Aku Istrinya

1657 Kata
Giselle sibuk memikirkan cara agar bisa memisahkan Adrian dengan perempuan yang dilihatnya tadi sore. Giselle sudah mencoba menghubungi oma Rachel, namun oma Rachel tengah sibuk menyiapkan koper untuk pergi ke Bali besok. Seperti sudah kehabisan akal dan cara bagi Giselle untuk mengetahui perempuan tadi. Seketika dia teringat dengan mamanya Adrian. Selain oma Rachel, Adrian tidak berani membantah perkataan mamanya. Mungkin sekarang ini Adrian berani berontak kepada omanya,siapa tau dia akan menurut kalau mamanya yang bicara. Selama ini mamanya tidak pernah ikut membicarakan perihal perjodohan ini, hanya oma Rachel yang begitu antusias. Anggota keluarga yang lain tidak ingin memaksakan terserah Adrian ingin menikah dengan siapa. Terbersit rasa tidak percaya diri bagi Giselle jika sebenarnya mama Adrian tidak setuju Adrian dijodohkan dengan dirinya. Giselle benar-benar merasa frustasi harus kepada siapa dia mengadukan tentang perempuan yang masuk hotel bersama Adrian tadi. "Dasar w************n" teriak Giselle dan mengacak-acak rambutnya. "Aku tidak bisa seperti ini, harus segera diselesaikan. Iya aku harus segera menelpon tante Niki. Dia harus tau, semoga saja tante Niki akan mendukung aku untuk menjadi bagian keluarganya" dengan penuh semangat Giselle mencari kontak mamanya Adrian dan mengirimkan foto kebersamaan Adrian dengan perempuan yang dilihatnya tadi. "Semoga ini berjalan lancar dan berhasil" ucap Giselle. Tidak berapa lama panggilan masuk di handphone Giselle. Tertera jelas si nama pemanggil pada layar sentuh milik Giselle. "Mama Mertua" itulah nama si pemanggil. "Halo tante". "Ya halo. Giselle, maksud kamu ngirim foto Adrian ke tante itu apa?" tanya suara dari seberang sana yang terdengar bingung. "Giselle cuma pengen ngasih tau tante kalau Adrian sekarang sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Tadi siang aku sama oma ke kantor Adrian untuk membahas tentang perjodohan kami tante. Tapi Adrian malah marah dan ninggalin aku sama oma di kantor. Aku berinisiatif ngikutin Adrian, ternyata dia membawa perempuan itu masuk ke Aston Hotel miliknya Adrian tan. Apa tante nggak marah kalau Adrian suak melakukan perbuatan zina? Bukannya opa Adam sangat menjunjung nilai-nilai keagamaan, ini akan menjadi sebuah aib keluarga tan. Aku cuma pengen ngasih tau tante hal ini dan juga ngajakin tante buat ke Aston Hotel besok. Kita cari tau tentang perempuan yang bersama Adrian itu tan. Gimana? Mau kan tan?"kata Giselle panjang lebar bercerita dengan nada khas manjanya yang paling tidak disukai oleh mamanya Adrian. "Ok, besok kita ketemuan di hotel jam sepuluh pagi" jawab mamanya Adrian singkat dan langsung mematikan panggilannya. Giselle masih ingin mengobrol dengan si calon mertua, namun obrolan langsung terputus. Walaupun sedikit kesal, setidaknya mereka janjian untuk bertemu menggerebek Adrian besok di hotel. *** Niki terkejut setelah mendapat kiriman foto Adrian dengan seorang wanita. Darimana dia mendapatkannya? Tak ingin penasaran dia langsung menghubungi Giselle sang pengirim foto Adrian. Ternyata Giselle masih tetap ngotot ingin dijodohkan dengan Adrian. Padahal sudah berkali-kali ditolak oleh Adrian,seperti tidak ada punya malu. Lagian hanya oma Rachel yang menginginkan dirinya menjadi istrinya Adrian. Setelah melihat foto tersebut Niki tersenyum gembira,dan membatin akhirnya putra sulungnya telah menemukan tambatan hatinya. Hal ini membuat dia semakin penasaran ingin mengenal si wanita di foto tersebut, pastinya dia spesial. Secara dia tau tipikal wanita yang disukai Adrian. Bukan wanita yang manja dan kebanyakan drama seperti Giselle tentunya. "Sampai jumpa besok sayangku" ucapnga pada foto Adrian dan si wahita misterius pada handohonenya. "Tante aku sudah sampai di hotel tan, tante lagi dimana?"chat Giselle ke mama Adrian. Giselle benar-benar orang yang paling on time. Tepat jam sepuluh pagi dia sudah berada di depan hotel hendak memarkirkan mobil miliknya. Giselle melangkahkan kakinya menuju ke lobi, dia terkejut ketika melihat ternyata mama Adrian sudah ada di dalam sedang berbicara dengan seseorang yang kemungkinan staf pegawai di hotel ini. Secara dia adalah pemilik Aston Hotel sebelum di wariskan ke Adrian. Giselle merasa heran dengan mamanya Adrian yang memang sedikit jutek terhadap dirinya. Padahal dulu beliau sangat perhatian dan menyayangi Giselle. Beliau terkesan menghindari Giselle setelah orang tua Giselle ingin menjodohkannya dengan Adrian. Mama Adrian ingin protes saat itu, tapi papanya memberikan kode untuk diam. Hingga akhirnya oma Rachel sendiri yang memutuskan untuk menjodohkan Adrian dengan Giselle. Rasa sayang terhadap Giselle sejak saat itu mulai pudar dan respect terhadap dirinya pun berkurang. Apalagi sikap Giselle yang selalu ingin di perhatikan dan terlebih sifatnya yang suka memaksakan kehendak sangat tidak disukai Niki mamanya Adrian. "Tante sudah disini ya, kok chat aku nggak dibalas?" sapa Giselle kemudian menciumi kedua pipinya mama Adrian. "Oh, benarkah. Tante nggak ada buka handphone. Handphonenya ada di dalam tas jadi kemungkinan nggak kedengeran. Soalnya lagi asyik ngobrol sama pak Ikbal membahas tentang kemajuan hotel ini selama di bawah pimpinan Adrian" ucap mama Adrian santai dan terkesan sedikit cuek. "Uh... Sabar Giselle... Sabar...... Sama calon mertua nggak boleh marah. Anggap aja ini ujian cinta Giselle" kata Giselle dalam hatinya untuk menguatkan dirinya yang dicuekin sang calon mama mertua. Giselle sedikit menyipitkan matanya ketika melihat sosok Kanaya yang sedang berjalan ke arah lobi dan melewati dirinya dan mama Adrian. "Itu si perempuan yang bersama Adrian kemaren kan". "Iya apa nggak ya. Masa iya penampilan dia sebegitunya. Keluar dari lobi cuma makai daster panjangnya selututselutut"Giselle masih mencoba mengenali sampai berulang kali memperhatikan Kanaya yang sedang menunggu seseorang di lobi membandingkan wajahnya dengan perempuan yang ada di foto handphonenya. "Tan,itu perempuan yang bersama Adrian tempo hari" kata Giselle ke mamanya Adrian. "Yang mana?". "wanita yang berbaju daster itu ya" kata mama Adrian yang melihat sosok wanita berpakaian berbeda dari yang lainnya. "Kalau begitu saya permisi dulu bu Niki, kalau ada apa-apa ibu bisa panggil saya lagi" ucap pak Ikbal pamit pergi kemudian meninggalkan Giselle dengan mamanya Adrian. Kanaya yang tengah menunggu pesanan makanan yang di ordernya melalui aplikasi jual beli makanan secara online. Tidak menyadari kalau ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan dirinya saat ini. Sembari menunggu dia masih melirik makanan apa saja yang ingin dia makan untuk hari ini. Seandainya Tora dan Iwan tidak sibuk hari ini mungkin mereka lah yang membelikan makanan yang diinginkan oleh Kanaya seperti biasanya. Menu makanan yang hari ini ingin dia makan adalah rujak buah dan juga asinan kedondong serta asinan mangga. Entahlah, saat dia melihat iklan postingan makanan tersebut dia seperti ingin meneteskan air liurnya. Terlihat sangat segar dan menggugah selera sepertinya. Memang pada dasarnya Kanaya sangat hobi rujakan. Malah dulu sebelum aktif kerja hampir tiap hari dia mengolah rujak dirumah. Pokoknya stok buah buat ngerujak selalu tersedia didalam kulkasnya. Sekitar hampir sepuluh menit dia menunggu, si pengantar makanan yang di pesan oleh Kanaya datang. Kanaya terlihat sangat senang sekali setelah menerima pesanannya. Sudah tak sabar ingin memakannya. "Hei,kamu tunggu dulu"suara panggilan yang mengarah ke Kanaya. Sontak dia pun berhenti melangkahkan kakinya saat dia baru saja melewati tempat duduk Giselle. "Iya, kamu memanggil saya" kata Kanaya tampak bingung, karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan Giselle. Dia tidak memiliki kenalan lain lagi selain Ades. Semenjak kejadian tentang