40

1138 Kata
Kisah ini belum berakhir seperti yang di bayangkan. Meski sang tokoh utama telah hengkang mencari kehidupannya yang baru. Ada tokoh lain yang tengah terpuruk dalam luka. Juga ada tokoh baru yang muncul mempertontonkan eksistensinya. Kehidupan di dunia ini berputar. Tidak hanya melulu pada satu titik untuk di jadikan sebagai fokus. Pun juga garus seimbang. Semua yang pernah memiliki akan merasakan kehilangan. Yang sedih akan menemukan bahagianya. Yang hancur akan ada saatnya untuk bangkit kembali. Bahkan hukum alam sudah menuliskan tiap-tiap karma dari perbuatan yang akan di balaskan. Bicara-bicara soal manusia. Skenarionya bisa sepanjang gerbong kereta atau malah lebih. Panjangnya jalan pun akan kalah dengan pembicaraan mengenai manusia. Karena manusia tidak bisa ditebak sama seperti kehidupan. Tidak bisa di prediksi sama sekali entah dalam segi tindakannya atau caranya berpikir. Atau dalam menentukan keputusan yang akan di ambilnya. Dan pandangan manusia yang sudah rumit sejak awal. Maka seharusnya, selama yang bisa dilakukan, memanfaatkan waktu yang berharga untuk bersama orang terkasihnya adalah jalannya. Kadang, sesuatu yang kita anggap ‘tidak pasti’ justru yang paling membekaskan luka. Sebagian dari manusia tidak sadar, waktu bersama orang tercintanya menjadi yang paling berharga. Hal yang bagi kita biasa, sedang bagi sebagian orang sangat sulit dilakukan. Itu yang sedang melanda paginya Ardika. Di mana sang putri rusuh serusuh-rusuhnya. Ngambek bahkan mogok ngomong dengannya. Yang ketika Ardika tanya, jawabnya hanya; mama. Yang Ardika sodorkan sesuap nasi, yang terucap juga masih sama; mama. Pening sekali kepala Ardika di buatnya. Ini salahnya. Akibat dari perbuatannya. Dan putrinya juga ikut-ikutan merecoki. Lihat! Lihat itu. Matanya melirik Ardika seolah-olah adalah musuh bebuyutannya. Kedua tangannya bersidekap di d**a. Kepalanya terangkat ke atas. Detik itu juga Ardika ingin melumpuhkan kedua kakinya. Ternyata… begini sendiri. Seperti ini sepi. Yang pernah Ardika alami lima tahun berselang melepas Ayana. Yang ketika Ardika temukan tambatan hati, justru perilaku bejatnya mendominasi. Parahnya dengan sepupunya sang istri. Tunggu! Pulung sudah meminta di ceraikan kemarin. Berarti mantan istri. Tidak bisa Ardika pertahankan lagi. Membuat perasaannya tumpang tindih. Antara bahagia akan mendapat keturunan untuk yang kedua kalinya juga sedih harus merasakan perpisahan lagi. Harus duduk di meja persidangan. Tak bisa melihat Pulung kala matanya terbuka atau kala terpejam. “Omi belum makan loh.” Bujuk Ardika. Turut duduk di tepi ranjang sang putri dan mengelus surainya yang panjang. Hari ini, penampilan Naomi berbeda dari hari biasanya. Bajunya juga terlihat serampangan entah memang sebuah kesengajaan untuk menunjukkan kepada dirinya bahwa Naomi butuh sosok ibu. Atau… entahlah. Ardika hendak menyerah saja rasanya. “Omi mau mama,” katanya penuh penekanan. “Nggak ada mama, nggak ada makan. Papa pergi deh.” Tidak selamanya Naomi Aksara menjadi bayi. Ada kalanya sikap bossy dan kasarnya muncul. Persis Ardika di masa yang dulu. Meski sebisa mungkin meminimalisir agar sikapnya banyak berubah di hadapan Naomi, namun pepatah ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ benar adanya. “Omi…” Ardika pejamkan matanya rapat-rapat. “Papa minta maaf.” Yang hengkang sesudahnya. Meninggalkan tangis tertahan yang tak bisa Naomi suarakan. Dalam gerungan batinnya yang terdalam, sungguh, terlahir ke dunia ini bukan keinginan apalagi cita-citanya. Bukan juga permintaannya untuk berada dalam garis kehidupan yang sama rumitnya dengan sang papa. Memiliki seorang ibu, membawa dampak bahagia yang tak bisa Naomi bayangkan. Bisa merasakan pelukan sang ibu kala terlelap, sangat Naomi idamkan. Di masakkan setiap paginya, diurusi kebutuhannya, Naomi bersyukur pernah mengukir cerita untuk itu. Tapi kenapa dunia amatlah kejam terhadapnya. [] Adalah Ayana yang mendatangi kamar Maharaja. Di apartemennya, subuh-subuh, catat itu! Jelas mengganggu jam istirahat Maha yang rasa-rasanya baru terpejam selama satu jam. Pening. Pertama kali yang mendera kepalanya. Geraman Ayana menjadi pemandangan memuakkan di mata Maha. Menyebalkan! “Mana tuh perempuan!” Astaga. Astaga. Telinga Maha ingin terlepas dari tempatnya. “Jawab, oi!” Sialan. Sialan. Maha ingin sekali menjambak rambut Ayana yang tergerai bergelombang itu. “Maksud… Lo siapa?” Terpatah-patah Maha dalam memberi jawaban. Efek alkohol masih mendominan di tubuhnya sehingga bukan hanya lemas. Telinganya mendengar teriakan Ayana pun sangat sensitif. Tapi memang dasarnya Ayana bar-bar, tak heran perempuan ini berulah layaknya di hutan. “Pulung, bukan! Dante. p*****r itu kenapa bisa jadi sama Ardika. Harusnya gue. Rencana lo nggak bermutu!” cecarnya tepat di depan wajah Maha yang gentoyoran. “Kalem woi kalem. Santuy dikit ngapa. Nggak perlu lo teriak-teriak macam Tarzan. Semuanya sudah di atur.” Embusan napas Maha terdengar gusar. Benar. Semuanya telah terencana rapi. Dan Maha dalang di balik semuanya. Maha pemegang kunci dari tiap-tiap orang yang menjadi biduk dalam permainan caturnya. Berhasil tidaknya, Maha yang tentukan. Lancar tidaknya, Maha yang putuskan. “Gue nggak bisa ya nerima gini saja. Lo pikir segampang itu buat ngasih pengaruh buruk ke ibu-ibu kampung itu.” Hell! Itu tidak masuk aturan Maha. Kenapa Ayana bisa semerah itu wajahnya dalam mengamuk? “Bagian mana yang nggak lo terima?” tanya Maha seraya beranjak bangun. Melepaskan tubuhnya dari lilitan selimut yang membungkus tubuh telanjangnya. Berjalan menuju kamar mandi dan meraih kaos polosnya. Membuat Ayana cengo di tempat setelah mendengus kasar. Tidak munafik. Ayana tergiur raba-raba di sana. “Itu di luar kekuasaan gue. Sudah gue bilang, yang lo jalani, lo tanggung risikonya. Sekarang… Lo terima.” Hentakan kaki Ayana sebagai jawaban. Hendak memprotes tapi percuma. Maha sangat ahli membalikkan fakta untuk bisa menyerangnya. Yang kalah dan mundur alon-alon sudah pasti dirinya. “Gimana?” Maha mendekat. “Rasanya kalah.” Tertawa puas setelahnya. Betul-betul di jatuhkan. Terhempas tepat di jurang curam yang berbatu runcing di atasnya. “Terus Pulung.” Bahu Maha mengedik acuh. “Gue nggak peduli.” “Lo ngincar dia buat balas Ardika.” “Mungkin.” Tidak jelas dan tidak pasti. “Bisa berguna, bisa juga enggak. Tergantung porsinya untuk tindakan gue ke depannya.” “Lo ngeselin banget, sih?!” “Ya gue mah gini-gini saja padahal.” “Lo nggak niat tahu nggak!” Untuk Pulung. Begitu yang melintas. Untuk hidupnya. Itu yang sangat egois Maha lakukan. Menghancurkan kehidupan orang lain demi menuntaskan dahaga dendamnya. Sekalipun semuanya beralasan. Tapi seyogyanya, Maha ikhlaskan saja ketimbang runyam seperti sekarang. “Yeuuu gue mana butuh saran dari lo. Suka-suka gue lah mau niat apa kagak.” Sunyi mendadak melingkupi ruangan. Maha dengan tegukan air mineralnya dan Ayana dengan kecamuk dalam pikirnya. “Kejahatan kita sempurna, kan?” ucapnya dalam. Nada sendu menyirat di dalam vokalnya yang Maha abaikan. “Kita yang memulai, kita juga nggak menerima semua jalannya.” Tidak begitu dalam pandangan Maha sebelumnya. Setelah mendengar Ayana bercerita, terasa benar dalam rungunya. “Gue yang memulai dengan tantangan. Yang merasa bosan usai menaklukan.” Ya. Dulu sekali. Ardika di mata Ayana hanyalah taruhan. Yang setelah di dapatkan ia buang. “Persis sampah.” “Lo sampah. Gue enggak.” Agaknya Maha tidak menerima. Ada apa dengan perasaannya? Ardika itu sampah. Selamanya akan begitu. Dan secuil di hati Maha malah tidak terima dengan kata-kata tersebut. Berengsek! []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN