Atas apapun yang terjadi hari ini, u*****n kotor, keluhan kesakitan, kutukan demi kutukan yang berujung pada kesialan… Maha tidak ingin melontarkannya. Barang sedikit pun mulutnya rapat total.
Pada apa yang di terimanya. Dan kedua matanya yang melihat semuanya dengan jelas. Ada yang kacau. Terlepas dari apa yang terjadi hari ini dan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang di masa lalunya dulu. Demi apapun Maha mencoba menahan mulutnya untuk jangan berkata kotor.
Karena bagaimanapun cinta itu baik. Memiliki atau tidak, cinta tetap cinta. Dan Maha telah lebih dulu mengambil jalan untuk merebut apa yang patut dirinya miliki, memaksanya untuk harus mau mencintai Maha selayaknya dirinya mencurahkan cinta itu.
Namun, permainan ini sungguh di luar kendali bahkan haknya dalam mencinta. Semuanya tergantung si pemilik terdahulu. Ini benar-benar lemparan bom tepat waktu yang sangat mencekik lehernya sampai sesak bernapas.
Kenapa?
Itu saja pertanyaan Maha.
Kala hatinya bisa selangkah lebih dekat dengan cintanya. Fakta lainnya justru datang mempora-porandakan pertahanannya. Bukankah Maha sudah berkata berhenti dan tak mau tahu lagi tentang siapa ibunya. Tentang bagaimana masa lalunya. Tentang bagaimana kisah yang terus membuatnya di rundung hingga sedewasa ini?
Nampaknya Tuhan sangat menyayangi dirinya. Begitu semuanya tersusun rapi untuk Maha balaskan dendamnya pada keluarga Aksara, bukti-bukti dari sebuah foto merongrong jiwanya. Jadi… Ibunya… Maha sudah tidak kuasa untuk melanjutkan. Selain tubuhnya yang sudah lemas dan terduduk di dalam kursi kerjanya.
Rekaman dalam flashdisk yang sedang dirinya putar, Maha tahu itu dirinya berumur enam tahun. Yang tertidur nyaman di sebuah bangkar rumah sakit. Di sampingnya ada dokter yang mengajukan tanya—mensugestinya—cerita-cerita bahagia.
Sama sekali Maha tidak tahu jika dirinya pernah mengalami kecelakaan parah sehingga membuatnya koma. Dan terbangun dalam kondisi di hapus ingatannya. Bayangkan! Maha ngilu melihat video sesi tanya jawab dan sugesti yang lebih kepada kekonyolan.
“Di masa depan. Pada masa yang akan datang. Kamu akan bertemu dengan yang namanya kesuksesan. Besar dan melambungkanya namamu,” kata sang dokter yang setelahnya terdiam. Mencatat dalam kertas kecil usai melihat ekspresi tenang di wajah Maha. “Kamu siap bertemu dengan masa depanmu? Masa yang baru dalam hidup kamu.
“Kamu akan mendirikan sebuah perusahaan yang kamu pegang sendiri. Menciptakan inovasi teknologi yang semakin cepat mengikuti arus dunia dan zaman. Kamu akan menjadi pengendali di dunia inovasi kecepatan dan ketepatan. Kamu siap?” Pertanyaan itu di ajukan lagi yang kali ini ada anggukan kecil dari kepala Maha kecil.
Melihat itu, Maha yang duduk di kursi kebesarannya menggeleng tidak percaya. Perlu bertanya-tanya apakah ya itu dirinya sewaktu kecil dulu? Kenapa kegiatan hipnoterapi itu sangat membuatnya bahagia? Apa kehidupan masa kecilnya—sebelum menduduki bangku sekolah—sudah penuh kesakitan?
“Tapi nantinya kamu akan di tentang habis-habisan pada awal berdirinya kedua kakimu di depan banyak orang…” Yang terlukis jelas kedua alis Maha bertaut penuh kesakitan. “Tenang. Rileks. Lepaskan saja. Itu akan baik-baik saja.” Di tepuknya tangan kecil Maha dan wajahnya berangsur-angsur membaik.
“Kita akan masuk ke sisi yang lebih dalam.” Jeda sekian menit dan berlanjut, “Tentangan yang ditujukan padamu atas inovasi teknologi rancanganmu dianggap oleh beberapa orang sangat tidak berguna karena terlalu cepat. Ada sebagian orang yang menerima terutama para investor dari berbagai perusahaan besar menilai bahwa ini sangatlah berguna. Namun juga melukai orang-orang di kalangan bawah karena kehilangan kehidupannya atau mata pencahariaannya dan tak bisa beradaptasi di dunia baru.
“Saat mendengar keluhan semacam itu… Kamu merasa di remehkan, di rendahkan, dianggap tidak becus dalam memimpin sebuah operasi pimpinan perusahaan. Namun kamu angkuh. Jadi kamu berpikir bahwa orang yang menentangmu hanya perlu berusaha mengontrol kecepatan teknologi ciptaanmu agar hidup berdampingan dan saling beradaptasi bisa sejalan.”
Demi Tuhan!
Itu sungguh terjadi di masa kini. Dan Maha merutuki akan apa yang telah dirinya perbuat untuk bisa berada di posisi tertingginya saat ini.
“Kamu terus berjuang. Tidak mau kalah apalagi mengalah. Kamu kuat. Tidak bisa di singkirkan dengan mudah. Mulai sekarang… Kamu menjadi pribadi baru yang tidak bisa di sentuh siapapun sekalipun orang terdekatmu.
“Papamu—Ardika—sangat kondang dan menunjuk dirimu untuk berada di sisi kanan kehidupannya ketimbang putra kandungnya. Karena mamamu perempuan yang sangat dicintai oleh papamu. Jadi kamu harus menang melawan saudara sedarahmu dalam hal apapun.”
Semuanya menjadi begitu jelas sekarang. Kenapa Ardika sangat kukuh mempertahankan dirinya meski tahu Maha memberikan penolakan. Kenapa sangat melindungi Maha yang di sembunyikan dari dunia tapi menuliskan namanya dalam urutan ahli waris.
Buktinya, perusahaan yang saat ini di pimpinnya ada dalam genggaman Ardika sejak awal. Pria paruh baya itu telah mengambil alih kehidupan aslinya dan di gantikan dengan kehidupan palsu. Di hapus sebagian ingatannya bagi Maha itu adalah bencana. Masa kecil, masa kanak-kanak di mana pertumbuhannya sangat menyenangkan dan penuh kenangan harus rusak oleh sebuah keserakahan. Entah apa motif yang Ardika inginkan sampai berbuat demikian.
Satu yang pasti. Ingin Maha proteskan bahwa seharusnya, hidup dan jalannya adalah miliknya yang tentu berbeda dari seorang Ardika. Entah di masa lalu maupun masa sekarang. Dan semestinya, tidak ada yang boleh mengubah ingatannya setidak diinginkannya dirinya hadir.
Orangtua bijak akan mengatakan ini untuk anak-anaknya:
“Anak-anakku berjalan menuju masa depan.”
Bukankah itu terdengar lebih manusiawi daripada di hapuskan ingatannya?
Dunia memang selucu ini dalam menjalankan takdirnya.
“Kamu nggak mau makan?”
Di hapus cepat-cepat tetesan liquid di pipinya. Segera Maha putar kursinya untuk menatap ke luar gedung apartemennya.
“Kamu ke sini?” Pulung tertawa. Maha tidak pernah menjawab pertanyaan dengan jawaban yang semestinya. “Kok ketawa?”
“Hobi kamu nggak pernah berubah.”
Yakni semu-semu kemerahan Maha muncul tanpa permisi di kedua pipinya. Rasanya sangat tidak etis hanya karena ingatan Pulung soal kebiasaan dirinya yang tidak berubah.
“Aku baru mau nemuin kamu.”
“Alasan kamu basi. Aku sudah masak. Nggak istimewa, sih. Tiba-tiba aku pengen nasi uduk dan nasi kuning.”
“Wah daebak! Kamu mulai ngidam. Tapi… eh?!” Mata Maha mengerjap. “Kamu masak sendiri? Kenapa nggak manggil aku?”
Tentu horor sekali melihat Maha yang kalang kabut. Memasak sudah menjadi bagian dari diri Pulung sejak sebelum menikah. Jadi itu bukan perkara besar.
“Kamu berlebihan.” Ditinggalkannya Maha dengan sejuta kerjapan bingung. Wajahnya memberengut kesal.
“Nggak gitu. Ibu hamil nggak boleh capek-capek.”
“Aku cuma hamil, ya. Bukan pesakitan.”
“Eta mulut! Di jaga hei, eling.”
Sungguh. Maha sangat cerewet sore ini. Dan Pulung tidak tahu setan mana yang menempeli lelaki ganteng itu.
Eh?
***