginkan tanpa harus mencari si buku atau internet.
"Aish! Kerjakan sendiri." Akhirnya ia sadar jika aku mencari kesempatan untuk mendapatkan jawaban tanpa berusaha.
Aku tak peduli saat Om kesal. Kini aku rapikan buku lalu duduk di sebelahnya. Ia membaca entah buku apa. Sementara aku memilih menonton televisi, lalu membuka kudapan yang aku beli di jalan tadi. Ada basreng pedas dan kerupuk seblak penuh dengan kandungan micin sumber kebahagiaan. Di Valerie tak ada makanan seperti ini. Semua makanan mahal dan sehat. Aah, mereka enggak tau rasanya minum es dari plastik sambil makan makanan bermicin, nikmat banget.
"Pak Guru, bapak tau enggak kalau Tedi dan Kuki adalah saudara tiri?" tanyaku dijawab gelengan kepala.
Aish, Reya kenapa kau tak pernah bisa menahan bibirmu untuk tak bergibah?!
"Enggak, aku baru tahu karena kamu yang bilang," jawabnya tak tertarik, beruntung bagiku karena tak harus melanjutkan pembicaraan ini.
"Pak Guru," aku mendekat dan menatapnya. "Apa alasan bapak menerima pernikahan ini? Apa enggak ada seseorang di hati bapak?"
Aish, kenapa aku jadi manggil dia pak guru?
Pak Guru menutup bukunya, menatapku dan kini ia sepertinya akan berbicara serius. "Sejujurnya, semua masih belum bisa saya terima, dan saya juga yakin kamu juga demikian. Saya menerima semua karena mempertahankan perusahaan kakek. Kalau saya menolak maka seluruh aset akan diberikan kepada sepupuku yang sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan kakek dan nenek. Menurutmu apa wajar jika saya melakukan ini?"
Aku menjawab dengan anggukan, alasannya wajar dan masuk akal siapa yang akan membiarkan hartamu hilang begitu saja. Aku senang ia terbuka, meski kami hingga saat ini masih bersikap asing.
"Maka, aku menerima ini. Lalu apa aku memiliki seseorang?" Ia terdiam lalu mendengus seolah menertawakan sesuatu. "Mungkin ada, tapi itu tak penting lagi. Mulai sekarang, ceritakan semua tentang kamu supaya saya bisa mengenal kamu lebih baik. Saya harus melakukan ini, kita harus melakukannya. Ini bukan hanya tentang keluargaku tapi juga demi keluarga mu."
"Baik, Om."
Pria itu mengacak rambutku, meski raut wajahnya masih saja serius ... Aku senang ia bisa menceritakan banyak hal dan terbuka untuk hubungan aneh ini.
Malam itu aku dan Om Yogi banyak membicarakan banyak hal tentang kami, untuk mengenal satu sama lain. Banyak hal yang aku ketahui bahwa ia suka musik dan merasa itu adalah bagian dari dirinya, ia suka makan sup ayam dengan sambal pedas, apapun tentang ayam ia suka, aku merasa sedikit mengenal Om si suami dan guruku saat ini.
Kami akhirnya terdiam dan pria itu kini rebah di bahuku. Terlihat jika sangat lelah, ya aku tau seharian ini ia sangat lelah karena harus mengajar dan pulangnya melakukan pertemuan di perusahaan.
Aku juga lelah lalu membenahi posisi di sofa tanpa mengganggunya, lalu memejamkan mata, selamat tidur ....
***
.
.
.
.
.
.
assalamualaikum kakak bunda, maaf ya aku belum.bisa update setiap hari untuk cerita ini..paling tidak dua hari sekali aku up ya ka. ??
terima kasih sudah mau membaca.