51

1057 Kata
Ingat saat di mana masa-masa sulit menghampirinya? Sebagian orang akan menganggap itu bencana bahkan mengutuknya dengan kejam. Mencaci maki takdir Tuhan yang tak pernah bekerja sesuai garisnya. Membenci Tuhan bahkan sampai marah lekas melupakan. Seolah tidak sadar siapa penguasa di sini. Siapa yang memiliki alam raya seisinya dan siapa yang berhak mengambil dalam satu kali jentikan jari. Begitulah manusia. Yang kadang suka lupa dan berbuat sesuka hati. Inginnya di mengerti namun enggan untuk mengenal bagaimana caranya mengerti. Meminta di pahami namun berbuat semena-mena seolah sudah yang paling benar. Seolah memang dirinyalah yang paling bisa dan tahu segalanya. Itu hanya sisi dari sebagian manusia yang enggan bersyukur. Tidak tahu caranya berterima kasih dengan benar dan menikmati apa yang sedang Tuhan berikan. Aturan, jika mereka mengenal konsep Tuhan, takkan ada rasa benci apalagi mulut yang mengumpatkan kalimat-kalimat kotor. Tuhan kok di salahkan. Lucu, kan? Namun ada juga manusia yang lebih baik diam. Di uji oleh Tuhan, di timpahi masalah sebesar apapun akan di jalani sesuai prosedur yang sudah Tuhan gariskan. Karena percaya ketentuan Tuhan tak pernah ingkar. Rencana Tuhan tak pernah seindah aslinya meski jalan yang di laluinya lebih berat dari mendaki gunung. Sejak dulu sudah begitu hukumnya. Manusia berencana, Tuhan yang tentukan. Mestinya kita sebagai manusia biasa tidak berlarut-larut dalam bayangan semu. Ada baiknya meminta, berdoa dan jika hasilnya kurang memuaskan, artinya usaha kita belumlah maksimal. Tentu, itu menjadi salah satu cara Tuhan juga dalam menguji kita untuk sampai di tempat paling atas. “Muhh mikk muhh.” Teriakan itu menolehkan kepala Pulung ke bawah. Bahagianya yang kini sedang merangkak ke arahnya dan menjadikan kakinya sebagai pegangan. “Mikk muhh.” Lagi suaranya menggema. Getaran asing yang selalu datang menyapa sejak Baraja mulai mengoceh sangatlah sensasional di rungunya. Ada detakan-detakan yang tak bisa Pulung jelaskan bagaimana rasanya. Karena menjabarkannya saja—dalam otaknya—sudah lebih membahagiakan dari menyuarakan lewat deskripsi. “Bara mau s**u?” Pulung angkat tubuh mungil putranya dan menciumi pipi gembul bayinya. “Kamu sudah lebih dari sehat. Masih mau s**u?” Godaan Pulung manjur membuat si bayi bergerak-gerak tak nyaman dalam gendongan. Itu cara unik Bara meluapkan kekesalannya. Duhh konyol tidak, sih balita sepertinya sudah bisa ngambek melebihi orang dewasa. “Mikk muhh.” Dan dari arah yang berlawanan muncul sosok lain. Yang dua tahun menemani Pulung dalam perjuangan. Menggantikan sosok ayah bagi Bara. Yang memiliki sejuta cara untuk membujuk putranya agar menurut dan selalu menenangkan kala rewel. “Oh mau s**u. Iya, Bara mau s**u. Cium om dulu sini. Sini.” Adalah Maharaja Askara. Lelaki 32 tahun itu sudah lebih baik dari tahun sebelumnya. Walau ambisi dalam dirinya tak pernah padam, setidaknya dalam penglihatan Pulung, Maha lebih terlihat seperti manusia kebanyakan. Hidup normal dengan bekerja dan kembali untuk beristirahat. Melakukan perjalanan bisnis ke luar kota dan kembali dalam kondisi tubuh yang lunglai. Pulung paham. Dua tahun ini banyak perubahan kecil maupun besar yang menyambangi hidupnya. Mulai dari hidupnya yang kembali tertata setelah terpuruk dalam dua kali pernikahannya. Kembali bangkit usai status janda dalam satu kali waktu di sandangnya. Dan hadirnya Baraja dalam hidupnya melengkapi kehidupannya untuk terus melaju ke depan. Tangis Bara terdengar. Cepat-cepat Pulung alihkan perhatiannya ke putranya. Ini hiburan tersendiri bagi Maha dan Pulung untuk membuat si bocah berpipi gembul itu menangis. Barulah akan mengabulkan apa yang menjadi kemauannya. “Kita kejam banget nggak, sih, bikin bocah mewek?” Pertanyaan Maha terdengar tidak masuk akal. Meski demikian tetap saja aksinya berjalan. “Ah kamu s**u terus. Sudah gede padahal. Air putih sajalah!” Yang lekas di ambilkan air putih dalam gelas lalu menyodorkan di depan mulut Bara. Tentu langsung di tolak. Maha pasang wajah terlukanya. Namun tidak mendapat respon apa-apa dari Bara. Tangis bayi itu justru kian mengeras. “Ayo sayang sama mama. Kita buat susu.” Maha terus mengejek tangis Bara yang tak surut sama sekali. Pipinya memerah dan basah total. Pasti haus sekali, kan dan dirinya menggodanya tanpa berdosa. Dua manusia itu seharusnya menikah saja. Mereka sudah hidup bersama dalam kurun dua tahun yang mengenal secara baik luar dan dalam. Tapi seolah belum Tuhan berikan ijin, Maha yang sejak dulu sangat terobsesi untuk memiliki Pulung sampai menyusun rencana licik, kini hanya bisa diam saja. Tidak pernah sekalipun dalam bibirnya terucap ‘will you merry me’ yang dalam banyak kesempatan bisa Maha lakukan. Faktanya, pilihan untuk memandang Pulung dari dekat dan membahagiakan perempuan 26 tahun itu jelas lebih baik. Ketimbang harus mengajaknya ke ikatan yang lebih suci. Terkadang Maha punya sisi untuk meragu pada dirinya sendiri. Ingin di lihat dari manapun asalnya, darah papanya mengalir dengan kental. Aksara adalah berengsek yang sebenar-benarnya. Ardika saja bisa berbuat demikian untuk mengkhianati Pulung apalagi dirinya. Yang membuat onar banyak di mana-mana. Menghamili perempuan yang berstatus sebagai teman kencannya. Mengajaknya ke atas ranjang. Berduel dan ketika menghasilkan benihnya, nominal uang menjadi jalan alternatifnya. Sudah. Tidak ada baik-baiknya dari dirinya. Semuanya cacat. Maha tidak bisa berharap lebih kecuali jika Tuhan membukakan pintu untuknya bisa memasuki hati Pulung. Dan saat kesempatan itu terjadi, takkan pernah Maha buat Pulung keluar dari kehidupannya. Karena sekali masuk, takkan ada jalan untuk keluar lagi. “Pahhh…” Langkah Maha terhenti. Sendi-sendinya membeku menangkap suara Bara yang memanggilnya demikian. Padahal ini tidak terjadi pertama kalinya. Tapi respon Maha tetap saja begitu. Rasanya aneh meski sensasi bahagia mendominasi penuh. Hatinya juga berbunga-bunga. “Pahhh…” Kali ini berlari ke arah Maha dengan kecepatan penuh. Bergegas Maha menunduk dan merentangkan kedua tangannya. Bocah dua tahun itu langsung masuk ke dalam pelukan Maha. Meneteskan liurnya di baju kerja Maha membuat Pulung misuh-misuh. “Itu jorok Bara. Turun!” Sikap Pulung yang begini amatlah lucu. Apa tidak berlebihan memarahi bocah dua tahun yang baru mengerti soal mainan dan ingin tahu akan barang-barang di sekitarnya. Rasanya sungguh lucu. “Aku bisa ganti—” “Itu bakal dijadiin kebiasaan sampai dia gede nanti. Ayo turun, nak.” “Biarin saja. Bentar lagi dia tidur.” See! Pulung merasa tersaingi sekarang. Dibanding lebih dekat dengannya yang notabennya adalah ibunya, Bara memilih menyukai Maha sebagai sesama jenis. Akan sangat kelihatan nanti jika sudah beranjak dewasa. Bara akan sangat menempel pada Maha yang dianggap paling mengerti tentang dunia cowok. “Cemburu lagi?” Ledek Maha diiringi tawa. “Dia tetap anak kamu. Bahkan dia yang bakal bela kamu mati-matian di masa depan. Percaya deh. Dia berbeda. Nggak sama seperti apa yang kamu takutkan.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN