42

1108 Kata
Sudah berbelanja. Membeli segala kebutuhan untuk memenuhi kulkas dan berkutat dengan dapur. Pulung cepol rambut panjangnya ala messy bun dan kemejanya di gulung hingga siku. Maha yang melihat pemandangan itu tak urung menghentikan aktivitas memasukkan buah dan sayur ke dalam kulkas. Matanya mengerling nakal dan menatap penuh minat. Kecantikan Pulung berkali-kali lipat atau memang biasa begitu kondisi seseorang yang tengah hamil muda? “Katanya mau cerita?” Lekas Maha alihkan kepalanya. Gugup menyerang mulutnya dan kaku di lehernya menjelaskan seberapa kotornya pikiran Maha membayangkan sesuatu hal terjadi antara dirinya dan Pulung. “Oh itu,” jawabnya canggung. “Iya yang soal analogi lucu.” “Oh.” Membuat Pulung membalikkan badan dan mendapati tubuh Maha yang menghadap kulkas. Terlihat, kedua tangan lelaki itu bergerak pelan menata semua belanjaan yang di plastik sesuai urutan. Buah dan sayur di bagian paling bawah. Lalu ayam, daging dan udang masuk ke freezer. Beberapa kotak s**u dan jus berada di pintu kulkas. “Nggak lupa, kan?” Sesungguhnya Pulung baru saja melamunkan yang tidak seharusnya otak cemari. Di lihat dari belakang, Pulung baru tahu segagah itu tubuh Maha. Punggung lebarnya—ehm—ingin Pulung usapi. Yang astagfirullah kumal sekali traveling otaknya. “Enggak…” Maha sengaja menjeda apa yang hendak di ucapkannya. Mengembuskan napas usai membuang semua kantong belanjaan ke dalam sampah. “Aku nonton drama—” “Serius?” Reflek, Pulung berteriak. Kedua matanya bahkan sampai menyipit mendengar pengakuan Maha soal menonton drama. “Iya. Aku nonton drama yang sekarang lagi trending dan epic banget. Lupa sama judulnya. Cuma satu episode dan bagian itu lumayan nyuri ingatan aku. Kurang lebih gini bunyinya: bintang adalah bintang dan bulan adalah satelit.” Maha tempatkan tubuhnya di sisi Pulung untuk membantu memisahkan udang dari cangkangnya. Tangannya bergerak dengan tempo rendah yang di mata Pulung sangatlah elegan. “Nampaknya nih nampaknya, bintang itu kecil kaya debu.” Jempol dari jari telunjuk Maha membentuk sebuah bentuk kecil seolah-olah begitulah hiperbolisnya dari debu yang beterbangan. “Padahal sebenarnya bintang lebih besar dari bulan dan matahari. Mereka memiliki massa dan energi yang sama besarnya.” Tidak bisa Maha lanjutkan. Lidahnya kelu seketika. Kalau di teruskan, apakah akan baik-baik saja? Mungkinkah di mata seorang yang sedang terluka membahas perihal begini amatlah menyenangkan. “Terus?” Pulung meminta. Perempuan dengan anakan rambut yang mencuat keluar justru tidak terusik sama sekali dan malah menikmati sesi cerita Maha serupa curahan. “Petuah kamu tentang hidup bagus. Aku baru tahu kalau kamu bisa sedalam ini menyelami kehidupan.” Karena aku juga punya sisi luka di masa lampau. Cuma menggaung di dalam hati. Yang lanjutannya Maha teruskan. “Tempatkanlah kalau kamu itu bintang di langit. Yang kecil layaknya debu tapi sebenarnya kamu lebih besar dari rembulan.” Ya begitulah. Perasaan tiap-tiap manusia tidak ada yang bisa mengontrolnya. Tuhan memang pemilik hatinya. Pemberi rasa. Menggetarkan setiap hati yang kala bertemu sang pujaan membuncahkan bahagia. Namun untuk mengendalikan itu semua, sang pemilik sesungguhnyalah yang memiliki peran pentingnya. Dan Pulung akui, ada rasa senang kala makna kalimat yang Maha lontarkan membentuk mega mendung di wajahnya. Ini di luar dugaannya. Maha bisa menyanjungnya begitu tinggi untuk sebuah kalimat. “Dulu, seseorang pernah bilang ke aku. Kalau kita—para cowok—suka dan cinta ke cewek, nggak boleh melepaskannya. Terlebih untuk ukuran rumah tangga yang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Artinya ada masa sulit di mana keduanya lalui bersama. Dan tentunya, cewek itu yang menemani cowoknya dari nol,” lanjut Maha. Seseorang itu adalah papanya yang sengaja Maha samarkan. Di samping tak ingin menanggapi kalimat tanya, Maha juga enggan mengakui bahwa Aksara masih berstatus papanya. Darah Aksara pun mengalir di tubuh Maha. “Aku pernah dengar itu,” balas Pulung. “Kadang lucu lihatnya. Yang sudah berjuang bersama kalah sama barang baru.” Oh. Tidak tahu mengapa di rungu Maha itu terdengar sangat menyindir. Karena sebelumnya Maha juga berbuat demikian. Maha baru saja merenggut kebahagiaan seorang pasangan yang semestinya berbagi kasih bersama. Terlebih ada makhluk baru yang akan hadir di tengah-tengah mereka. Maha yakin, Ardika sangat menantikan momen ini. Karena Maha selalu menebak-nebak apa yang akan Ardika lakukan untuk masa depan anak-anaknya. Jika Naomi tidak bisa di andalkan melanjutkan perusahaan maka besar harapan anak dalam kandungan Pulung menjadi penerus mutlak yang tak tergantikan. Konsep keturunan Ardika sangatlah simpel. Cukup dengan keturunan aslinya, DNA yang sama dan ada darah yang mengalir di dalamnya, semuanya berjalan lancar. Lalu, mengapa Maharaja di sembunyikan seperti ini? Ada cerita apa di balik kelahirannya ini? Ada kisah kelam apa yang coba sang papa sembunyikan? Dan apa tindakan Ardika sehingga tenang-tenang saja saat tahu Maha adalah keturunan Aksara yang menyandang nama Askara? “Panas.” Teriakan Maha mengalihkan fokus Pulung pada kuah tomyam yang sedang di aduk. “Apa nggak apa-apa?” Pulung bawa jari Maha ke arah wastafel untuk dirinya dinginkan dengan air dan membalurnya dengan salep. “Biar cepat kering. Besok lagi… jangan ngelamun di dapur. Bahaya.” Ya. Maha sudah cukup bahagia. Di beri perhatian sekecil itu oleh Pulung, menerbangkan dirinya ke dalam nirwana. [] Kali ini Ayana mengamuk. Apa-apaan Maha itu? Kenapa bertindak sangat tidak adil dengan dirinya yang sudah berjuang sedemikian jauh. Di sini, Ayana merasa sangat di bodohi. Di tipu habis-habisan oleh perilaku Maha yang mencuri start dengan mengajukan Dante ke dalam rencana. Padahal… tidak ada daftar nama ketika urutannya di buat. Jadi, kenapa? Dan Rambe yang melihat betapa semrawutnya Ayana, hanya mendengus. Sembari menyesap winenya, pandangan matanya menelisik dalam-dalam langit gelap. Di naungi kerlap-kerlip lampu berbagai warna, Rambe merasa bersyukur akan kehidupannya. Benaknya terketuk: Nggak masalah tanpa Ayana. Selama semua jalan menuju bahagia bisa tertuju dengan kuasa Tuhan dan garis nasibnya memberinya dukungan. Nggak masalah di sandingkan dengan perempuan lain. Jika Ayana memang benar bukan jodohnya, hentikan perasaan berharap yang terus menggunung di d**a Rambe. Itu saja. Begitu sudah paling benar. “Sopan kek!” Misuh Rambe. “Ambil sendiri, kan bisa!” “Ribet!” Ayana tenggak sisa wine dari gelas yang Rambe bawa. “Angin tenang berubah menjadi angin kencang lagi dan bertiup keras ke arahku.” Jelas-jelas Rambe menyindir apa yang tengah Ayana alami. Tapi sikap bodo amat Ayana menutup semua itu. “Kan sudah gue bilang dulu. Jangan main-main sama api. Lo yang bakal kebakar sendiri. Atas apa yang sudah lo perbuat, lo kira karma nggak berjalan? Lagi… Gue juga sudah bilang, jangan berurusan sama Maharaja. Lo bakal kena getahnya.” Tidak butuh waktu lama untuk Ayana menertawakan ucapan Rambe juga apa yang menjadi sumber kebodohannya. Dan menjawab, “Lo benar. Gue terlalu naif soal cinta dan harapan yang nggak bisa gue raih. Lo benar… ada baiknya gue nyoba ngebangun hubungan sama lo. Lo yang paling benar.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN