11. Perpustakaan

1343 Kata
Pagi seperti biasanya setelah membersihkan diri aku ke dapur membuat sarapan. Pukul enam pagi dan Pak Guru belum bangun. Entahlah, mungkin ia sudah bangun tapi sibuk dengan pekerjaan. Ia super sibuk, dengan pekerjaan di dua tempat. Pagi hingga jam makan siang ia berada di Valeri lalu akan menuju kantor Victory milik keluarganya. Atau kebalikannya pagi hingga siang ia berada di kantor lalu, siang hingga sore atau malam berada di kampus. Aku akan membuat sarapan nasi liwet yang aku buat dengan magic jar, dengan lauk ayam goreng yang beberapa hari lalu aku marinasi dengan bumbu lalu di masukkan ke dalam kulkas. Sebenarnya aku tak terlalu pandai memasak, hanya sesekali saja dan tak ada yang spesial dari masakan ku. Kadang terlalu asin atau terlalu hambar. Tak apalah, setidaknya aku berusaha membuat sebaik-baiknya. Aku harap ia menyukainya Semua siap sebelum pukul tujuh, aku menata semua di meja makan. Lalu menuju kamar Pak Guru, mengetuk pintu kamarnya. "Pak Guru, udah bangun?" Belakangan lebih suka panggil si Om dengan sebutan Pak guru. Terdengar lebih sopan? Dan tidak terkesan kalau si Om adalah sugar Daddy. Heheheh ... Pintu terbuka ia berdiri dengan t-shirt putih dan celana hitam panjang, lalu kacamata dan buku buku yang ia pegang buat dirinya semakin keren. "Sarapan?" Ia mengangguk, lalu kami berjalan ke menuju ruang makan. Aku diikuti dari belakang, entah atau hanya perasaanku tapi, aku merasa Pak Guru memerhatikan. Aku lalu menoleh ke belakang, ia menatapku. "Kenapa?" tanyanya menatap dengan tatapan yang dingin. Kadang bingung kenapa dia judes gitu. "Eng-enggak." Sialan, malah gugup! Pak Guru duduk di kuris. Aku menyiapkan nasi di piring yang telah aku persiapkan tadi. "Ini liwetan?" ia bertanya. Aku mengangguk kemudian menjawab, "iya, itu liwetan Pak. Enggak tau rasanya enak atau enggak. Aku cuma ngikutin pesan dari nenek kemarin." Ia mengangguk lalu menyantap sarapan yang kubuat. Aku juga memilih hal yang sama. Seperti biasa kami hanya diam, bukan tak pernah mengobrol. Hanya saja, seperti tak ada hal yang bisa jadi bahan obrolan kami berdua. Apa hubungan suami istri memang sekaku ini? Atau karena Pak Guru sebenarnya tak menginginkan pernikahan ini? Kadang aku jadi galau sendiri. Sikapnya berubah ubah. Terkadang ramah sekali, lalu berubah jadi dingin seperti ini. Lalu haruskah aku menyerahkan hatiku pada si Om yang nyebelin ini? Ya, dia memang Suamiku. Hanya saja ... Sikapnya.... "Kamu mau kemana?" Ia bertanya tanpa menatapku. "Mau ke kampus. Aku ada laporan yang belum dikerjakan Pak Guru." Ia lalu menatap, tatapan dingin tanpa senyum. "Hmm, saya dengar kamu banyak dapat tugas karena nilai kamu enggak mencukupi selain di kelas vokal dan bisnis." Ya, dia pasti dapat laporan bahwa aku, istrinya adalah mahasiswi paling bodoh di universitas. Aku mengangguk malas lalu menunduk, sambil mengunyah sarapan. "Saya percaya kamu bisa ngejar target nilainya. Karena saya lihat usaha kamu untuk memperbaiki. Setidaknya, saya selaku ketua yayasan enggak sia-sia mengeluarkan uang untuk kamu. Meskipun nilai kamu dihampir semua mata pelajaran buruk." ujarnya tanpa rasa bersalah setelah mengatakan itu. Ya, Wajar sih dia memang dosenku. Ya, tak juga salah sih apa yang ia katakan tadi. Hanya saja, enggak perlu frontal diucapkan gitu juga. Cuma bisa sedikit lebih baik sama istri sendiri rasanya buat aku lebih baik. Sarapan pagi yang buat mood hancur. Setelah sarapan Pak guru mencuci piring dan aku bersiap berangkat ke kampus. Aku hanya tinggal mengambil tas yang aku siapkan. Mengenakan kemeja flanel abu-abu milik ayah, celana jeans, dan sepatu sneaker putih yang aku beli diskon di salah satu e-commerce, dengan rambut aku ikat dengan jeday jepit rambut yang sedang populer saat ini. Setelah berpamitan aku segera ke luar. Pak Ahyat telah menunggu, aku sudah memintanya mengantar kemarin. Aku sebenarnya ingin naik angkutan umum saja. Minta pak Ahyat ajari tapi, ia bilang kalau takut kalau Pak Yogi marah. Ya, daripada Pak Ahyat kena marah lebih baik aku mengalah dan mengikuti apa yang ia mau. Aku sampai di kampus, hari libur pun tak pernah sepi. Terutama studio yang bisa dijadikan studio serbaguna. Untuk latihan tari, nyanyi, acting dan lain-lain. Aku berjalan menuju perpustakaan, segera memilih buku yang aku perlukan lalu mencari tempat duduk di paling belakang dan paling sepi. Setelah itu aku sibuk mengerjakan sambil mendengarkan musik dari earphone. Aku dikirimkan beberapa musik instrumental oleh Tedi. Hanya saja sampai sekarang belum sempat aku dengarkan seluruhnya. Kebodohan ku dalam mata kuliah buat aku sibuk sendiri. Mengerjakan banyak laporan dari materi yang diajarkan. Yang buat ini semua menyebalkan adalah, kenapa selalu saja ada guru yang bertanya padaku?! Sungguh aku merasa di perhatikan. Mungkin karena aku tak mengikuti kegiatan maba? Seseorang duduk di hadapanku, Kuki. Ia meletakan buku bawaannya di meja lalu merebahkan kepalanya. Aku melepas earphone, lalu meliriknya. "Tempat duduk banyak kan?" Ia mengangkat kepala menatapku tanpa senyum. "Lo duduk di kursi gue. Gue selalu di sini." "Ini tempat umum." Ia mengangguk. "Kalau gitu biarin gue tidur di sini. Ini tempat umum." "Umur kita sama kan? Jadi gue enggak perlu manggil Lo Kuki." Ia lagi-lagi mengangkat wajahnya, merebahkan dagu ke atas buku, lalu menatapku. "Lo lulusan 2019?" Aku mengangguk. Tentu saja aku terlambat kuliah yang buat aku jadi juniornya di sini. "Oke deal, kita seumuran. Lo boleh manggil gue Kuki, apapun tapi jangan panggil gue sayang." Siapa juga yang mau manggil dia sayang?! Berkacalah wahai manusia?!!! "Astaghfirullah berilah kesabaran pada hambamu ini," ucapku kemudian kembali membaca. Ia menatapku, "suka Korea ya?" tanyanya sambil menunjuk foto JB got7 yang ada di belakang ponsel ku. Aku hanya mengangguk. "Manggil, gue oppa juga boleh." Aku meliriknya. Tak aku berikan respon lebih. Lenih baik jika ia tidur dan tak mengganggu. Aku kini mengirimkan pesan pada Tedi memintanya segera menyusul ku ke perpustakaan jika kegiatannya sudah selesai. Tedi bilang ia tak lama. Laporan kelompoknya hanya tinggal revisi, setelah itu dikumpulkan. Kuki tidur sepertinya setelah beberapa menit. Aku masih sibuk mencari bahan untuk tugas laporan. Suasana di perpustakaan kampus pun nyaman sekali. Nuansanya minimalis modern, dari sini aku bisa melihat ke luar jendela. Di belakang kampus ada taman tempat aku sekedar duduk untuk menyegarkan pikiran. Hari mendung, langit yang mendung dengan taman yang rapi dan bersih buat kesan aestetik. Aku ambil ponsel mengambil gambar pemandangan ini. Cantik ... Andai ayah dan nenek di sini melihat aku yang menjadi mahasiswi kampus sekeren ini keduanya pasti akan senang. Setelah aku mengambil gambar aku kembali melamun sebentar. Melamun itu ternyata menyenangkan, pikiranku melayang memikirkan bagaimana jika saat ini aku belum menikah dengan Pak Guru? Apa aku masih akan berjualan di mall? Atau mungkin aku akan bertemu dengan laki-laki yang aku sukai. Ya, walaupun takdir kini berkata lain. Aku memutuskan kembali menulis laporan. Saat itu Kuki tengah sibuk dengan ponselnya. Sejak kapan dia bangun? Apa aku melamun terlalu lama? Aku membaca buku, sejujurnya tak nyaman membaca buku saat ada seseorang di hadapanku. Aku menatap Kuki dari balik buku. Ia lalu menatapku, sesaat lalu berpaling menatap ke luar. "Reya," suara bariton yang aku kenal, Tedi. Ia berdiri di sudut meja lalu melirik tak suka.oasa Kuki. Sejurus kemudian ia menatap ku. "Sorry gue lama. Yuk, ini buku-buku Lo kan?" Tanya Tedi lalu mengambil buku-buku yang aku baca. "Kita pinjem Lo bawa kan. Kartu perpus?" "Mau kemana?" Kuki bertanya. "Belajar." Sahut Tedi cepat kemudian menggandeng tanganku. Aku melambaikan tangan pada Kuki. Senang bisa berhasil meninggalkan anak itu. *** Dan aku kembali ke restoran dengan tema laut. Di lantai dua kini aku bersama Tedi. Di sini ada meja dengan bantal-bantal yang bisa gunakan untuk duduk lesehan. "Lo ngapain sama dia lagi?" "Gue aja enggak tau kenapa dia ada di kampus juga. Tau-tau datang ke perpus dan duduk di depan gue." Tedi hela napas ia kesal sepertinya. "Gue cuma takut Lo di goshting sama dia." "Gue enggak bakal jatuh cinta sama siapapun. Lo tau status gue kan?" "Tetap aja pernikahan itu kan cuma secara adat. Enggak dengan agama dan hukum. Siapa coba yang mau bertahan dengan hubungan kaya gitu?" Aku melirik sahabatku itu. "Ya, mungkin." "Aish, Lo jangan ngeyel." "Udah tenang aja." "Jangan bilang Lo udah nikah secara agama dan hukum?!" Aku hanya mengendikkan bahu kubiarkan Tedi sibuk dengan pemikirannya sendiri. Tak mungkin aku memberitahu Tedi saat ini. Ini bukan waktu yang tepat. Aku juga tak akan siap dengan semua pertanyaan darinya kini ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN