Waktu mungkin sudah berlalu. Yang tertinggal hanyalah rasa sakit. Walau dalam hati yang terdalam tetap menyakitkan. Tapi inilah hidup yang terus berjalan. Yang membutuhkan perubahan lebih baik ke depannya. Yang melongok masa lalu sebagai acuan di masa yang akan datang.
Sama halnya dengan Pulung yang sedang berusaha. Pura-pura lupa pada awalnya Pulung gunakan sebagai senjata. Lalu satu-satunya cara melepas rasa tertekan yang menghimpit rongga dadanya adalah dengan ikhlas. Dan rasa cinta yang Pulung miliki untuk Ardika masih bernaung hingga detik ini. Maka menggabungkan ikhlas dan rasa cinta, Pulung percayai bisa menjadi solusi yang paling tepat. Karena dari sana, Pulung belajar mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Dan sekadar belajar ikhlas saja nyatanya tidaklah cukup. Cinta… membuat segala logika dari rasa ketidakterimaan meleburkan dendam yang menguap bersama udara.
Lain halnya dengan Maha yang benar-benar pura-pura lupa pada apa yang ingin di raihnya. Berada di samping Pulung hingga bisa menggenggam kepercayaan perempuan hamil itu—waw—buncahan bahagia di hatinya tak bisa di bendung. Rasanya sangat mustahil bisa sedekat ini dengan cintanya. Yang sejak dulu selalu Maha idam-idamkan. Dan jenis kepercayaan ini tak bisa diselami jika bukan karena masalah yang merundung keduanya.
Ya. Lebih tepatnya masalah yang Maha ciptakan sendiri. Dianggap sejenis pengorbanan yang lebih menonjol kepada keegoisan semata. Tidak mengapa di nilai demikian. Terpenting di sini, Maha luar biasa melambung tanpa perlu menjadi bayangan untuk Pulung lagi.
Dan bagian ini yang Maha lupakan. Pasti ada pihak-pihak lain yang turut serta. Mencampur tangankan urusan Maha yang sudah di beri batas untuk dilampaui. Sejatinya begitulah cara kerja sebuah aturan; untuk di langgar.
“Yakin?” tanya seorang wanita paruh baya. “Nggak salah lihat?” Bawahannya mengangguk mantap. Tidak ada suara yang keluar. Cukup dengan anggukan kepala dan Mija menggerakkan jarinya untuk hengkang dari ruang keluarganya.
‘Barangkali sudah takdir kerjanya seorang perusuh rumah tangga orang.’
Gumaman itu hadir di dalam pikirannya.
Tangan cantiknya memegang cangkir teh dan tersenyum sinis. Tatapan matanya juga terlihat berang namun lebih kepada pemandangan puas yang di lukiskan. Bagaimanapun, semua doanya secara tiba-tiba terkabul. Tidak peduli apakah Ardika Aksara anak kandungnya, darah dagingnya atau orang lain sekali pun. Yang sudah mengambil bagian dari miliknya, akan mendapat hukuman yang setimpal.
“Kirim saja,” perintahnya pada seorang bawahannya yang lain. “Ke alamat yang sudah tertera.”
Baik. Dilaksanakan. Hari itu juga yang membuat cerita ini lebih rumit untuk di pahami.
[]
Pulung menulis dalam selembar kertas:
“Kadang musuh terdekat adalah diri sendiri, berjarak antara logika dan hati. Bernama ego, ekspektasi, dan emosi.”
Langsung Pulung benarkan. Karena manusia tanpa khayalan menjadi sebuah ketidakmungkinan. 75% dari kehidupannya yang berjalan, mengisi kekosongan dengan khayalan menjadi suatu hiburan tersendiri. Pulung pribadi, takkan menyangkal hal tersebut. Karena dirinya juga berbuat serupa.
Perempuan… bisa Pulung ibaratkan begini:
Banyak melakukan kebodohan. Entah dalam kondisi apapun akan ada satu pilihan tidak tepat yang di ambilnya. Sehingga menimbulkan sesal tak berkesudahan di kemudian hari.
Perempuan, juga memiliki rasa tidak aman pada pasangannya—bukan tidak percaya—namun lebih kepada cemburu yang tidak tahu dari mana awalnya. Yang berujung pada overthinking berdampak pada semuanya.
Perempuan, memiliki masalah ketidakpercayaan seperti misalnya: apakah aku ini cukup cantik untuk di gandeng ke mana-mana? Apakah aku cukup menarik untuk di perkenalkan kepada seluruh rekan kerjanya? Apakah aku tidak akan membuatnya malu kala bersua dengan teman-temannya? Yang berujung pada ‘saya tidak cukup baik dan tidak layak untuk semuanya.’
Tapi perempuan juga memiliki sisi lain untuk di banggakan. Luar biasa dalam beberapa hal yang tidak banyak di sadarinya atau di ketahui oleh kebanyakan laki-laki. Termasuk… bahwa perempuan memiliki hati yang baik walau dengan banyak bekas luka. Di setiap harinya, bagi sebagian perempuan, belum tentu menjadi hari baiknya. Ada saatnya, tiap-tiap perempuan di luar sana mengalami hal buruk. Satu sisi berada di atas karena kebahagiaan yang datang secara tidak terduga. Namun di lain sisi, ada yang sedang tertimpa musibah. Sehingga sebagian dari mereka para perempuan yang sudah menelan asinnya garam kehidupan akan belajar dari itu semua. Mereka akan tumbuh dengan sangat baik lewat cobaan-cobaan yang telah di ujikan.
Perempuan… meskipun aneh, mereka selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa hak istimewa memang mutlak miliknya. Sekali pun merasa sangat cerdas, semua rasa itu takkan bisa di tepis begitu saja karena apa yang telah melanda perempuan memang begitu adanya.
Itu juga yang sedang Pulung lakoni.
Dulu, di pernikahan pertamanya, merasa sangat tidak sempurna adalah cara Pulung menyiksa dirinya sendiri. Ia sangat egois sehingga begitu keras memandang dirinya rendah. Yang belum kunjung hamil—padahal peran suami pun ikut andil. Yang merasa tidak baik karena suaminya yang sungguh tampan menawan. Dirinya hanya merasa beruntung mendapatkan suaminya yang lebih di atas segalanya.
Yang di awal-awal pernikahan terlihat begitu mencintainya, memujanya… nyatanya cinta saja tidak cukup. Harus ada keseimbangan dalam hidup ini agar sejalan.
Kini setelah menyadari semuanya, usai berpisah dengan suami pertamanya yang mematahkan hatinya pertama kali, perkataan orang-orang di luar sana Pulung benarkan.
Bahwa berjuang sendiri dan bertahan pada apa yang namanya ketidakpastian sungguh melelahkan. Di samping rasa sakit yang terus mendera, alih-alih ingin kecewa, Pulung memilih berhenti berharap.
Pun pada akhirnya, perpisahan itu tetap terjadi. Yang membuat mulutnya terkatup rapat kala ucapan: ‘Kita pisah’ terlontar.
“Aku bawa rujak.”
Adalah vokal milik Maha yang tidak Pulung dengarkan. Alam bawah sadar Pulung merenungkan segala timpahan masalah yang melanda membuatnya asik berpikir. Yang detik itu juga menyita kerutan di dahi Maha dengan kepala yang menoleh heran.
Pasti. Maha sudah tahu apa penyebabnya. Mendadak desakan rasa bersalah menganga di dadanya. Seperti dekat namun tidak bisa memeluknya. Seperti menyatu namun tidak bisa saling merekatkan. Gambaran hiperbolisnya begitu.
“Rujaknya enak.” Tanpa peduli apakah ada jawaban dari Pulung. Maha dengan santai membuka bungkus foam putih untuk memasukkan isinya ke dalam mulut. “Bayinya bisa ngiler kalau kamu anggurin.”
“Eh?” Mata Pulung mengerjap. Kesadaran mulai menyambangi. Dan berkata, “Sejak kapan di sini?”
Kekehan Maha menguar. Untung tidak tersedak rujak yang memakai cabe rawit lima biji. “Lima menit yang lalu,” jawabnya. “Tapi nggak tah, deh. Atau sepuluh menitan ya?” Maha meralat namun ragu-ragu. “Punya kamu.” Sodornya menaruh di pangkuan Pulung. “Ini enak banget sumpah.”
Di barengi dengan bel apartemen yang berbunyi. Maha berdiri, mengelus pucuk kepala Pulung sebelum menundukkan badannya. Mengecup cukup lama dan hengkang dari sana.
Tentu. Perlakuan itu membuat mata Pulung membola dan syok berat. Rasanya… jangan sampai ada rasa di antara kita.
[]