Dokter membolehkan Kanaya untuk pulang, tidak perlu menginap di rumah sakit. Mama Adrian sudah mempersiapkan untuk Kanaya tinggal di rumah besar.
"Dok, tapi menantu saya bolehkan makan rujak, soalnya dia tadi kepengen makan rujak. Sayangnya tadi terpeleset, nggak berpengaruh sama kehamilannya kan dok kalau makan rujak" tanya mama Adrian semangat. Dari pesan yang dikirim oleh pak Ikbal, bingkisan yanh terlempar dari tangan Kanaya adalah rujak asinan.
"Boleh saja bu. Tapi tetap harus dibatasi, jangan terlalu banyak. Ibunya juga harus dalam kondisi perut yang terisi kalau ingin memakan buah-buahan. Biar tidak terkena asam lambung nantinya" ucap pak dokter menjelaskan.
"Kalau yang itu dok gimana? Masih boleh nggak" kata Adrian sedikit malu-malu. Sang dokter bingung dengan pertanyaan Adrian, dan mengerutkan dahinya seolah sedang berpikir. Naluri kelelakiannya tiba-tiba muncul dan memahami maksud Adrian tersebut.
"Masih boleh, tapi tidak boleh terlalu kencang keras. Kalau diibaratkan berkendara kecepatannya sekitar dua puluh sampai tiga puluh kilometer per jam" kata sang dokter sambil tersenyum kepada Adrian yang terlihat malu. Sedangkan Kanaya menatap tajam ke arah Adrian sama halnya dengan mama Adrian.
"Biar mama yang dorong kursinya, kamu siapin mobilnya aja didepan sana" perintah mama Adrian ke Adrian.
"Dasar bawel, anaknya mau romantisan sama istrinya ini malah diganggu. Dasar mama rese" gerutu Adrian berlalu meninggalkan mamanya dan Kanaya.
"Nama kamu Kanaya ya. Perkenalkan nama saya Niki mamanya Adrian, karena kamu istrinya Adrian kamu juga harus memanggil saya dengan sebutan mama" ucap Niki membuka pembicaraan dengan Kanaya.
"I... iya ma" sahut Kanaya.
"Sudah lama kenal Adrian? "tanya Niki.
"Baru saja ma" jawab Kanaya. Percakapan diantara mereka berdua memang sedikit canggung, apalagi Kanaya tipikal orang yang tidak mudah akrab dengan orang baru.
"Apakah Adrian memperlakukan kamu dengan baik? " Kanaya dicecar pertanyaan lagi oleh mamanya Adrian.
"Iya" jawabnya singkat namun mama Adrian kurang puas mendengar jawaban dari Kanaya.
"Kak Kanaya" panggil seseorang dari arah samping kanan. Ades melangkaj cepat menghampiri Kanaya yang sedang berada di kursi roda.
"Kakak kenapa jadi berada dikursi roda kaya begini? " tanya Ades bernada khawatir.
"Cuma kepeleset tadi di kamar mandi " jawab Kanaya membuat mama Adrian menyunggingkan sebuah senyuman.
"Tante kenalin nama saya Ades" Ades mengulurkan tangan dan disambut jabatan tangan oleh mama Adrian.
"Niki".
"Kakak beneran cuma kepleset kan. Tidak sedang ditindas si maniak Adrian kan ka" celoteh Ades asal, tanpa tau kalau wanita yang sedang mendorong Kanaya adalah mamanya Adrian. Ada perasaan yang kurang nyaman dihati Kanaya,takut mama Adrian akan marah jika tahu kebenarannya.
"Oh ya Ades, kamu lagi ngapain disini? " tanya Kanaya mengalihkan pembicaraan. Mama Adrian merasa ada yang sedang disembunyikan oleh Kanaya namun tetap diam mendengarkan perbincangan dua wanita yang berbeda usia dengannya.
"Aku lagi periksa kandungan" jawab Ades senang.
"Aku hamil ka".
"Bersyukur banget deh langsung diberi kepercayaan kayak gini. Apalagi mama Dio sangat senang pas tau kabar ini. Rencananya besok mau diadakan syukuran biar selama kehamilan nanti tidak ada halangan sampai proses melahirkan nanti" kata Ades dengan gembira tanpa memperhatikan raut wajah mama Adrian yang seperti melongo mendengarkan Ades yang nyerocos tak berhenti.
"Oh ya kak. Nanti ke rumah mas Dio ya ikut acara syukuran. Kalau kak Kanaya bisa dan dibolehin sama si maniak itu sih. Sumpah kak, aku tu kepikiran terus sama kakak. Dia nggak pernah kasar sama kakak kan. Kalau dia kasar kakak tendang aja itu telor puyuhnya. Hihihi" kata Ades sambil cekikikan mengingat tentang Tora.
Saat melihat di depan ada Adrian yang sudah menunggu Ades berpamitan kepada Kanaya dan juga Niki. Dia masih takut untuk bertemu dengan Adrian. Saat dia berlari kecil kembali ke dalam terlihat sangat lucu dan membuat Kanaya sedikit tersenyum. Niki yang melihat pun sedikit tertawa karena tingkah konyol yang dibuat oleh Ades.
"Siapa dia Kanaya? " tanya Niki penasaran tentang Ades.
"Dia adek angkatku ma" jawab Ades.
"Itu si Ades kenapa lari ketakutan gitu sih sayang? " tanya Adrian yang pura-pura bingung. Padahal dia tau kalau Ades takut dengan dirinya.
"Dia takut sama maniak yang bernama Adrian" celetuk mamanya yang membuat Adrian bergidik dengan jawaban sang mama.
"Mampus dah. Kena omel lagi ini" gerutu Adrian dalam hati. Adrian menatap ke istrinya, tapi Kanaya pura-pura tidak tahu.
"Ayo cepat kita pulang, angkat Kanaya masuk ke dalam mobil. Orang-orang di rumah sudah nungguin. Dari tadi oma mu ini nge spam chat sama voice note terus" gerutu Niki yang kesal sama mamanya. Selain itu juga kesal terhadap Adrian maka sekalian di lampiaskan kekesalanya sama Adrian.
Mobil pun melaju dengan santai, Adrian tidak ingin Kanaya kenapa-kenapa. Lagian juga pasti bakalan di omelin sama mamanya yang barbar.
"Kanaya sayang, jaga kesehatan kamu ya biar bayinya sehat juga. Kalau si maniak ini berlaku kasar ke kamu. Bilang saja sama mama, nanti bakalan mama potong telinganya itu" lirik mamanya ke arah kaca mobil di depan pas mata mereka bertemu pandang. Adrian terlihat menghela nafas berat.
"Pasti Ades ada ngomong ngelantur nih, sial itu cewek. Mesti diberi pelajaran nanti biar mulutnya nggak kebanyakan bacot" Adrian mengomel dalam hatinya karena merasa tertampar dengan kata-kata mamanya. Masih syukur mamanya masih berkata selembut itu, tidak sadis seperti biasanya.
"Iya ma" jawab Kanaya atas ucapan sang mertua.
"Oh ya sayang, besok kalau kamu mau ke acara syukuran adek angkat kamu tadi. Biar nanti mama temani. Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sedang hamil juga sayang? " tanya Niki sambil memegang tangan Kanaya dan menatapnya dengan lembut.
"Biarkan dia meluapkan rasa bahagianya dulu ma" hanya itu yang bisa Kanaya ucapkan. Ingin sekali dia berkata kalau kehamilan dia yang ke empat ini tidak sebahagia saat pertama kali hamil. Tapi bagaimana pun juga mama Adrian harus tau kebenaran tentang dirinya yang seorang janda dan sudah memiliki tiga orang anak.
Sesampainya di rumah besar, mereka langsung disambut oleh oma Rachel.
"Ayo cepat masuk, pamali kalau lagi hamil begini masih diluar pas mau maghrib begini" kata oma Rachel langsung merangkul Kanaya dan membawanya masuk ke dalam.
"Adrian siap-siap buat adzan maghrib nanti" perintah oma kepada Adrian. Sebenarnya Adrian ingin sekali menemani Kanaya. Lagi-lagi terhalang oleh keluarganya lagi.
"Kanaya sayang, sebaiknya istirahat dulu kamu dikamar. Nanti kalau pendarahannya sudah berhenti kita shalat berjamaah barenh ya" kata Niki kepada Kanaya.
"Iya ma" jawab Kanaya.
"Tadi siang Tony sudah membawakan semua barang-barang mu kesini. Semuanya sudah di tata dikamar Adrian" kata Niki sambil mendorong kursi roda masuk ke dalam kamar Adrian.
Kanaya sangat terkejut saat melihat Adrian yang hanya mengenakan handuk yang melilit bagian pinggangnya. Padahal penampakan seperti itu sudah sering dia melihatnya. Tapi melihat penampilan Adrian sekarang bersama mertuanya membuatnya merasa malu.
"Eh mama. Ada apa ma? Belum waktu maghrib kan ini, soalnya handphone ku belum menunjukkan waktu maghrib? " ujar Adrian yang bingung kepada mamanya membawa masuk Kanaya ke kamar.
"Mama menyuruh Kanaya untuk istirahat dikamar. Dia kan masih belum bisa ikutan shalat karena masih ada sisa pendarahan tadi. Kata dokter sih paling sekitar dua harian berhenti sudah pendarahannya. Kalau lebih dari lima hari Kanaya harus menjalani pemeriksaan lagi" kata mama Adrian.
"Kapan dokternya ada ngomong seperti itu ma. Perasaan nggak ada deh" kata Adrian yang tidak tau tentang masalah itu.
"Mama tanya pas Kanaya selesai diperiksa. Setelah itu kan Kanaya diberi obat tidur biar bisa istirahat" Niki menjelaskan perbincangan singkatnya dengan dokter yang memeriksa Kanaya tadi. Sebenarnya sang dokter tadi merupakan mantan pacar Niki sewaktu SMA dulu. Jonathan si dokter kandungan, mantan terindah Niki yang berbeda agama dengan dirinya.
"Oh begitu, ya. Ya sudah mama keluar sana biar Kanaya aku yang rawat dikamar" kata Adrian mengusir dan mendorong mamanya kemudian menutup pintu kamar.
"Eh, Adrian. Awas kalau kamu main tembak-tembakan. Kalau kenapa-kenapa sama menantu dan cucu mama awas kamu" teriak Niki diluar pintu merasa kesal di usir sama anak laknatnya itu.
"Kamu kenapa begitu sama mama kamu sendiri? " tanya Kanaya yang merasa kurang nyaman dengan sikap Adrian tadi.
"Tenang saja, mama memang begitu. Bawel! " kata Adrian mendekati Kanaya dan mencium pipinya.
"Mau membersihkan diri, mandi bareng yuk" tawar Adrian menggoda Kanaya.
"Seandainya saja boleh, sudah aku terkam kamu" ucap Adrian di telinga Kanaya sehingga membuat dirinya tersipu malu.
"Apaan sih" jawab Kanaya malu-malu.