Setelah kejadian itu, hari di mana Naomi merasakan kehilangan melingkupi semangat hidupnya. Kini, tidak ada lagi Naomi Aksara yang cerewet dan suka memerintah. Tidak ada lagi Naomi Aksara yang bersemangat kala menyambut pagi untuk mandi dan meminta di buatkan sarapan. Tidak ada lagi Naomi Aksara dengan suara cemprengnya berseru untuk pergi ke sanggar tari.
Semuanya telah berganti dengan suasana dingin yang mencekam. Tidak adanya kehangatan di rumah besar Ardika meski lampu-lampu mewah bergelantungan. Penghuninya tidak lagi pandai membangun karakter meski ruang obrolan begitu lebar terbuka.
Yang tersisa kini hanyalah Naomi yang asik dengan mainannya. Naomi yang begitu betah mengurung diri di kamarnya dan keluar jika ada keperluan. Makan pun lebih banyak dilakukan di dalam kamarnya. Bi Sinah jadi punya tugas tambahan untuk putri majikannya.
Jika dulu—atau kalau masalah ini tidak pernah mendera keluarga Aksara, bi Sinah akan mengumpat dan merutuki kelakuan Naomi yang persis setan. Meminta ini itu dalam sekejap dan menggantinya dalam hitungan detik. Itu rasanya… angjim surangjim seperti menjadi Ironman. Jadi jelas, bi Sinah kesusahan baik batin maupun lahiriah.
Tapi kini berbeda. Kondisi demikian tidak terlihat baik-baik untuk mencecar dengan kalimat-kalimat pedas dari mulutnya. Ehm… sudah berapa tahun dirinya bekerja di bawah naungan Ardika, ya? Entahlah. Pastinya, melihat majikan ciliknya yang kehilangan arah menyentil ginjalnya untuk bisa bercermin dan berlaku lebih baik lagi. Bi Sinah punya keluarga. Ada suami dan anak. Seandainya itu terjadi pada keluarganya… rasanya bi Sinah ingin menggila saja. Dan melihat anaknya yang hidup tidak baik menjadi pukulan telak tak terelakkan.
“Yakin nggak mau?” Sedang bi Sinah rayu untuk Naomi mau menyentuh makanannya. “Ini capcay biasa. Kesukaan Omi.” Pun jawabannya masih sama: menggeleng dengan bibir terkatup rapat.
Bi Sinah menghela napasnya panjang. Tiba-tiba perasaan sesak merambati dadanya. Andai semuanya mudah untuk dirinya ulurkan tangan dalam memberi bantuan. Sayangnya… semua tidak terlihat demikian. Yang akan baik-baik saja dan selesai dengan pelukan dan bisikan ‘tidak apa-apa’ atau dengan dongeng-dongeng bahagia layaknya di kerajaan.
“Maunya mama.” Singkat, jelas, dan padat. Bi Sinah kicep di tempat. “Tante itu—” Dante maksudnya. “Nggak pernah baik sama Omi. Dia cuma cinta sama papa. Cuma mau sama papa. Nggak ada Omi di hidup dia. Apalagi mau ada adik.”
Terlihat jelas sorot luka yang Omi perlihatkan. Tidak ada air mata yang diam-diam bi Sinah kagumi. Anak sekecil ini bisa bertahan dengan beban luka yang orang dewasa saja memilih mengakhiri ketimbang bertahan.
“Kata teman-teman Omi, punya adik itu nggak asik. Dia bakal ngambil tempat kita. Nyuri mama papa dari kita dan semua yang pernah kita miliki akan di ambil sama adik kita. Omi nggak mau itu terjadi. Omi nggak mau berbagi papa atau berbagi mainan dengan adik. Omi nggak mau. Bibi… Omi nggak mau.”
Ya Tuhan! Astaga. Dapat konsep dari mana anak majikannya ini? Kenapa pandangan seperti itu bisa mengasah otaknya, menggerus hingga ke sumsum tulangnya. Kenapa kalimat sekejam itu bisa menaungi pikirannya yang suci yang tidak tahu apa-apa.
“Ya Allah!” Sebut bi Sinah keras-keras. Air matanya juga mengalir mengikuti jejak milik Naomi yang sudah lebih dulu banjir. “Anak bibi,” ujarnya. “Cantik… nggak boleh ngomong gitu. Nggak semuanya kaya gitu. Nggak semuanya yang Omi dengar adalah benar. Enggak gitu sayang. Semuanya ada alasan kenapa harus adik yang di perhatikan.”
“Cuma mau ngambil posisi Omi. Iya, kan?” Histeris Naomi berteriak.
Kalau boleh jujur. Ini pertama kalinya bi Sinah melihat Naomi menangis tersedu-sedu. Pasti rasanya sakit sekali sedang bi Sinah yang melihat dramanya juga bisa merasakan pedihnya.
“Omi…” panggil bi Sinah lirih. “Tahu tidak? Anak pertama, sulung itu istimewa banget. Kenapa begitu? Kuat, mandiri, dan dijadikan contoh bagi adik-adiknya. Kurang lebih begitu maknanya. Dan soal adik yang merebut tempat Naomi, itu nggak ada sama sekali. Dia tidak mengambil tempat Naomi. Cuma sedang merasakan apa yang pernah Omi alami dulu. Sewaktu kecil dulu, Omi pun begitu. Jadi, karena sekarang Omi menjadi kakak, Omi hanya perlu mengajari dan memberi contoh yang baik buat dia. Bukan di ambil tempatnya.”
Apa yang bisa bi Sinah harapkan dari omongannya oleh bocah berumur lima tahun? Selain tangis kencang yang Naomi derukan, sisanya hanya kepasrahan. Tidak ada yang bisa bi Sinah bantu selain doa dan dukungan untuk kesehatan mental Naomi.
“Dewasa nanti… Omi nggak mau hidup sama papa.”
***
Dante mendengar semuanya. Dari awal sampai akhir. Dan kebencian kian membumbung di hatinya. Naomi Aksara boleh saja dikatakan masih bocah. Cuma berumur lima tahun dan mudah bagi Dante untuk mengalahkan. Menyingkirkan jika perlu. Tapi mengingat di mana kakinya berpijak… Dante urung. Menahan lebih tepatnya yang sayangnya membakar dadanya.
“Benar-benar setan kecil berengsek!” Umpatnya kotor.
Di dalam sana, tangisan Naomi begitu keras. Namun Dante bersikap masa bodoh dan acuh. Enggan untuk menghampiri apalagi sekadar memberi pelukan penenang. Toh dirinya bukan ibunya. Bahkan ibunya pun—yang jelas-jelas darah dagingnya sendiri—membuangnya. Apa kabar dengan Dante yang sepenuhnya hanya menginginkan Ardika?
“Ah… rencana gue nggak boleh gagal.”
Dunia tidak tahu saja seperti apa Dante yang sebenarnya. Bagaimana rupa aslinya. Bagaimana karakter yang tertanam dalam jiwanya.
Dunia hanya tahu seorang Dante: mantan wanita penghibur yang naik status menjadi istri seorang pemimpin kondang dan masuk ke dalam keluarga Ardika. Yang sekalipun ibu mertuanya—Mija—tidak menyukainya apalagi menyambutnya dengan baik, Dante tidak peduli. Yang penting, Ardika ada dalam genggamannya. Di bawah kendalinya. Cinta dan obsesi memang beda tipis.
“Ngapain kamu?”
Tidak akan Dante lewatkan kesempatan emasnya. Maka merubah wajahnya sesendu mungkin, di balikkannya tubuhnya. Nilai plusnya yakni, mangkok yang ada dalam pelukannya. Seakan sudah Ardika tebak ke mana arahnya.
“Mau ngasih hasil olahan aku buat Omi. Kata bibi Omi suka capcay. Jadi aku coba-coba buat.”
Ekspresi wajah Ardika datar tak beriak. Tidak ada sahutan apapun selain dengusan keras dan tatapan mata muak. Tapi begitu, Dante tak kapok apalagi menyerah. Dengan gerakan defensif, melihat Ardika yang menjauh, segera Dante sambar lengan suami sirinya dan memeluknya erat. Meletakkan kepalanya manja dan tersenyum seolah semua baik-baik saja.
“Aku kangen abang.” Barangkali dengan panggilan kesayangan Dante untuk Ardika—dulu—bisa meluluhkan lelaki itu. “Kalau di pikir-pikir kita sudah jarang ngobrol.”
“Memangnya apa?” tanya Ardika.
“Ya banyak. Kaya dulu waktu kita masih sedekat tanpa ada ikatan pernikahan.”
“Huh!” Ardika terkekeh. Seringai di bibirnya muncul. “Lupa, ya, siapa perusak di sini?”
***