ajakan threesome Adrian, Ades seolah takut untuk menemui Kanaya lagi. Hanya berbalas pesan lewat aplikasi berwarna hijau saja. Lalu siapa wanita muda yang cantik berpenampilan hedon ini? Tanyanya dalam hati. "Iya kamu, siapa lagi yang aku panggil kalau bukan kamu" ujar Giselle sedikit angkuh. "Ooohhh... Kamu siapa ya?" tanya Kanaya sambil tersenyum. Sedangkan mama Adrian hanya duduk melihat percakapan dua wanita itu. "Kenalkan namaku Giselle calon istri Adrian" dengan penuh percaya diri Giselle mengatakan tentang dirinya. Para karyawan hotel disana tertegun sejenak mendengar penuturan yang dilontarkan oleh Giselle. Setahu mereka Kanaya lah wanita Adrian, karena desas desus perjodohan Adrian waktu dulu dibatalkan oleh Adrian telah lama Seperti akan terjadi perang yang sengit diantara mereka berdua. Kanaya bingung dan heran dengan perempuan yang mengaku calon istrinya Adrian, lha dirinya sendiri adalah istrinya Adrian. Sedikit agak terkejut namun Kanaya bisa menahan emosinya. Dia seperti sedang dilabrak karena telah merebut milik orang lain. Apakah sebenarnya Adrian memang sudah mempunyai calon istri ya? Jangan-jangan ini perempuan yang mau dijodohkan sama dia. Sedikit teringat akan perkataan Adrian waktu menculik Ades dulu. Alasan dia meminta Ades sebagai pengganti bayar utang ayahnya. "Oh.... Calon istri Adrian. Masih baru calon kan!" ucap Kanaya seperti meledek Giselle. Seakan tak terima dengan respon Kanaya, Giselle menampar wajah Kanaya. "Plaaak". Kanaya benar-benar sudah menahan amarahnya sejak tadi. Tapi sebuah tamparan tadi seakan telah menyulut kemarahannya yang akan meledak. "Kamu berani menamparku. Asal kamu tau prinsipku sakit dibalas sakit. Luka dibayar luka. Darah dibayar darah dan nyawa dibayar nyawa. Satu kali kamu menyakiti aku, maka aku akan membalas sepuluh kali lipat sakitnya" ucapan Kanaya ini sedikit membuat Giselle ketakutan, karena terlihat jelas sekali kalau Kanaya tidak sedang mengancamnya. Melainkan seperti sebuah peringatan keras untuknya. Giselle mengindahkan firasatnya tentang hal ini, dia malah berulah dengan mendorong Kanaya hingga terjatuh ke lantai. Plastik rujak yang dibawanya tadi terlempar ke sebelah kanan Kanaya. Akibat dorongan Giselle tadi terasa ngilu bagian pinggang Kanaya. Dorongan Giselle tadi lumayan keras, terasa sangat panas b****g Kanaya sekarang ini. Tak dirasakannya sakit yang tiba-tiba mulai menjalar bagian perutnya Kanaya berdiri dan menarik tangan Giselle. Mamanya Adrian yang melihat kejadian sontak langsung berdiri untuk menghampiri mereka berdua. Tanpa aba-aba wajah Giselle ditampar bolak balik sebanyak sepuluh kali. Per pipi mendapatkan lima kali tampar. Tampak seperti merah darah wajah Giselle sekarang. Dia sudah berteriak minta tolong namun tidak ada yang berani mendekati mereka berdua untuk melerai. Para tamu hotel yang ada ditempat pun memperhatikan perkelahian kedua perempuan ini. Namun, kemenangan telak diraih oleh Kanaya. Giselle seperti sudah tidak memiliki muka lagi dan penampilannya pun sangat kacau. "Apa kamu ingin tau siapa aku?" teriak Kanaya nyaring sambil memegang dagu Giselle. "Aku istrinya Adrian"dengan tegas Kanaya mengungkapkan tentang hubungan dirinya dan Adrian. Giselle terpaku dan terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Kanaya. Seperti terkena petir disiang bolong dirinya ketika mendengar berita tentang Adrian sudah memiliki istri. "Dia berdarah" teriak seseorang saat melihat darah segar mengalir dari kaki Kanaya dan menetes di lantai. Rasa sakit yang menyerang Kanaya secara tiba-tiba tadi sekarang jauh lebih sakit lagi rasanya. Mama Adrian langsung memapah Kanaya saat Kanaya mulai meringis sakit pada perutnya. Giselle terkejut dengan mama Adrian yang langsung membantu Kanaya terlebih dahulu. Belum dia ingin protes, terdengar suara langkah kaki yang berlari ke arah mereka. Adrian?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN