Sepulang dari Bali oma Rachel langsung menemui Giselle di rumah orang tuanya. Melihat kedatanganya kedua orang tua Giselle menyambut dengan hangat.
"Lihat oma Rachel wajah Giselle lebam begitu karena dipukuli sama pelacurnya Adrian" kata mama Giselle asal bicara. Giselle mempelototi mamanya yang telah bicara asal kepada oma Rachel.
"Kenapa kamu melotot seperti itu sama mami Giselle? Kurang ajar sekali kamu begitu kepada mami kamu di depan oma Rachel. Seperti tidak punya etika terhadap orang tua kamu itu" gerutunya kesal kepada Giselle.
Oma Rachel yang melihat tampak bingung, tidak seperti biasanya mama Giselle berkata kasar. Biasanya selalu lembut dan sangat sopan sekali. Begitu penuh perhatian kepada Giselle namun sorot matanya sekarang seakan penuh kebencian kepada Giselle.
"Mam, mami itu salah. Wanita itu bukan pelacurnya Adrian mam. Tapi.... " belum selesai lagi Giselle berucap maminya sudah menyelanya.
"Kalau bukan p*****r, wanita mana yang mau dibawa seorang laki-laki masuk ke hotel. Apalagi Adrian pengusaha yang sukses pasti banyak yang mengincar dirinya. Seharusnya kamu bisa membuat Adrian betah berada di sisimu bukan mencari pelampiasan diluar sana" kata maminya seolah semua salah Giselle.
"Oma maafin Giselle yang sudah mengecewakan oma karena tidak becus untuk menjadi pendamping Adrian" pura-pura seakan bersedih. Namun oma Rachel dapat melihat semuanya dengan jelas. Rupanya keinginan Giselle ingin menjadi istri Adrian bukan dari keinginannya melainkan obsesi mamanya.
"Iya, saya kesini hanya ingin melihat kondisi Giselle" kata oma yang sedikit bingung dalam perkara ini. Dia tidak ingin ikut campur dalam masalah keluarga Giselle. Giselle nampak tertunduk dan sedikit terisak.
"Mungkin saya datang diwaktu yang kurang tepat. Nanti saja kita bicarakan dilain waktu. Giselle, kalau sudah sembuh nanti temui oma ya" kata oma Rachel yang hendak pulang.
"Oh ya, tidak semua wanita yang diajak ke hotel itu adalah seorang p*****r. Bisa jadi wanita itu adalah istrinya. Jaga kata-kata anda jika anda tidak ingin mendapatkan masalah" kata terakhir oma Rachel yang kemudian melangkah pergi keluar. Oma Rachel terdiam berdiri dibalik dinding rumah mencoba menarik nafas dan menghembuskan nafasnya agar kembali teratur.
"Plaaak... " terdengar suara tamparan dari dalam ruangan yang mengagetkan oma Rachel.
"Dasar anak p*****r binal kamu, tidak bisakah kamu menggoda dan merayu Adrian seperti ibumu merayu suamiku hingga hamil kamu anak sialan" ucap mamanya Giselle yang membuat oma Rachel terkejut dengan sebuah fakta yang tidak diketahuinya.
"Donna hentikan" teriak papa Giselle.
"Kenapa haru aku hentikan. Seharusnya kamu bersyukur aku mau merawat anak haram kamu dari wanita p*****r itu. Bertahun-tahun aku mencoba untuk berdamai dengan semua ini, tapi semuanya percuma. p*****r cilik ini tidak bisa menaklukan Adrian, seharusnya kamu tanya trik untuk menundukkan para pria pada ibumu yang p*****r itu" ucap mama Giselle lebih keras dari sebelumnya. Seakan tak mampu ingin mendengar lagi oma Rachel berniat pergi namun terhenti setelah mendengar sebuah pengakuan dari Giselle.
"Hentikan mam, iya aku memang p*****r yang nggak berguna. Aku tidak bisa menundukkan Adrian. Mami sudah tau kan alasannya kenapa? Karena orang yang aku cintai itu Andre bukan Adrian mam. Kenapa mami selalu memaksaku mam? Aku sudah melakukan semuanya seperti yang mami mau, tapi mami selalu saja memandang hina diri aku. Memang salahku ingin dilahirkan dari rahim seorang p*****r. Jika aku bisa memilih, aku ingin dilahirkan dari rahim mami" isak Giselle meluapkan semua rasa sedihnya. Sedangkan dibalik dinding itu oma Rachel menangis mengetahui kebenaran semau ini.
"Aku tidak akan pernah menjadi beban mami dan papi lagi. Maafkan atas kesalahan yang dibuat oleh ibuku semasa hidupnya. Mungkin kata maaf tidak bisa menghapus dosanya dan menghilangkan luka hati mami. Aku akan pergi dari hidup kalian, terimakasih sudah merawat sampai sekarang mam" kata Giselle yang kemudian pergi melewati pintu rumah. Namun dia terkejut saat mendapati oma Rachel masih ada disana dan wajahnya begitu sembab. Mungkin dia sudah mendengar semuanya. Oma Rachel merangkul Giselle kedalam pelukannya dan mencoba menenangkan dirinya.
"Kita ke rumah oma ya" ajak oma kepada Giselle namun mendapatkan gelengan dari Giselle sebagai jawaban.
"Giselle ingin menenangkan diri dulu oma" kata Giselle lembut dan mencium tangan oma kemudian melangkah pergi meninggalkan oma yang masih menatapnya dari belakang. Oma Rachel pun melangkah pergi dan masuk ke dalam mobil mewah pribadinya.
"Kita pulang ke rumah" kata oma Rachel kepada sopir pribadinya. Mobil mewah berwarna silver itu pun telah keluar dari rumah mewah yang berada di perumahan elite.
***
"Puas sekarang kamu Dona,kamu sudah menyakiti anakku. Jangan kamu samakan Giselle dengan dengan dirimu Dona, yang selalu menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Termasuk mengkhianati sahabatmu sendiri. Kamu sendiri tau kalau aku dan Mila itu menikah siri, tapi kenapa kamu selalu memberikan status anak haram pada Giselle" kata papa Giselle yang mulai marah.
"Kamu menjebak diriku seolah-olah aku telah meniduri dirimu. Sengaja kamu rekam dan memberi tahukan kepada orang tuaku agar aku menikahimu. Sedangkan saat itu kamu tau kalau Mila sedang hamil. Asal kamu tau, dihatiku hanya ada nama Mila bukan dirimu. Sampai kapanpun aku hanya akan mencintainya. Aku bersabar dengan dirimu karena kamu dengan sukarela ingin merawat Giselle. Nyatanya kamu memaksa dia melakukan hal yang tidak dia Inginkan. Sampai kapanpun kamu tidak bisa menularkan sifatmu ke Giselle, karena dalam tubuhnya ada darah Mila bukan dirimu".
"Aku akan segera mengurus perceraian kita. Lakukanlah semua keinginanmu, tapi jangan pernah mengganggu Giselle lagi. Aku harap kamu bahagia dengan caramu sendiri" ucap papa Giselle dan berlalu pergi meninggalkan Dona yang menangis histeris dan mengamuk serta menghancurkan barang-barang yang ada dirumah.
Kehancuran yang dia rasa sekarang memang setimpal dengan apa yang telah dia perbuat. Namun tidak bisa membayar kesalahan yang dilakukan olehnya atas kematian Mila yang tidak diketahui siapapun terkecuali dirinya sendiri. Dia lah yang telah mendorong Mila teratuh dari tangga, namun tak disangka bayinya terselamatkan sesudah di operasi masih bisa bernafas. Meski detak jantungnya sempat berhenti. Semenjak bayi Giselle dirawat oleh orang tua Mila karena mereka telah kehilangan anaknya dan tidak mempermasalahkan Rudi yang menikahi Dona. Kedua orang tua Mila tetap sangat baik kepada Mila yang sejatinya pembunuh anak mereka.
Dona menangisi semua kesalahan dan dosa yang diperbuatnya. Demi obsesinya ingin mendapatkan Rudi dia melakukan semua cara. Dia merasa sangat mencintai Rudi, berpikir hanya cintanya yang pantas untuk Rudi bukan cinta dari wanita lain. Sebelumnya dia bisa menerima kehadiran Giselle, namun semenjak beranjak remaja. Giselle semakin mirip dengan Mila dan memiliki sifat yang sama. Melihat kedekatan Giselle dan Andre membuat Dona bersikeras ingin menjodohkan Giselle dengan Adrian. Bagi Dona Adrian jauh lebih sempurna daripada Andre, sehingga akan sangat membanggakn bagi dirinya jika Giselle menjadi pendamping Adrian.
Saat dia mendengar Adrian sudah menikah dan istrinya sedang hamil membuat Dona murka. Seperti dia kembali ke cerita di masa lalu. Hal itu lah seketika membuatnya hilang kendali. Topeng kebaikan dan kelembutan hatinya sirna dan mempertunjukkan wajah aslinya yang sebenarnya kejam dan tak berperasaan. Wanita seperti Dona memang tidak layak untuk dicintai karena hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak memperdulikan kebahagiaan orang lain disekitarnya.