Di masa mudanya dulu, Mija menjadi perempuan yang sangat di segani. Selain berasal dari kalangan berada, Mija menjadi satu-satunya putri yang sangat di banggakan oleh keluarga besarnya; Srikandi. Tidak heran, semua kebutuannya terpenuhi dengan apik dan semua keinginannya terpenuhi tanpa halangan biaya. Semuanya yang menjurus atas nama Mija, di mata keluarganya, perempuan itu sangat di ratukan.
Sampai-sampai semua orang menjadi musuhnya dalam selimut demi bisa melihat seberapa kuat dan di mana titik kelemahan seorang Mija. Barulah ketika di dapat, mereka akan menghancurkan Mija dengan mudah meski setelahnya ada nyawa-nyawa yang melayang.
Toh siapa yang peduli menyoal itu?
Yang kaya tetap yang paling jaya di masanya. Tetap yang paling unggul tanpa bisa di ganggu gugat. Tidak bisa di kalahkan dengan mudahnya. Apalagi sekadar menjatuhkan namanya. Berani menyentuh ratu di keluarga Srikandi, neraka menanti.
“Harusnya kamu melihat seperti apa wajah suamimu.”
Ah, Mija ingat kalimat itu. Kalimat perintah yang sedang di mainkan oleh salah satu temannya—memberi tahu lebih tepatnya—tapi Mija menolak mentah-mentah. Alih-alih sedang menunggu kelahiran sang buah hati—Ardika Aksara—ada baiknya menepis berita-berita semacam itu.
Mija tipe perempuan yang logis. Bukan yang mudah terpengaruh atau mudah di cuci otaknya lewat kata-kata. Tentunya belajar dari pengalaman seluruh keluarganya yang memakan sana sini demi bertahan, pun demikian Mija melakukannya. Trik yang di miliki untuk maju ke medan perang selain harus percaya pada kemampuan diri sendiri, was-was terhadap musuh yang berseliweran di depan matanya patut di waspadai.
Artinya—anggaplah—bahwa temannya pun salah satu musuh yang sedang menyerang benteng pertahanannya. Dan membawa serta nama suaminya adalah pilihan paling tepat. Karena Ardika juga terlahir dari keluarga kondang yang sama seperti dirinya. Bayangkan! Ketika sebuah keluarga yang sama-sama berpondasi kuat menyatu. Akan menghasilkan kekuatan baru. Benar.
“Dalam hal apa?” Mija elusi perut besarnya. Prediksi dokter dalam sepulu hari ke depan jabang bayinya akan menyambut dunia.
“Apapun.”
Tidak meyakinkan. Kecuali bukti akurat yang bisa di bawakan ke hadapannya, barulah Mija akan mempertimbangkan.
“Saat ini, hukum pencemaran nama baik masuk ke dalam pidana yang memiliki hukuman tidak cuma denda. Masuk bui misal.” Seringai Mija nampak. Membuat si empu pemberi berita tertegun. Bukan rasa takut yang di tunjukkan melainkan tatapan kasihan yang menusuk. “Jangan ningkah!” Peringat Mija yang tak berarti apapun.
“Jangan sampai nyesal. Kamu cuma perlu melihatnya. Sisanya terserah.”
Andai dulu Mija percayai suruhan tersebut, pastinya tidak ada anak lain yang hadir dalam rumah tangga keduanya. Yang sayangnya bukan berasal dari rahimnya melainkan perempuan lain. Ardika sudah berkhianat terlampau jauh menusuk relung jiwanya. Hingga Mija sakit hati dan kebas mati rasa.
Andai dulu Mija dengarkan baik-baik, takkan seperti ini jadinya. Takkan ada yang terluka atau merasa tersisih. Takkan ada yang pergi jika melepaskan dengan baik-baik adalah sebuah jalan alternatif. Namun sayang, kadar egois seorang manusia tak bisa di takar. Hati dan takdir yang sudah di satukan tak bisa lepas begitu saja. Semuanya menjadi kehendak Tuhan tapi berganti haluan jika manusia sudah mengambil tindakan.
“Kamu nikah lagi?” Pertanyaan itu Mija ajukan usai menghela napas dalam-dalam. Tidak menyangka abisa memiliki keturunan seberengsek Ardika yang jelas menuruni sifat papanya. “Mama ngerasa gagal ngedidik kamu.”
Itu benar. Mija sepenuhnya menyesal dan bersalah. Dua kali pernikahan Ardika tidak berjalan mulus. Dan kini, di saat Pulung Rinjani masih sah berstatus istrinya, Ardika bermain gila dengan perempuan yang tak lain adalah adik sepupu Pulung sendiri.
“Siri.”
Guntur di siang bolong bukan hal mustahil untuk terjadi. Karena yang terjadi saat ini… Mija syok berat. Mulutnye terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Rahangnya kaku total untuk di gerakkan.
“Kamu gila?!”
“Aku nggak punya pilihan mama.”
“Pulung?”
“End. Cerai. Selesai.” Dan hengkanglah tungkai Ardika dari hadapan mamanya.
Keluarga ini memang berasal dari benih yang b****k. Pada akhirnya melahirkan keturunan yang sama rusaknya. Tidak tahu lagi apa yang harus Mija komentarkan selain diam dan merutuki kehidupannya.
***
Manusia memang tidak pernah puas. Seolah-olah sudah tersortir sejak dulu untuk menjadi serakah. Memiliki satu hal penting dalam hidup, sudah mampu meraihnya tetap saja akan ada perasaan kurang bahwa semuanya belum sesuai dalam bayangannya. Sepicik itu memang.
Dante juga demikian. Sudah di tanggungjawabi oleh Ardika meski hanya sebagai istri siri. Bukankah seharusnya lebih dari cukup? Karena sedari awal, meminta di jadikan istri kedua pun tidak menjadi masalah. Lebih baik lagi Ardika mempertimbangkan semuanya. Tapi kenapa?
Apa manusia memang aslinya begitu?
Tidak pernah puas pada apa yang menjadi tujuannya. Tidak pernah merasa cukup pada apa yang telah di gapainya. Jika seperti itu, adakah jaminan kebahagiaan menghampiri.
“Lo terlalu naif buat ukuran saling mencintai.”
Adalah Maharaja yang lagi-lagi harus Dante libatkan. Perempuan berbadan dua itu juga kesal dengan tingkah Ardika yang terkesan tidak menganggap dirinya ada. Maka, menemui Maha menjadi jalan ninjanya untuk mendapatkan bantuan.
“Apapun itu!” jawabnya sambil menyesap teh hangatnya. “Lo saja bisa bucin sama si janda. Ya kenapa gue nggak bisa?”
Bukan itu inti yang ingin Ardika sampaikan. “Yakin itu anaknya Ardika?”
Entah apa-apaan maksud Maha melemparkan tanya demikian. Bukankah sudah Dante katakan bahwa ini benih Ardika. Oh… nampaknya Dante lupa berhadapan dengan siapa.
“Bahkan lo sendiri yang nyusunin rencananya.”
“Benar juga kata lo. Gue yang bikin semuanya tapi gue juga yang lupa.”
“Maksud lo apa, sih?”
Maha yang terkekeh sungguh membuat Dante kebingungan. Pasalnya, lelaki itu tak pernah berbuat demikian jika bukan benar-benar menarik untuk di tertawakan. Atau jangan-jangan… nggak mungkin Maha berubah haluan dan menganggap semua puncak dari rencananya menjadi tidak berarti.
“Pulung… di mana?”
“Kenapa?”
Dante ingin memastikan bahwa semuanya aman. Tapi Maharaja tidak bisa di tebak pergerakannya.
“Dia nggak ada kabar.” Bahu Maha yang mengedik sebagai jawaban. Dante masih belum puas. “Lo nggak ikut campur, kan?”
Di tuduh begitu, bukannya membuat Maha meluapkan emosinya, justru tercenung diam dengan mata menghujam Dante. Di kedalaman mata perempuan itu, Maha temukan segurat gelisah dan sendu yang saling berebut. Untuk mengambil alih atau sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika pilihan ini paling tepat.
Sayangnya, Ardika bukan orang yang mau diam saja ketika membuat sebuah rencana. Jadi ya… itu benar. Benar-benar tak bisa terelakkan ada dirinya yang terlibat guna melindungi Pulung.
“Gue?” Tunjuk Maha pada dirinya sendiri. “Lo pikir gue suka di bikin repot dengan hal beginian. Mikir!”
Tentunya tidak semudah itu bagi Dante mempercayai. Karena Maharaja memiliki seluruhnya darah Ardika yang mengalirkan derasnya kebusukan.
***