52

1047 Kata
Adalah Dante yang sangat merasa bahwa hidupnya lebih dari sempurna. Bagaimana tidak? Semua angannya tercapai. Impiannya terpenuhi dengan jalan mulus tanpa satu pun penghalang. Semua duri yang menghalangi telah Dante singkirkan. Tidak peduli apakah ada karma di kehidupan selanjutnya atau tetap baik-baik saja seperti sekarang ini. Adalah Dante yang begitu memuja putri pertamanya. Bersama Ardika Aksara—dulu—yang Dante jadikan senjata agar bisa memiliki lelaki itu. Armina Aksara berumur dua tahun setengah. Parasnya yang cantik dengan rambut kecokelatan alami. Khas milik Ardika ada di Armina. Tubuhnya yang gendut sangat menambah kesan bahwa bayi itu amatlah sehat. Dan gigi-giginya yang mulai memenuhi mulutnya. Keseluruhan lukisan di wajah Armina adalah perpaduan milik Ardika dan Dante. Sebelum ini, kehidupan Dante tak bisa dikatakan baik-baik saja. Memulai dari drama kehamilan yang itu hasil benihnya Ardika. Dilanjutkan dengan status istri siri yang sangat menguras tenaga. Olokan demi olokan Dante terima. Hina demi hinaan tak Dante pedulikan. Pikirnya, selama Ardika nyaman mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya, hasilnya akan tetap baik-baik saja. Dan seolah semesta mendukung. Setahun berselang usai kelahiran Armina, Ardika mengucapkan janji sakral pernikahan. Yang sebenar-benarnya pernikahan. Tanpa adanya lagi drama atau rencana-rencana yang di susun. Semuanya mengalir bagaikan air yang berujung pertemuannya dengan samudera. “Maaa maem.” Armina berlari. Menghampiri Dante yang sedang menikmati jus serta almondnya. “Maem maaa.” Sekali lagi bersuara. Menarik senyum bibir Dante dengan cantik. Polesan lipstick merah di sana tak menjadi apa-apa tanpa hadirnya Armina di sisinya. Seakan ingin Dante katakan bahwa kelahiran Armina bentuk keberkahan dari Tuhan. “Aduh anak mama.” Dante gendong putrinya. Mendudukkannya di pangkuan dan memeluknya gemas. “Armi mau maem apa?” “Tuh maa tuh!” Menunjuk almond yang ada di piring kecil Dante. “Maaa!” Tangisnya pecah begitu melihat gelengan Dante sebagai jawaban penolakan. Dan astaga… putrinya sudah mengerti kode penolakan meski hanya dengan gelengan. “Nanti papa marah sayang.” Ya. Ardika pernah memberinya wejangan untuk Dante agar putri kecilnya tidak di beri makanan maupun camilan aneh-aneh sebelum waktunya. Saat ini cukup dengan kue kecil yang kadang di haluskan untuk menjadi bubur atau langsung diberikan untuk Armina gigiti. Sebagai orangtua baru dalam bidang mengurus anak, Dante patuh dengan nasihat suami. Tidak ada niatan untuk membantah apalagi melanggarnya. Biarlah. Asal itu baik untuk tumbuh kembang sang putri, Dante patuhi. “Paaa.” Senjata Armina selama ini adalah papanya. Maka, ketika penolakan yang Dante berikan lewat gelengan sudah cukup membuat bayi itu mengerti. Memanggil papanya—meski sudah tahu tidak ada sosoknya—Armina lakukan. Jalan ninja terbaiknya. “Kerja sayang.” Tangan Dante bergerak cepat mengupas pisang untuk di potong kecil-kecil. Di haluskan secara kasar dan menyodorkan ke depan mulut Armina dengan sabar. “Ini kata papa.” Ajaibnya tangis kencangnya terhenti. Mendengar nama papanya disebut, Armina paham betul. Padahal jika harus jujur… ini akan menjadi aib kalau harus Dante ceritaka. “Maa paa maa.” “Papa belum pulang sayang.” Dante paham maksudnya. Kebiasaan memanjakan yang Ardika lakukan membuat sang putri keenakan. Makan saja harus dari tangan Ardika. Itu cukup menjengkelkan bagi Dante. Karena ketika sedang rewel, Armina akan benar-benar mengamuk dan berhenti jika sudah bertemu dengan papanya. Ingin mengatakan bahwa ini salah. Dante takut melabeli dirinya sendiri dengan kata serakah. Yang jelas itu benar. Menyangkal sudah mandarah daging di diri Dante. Tanpa mau mengakui seberapa salah dirinya di masa lalu. Tetap saja Dante menjadi dirinya yang tidak mau mengalah. Menghela napas, Dante pandangi Armani yang mulai anteng mengganyem makanan di mulutnya. Mengunyah dengan mulut yang berkecipak dan belepotan melumuri dagunya. Dante tertawa, menularkan senyum di bibir Armani. Mungkin bagi sebagian orang waktu bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan. Tapi bagi Dante waktu adalah segalanya untuk merubah ke berbagai arah. Tidak melulu pada langkah menuju awal yang baik. Terkadang, cara kerja waktu hampir mirip dengan dunia yang lucu. Yang memberi bahagia dalam sekejap lekas menanamkan luka yang tak berkesudahan. Atau memberikan luka hingga berbekas dan mengganti dengan kebahagiaan di akhir hayatnya. Kembali bagaimana Tuhan ingin menentukan nasib-nasib hambanya. Pun sama dengan Ardika yang menelisik waktu tidak dalam satu kedipan mata. Baginya, dua tahun hanyalah kesempatan yang waktu berikan untuknya merenung. Dua tahun yang bagi Ardika terisi dari hitungan detik, menit dan jam. Lalu tahun yang berganti. Semua tak lepas dari cara kerjanya. Dalam dua tahun ini semua jarak yang coba Ardika bangun bersama Dante untuk bisa menerima perempuan itu serta Armina nyatanya sia-sia. Tidak ada arti di dalamnya yang harus Ardika syukuri. Dan ketika Ardika lelah dengan itu semua, bayangan Pulung menari-nari di benaknya. Sosok Pulung hadir mendominasi. Keseluruhan cerita ini hanya berpusat pada cinta Ardika untuk Pulung yang bertahta. Tak mau bergeser apalagi terganti. Ardika juga heran. Kenapa? Sewaktu muda dulu—papanya pernah memberi nasihat kepada Ardika—jika lelah maka teruslah mencari aktivitas untuk bisa membuatmu cepat terlelap. Alternatif termudah yang papanya berikan adalah berjalan hingga lupa waktu atau berlari tanpa tahu tujuannya. Solusi itu sangat Ardika butuhkan saat ini. Usai mengantar Naomi yang dengan kejam tidak Ardika temani, dirinya justru berakhir di ruangan ini. Apartemen pribadinya dan melakukan treadmill hingga terkapar. Papanya sangat salah. Ardika tidak bisa melupakan masalahnya meski keringat sudah mengucur deras dari tubuhnya. Rasanya ingin Ardika kutuk tingkahnya yang begitu berharap bisa menutupi masalahnya. Itu sangat pengecut sekali karena bukan menyelesaikan masalahnya, Ardika justru berlari dan menghindarinya. Kuasa Tuhan bisa-bisanya Ardika tentang. Takkan mampu dirinya menghapus Pulung yang selalu mengganggu malam-malamnya untuk tetap terjaga. Menebak-nebak, mengajukan tanya ‘di mana?’. Percuma. Ardika tak bisa memulainya lagi. Sepanjangnya hidupnya, Ardika hanya bersama Pulung tidak lebih dari tiga bulan. Tapi kenapa melupakannya sesulit ini? Sudah mati-matian berusaha untuk tidak terlibat dengan perasaan masa lalu. Sayangnya, bayangan itu semakin kuat di saat Ardika coba untuk bangkit. Setidaknya, beri Ardika satu kali kesempatan. Sekali saja untuk bisa menjaga yang kali ini. Jika dengan Ayana harus hancur karena pengkhianatan perempuan itu, yang kedua karena sikapnya sendiri. Maka yang terakhir, Ardika ingin memperbaiki dengan sebaik-baiknya. Tidak menjanjikan apapun apalagi perihal kesetiaan. Ardika tahu itu tidak mudah. Semua membutuhkan proses yang tak secepat kilat meteor terjatuh. Bahkan menekan ego bukan hal yang mudah untuk Ardika lakukan. Karena diam-diam, potret tentang Pulung selalu menyambangi hari-harinya. Selalu bisa Ardika pandangi sepuasnya tanpa bisa memilikinya. Dan Ardika, cukup bersyukur dengan itu. Di cukupkan untuk masih di beri waktu mencintai tanpa batas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN