Adrian berlari ke arah Kanaya dan juga mamanya. Sebelumnya Adrian sudah melihat pertengkaran Giselle dan Kanaya. Namun dia ingin melihat secara langsung bagaimana istrinya itu menyelesaikan masalah yang dihadapi olehnya. Diluar ekspektasinya ternyata Kanaya jauh lebih mematikan dan mengerikan. Sepuluh tamparan yang diberikan Kanaya bukanlah tamparan biasa,melainkan luar biasa. Saat ada yang berteriak bahwa Kanaya berdarah Adrian sangat panik dan berlari kencang ke arah Kanaya. Mamanya Adria terkejut saat kedatangan putranya.
"Sini biar aku yang gendong ma" tubuh Kanaya langsung digendong oleh Adrian. Terasa sekali basah pada bagian bawah baju Kanaya. Cairan merah hangat itu terus mengalir dan membanjiri tangan Adrian. Dengan sekuat tenaga Adrian berlari ke arah luar hotel tak menghiraukan orang-orang yang sedang memperhatikannya.
"Tora, siapkan mobil sekarang. Kita ke rumah sakit" perintah Adrian kepada bodyguard kesayangannya.
"Baik bos" dengan sigap Tora melaksanakan perintah Adrian.
"Adrian, mama ikut ya" kata mama Adrian yang sudah berdiri disamping Adrian. Terlihat wajahnya juga cemas dengan keadaan Kanaya. Terlihat sekali wajah Kanaya sedang menahan sakit yang luar biasa. Niki tidak peduli dengan Giselle yang sebelum dia tinggalkan tengah menangis meminta perhatiannya.
"Giselle, kamu kubur sudah impian kamu untuk menjaid istri Adrian. Kamu dengar sendiri kan apa yang dikatakannya tadi. Dia istrinya Adrian" ucap Niki mama Adrian dengan tegas.
"Tapi kan bisa jadi dia bohong tante" Giselle mencoba untuk meyakinkan kalau itu tidak mungkin.
"Maksud kamu Adrian berbohong? Maksud kamu Adrian pezina begitu. Sesuka hatinya bawa wanita keluar masuk hotel,iya. Asal kamu tau Giselle, pak Ikbal sudah menceritakan semuanya. Meski dia tidak yakin tentang hubungan Adrian dan Kanaya. Namun dihotel ini telah terjadi dua pernikahan yang dilakukan dua bulan lalu. Aku yakin salah satu pernikahan yang terjadi adalah pernikahan Adrian"Niki tetap meyakini putra sulungnya bukan seorang pria yang b******k.
"Tapi tan, bisa jadi.... " belum sempat menyelesaikan ucapannya, Giselle sudah ditinggalkan pergi mama Adrian. Ternyata feeling nya tadi malam benar. Kalau mama Adrian tidak akan memihak kepadanya.
***
"Dengan keluarga pasien" tanya seorang dokter yang telah memeriksa keadaan Kanaya.
"Iya dok" jawab Niki.
"Boleh tau siapa suaminya? " tanya dokter itu sekali lagi, karena melihta begitu banyak pria yang tengah menunggu di depan ruangan. Ada Tony, Tora, Iwan, Yadi dan Andi. Sedangkan Adrian masih berada di toilet membersihkan dirinya yang masih berlumiran dengan darah.
"Suaminya masih ada di toilet dok. Bagaimana kondisi menantu saya dok? " tanya mama Adrian cemas, raut wajahnya penuh ke khawatiran.
"Saya suaminya dok" ucap Adrian saat mendengar mamanya mengatakan dia masih ada di toilet.
"Apa istri saya baik-baik saja dok? Tidak terjadi hal burukkan dok"kata Adrian cemas takut kehilangan Kanaya. Selama ini dia tidak pernah merasa takut melihat darah orang-orang yang pernah disiksanya. Tapi, saat melihat darah Kanaya degup jantungnya kencang. Seluruh badannya seperti sedang bergetar hebat. Takut kehilangan itulah pastinya.
"Tenang saja pak, keadaan istri anda baik-baik saja. Untung saja istri bapak tidak mengalami keguguran. Hanya pendarahan akibat mengalami benturan keras. Tapi sudah kami berikan obat untuk penguat janin serta vitamin" jelas sang dokter membuat Adrian dan mamanya terkejut.
"Istri saya hamil dok" ucap Adrian terbata-bata namun tanpa disadarinya buliran bening mengalir di kedua pipinya.
"Oh, bapak belum tau kalau istrinya sedang hamil. Kalau begitu untuk ke depannya istri bapak harus lebih diperhatikan lagi aktivitasnya. Tidak boleh melakukan hal-hal yang berat yang bisa memicu keguguran. Meskipun rahim istri anda termasuk kuat tapi tidak menutup kemungkinan besar istri bapak bisa mengalami keguguran"sang dokter memberikan pengarahan kepada Adrian. Mamanya mendengar perihal ini sangat senang dan juga marah terhadap Giselle yang hampir saja membunuh calon cucunya.
"Terimakasih dok untuk semuanya. Saya ucapkan terimakasih banyak"kata Adrian sambil menyalami tangan sang dokter. Begitu juga dengan mamanya Adrian menyalami sang dokter.
"Adrian, sebaiknya kamu jangan membiarkan istri kamu tinggal di hotel lagi. Pulang lah ke rumah, suasana rumah jauh lebih baik bagi wanita yang sedang hamil dari pada tinggal di hotel" Niki mencoba membujuk putra sulungnya yang sudah lama tidak mau tinggal di rumah lagi semenjak oma Rachel selalu meminta Adrian untuk menerima perjodohan dengan Giselle.
"Nanti aku pikirkan lagi ma, kami bisa saja tinggal di apartemenku" Adrian mencoba menolak permintaan mamanya secara halus.
"Kalau di apartemen dia akan sendirian lagi, kalau mau ini itukan nantinya susah. Dia ini lagi hamil, pasti ada proses mengidamnya. Tenang mama akan menjaga istri dan anakmu dalam kandungan istrimu dengan baik" Niki masih mencoba membujuk Adrian yang memang sangat keras kepala seperti mamanya oma Rachel.
"Bagaimana dengan oma rachel?" tanya Adrian sedikit ragu.
"Tenang saja, itu urusan mama ok"Niki pasti akan membuat anaknya pulang ke rumah keluarga besar mereka dengan membawa menantu dan calon penerus keluarga Aston dan juga Anggara.
"Aku mau liat kondisi Kanaya dulu ya ma" kata Adrian ingin masuk ke ruangan Kanaya.
"Namanya Kanaya ya, cantik. Sama seperti orangnya. By the way kalau mama boleh tau kamu nemuin dia dimana?" tanya Niki antusias ingin mengetahui sosok Kanaya lebih jauh lagi.
"Maksudnya?" Adrian bingung dengan perkataan mamanya.
"Maksudnya, kamu kenal dia dimana? Keren dia, mama suka gayanya. Sepertinya jago pukul ya istrimu itu. Coba saja kalau dia tidak hamil, mama mau ajak dia duel deh. Cara dia menampar Giselle tadi itu luar biasa keren" ucapnya penuh kesenangan. Sudah bisa Adrian duga, mamanya akan menyukai Kanaya. Sifat Kanaya hampir sama dengan mamanya, mandiri dan jago membela diri. Mama Adrian memang jago bela diri, khususnya taekwondo. Tapi kalau Kanaya entahlah dia kurang tau. Sepertinya juga memiliki keahlian bela diri.
"Nanti aja ya ma ceritanya, aku mau menemani istriku dahulu" kata Adrian kemudian masuk ke dalam ruangan Kanaya.
Sedangkan Niki kemudian sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo ma. Mama lagi dimana?" tanya Niki ke mamanya oma Rachel.
"Masih liburan di Bali, tumben kamu nanyain mama biasanya bodo amat mama pergi kemana" jawab sang mama ketus karena mempunyai anak yang kurang perhatian terhadap dirinya yang sudah mulai renta.
"Ih mama kok gitu sih ngomongnya, aku tu sayang kok sama mama. lupain deh, mama nggak mau pulang kah?" pancing Niki untuk membuat mamanya sedikit penasaran.
"Kenapa harus pulang, memangnya ada acara apa? Kamu kalau mau ngomong sama mama itu on point aja. Nggak usah bertele-tele, cepat beritahu mau kamu apa?" kata oma Rachel sedikit marah karena penasaran, dia tahu kalau Niki tidak mungkin menghubungi dia mendadak seperti ini kalau tidak ada berita heboh.
"Ma, Adrian sudah punya istri. Sekarang istrinya lagi hamil" ucap Niki dengan penuh semangat karena sangat bahagia dengan berita ini.
"What? Kamu bilang apa? Adrian sudah punya istri dan istrinya lagi hamil. Permainan apa yang sedang kamu rencanakan Niki?" teriak oma Rachel geram.
"Idih mama, ini seriusan. Adrian tu sudah menikah sejak dua bulan lalu tanpa mengabari kita. Jadi,wanita yang sama Adrian waktu jalan yang dibuntuti sama Giselle itu istrinya. Mama tau nggak istri Adrian hampir saja keguguran gara-gara Giselle"cerita Niki singkat kepada mamanya.
"Hah, dasar cucu b******k. Sialan dia,nikah nggak bilang-bilang. Ya sudah mama pulang ke Jakarta hari ini juga. Sesampainya nanti mama bakal nemuin Giselle dan orang tuanya. Semuanya harus diselesaikan secepatnya".
"Oh ya, jaga calon penerus keluarga kita. Suruh mereka berdua untuk tinggal dirumah besar. Kalau Adrian tetap nggak mau, Aston Hotel akan diwariskan ke Andre. Ancam saja seperti itu" kata oma Rachel memberikan cara untuk melumpuhkan keras kepalanya Adrian.
Padahal Niki punya cara tersendiri untuk membujuk Adrian. Sepertinya Adrian tetap setuju untuk tinggal di rumah keluarga besar kalau dia memikirkan keselamatan untuk Kanaya. Apalagi dia bisa melihat kalau Adrian sangat menyayangi Kanaya, justru hal ini menjadi kesempatan untuk dirinya membujuk Adrian pulang ke rumah.
Kanaya masih terlihat lemas dan wajahnya begitu pucat. Baru pagi tadi dia meninggalkan wanitanya dalam keadaan sehat dengan senyuman yang manis menghiasi wajah cantiknya saat mengantarkan kepergian dirinya ke kantor. Kini wajah itu begitu memilukan hatinya. Untung saja pak Ikbal memberitahukan dirinya perihal kedatangan mamanya bersama Giselle ke hotel. Sehingga dia bisa datang tepat waktu, salah dirinya membiarkan Giselle mendorong Kanaya. Dia tidak tahu kalau Kanaya sedang hamil, setelah tahu seperti sekarang ini. dia pasti akan selalu menjaga Kanaya dan buah hati mereka. Sebuah ciuman di daratkan pada dahi istri tersayangnya itu.
"Aku akan selalu menjaga keluarga kita" ucapnya sambil memegang tangan Kanaya.