Pulung kira, keluar dari rumah Ardika hanya membawa barang-barangnya saja. Tanpa ada sisa yang dirinya ambil dari sana selain kenangan pendek yang cukup membekas di hatinya. Nyatanya ada keajaiban lain yang di bawanya serta. Ucapan syukur tak henti Pulung panjatkan. Rekahan senyum tak luntur barang semenit pun. Sehingga yang melihat pemandangan itu akan terheran dan menganggapnya aneh.
Andai… seandainya Pulung sadar lebih awal, alangkah baiknya kabar ini bisa di bagi. Tapi kini, berhubung semuanya telah usai, berdua—dengan calon bayinya—melewati bahagia lebih dari cukup. Oh tidak. Tunggu. Ada Maharaja Askara yang turut serta berbahagia. Lelaki 30 tahun itu tak henti-hentinya meneteskan liquid beningnya. Katanya: ‘Ini terlalu membuncahkan relung hatinya.’
Tangis Pulung pun pecah. Di kala perkataan Maha yang tidak memiliki status apapun dengannya selain sebagai sahabat. Memberinya ucapan selamat dan petuah untuknya menjaga sang jabang bayi. Mendadak, perpisahan yang terjadi hari itu adalah bentuk dari sebuah jalan yang terbaik.
“Mulai sekarang…” Maha regup kedua bahu Pulung dengan remasan yang cukup pas tekanannya. Air matanya masih mengembang di pelupuk netranya yang bening. “Jangan menahannya sendiri. Jangan menangis sendiri. Jangan susah sendiri. Kamu bisa membaginya denganku.”
Alangkah melambungnya jantung seorang perempuan mendengar tutur kata sang Maha. Yang Pulung ketahui sebagai most wanted incaran semua kalangan. Bahkan ibu-ibu pekerja pabrik yang dulu bersama Pulung sangat mengharapkan Maharaja menjadi menantunya. Atau jika bisa simpanannya.
Kekehan Pulung terukir. Dan kepalanya mengangguk semangat. “Oke. Akan aku coba.”
“Harus bisa.” Raja memaksa. Pikirnya, sudah cukup menderita melihat Pulung yang di khianati pada pernikahan pertamanya dan berlanjut pada pernikahan keduanya. Meski ada ulah tangannya di dalamnya, Maha tahu, hanya cara ini yang bisa dirinya lakukan untuk menebus kesalahannya.
Akhirnya Pulung sadar satu hal. Bahwa melepaskan adalah bagian terbaik dari kita mencintai seseorang. Sebelum bertemu mantan suaminya—yang dulu—Pulung pernah sangat baik-baik saja dalam menjalani kehidupannya. Maka, ketika di hadapkan pada perpisahan untuk kedua kalinya, melepas dan memilih pergi dari Ardika, Pulung pastikan tak ada sesal untuk kehilangannya.
Sama seperti Ardika yang telah menemukan kebahagiaannya—bersama Dante yang tak ingin Pulung percayai—pilihan Ardika yang entah untuk alasan apa, Pulung rela. Dan kembalinya Ardika—suatu hari nanti—bagi Pulung bukan sebuah keinginan. Bahkan jika Ardika akan menyesal—entah untuk sekarang atau suatu saat nanti—Pulung berdoa agar Ardika tidak pernah menemukannya. Karena Pulung pastikan pintu hatinya telah tertutup rapat untuk masa lalunya. Untuk beberapa keadaan, kata maaf yang Ardika ucapkan tempo hari tidak bisa mengembalikan apapun yang pernah sengaja di perbuat.
“Ayo!”
Lamunan Pulung terseret ke dunia di mana kakinya berpijak saat ini. Dan tungkainya mengayun mengikuti irama tuntunan di depannya. Pun dengan tangan Maha yang menggenggam telapak tangannya begitu erat. Rasanya… sangat aman dan nyaman.
“Percaya deh. Suatu hari nanti akan kamu temukan alasan untuk tersenyum bahagia.” Kini Maha berpindah mengapit kedua pipi Pulung dengan sayangnya. Wajah keduanya yang terlalu dekat memudahkan Pulung merasai terpaan napas sang lelaki. “Akan menemukan alasan untuk kamu memaafkan semua kesalahan yang pernah orang-orang lakukan. Akan kamu temukan alasan dan cara mengikhlaskan janji yang nggak terpenuhi.”
Pipi Pulung sudah merah maksimal. Panasnya menyebar sampai melebarkan pori-pori kulitnya. Namun Maha acuh dan bertambah intens mengelusi kulit wajah Pulung. Obsidian pekat tajamnya melekat di tatapan Pulung seolah enggan berpaling.
“Saat ini ada banyak kata yang ingin kamu ucapkan namun tertahan. Ada kemarahan yang hendak kamu keluarkan namun nggak terangkai kalimatnya. Aku paham.”
Cukup. Berbicara mengenai hati, Maha tidak pernah sepintar kelihatannya. Maha hanya belajar dari kisah masa kecilnya dulu yang ia jadikan pedoman melanjutkan kehidupan hingga detik ini. Di mana sudah ia temukan alasan untuk melupakan sesal yang belum usai mengenai siapa ibunya, bagaimana rupanya, seperti apa kehangatan tubuhnya ketika Maha peluk dan alasan bahwa semua pemikirannya menjadi sia-sia karena rasa sayangnya yang tak terlihat.
Satu yang belum bisa Maha temukan; benci.
Itu menjadi satu-satunya yang Maha lakukan untuk menyimpan sepanjang hidupnya. Bukankah Maha teramat bodoh menanti kehadiran ibunya yang tak berwujud?
“Kamu tahu?” tanya Maha seraya melanjutkan langkahnya. Kembali pada posisi awal di mana tangannya menggenggam erat tangan Pulung yang jika dirinya lepas, akan hilang dalam pandangan. “Yang sekarang kamu anggap buruk, menyakitkan, dan bahkan menyulitkan. Ketika masanya tiba, kamu akan bergumam bahwa ini memberimu rasa bahagia. Menjadikanmu lebih kuat dari sebelumnya.”
Atas ucapan-ucapan Maha yang menenangkan, kesalahan Pulung selama bersama Ardika yang tak di sadarinya ialah; ingin menjadi bulan yang bersinar terang tapi faktanya, dirinya hanyalah bintang kecil yang sering dianggap seperti debu.
“Aku punya analogi yang sedikit lucu. Nanti aku ceritakan. Mau makan sesuatu?” tawar Maha sembari membukakan pintu mobil untuk Pulung. “Fase seperti saat ini pasti lagi enak-enaknya buat ngidam.”
Tawa Pulung keluar. Lucu mendengar penuturan Maha menyoal ngidam. Tapi belum. Pulung belum merasakan ada tanda-tanda ke arah sana. Entah jika nantinya lebih merepotkan.
Meski begitu untuk menjaga perasaan Maha agar tidak tersinggung, Pulung pura-pura berpikir. Dan menjawab setelah di rasa lama menyita waktu. “Nggak ada, sih. Mending pulang deh nanti bisa masak di rumah. Kamu mau sesuatu?”
Berganti Maha yang menerawangkan pikirannya. Mencari-cari makanan apa yang pas dirinya santap di siang yang lumayan terik ini.
“Sop tomyam. Gimana?”
“Oke.”
“Tapi aku nggak punya bahannya. Kita mesti belanja dulu.”
Yang Pulung setujui.
[]
Dante pikir ini bentuk protes bayi dalam kandungannya. Meski belum terlihat membesar. Dante tahu, ada yang tumbuh di dalam perutnya. Dan yang membuatnya senang bukan kepalang adalah tingkah Ardika.
Sejak subuh tadi, lelaki berstatus suami sirinya itu terus muntah dan menolak untuk memakan apapun. Yang setelah Dante cari tahu sumbernya dari internet biasa dibilang morning sickness. Gejala yang biasanya terjadi pada minggu keenam hingga minggu kedua belas kehamilan. Yang belum akurat betul karena beberapa perempuan mengalami mual dan muntah hingga trimester kedua atau bahkan selama kahamilan berlangsung.
Selama itu, begitu tahu dirinya hamil, Dante tidak merasakan apapun selain napsu makannya yang tinggi. Semua aktivitasnya terbilang aman dan lancar meski sesekali ada gangguan pusing. Dan kini, mendapati Ardika yang bolak-balik kamar mandi memuntahkan cairan putih tanpa ada asupan yang masuk, meringis menjadi respon naluri Dante.
“Mau periksa?” Dante urut tengkuk Ardika guna memudahkan sang lelaki mengeluarkan cairannya.
“Nggak perlu.”
Di saat-saat seperti ini, yang menduduki pikiran Ardika justru Pulung. Perempuan yang Ardika nikahi dengan terburu-buru dan berakhir secepat kilat. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Tentang bagaimana keadaannya. Di mana tempat tinggalnya. Apakah baik-baik saja dan masih banyak lagi.
Tak di pungkiri, sesal menggunung di hatinya. Hasilnya sama seperti di awal dulu. Bedanya hanya, sekarang Ardika lah pelaku pertama pengkhianatan itu.
“Kamu bisa keluar Dante. Aku mau istirahat.”
Ardika pejamkan matanya tanpa mau melihat Dante yang memancarkan sejuta luka di matanya.
[]