Ari memarkirkan mobilnya dipinggir jalan, dibantu kang parkir yang setia dengan rompi orange, topi kang bakso serta merta pluit yang mungkin udah berabad-abad belom pernah dicuci. Pria itu keluar dari mobil, setengah berlari untuk membuka pintu untuk Susi. Ini pertama kali dia memperlakukan gadis itu dengan sikap manis, tapi percayalah bahwa semuanya terjadi tanpa disengaja. Seolah gerak tubuhnya sudah diatur sedemikian rupa agar melakukan hal manis terhadap wanita yang kini sedang tersengih hingga ketelinga tersebut. Susi tersenyum, tak pernah seramah dan semanis ini sebelumnya. Hanya teruntuk Ari seorang dia sanggup tertawa bahagia, asalkan lelaki ini tetap dalam jangkauannya. Mereka berjalan beriringan, Ari sengaja melambatkan langkah agar Susi berada dihadapannya. Bukan tanpa alasan,

