Naomi Aksara baru saja merasakan bahagia.
Yang selama ini selalu diidamkannya: memiliki mama selayaknya teman-temannya. Yang memandikannya di pagi hari. Mendandaninya, memasakkan makanan kesukaannya, membawakan bekal untuknya, mengajarinya banyak hal termasuk menari yang baru saja di tekuninya.
Naomi Aksara baru saja menemukan arti getaran dari bibir mungilnya kala memanggil seorang wanita dengan sebutan mama.
Yang menjawab lewat senyuman dan memberikan pelukan hangat. Yang tidak memarahinya sesalah apapun perilakunya. Yang menegurnya tanpa membuatnya menangis. Yang mengusapi kulitnya ketika benda tajam menggoresnya. Yang mengabulkan banyak hal tanpa penolakan.
Tapi perkataan papanya pagi ini sangat mencengangkan. Di saat anak-anak seusianya hanya tahu tentang bermain dan bergerombol bersama teman-temannya, Ardika Aksara mengatakan bahwa mamanya telah kembali ke rumah orangtuanya. Yang tentu tidak Naomi ketahui kadar kebenarannya. Apalagi artinya.
Satu yang pasti, ada sosok lain di belakang tubuh papanya bersama perut yang membuncit. Pun Naomi tidak tahu apa-apa selain mengerjapkan matanya polos dan beralih menatap papanya. Seolah meminta penjelasan tapi terkunci rapat.
“Ini mama Dante,” ujar Ardika yang terdengar kejam di rungu Naomi. Senyum papanya yang selalu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Naomi terlihat sangat menakutkan. “Mama Dante bakal tinggal sama kita. Naomi bakal punya adik. Sesuai permintaan Omi waktu itu.”
Apa yang bisa Naomi lakukan selain diam. Bulir-bulir bening sudah menumpuk di kedua matanya. Pandangannya juga memburam tertutup cairan itu. Tapi—lagi dan lagi—Naomi hanya diam. Di benaknya tercanang kalimat: kenapa papa jahat banget sama mama Pulung dan Omi. Itu tidak tersampaikan.
Yang saat ini tengah Ardika peluk putri kecilnya. Buah cintanya dengan masa lalunya—Ayana—yang pernah menggerus habis titik di hati Ardika untuk hanya di penuhi nama Ayana dan Ayana. Yang menjadikannya mengenal dan mengerti cinta sekaligus mengalami pengkhianatan yang tak berujung akhirnya.
“Omi suka?” Suara Dante mengambil alih kesempatan. Ruangan yang sunyi memudahkannya berkata demikian. “Mama belum tahu apa jenis kelaminnya. Dia masih kecil banget.” Ocehan Dante tak masuk ke dalam pendengaran Naomi. Bocah kecil itu hanya diam membisukan mulutnya. Tidak bergerak membalas pelukan sang papa seperti biasa apalagi menimpali kalimat-kalimatnya.
“Mulai sekarang…” Lagi Ardika katakan beserta melepas dekapan pada sang putri. “Mama Dante yang bakal antar Pulung sekolah dan nemenin Omi main. Mau, kan?”
Hei, tahu tidak?
Ada cerita di kalangan anak-anak. Memiliki adik itu tidak menyenangkan. Hanya akan menggeser kita dari posisi yang sepenuhnya milik kita. Kehadirannya merusak segala alur hidup yang kita jalani sebelum kelahirannya menjadi sangat berantakan. Adik, bagi sebagian teman-teman Omi adalah monster yang merebut perhatian kedua orangtuanya. Yang lucu dan imut melebihi kita.
Maka untuk itu, kepala Naomi tergeleng kuat-kuat. Rembesan air mata sudah membasahi kedua pipinya entah jatuh sejak kapan. Lekas membuat Ardika bertindak panik dan menenangkan putrinya bukan jalan yang tepat.
“Omi kenapa? Hei, lihat papa.”
Miris sekali untuk Ardika. Melihat putrinya yang terluka sendirian. Menyimpan sakit sendirian. Sedang dirinya? Ardika benar-benar gagal menjadi orangtua yang baik. Yang tidak tahu kapan waktu tepatnya untuk memberi perhatian kepada sang anak. Kapan tepatnya harus tahu bagaimana kondisi sang anak. Ardika bahkan tidak tahu seperti apa pertumbuhan Naomi sejauh ini. Yang ada di pandangannya hanyalah Naomi yang baik-baik saja dan sehat.
Sampai sini Ardika mengerti. Berapa persen tingkat kegagalannya dalam menjaga Naomi. Jika boleh di katakan, ingkar dan gagal sudah ada dalam daftarnya. Karena sumpah yang pernah Ardika gaungkan dulu saat sidang perceraian usai adalah memberi putri kecilnya kebahagiaan kini berganti dengan hadiah membosankan berupa kesakitan. Dan kehangatan hidup seperti selayaknya orangtua pada umumnya benar-benar tidak pernah terjadi. Kini benar-benar Ardika temukan jawabannya bahwa semua ini tidak baik-baik saja untuk putrinya. Bahwa semua perlakuannya adalah bentuk nyata dalam Ardika merusak mentalnya.
Astaga. Baru kali ini Ardika menyesali pada semua keputusannya. Menyesali telah mengambil langkah pendek tanpa memikirkan buntut dari permasalahannya.
Sekarang, harus bagaimana Ardika bertindak selain memeluk putrinya yang ringkih dan bergumam kata maaf.
Begitu saja, Ardika merasa tidak ada gunanya. Tidak ada dampak baik yang bisa membawa Naomi pada kenangan-kenangan indahnya. Masa kecilnya sudah di recoki dengan berbagai perkara orang dewasa.
***
Kali ini, ada permainan baru yang Maha dan Pulung perankan. Keduanya tampak bahagia menjalankan apa yang sudah di mulainya. Terutama Maha yang mau-mau saja di suruh ini itu oleh perempuan hamil tersebut.
“Kamu ngidam, ya?” tanya Maha cekikikan sembari memasang apron ke tubuhnya. “Duhhh anak papi.” Entah sengaja atau memang candaan guna menetralisir suasana. Agar kondisi yang di ciptakan bisa lebih sempurna terbangun.
Pulung menimpali, “Oh ya dong papi.” Seketika urat saraf di seluruh inti tubuh Maha menegang. Kaku maksimal bahkan kedua bola matanya membeliak kaget. Tidak menyangka pada apa yang Pulung ucapkan. “Adek…” Itu panggilan sayang Pulung untuk si jabang bayi. “Mau di masakin sop ayam lada hitam sama papi.”
Ya?
Apa?
Tentu Maha terkejut. Baru kali ini mendengar jenis makanan yang Pulung sebutkan. Paling banter Maha cuma makan sop ayam. Kuahnya ya biasa, kuah sop. Nggak ada t***k bengek apalagi embel-embel lada hitam.
“Gimana tuh cara buatnya.”
Bahu Pulung mengedik acuh. “Nggak tahu, pap. Adek maunya makan itu dan harus. Wajib papi yang buatin.”
Duhhhileh jamileh. Ini perannya pasangan, sih, ya. Jantung Maha dugun-dugun. Sehat banget untungnya karena nggak turun ke lambung. Coba lepas dari tempatnya? Bisa siaran langsung hari ini.
“Aku coba, deh,” ujar Maha memutuskan.
Menyiapkan segala keperluan memasak termasuk bahan-bahannya. Kini, kedua tangannya berselancar di atas keyboard laptopnya guna mencari apa-apa saja yang di butuhkan. Dan setelah lima menit mengubek-ubek youtube, tidak menghasilkan apapun selain garukan di kepalanya.
“Nggak ada.” Putusnya mantap. Sudah mencari ke sana ke mari memang nihil hasilnya.
“Ah cemen!” Ejek Pulung. Bergilir perempuan itu yang mengambil alih tempat Maha dan bergerak lincah. Memotong ayam menjadi beberapa bagian, membentuk wortel seperti bunga, mengiris bunga kol dan lain sebagainya. “Aku baru ingat. Waktu kamu main ke rumah mas Ardika… Kalian sudah saling kenal, ya?”
Kenal. Banget. Lebih dari kenal malahan.
Inginnya begitu Maha mengeluarkan jawabannya. Namun sampai jarum jam berubah menitannya, diam dan senyum menjadi yang Maha keluarkan.
“Enggak juga. Kita ada di bidang yang sama—properti dan furniture—jadi sudah kaya benar-benar terhubung soal klien. Beberapa kali kita kerja sama waktu menggarap proyek. Kadang, aku nggak bisa dan pak Ardika bisa. Atau pas kebetulan aku harus di luar kota dan begitu sebaliknya.” Jelas Maha.
“Tapi sudah kaya kenal lama.”
Bukan sesuatu yang harus Maha khawatirkan jika Pulung berpikir demikian. Itu pendapatnya dan Maha anggap bagus.
***