Adrian masuk ke dalam ruangan kantor miliknya dan terlihat oma Rachel duduk dengan santai berbincang pada wanita muda berambut panjang. Mengenakan dress mini sepanjang lutut, sedangkan oma Rachel selalu dengan dandanan khasnya yang suka memakai wig seperti artis Jenita Janet. Dia mengenakan baju setelan dengan celana panjang bak seperti wanita karir. Walaupun umur oma sudah menginjak kepala enam puluh namun gaya berpakaiannya seperti wanita muda. Kalau orang tidak tahu mungkin umur oma Rachel berada di usia kepala lima.
Raut wajah Adrian berubah kurang senang ketika matanya bertemu tatap dengan wanita muda yang menjadi lawan bicara omanya.
"Oma sudah lama menunggu?" tanya Adrian kemudian menyalami tangan sang oma dengan takzim.
"Lumayan lama, kasian Giselle menunggu kamu disini Adrian"keluh Oma Rachel yang sudah pasti Adrian tahu akan berbuntut panjang kuliah ceramah dari oma Rachel.
"Aku nggak minta dia buat kemari dan menyuruh menunggu. Lagian kalau aku tau oma kesini sama dia aku nggak akan datang. Salut deh buat trik oma"sindir Adrian dengan nada yang lembut namun terkesan sadis dan sedikit kasar.
"Adrian kenapa sih kamu selalu seperti itu terhadap Giselle, bagaimana pun juga dia calon istri kamu Adrian" ucap oma Rachel sedikit protes ke Adrian, namun Giselle menenangkan dengan memberikan isyarat tidak apa-apa.
"Siapa? Dia?" tunjuk Adrian kepada Giselle.
"Harus berapa kali aku harus katakan ke oma kalau aku nggak mau dijodoh-jodohkan. Aku bisa cari istri sendiri oma" kata Adrian terlihat frustasi karena kalau bertemu dengan omanya pastilah akan berdebat tentang masalah ini.
"Harus sampai kapan oma menunggu kamu mencari wanita untuk kamu nikahi dan kamu jadikan istri Adrian. Sedangkan kamu saja masih sibuk dengan urusan kerjaan"oma rachel tidak sependapat dengan Adrian yang ingin mencari istri sendiri dengan caranya. Sedangkan dia tahu kalau Adrian persis seperti opanya yang maniak kerja.
"Oh ya, minggu kemaren kenapa kamu nggak masuk ke kantor? Tumben sekali kamu sering bolos kerja" tanya oma Rachel menyelidiki kegiatan Adrian akhir-akhir ini yang sedikit mencurigakan.
"Oma sekarang memata-matai aku. Apa sekarang oma sudah lelah jadi sosialita sehingga berubah kegiatan menjadi seorang mata-mata. Kasian James Bond oma kalau oma nanti bakal nyaingin kerjaan dia" celetuk Adrian yang mencairkan suasana yang sempat sedikit menegangkan.
"Oma cuma sedikit penasaran karena ada kabar burung kalau kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Siapa kah dia? Apa dia jauh lebih baik dari Giselle sehingga kamu tidak mau menikah dengan Giselle?"cecar oma Rachel dengan pertanyaan yang terasa bertubi-tubi ditelinga Adrian.
"Huh, oma kalau Giselle dibandingkan dengan dia ya beda jauh lah oma. Giselle seorang sosialita yang hanya tau shopping dan ke salon. Lagipula oma kan tau kalau aku tidak suka perempuan yang manja. Giselle cocoknya sama Andre oma. Kenapa oma nggak menjodohkannya sama Andre aja sih"Adrian merasa lelah dengan perbincangannya bersama omanya yang pasti tidka pernah ada akhirnya.
"Giselle kenapa kamu tidak minta dijodohkan dengan Andre saja sih. Lagian dari kecil kalian itu sudah akrab sekali. Aku rasa kalian berdua sangat cocok untuk menjadi pasangan"kata Adrian kini beralih ke Giselle, sejak dari dulu Giselle selalu mengekorinya dan selalu berkata ingin menikah dengan Adrian. Hasilnya dia berhasil membujuk dan mengambil hati omanya yang kini gencar menjodohkan dirinya.
"Aku tidak bermaksud begitu kak. Aku hanya menuruti perkataan orang tua saja" kata Giselle lembut tersenyum manis didepan Adrian.
"Ah, sudah lah. Intinya aku tidak akan pernah menikah dengan kamu Giselle. Lebih baik kamu cari pria lain saja yang mau jadi suamimu" ucap Adrian kemudian berdiri dari duduknya. Oma Rachel sudah bersiap ingin berbicara namun langsung di dahului Adrian.
"Tak perlu dinegosiasikan lagi oma. Aku mau pergi, kasian wanitaku menunggu terlalu lama. Permisi" Adrian melangkah menuju pintu kemudian langkahnya berhenti.
"Oma tunggu saja dirumah kedatanganku bersama istriku tercinta nanti. Jadi oma tidak perlu lagi ke kantor membicarakan hal konyol ini" Adrian menarik handle pintu dan berlalu keluar dari ruangan. Kini tinggal oma Rachel dan Giselle yang duduk dalam diam. Betapa kecewa dan geram hati Giselle saat ini ketika mendapatkan penolakan dari Adrian lagi. Padahal dia sudah menaruh harapan kalau oma berhasil membujuk Adrian menikah dengan dirinya. Ternyata, hasilnya tetap zonk.
"Oma apa perlu sekarang kita membuntuti Adrian, jadi kita bisa tau siapa wanita yang sedang bersama Adrian. Oma nggak mau kan kalau cucu kesayangan oma mempunyai istri yang tidak tahu latar belakangnya"kata Giselle lembut, namun dibalik perkataannya terselip sebuah hasutan untuk memprovokasi oma Rachel
"Entahlah, oma juga bingung menghadapi sifat Adrian yang keras kepala. Seperti sedang bercermin diri sendiri. Kalau kamu mau mengikuti Adrian silahkan, oma tidak bisa ikut. Oma ada janji dengan teman-teman oma. Kamu bisa hubungi oma lagi kalau sudah mendapatkan bukti tentang wanita itu. Sebaiknya kita pulang saja" ajak oma Rachel yang merasa lelah dan letih karena terlalu menguras banyak tenaga dan pikiran ketika menghadapi cucu sulungnya yang memang sulit diatur persis seperti dirinya kala muda dulu.
***
Sesampainya dikamar hotel pribadinya Adrian menatap takjub kepada perempuan yang kini telah berstatus sebagai nyonya Adrian. Penampilan Kanaya yang begitu cantik terpancar membuat dirinya tak mampu untuk mengedipkan mata walau cuma sedetik. Meskipun sudah sering kali dia sudah memandangi wajah yang kini menjadi miliknya, tetap tak pernah merasa bosan. Melainkan selalu merindukan wajah itu, dari tatapan matanya, senyuman bibirnya, serta deru nafasnya ketika berpacu dalam puncak kenikmatan. Mengingat hal itu seketika membangkitkan hasrat Adrian.
Diraihnya tubuh Kanaya dalam pelukannya dan langsung mencumbunya dengan penuh nafsu. Hingga membuat Kanaya merasa sulit bernafas.
"Katanya mau jalan-jalan. Kenapa jadi beradegan mau w*****k aja sih" kata Kanaya mencubit kedua pipinya Adrian gemes.
"Kamu terlihat sangat mempesona hingga membuat diriku selalu b*******h. Jangan salahkan aku,karena tiap hari kamu terlihat semakin menggoda sayang. Sekali dulu ya, baru kita keluar" bujuk Adrian karena memang sudah tak kuasa menahan hasrat yang kini sedang menggebu.
Tanpa ada persetujuan dari Kanaya terlebih dahulu Adrian kini menyerangnya dengan ciuman yang bertubi-tubi dan melepaskan semua pakaian mereka. Untuk kesekian kalinya mereka bersama-sama menggapai kenikmatan hingga puncaknya.
Selesai mandi dan berpakaian mereka bersiap untuk pergi sesuai dengan rencana sebelumnya. Keduanya terlihat nampak sangat serasi, dari segi pakaian mereka berdua yang berpenampilan casual dan trendy. Bak sepasang model yang tengah melenggang di catwalk sehingga banyak mata yang memandangi keduanya. Banyak bisikan dari orang-orang betapa sempurnanya mereka berdua. Adrian yang tampan dan rupawan dengan postur tubuh yang tinggi dan badan yang atletis. Begitu nampak jelas bentuk tubuhnya yang memakai baju kaos berlengan pendek warna putih, terlihat sekali urat-urat ditangannya yang menggenggam tangan Kanaya yang putih bersih. Penampilan Kanaya yang simple dan hanay berdandan tipis namun tetap memancarkan aura kecantikannya serta didukung bentuk tubuh tinggi dan langsingnya sehingga seperti seorang bidadari kayangan yang sedang berjalan di atas bumi. Siapapun yang melihatnya pasti sangat iri, begitu juga dengan yang Giselle yang sedang membuntuti mereka berdua.
Dia merasa sangat tersaingi oleh Kanaya, bagaimana tidak. Ekspektasinya sangat jauh berbeda dengan kenyataan. Dia mengira wanita yang bersama Adrian atau lebih tepatnya wanita yang membuat Adrian menolaknya adalah wanita biasa dengan penampilan yang biasa saja. Tapi ternyata dia salah, wanita itu terlihat sangat berkelas sekali dari atas sampai bawah. Hal ini memicu rasa penasaran Giselle untuk mengetahui tentang Kanaya lebih banyak lagi. Berharap dia akan mendapatkan celah yang bisa menyingkirkan Kanaya. Semoga keberuntungan kali ini berpihak kepadanya.
Seperti seorang mata-mata yang profesional Giselle mengikuti kemanapun Adrian dan Kanaya pergi. Setiap kali Adrian bersikap manis terhadap Kanaya, wajahnya langsung berubah merah. Didadanya seperti ada percikan api yang tengah membara. Seakan tak terima sikap Adrian yang lembut dan manis kepada wanita lain,Giselle merasa geram. Sangat berbeda jauh perlakuan Adrian kepada dirinya dengan wanita yang kini sedang dirangkul oleh Adrian yang tidak lain adalah Kanaya sang istri tercinta.
Giselle seperti sedang berpikir kerasa bagaimana caranya untuk menghancurkan hubungan Adrian dengan wanita yang menjadi saingannya. Diambilnua foto mereka berdua dan mengirimkannya kepada oma Rachel. Sesampainya Adrian kembali ke hotelnya, Giselle nampak terkejut kalau mereka berdua kini memasuki gedung hotel yang telah menjadi milik Adrian. Berbagai macam pikirna tentang apa yang mereka lakukan di dalam sana membuat Giselle merasa gelisah. Seharusnya dirinya lah yang menemani Adrian di dalam sana bukan wanita itu. Berkali-kali Giselle memukul stirnya karena merasa frustasi dengan kenyataan yang dihadapinya.
"Adrian tidak kah kamu tau, kalau kamu telah menyakiti hatiku saat ini. Sudah sering kali kau sakiti hati dengan kata-kata dari mulutmu. Tapu jauh lebih sakit saat kau bersama dengan dirinya" ucap Giselle lirih diiringi aliran air yang jatuh dari pelupuk matanya.