Karena ini Ardika. Maka mudah bagi Ayana Kalias untuk mencintainya.
Tahu mengapa?
Mengapa sangat Ayana cintai lelaki sejenis Ardika Aksara yang sebenarnya lebih banyak lelaki di luar sana mencintainya. Yang berjuang mengejar cintanya demi bisa membawanya ke pelaminan.
Mengapa Ardika Aksara yang begitu Ayana tempatkan di hatinya, pada bagian teratas kehidupannya.
Mengapa Ardika Aksara jika orang lain yang mengejarnya menjanjikan sejuta bahagia. Yang rela menunggunya dan menemaninya tanpa keluhan.
Mengapa Ardika Aksara?
Karenanya, karena Ardika Aksara adalah seseorang yang tidak pernah Ayana temukan di belahan bumi mana pun. Yang sayangnya telah Ayana campakkan. Yang telah Ayana buang layaknya bungkus nasi tak berbekas. Terseret angin, terombang-ambing bersama debu jalanan yang karenanya sangat Ayana sesalkan.
Yang kehadirannya mampu melengkapi kekurangan Ayana. Yang keburukannya di tutupi oleh cinta yang Ardika curahkan. Yang aibnya telah Ardika terima sebagai bentuk penerimaan cinta. Yang hadirnya selalu Ayana butuhkan. Yang harganya tak bisa Ayana tafsirkan lewat nominal uang berapapun banyaknya.
Mengingat Ardika sekali lagi… sampai tiba di hari ini dalam hitungan detik, menit, jam, hari, bulan dan berganti tahun dari kepergian Ayana. Itu sedikit tidak adil ketika kembali di sini justru perubahan yang di saksikannya. Justru Ardika yang telah melupakan namanya, menghapus jejak ingatan tentangnya. Ayana memberontak untuk tidak menerima. Memukul mundur musuh-musuhnya untuk jangan mengambil tempatnya di sisi Ardika.
Tapi mau bagaimanapun semuanya telah usai. Kata terlambat saja tidak cukup kuat untuk membuat Ardika yakin bahwa cintanya masih berada di tanduk. Sedang semua kerusuhan ini akibat ulahnya. Karenanya… Ayana tidak bisa berhenti sampai di sini.
Padahal ada alasan untuk Ayana tidak memikirkan perihal Ardika dan t***k bengeknya. Namun di samping rasa itu, ada sejumput kekuatan yang mengiringi laju perjalanannya bahwa ingatan tentang Ardika tidak bisa di tepis begitu saja.
Pun dengan pikiran Ardika yang sangat Ayana ketahui. Bahwa setelah dirinya hengkang dari meja persidangan, sorot luka nampak terlihat jelas di netra kelam Ardika. Olokan demi olokan menelusup ke dalam pikirannya bahwa Ardika sangatlah tidak berarti sehingga di buang. Bahwa Ardika dalam pandangan Ayana bukanlah apa-apa selain ruang pengisi kekosongan waktunya semata.
Waktu itu… boleh dibilang Ayana sangat mencintai Ardika meski selalu di sangkalnya. Begitu mudahnya meraih hati Ardika membuat taruhan berjuta-juta uang dirinya raup dalam sekali genggaman. Ayana sepenuhnya sadar mencintai Ardika. Sedang di mata Ardika—usai palu terketok tiga kali—sorot matanya berubah hampa dan kosong yang tertulis jelas di sana bahwa Ayana hanya mencintai dirinya seperlunya.
“Sekarang sadar?”
Oh, Ayana lupa ada sosok Rambe yang menemani dirinya. Demam tengah menyerang tubuhnya beberapa hari ini. Dan hari ini menjadi puncak di mana Ayana sangat merindukan Ardika. Sehingga berkeinginan untuk melihat lelaki itu.
“Gitu, ya, Ay. Penyesalan selalu datang di akhir. Heran gue.”
“Kalau di depan namanya pendaftaran.”
Tidak ada lagi gairah di hidup Ayana untuk memulai. Melihat Ardika bersama Naomi dan Dante di sampingnya—seharusnya itu tempatnya, miliknya. Yang dengan suka rela Ayana lepaskan untuk perempuan lain.
“—lo bisa datang ke gue.”
Tidak tahu apa yang Rambe katakan. Pastinya, lelaki itu kembali menawarkan kesediaan hatinya untuk menerima Ayana yang jawabannya pun selalu sama; tidak.
“Lo percaya takdir?”
Di potong demikian, Rambe menolehkan kepalanya. Menatap Ayana penuh telisik dan jeli dalam memberi penilaian. Sebelum menjawab, “Yakin. Kalau lo pernah cinta sama Ardika. Dan nggak pernah mikir bakal pisah kaya gini. Atau pilihan takdir lo yang lain justru ngebikin semuanya berhenti.”
Tepat sekali. Itu yang hendak Ayana sampaikan.
“Tapi gue juga yakin ada takdir lo bersama gue. Cuma belum waktunya saja.”
Terbuat dari apa hati Rambe ini?
Yang sudah Ayana tolak berkali-kali namun terus kembali. Terus menarik Ayana untuk terperosok lebih dalam ke relung jiwanya. Tercipta dari apa hatinya sehingga tidak pernah meraba lukanya yang telah banyak Ayana lukiskan.
“Gue bakal jadi yang pertama matahin hati lo.”
“Sudah lo lakuin. Tapi gue enjoy saja.”
“Lo bahagia?”
“Lebih dari yang lo lihat.”
Ternyata tidak hanya cara kerja dunia saja yang sudah gila sejak dulu. Takdir berkali-kali lipat damagenya. Cinta bisa semerusak ini. Akal manusia bisa terkalahkan oleh satu kata cinta berjumlah lima huruf yang menjorok pada kesakitan total.
“Gue pernah punya pikiran konyol.” Ungkap Ayana. “Jadi… Gue pikir, begitu pisah sama Ardika, perasaan cinta yang gue punya bakal mati total. Berhenti sesuai takdir yang ngebikin kita cerai. Tapi sampai hari ini yang gue lihat—enggak—setelah ketemu Ardika lagi, gue malah nggak bisa ngehapus perasaan cinta yang ada buat dia. Cinta itu tetap ada dan takdir nggak jadi pengaruh apapun di sini. Karenanya—”
“Lo simpan puing-puing kesedihan tentang cinta lo yang nggak bertuan? Gitu intinya?”
Ayana mengangguk. “Gue kudu cukup puas mandang dia dari jauh. Dari sini.” Tangan Ayana tergerak. Seolah-olah hendak menggapai Ardika yang ada di depan sana. “Kenapa dia bahagia banget, sih?” gerutunya kesal.
“Dia pernah sebahagia itu waktu sama lo. Sayang saja lo yang buta dan nutup hati.”
Bahagianya Ardika telah berganti. Dengan seseorang yang baru. Dan sedihnya, Ayana hanya bagian dari kepingan masa lalu yang tidak lagi pantas mendampingi Ardika. Karenanya—sekali ini—Ayana membenci memiliki ingatan tentang Ardika. Lagi dan lagi.
***
Siapa yang sangka jika senyuman dan tawa seseorang bisa sangat palsu di hadapan orang lain?
Kadang, yang terlihat, belum tentu sepenuhnya benar.
Itu yang Dante jalani saat ini.
Kala tawa Ardika sangat lebar dan pasang mata lainnya melihat penuh decakan kagum dan bisikan ‘keluarga mereka harmonis’, ‘mereka kelihatan bahagia banget’, ‘duhh anaknya secantik itu kaya emak bapaknya’. Sayangnya tidak.
Karena senyum dan tawa yang Ardika perlihatkan hanya untuk Naomi. Senyum dan tawa yang Ardika lebarkan, tidak tertuju untuk dirinya yang ikut serta mengisi. Ini hanya sandiwara. Ini hanya akting agar tidak di nilai hambar. Ini hanya ilusi—setidaknya begitu untuk Dante.
“Kalau kaya gini… kenapa nggak usah saja.”
“Apa?” jawab Ardika menatap nyalang Dante. “Kamu yang datang. Kamu yang menawarkan. Kamu yang meminta. Aku hanya menjalankan.”
“Kamu seegois ini.” Dante balas sama nyalangnya bertaut tepat di gelapnya mata Ardika. “Aku baru tahu ini.”
“Ya. Aku memang seegois ini. Aku memang begini yang menurutmu sangat sempurna. Nyatanya… Aku rapuh. Kamu yang memberiku kesempatan untuk bersama Pulung tapi kamu juga yang mengambil semuanya dari aku. Kamu—”
“Diam!” Teriak Dante menahan tangis. “Aku benci kondisi ini karenanmu… Aku harus hancur sendirian.”
‘Lihat nanti. Kita harus hancur bersama.’
***