48

1085 Kata
Dalam satu tahun ini, sepanjang tahun 2020, sudah kedua kalinya gugatan perceraian Pulung sambet. Dan status janda—kedua kalinya—pun dirinya labeli. Tidak butuh waktu lama. Semua karena uang dan koneksi, maka selembar surat berlogo pengadilan berada tepat di genggaman Pulung. Enggan membacanya, Pulung sudah tahu isinya. Tanpa perlu menebak apalagi berpikir untuk menangisinya. Setelah tahu, hari di mana Ardika berpaling dan memilih mencintai orang lain—terlepas dari benar dan salahnya—Pulung tahu bahwa kini dirinya telah sepenuhnya kehilangan Ardika. Tidak ada amarah ketika Pulung hengkangkan kakinya dari sana. Hanya ada luka yang tersisa karena ternyata, belajar ikhlas dalam mencintai tidak semudah bayangannya. Pun begitu, luka itu hadir karena dirinya memberi peluang untuk terluka. Jangan di tanya bagaimana rasanya? Sakit. Sudah pasti. Tapi dari sini Pulung memahami konsep jatuh cinta yang datang dan pergi tanpa paksa memaksa. Sama halnya dengan Ardika yang pernah jatuh cinta terhadap Pulung dengan hebat sebelum akhirnya jatuh cinta kepada seseorang selain dirinya. Pulung juga pernah di bahagiakan Ardika sebelum akhirnya di tinggalkan. Sekarang… melihat Ardika dari kejauhan, mencintai diam-diam, menyimpan luka sendirian, sampai tiba di waktu nanti perasaannya mati tenggelam itu adalah bagian dari melepaskan juga cara lain dari mencintai. Secepatnya. Lantaran semuanya telah usai dan hanya kenangan sakit yang Pulung bawa—ah tapi ada yang lain. Di perutnya sedang tumbuh seorang janin yang akan berkembang lagi tujuh bulan ke depan. Hanya itu yang bisa Pulung bawa dan melindungi tanpa harus ada yang tahu. Juga… satu lagi. Tahukah kalian pada perkataan orang-orang yang katanya sedang sangat di harapkan, kadang suka tidak tepat sasarannya. Sama halnya dengan yang tengah berusaha dilupakan, justru kian terekam jelas dalam pikiran. Kali ini Pulung teringat momen di mana Ardika pernah menunggunya. Yang tentu saja sangat mengejutkan. Seorang sibuk seperti Ardika mau menyisihkan waktunya untuk menunggunya di depan pintu minimarket. Yang sore itu keluar rengekan dari Naomi meminta di carikan mayones. “Mas Ardika nunggu lama?” Pulung bertanya dengan mimik wajah penuh kekagetan. Dan Ardika membalas lewat senyuman lebar. Sehingga ketampanannya berlipat-lipat kadarnya. “Aku senang bisa lihat kamu dari sini,” jawabnya yang tak Pulung pahami. Dan dilanjutkan, “Senangnya, begitu kamu keluar dan bisa langsung melihatku.” Darah naik dan berkumpul di kedua sisi pipi tirus Pulung. Bibirnya tergigit kuat-kuat mengalihkan salah tingkahnya layaknya seorang ABG. “Dengan begitu aku nggak perlu menyiapkan alasan cuma buat ngobrol sama kamu.” “Harus?” Alis Pulung menyatu. Yang tebalnya asli tanpa ukiran pensil di sana. “Padahal tinggal ngomong kalau memang ada yang mau di sampaikan.” “Beda dong.” Bela Ardika. Cepat-cepat mengambil alih bungkusan plastik yang di bawa Pulung. Lantas menuntunnya menuju mobilnya yang terparkir. “Coba bayangkan.” Tawa Pulung mengembang seketika. Serius, Ardika dan segala perumpamaannya sangatlah lucu. “Semisal aku tadi ngumpet dulu, kamu lagi nunggu taksi. Itu di mata aku kaya kamu lagi nunggu aku, loh. Serius.” Astaga. Meledak sudah tawa Pulung keras-keras. Tidak bisa lagi bersikap kalem karena keduanya yang sudah menyatu. Jadi, seburuk apapun sikapnya, sepatutnya Ardika ketahui begitu pula sebaliknya. “Kita nggak akan berakhir secepat proses pembuatan film, kan?” Oh, mendadak suasananya sendu. Pulung yang sudah tertawa kencang pun terpaksa menghentikan. Dan tangan besar Ardika yang merangkum pipinya menjadi bukti bahwa lelaki itu sedang ingin di dengarkan. Tatapan matanya menghujam penuh di netra Pulung. “Aku tahu, nggak semua kisah bisa memiliki akhir bahagia. Ke depannya kita akan mengalami kesulitan dari waktu ke waktu yang nggak tahu kapan ujung akhirannya. Kita bakal punya sesi pertengkaran lalu setelahnya kecewa karena mempertahankan pendapat ego masing-masing. Aku juga yakin kita punya saat buat saling ngebenci. Tapi… terlepas dari itu semua, kita kuat dan saling memahami. Berkat semua masalah yang timbul, kita belajar untuk saling menghargai dan lebih mencintai lagi.” Ardika menjeda setelah mengeluarkan semua perasaannya. “Kita akan punya hari-hari bahagia yang nggak bisa di takar pakai apapun itu namanya.” Pulung terkekeh. Ardika sangat menggemaskan di saat yang super genting ini. Apa namanya? Menyatakan cinta? “Kebahagiaan akan selalu ada bersama kita. Walaupun nggak selamanya menuju ke kita.” Timpal Pulung mencoba menengahi sudut pandang Ardika. “Siapapun bisa menemukannya serta menikmatinya. Dan untuk kebahagiaan kita, aku putuskan untuk memantapkan hati menerimanya: kamu. Yang aku cintai meski terkesan terburu-buru.” Ardika tertawa. Tidak menyangka jika istrinya bisa seromantis ini membalas pernyataannya. Namun melebihi apapun dan entah bagaimana sebutannya, hatinya di penuhi bunga-bunga. Setidaknya, pilihannya kali ini tidak salah karena Ardika memilihnya berdasarkan cinta. Dan untuk itu semua, Ardika sangat berterima kasih pada keputusan yang telah di ambilnya. “Serta teruntuk orang-orang yang aku sayangi, aku ingin hidup lebih baik lagi dari ini. Aku ingin ada bersama mereka sampai akhir hayat. Karena dalam hidup, sekalipun kita melewatkan satu kebahagiaan, aku percaya selama ada satu orang, satu orang saja yang mau mencari kebahagiaan bersamaku, hidupku akan lebih layak untuk dijalani.” “Kita saling mencintai, kan?” Pulung peluk Ardika beserta tanya yang membuat punggung lelaki itu menegang. “Aku menolak lupa untuk itu. Dan berharap mas juga demikian. Aku nggak mau kecewa. Aku juga takut dikecewakan kalau semisal kita nggak saling cinta dan malah ngasih kesakitan. Hidup kita akan terus berlanjut kalau kita bisa berubah lebih baik dari hari ke hari.” Dan pagi ini… sembari menunggu namanya di panggil untuk bertemu dokter kandungan, Pulung temukan jawabannya bahwa Ardika tidak benar-benar serius dengan perasaannya. Semuanya bohong dan palsu. Semuanya sekadar permainan panggung untuk melengkapi bumbu di dalam cerita. Karena sejatinya… cinta tetaplah cinta terlepas dari bagaimana kita menjalaninya. Tidak ada yang benar-benar abadi untuk janji yang terucap secara spontan. Tapi alih-alih mengumbarnya seolah mudah menabur benih jagung di ladang yang siap… baiknya tidak pernah terucap. “Silakan,” ujar perawat bersanggul rapi berbaju putih. “Saya pikir ibu nggak baik-baik saja.” “Maaf,” gumam Pulung. “Cuma agak ngantuk.” “Ibu… sendiri?” Terlihat kemerahan di pipinya yang tirus. Pulung tidak mengerti awalnya. Namun kalimat lanjutannya menularkan senyum untuk merekah. “Pak Maha nggak nganter ya, bu?” Keduanya berjalan beriringan. Dengan perawat yang membukakan pintu memasuki ruangan di mana dokter sudah menunggu. “Halo. Kita bertemu lagi,” sapa sang dokter. “Ini check up kedua dan saya berharap semuanya sehat.” Belum sempat Pulung jawab pertanyaan sang perawat karena tubuhnya sudah berpindah tempat menjadi rebahan dan gel dingin menyentuh kulit perutnya. Seiringan dengan alat yang bergerak memutari perutnya, di sana nampak janin kecil yang sedang berdetak mendebarkan. Begitu saja, liquid bening dari mata Pulung merembes. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN