Setelah shalat maghrib berjamaah semua keluarga berkumpul di ruang makan untuk makan malam terlebih dahulu. Tidak ada percakapan hanya suara piring dan sendok beradu diatas meja makan. Memang keluarga Adrian sangat menghargai momen saat makan, sebagai bukti tanda syukur apa saja yang mereka bisa nikmati sekarang ini. Tidak dirasa waktu shalat isya sudah tiba. Semuanya bersiap-siap untuk bertemu kembali kepada yang maha kuasa.
"Sayang kamu tunggu di ruang keluarga ya, selesai shalat nanti ada yang ingin di bicarakan oleh keluarga ku. Kamu nggak usah takut ada aku" ucap Adrian sambil tersenyum. Ingin sekali hatinya menyentuh lembut wajah Kanaya, tapi dia sudah mengambil air wudhu. Jadi hanya bisa tersenyum dan memberikan ciuman jarak jauh.
Kanaya bisa melihat keluarga Adrian shalat berjamaah dari ruang keluarga. Memang ruangan khusus shalat berada di sebelah kanan ruang keluarga. Begitu syahdu lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan oleh opanya Adrian. Terlihat begitu jelas kentalnya rasa kekeluargaan di rumah ini. Memang semua anggota sudah memiliki rumah masing-masing tapi tetap diwajibkan untuk tinggal di rumah besar ini.
"Kanaya, sini duduk disamping oma" kata oma Rachel ketika Adrian ingin duduk disamping Kanaya.
"Oma... " protes Adrian.
"Kamu bandel. Jadi kamu oma hukum" ucap sang oma membuat wajah Adrian menjadi masam.
"Kanaya, oma mau nanya sama kamu. Adrian memperlakukan kamu dengan baik atau tidak? " tanya oma.
"Adrian sangat baik dan perhatian kok oma" ucap Kanaya sesuai kenyataan yang dirasakan olehnya.
"Kamu tinggal dimana dan orang tuamu apa masih ada?" tanya oma sekali lagi.
"Saya tinggal di Batulicin, Kalimantan Selatan oma".
"Orang tua saya ada disana" perkataan Kanaya membuat oma Rachel tertegun tak menyangka kalau istri cucunya adalah orang luar pulau.
"Apakah orang tuamu tau kalau kamu menikah dengan Adrian? " tanya sang oma hati-hati takut menyinggung perasaan Kanaya. Dia tidak mempermasalahkan siapa pun yang menjadi istri Adrian. Hanya memastikan kalau Kanaya perempuan baik-baik. Walaupun dia berfirasat kalau Kanaya wanita yang spesial, oma Rachel seperti sangat begitu sayang kepada Kanaya. Entah kenapa, seakan Kanaya pernah menjadi bagian hidup oma.
"Iya oma" jawab Kanaya singkat. Ada terbersit rasa khawatir kalau keluarga Adrian akan kecewa jika tau kalau dirinya dinikahi oleh Adrian dengan status janda.
"Bagus lah kalau begitu. Secepatnya kami sekeluarga akan menemui orang tuamu untuk melamar kamu dan menyelenggarakan resepsi pernikahan kalian nanti" kata oma dengan penuh semangat.
"Tapi oma" sahut Kanaya namun dipotong oleh oma.
"Untuk segala biaya pernikahan dan resepsi biar oma yang ngurus. Kamu cuma perlu jaga kesehatan kamu dan janin yang ada dalam rahim kamu" oma Rachel mengira Kanaya keberatan dengan segala biaya untuk acara nanti.
"Bukan itu oma, tapi ada hal lain yang ingin saya sampaikan" ujar Kanaya mencoba untuk meluruskan agar nanti tidak ada kesalah pahaman.
"Lalu apa? Jangan bikin oma, penasaran dan takut seperti ini" oma Rachel tampak bingung dan takut telah salah bicara. Dia coba melihat ke arah Adrian mencoba meminta penjelasan tapi Adrian hanya mengangkat kedua bahunya.
"Gini oma, sebelumnya Kanaya minta maaf terlebih dahulu pada kalian keluarga Adrian semuanya" kata Kanaya sedikit canggung karena merasa bingung. Bagaimana cara dia memulai untuk membuka pembicaraan ini?
"Sebenarnya Kanaya single parent, Kanaya sudah punya tiga anak" kata Kanaya spontan. Sontak membuat yang mendengar hal ini merasa terkejut. Adrian hanya duduk santai saja memandangi Kanaya yang duduk diseberang dia.
"What? Memangnya usia kamu berapa sekarang? " tanya mama Adrian seakan tidak percaya dengan perkataan Kanaya tadi.
"Tiga puluh tahun" jawab Kanaya yang merasa tidak enak hati, mungkin mamanya Adrian akan merasa kecewa dengan kejujurannya ini.
"Wah" Niki saling pandang kepada mamanya oma Rachel.
"Mantap sekali" kata oma Rachel tiba-tiba. Dia pun berdiri dan bertepuk tangan disambut oleh Niki juga. Papa Adrian dan opanya merasa bingung dengan dua wanita yang sedang bertepuk tangan sekarang ini.
"Adrian, kamu memang hebat nyari istri" ucap oma Rachel kegirangan.
"Maksud oma? " tanya Adrian yang bingung dengan tingkah oma dan mamanya ini.
"Kamu pintar nyari istri yang gampang hamil dan mau punya anak banyak. Jarang sekali zaman sekarang wanita muda mau punya anak banyak. Ini bibit unggul nih" oma Rachel tergelak ketawa girang.
Kanaya bingung dengan perkataan oma Adrian ini. Sama sekali tidak marah dan merasa kalau mempunyai banyak anak itu bukan sebuah cemoohan atau pun hinaan. Melainkan seperti kebanggan bagi oma Rachel.
"Maksud oma apa ya? " tanya Kanaya.
"Kamu itu adalah wanita idaman dan menantu idaman Kanaya" seru mama Adrian menjelaskan. Oma Rachel mengacungkan jempolnya kepada putri semata wayangnya itu.
"Terus anak-anak kamu tinggal sama siapa sekarang? " tanya oma Rachel ingin menyelidiki lagi tentang Kanaya. Takutnya anaknya malah tidak diurus sama dia.
"Sama mama. Mau diajak kesini nggak dibolehin sama mama. Katanya nanti mama sama bapa kesepian" jawab Kanaya polos, jujur seperti anak kecil.
"Ayahnya anak-anak kamu? " tanya oma sekali lagi.
"Dia sudah meninggal" Kanaya tertunduk dan sedikit agak merasa sedih, namun dia coba tahan karena tidak ingin menyinggung perasaan Adrian yang sekarang telah menjadi suami nya.
"Maafin oma ya" peluk oma memberikan kehangatan bagi Kanaya.
"Dia istrinya Radit" kata Adrian yang mengubah suasana yang asal mulanya sedih menjadi tegang karena terkejut.
"Hah istrinya Radit, sahabat kamu waktu SMA dulu Adrian" kata mamanya terkejut.
"Kok bisa kamu nikahi istri sahabat kamu sendiri, apa kamu nggak merasa bersalah telah mengambil istrinya? " tanya Niki asal membuat hati Kanaya sedikit berdenyut nyeri.
"Mana aku tahu kalau dia istrinya Radit, taunya juga sesudah jadi istriku. Lagian aku nggak ngambil istrinya kok. Kanaya kan sudah single mama? " jawab Adrian.
"Aneh, kok taunya sesudah nikah atau jangan-jangan... " kata Niki langsung gantung karena disela papanya.
"Itu namanya jodoh. Kalau sudah jodoh hal yang tidak masuk akal pun bisa terjadi. Kita tidak bisa memilih ingin berjodoh dengan siapa. Kalau sudah takdir dan memang sudah waktunya ya pasti terjadi. Itu kehendak Allah" opa Adrian memberikan sedikit petuah kepada anaknya dan istrinya agar tidak terlalu membahas tentang hidup Kanaya.
"Oh ya Adrian, bukannya Andre kerja di perusahaan almarhum Radit? " tanya mamanya tiba-tiba teringat tentang Radit.
"Memang iya, tuh CEO nya" tunjuk Adrian ke arah Kanaya. Sontak hal ini mendapatkan reaksi yang tak terduga dari semuanya. Kini semua mata tertuju kepada dirinya. Entah bagaimana perasaan Kanaya sekarang ini, seakan dirinya seorang tersangka saja.
"Wah, hebat. Benar-benar wanita super power. I love it" ucap Niki memecah keheningan beberapa saat lalu.
"Kamu mengingatkan diriku sewaktu muda dulu, penuh ambisi dan bekerja keras membuktikan kalau perempuan itu bisa sejajar dengan para pria" Niki berorasi dengan menggebu-gebu penuh kebanggaan.
"Jangankan sejajar, perempuan juga bisa diatas laki-laki. Ya kan ma" goda Angga suaminya Niki yakni papanya Adrian.
"Itukan posisi favorit mama kan" katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iih papa ini malu-maluin" kata Niki kembali duduk di posisinya semula. Merasa malu terhadap kedua orang tuanya. Walaupun mereka berpikiran terbuka tapi tetap saja Niki merasa malu jika berurusan masalah dalam kamarnya. Kali ini Niki kalah telak dengan suaminya dan diam tak bersuara lagi.