50

1064 Kata
Begitu cepatnya beranjak. Dari detik ke menit. Menit ke jam. Jam bergulir berganti hari. Hari ke minggu. Minggu ke bulan. Bulan menjadi berbulan-bulan dan tahun berganti. Semua itu tak lepas dari perputaran waktu yang lejitannya secepat meteor jatuh. Dan selama itu pula, perasaan Rambe tak pernah berubah. Kian bertumbuh iya. Kadarnya tidak sedikitpun berkurang apalagi terbagi. Melewati hari-hari terberat dalam hidupnya, kini titik itu menyeretnya pada kenyataan yang paling membahagiakan hidupnya. Ingat kalimat: ‘memulai denganmu tidak ada salahnya.’ Benar. Tepat sekali. Kalimat penuh ajakan itu tengah merundung hatinya. Bahwasannya Ayana Kalias mau dengan terbuka menerima dirinya. Yang meski Rambe ketahui takkan mudah mendapatkan hati perempuan berstatus sebagai sahabatnya itu—mantan—dulu. Yang saat ini sedang menggoda Rambe habis-habisan sehingga embusan napasnya berkejaran dan detak jantungnya tak beraturan. Ayana… benar-benar diluar ekspektasinya selama mereka mengenal. Perempuan janda itu sungguh nikmat kala Rambe berbuka dengan kondisi yang penuh sabar dan penahanan. Dan begitu menggiurkan kala bermain penuh dominan untuk diri Rambe. Demi Tuhan! Tidak akan pernah ada yang lainnya. Itu sumpah Rambe. “Kamu diam deh!” Sentak Ayana kasar. Yang di pendengaran Rambe sangat seksi. “Nggak usah senyum.” Sekali lagi mengikat kuat-kuat kedua tangan Rambe dengan dasi. Waw! Sensasinya sangat fantastis. Tidak bisa Rambe jabarkan karena di depan matanya kini, seolah semua galaksi sedang bertubrukan. “Kamu tumben.” “Jangan ngomong!” Cepat-cepat Ayana lumat bibir Rambe tanpa memberi ampun untuk si empu mengelak. “Berani ngomong… Aku pastiin kamu nggak bisa bangun.” Ancaman yang menggiurkan. Di mana Rambe lekas bersiul dan merasakan paha dalamnya di tampar. Bukan sakit melainkan perih yang bercampur nikmat menggerogoti gairahnya. Ah, Ayana sangat mengejutkan. Semua tindakannya tidak bisa di tebak. Kadang akan begitu keras bahkan jauh tidak tersentuh. Namun di menit berikutnya akan sangat manis dan memanjakan Rambe tanpa berpikir dua kali. Kenapa, ya, cinta sebegini dahsyat melandanya? Beruntungnya Rambe tak pernah ragu dalam mengambil keputusan. Pilihannya untuk terus mempertahankan Ayana sangatlah tepat. Tak bisa Rambe bayangkan jika sampai dirinya takut untuk berjalan maju. Ibaratkan saja Rambe hendak memukul bolanya dalam sebuah permainan. Yang bisa sewaktu-waktu bolanya keluar jalur. Lalu dua angka sebagai pencetak skor terakhir muncul. Bukankah ada kemungkinan untuk Rambe kalah terlalu besar jika tidak mengayunkan pukulannya sekuat mungkin? Takdir Tuhan tidak ada yang tahu jalannya. Yang Rambe pikir semua poros Ayana ada pada Ardika, kini setelah memulai dari awal dan waktu yang terus merambat mengejar, keterbukaan itu mulai terlihat. Kesempatan untuk bisa mendampingi pujaannya tak Rambe sia-siakan begitu saja. “Aduh!” Ayana serius dalam mewujudkan ucapannya. “Salahku apa?” Mendengus. Ayana palingkan mukanya. Yang sudah puas merasai Rambe dan pergi begitu saja tanpa menuntaskannya. “Memang kamu saja yang bisa bikin aku kaya kentang.” Oh sialan! Ayana membalas perbuatannya semalam. Yang capek begitu mendera dan Rambe katakan: besok saja, ya. Itu bukan penolakan jika harus Rambe ungkapkan. Karena menolak Ayana merupakan garis keras kerugian. Tapi tidak tahu mengapa Ayana benar-benar membuatnya harus terjaga dan di tengah permainan Rambe kurang bisa memuaskan. “Terus ini gimana?” Mimik wajah Rambe sudah sendu maksimal. Dan Ayana tidak peduli sama sekali. Mengacungkan jari tengahnya, Ayana menjawab, “Pakai tangan kamu.” “Setega itu kamu.” “Aku bisa apa.” Jadilah Rambe bergegas bangun dan harus cukup puas dengan tangannya. Untuk malam ini saja. Sisanya, akan Rambe pikirkan pembalasan yang tepat untuk Ayana. Pastinya, tidak bisa Rambe janjikan apa-apa kecuali setia untuk Ayana. Sebab, hal pertama yang Rambe cari hanyalah kesetiaan ketika mencari pasangan. Yang selebihnya bisa di kerja samakan. *** Dua tahun berselang. Waktu menumbuhkan sebagian manusia. Yang bertambah umur dan tinggi badannya. Yang menaikkan nasib-nasib tiap orang entah ke arah yang lebih baik atau menurun. Karena berbicara nasib artinya ada kendali Tuhan di dalamnya. Sama halnya dengan kehidupan para manusia lainnya, Naomi Aksara banyak memiliki perubahan. Di samping usianya yang sudah menginjak angka tujuh dan seragam yang di kenakannya berganti menjadi merah putih, gadis cilik itu tetaplah manis pada umumnya. Anak seumuran Naomi sedang banyak-banyaknya merengek. Takut bertemu dengan orang-orang baru di lingkungannya yang baru. Hari ini adalah hari pertama di mana Naomi memasuki bangku Sekolah Dasar. Bersama Ardika yang mengantarkan, bibir Naomi tak banyak berceloteh. Hanya seperlunya saja itupun Ardika yang mengajukan tanya. Ngomong-ngomong juga, tak banyak yang tahu seperti apa luka hati Naomi. Kecewa dengan papanya, jawabannya ya. Naomi takkan memungkiri itu. Di saat sayang sedang menggulung relung hatinya lantaran mama Pulung yang begitu lembut menjadi ibunya, papanya justru menikah dengan perempuan lain. Parahnya, ada anak diantara keduanya. Sehingga Naomi bersikap sangat keras dan menjauhi papanya. “Pulangnya papa jemput.” Naomi mengangguk. Menenteng tas pinknya bergambar barbie bergegas turun dari mobil. Mengabaikan tatapan sang papa yang menyorotkan luka. “Hati-hati, oke.” Sesaknya adalah begitu turun, hamparan lapangan yang luas sudah di penuhi oleh para ibu yang mengantar anak-anaknya. Ada yang menangis histeris dan sedang di tenangkan. Ada yang menolak mentah-mentah untuk tidak di tinggalkan sendirian. Ada yang mengamuk sehingga kondisi makin riuh. Sedang Naomi? Naomi tundukkan kepalanya dalam-dalam. Denyutan sakit datang berdesir di dadanya. Serangan panas menyapa kedua matanya. Rasanya ini tak adil sama sekali. Anak sekecil itu harus menanggung beban permasalahan orangtuanya. Anak sekecil itu tidak mendapat dukungan secara penuh kecuali di bagian materi. Melihat itu, tentu Ardika merasakan sakit tak berkesudahan. Mungkin sikapnya terlalu diam. Tanpa di sadari Ardika menjadi pribadi yang sangat egois. Hanya melihat dari kejauhan seperti apa luka putrinya tanpa bisa menyembuhkan. Menyaksikan tangis diam-diam putrinya di malam menjelang tidur, tidak bisa Ardika usap air matanya. Dan beranggapan bahwa di sini, dirinyalah yang paling terluka. Papa macam apa Ardika ini? Ardika… jika boleh jujur. Hanyalah makhluk kecil yang tidak berarti apa-apa apalagi memiliki nilai lebih. Dengan kondisi jiwanya yang carut-marut seperti ini, rasa-rasanya Ardika ingin tenggelam ke dasar lautan. Beban di pundaknya sangat berat dan belum menemukan siapa penolong yang bisa menolongnya dari tenggelam tubuhnya di lautan. Tiga kali menikah dan berakhir pada kegagalan. Dante… meski sudah berganti status menjadi istri sahnya tetap saja hati dan otak Ardika terpaut pada sosok Pulung. Yang tak bisa dirinya temukan di manapun. Tak bisa Ardika lacak meski sudah sampai ke tanah kelahirannya di Garut sana. Semuanya gelap. Hitam pekat tak bersisa jejak. Yang hingga kini benar-benar Ardika ratapi kebodohannya dalam bertindak. Andai… rasanya tak pantas berandai-andai saat semuanya telah terjadi dan terlambat. Tak bisa memutar waktu ke belakang, karena semuanya berjalan ke depan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN