Dilarang Pulang

1476 Kata
Kanaya tampak sedang memikirkan sesuatu yang sulit untuk dibicarakan kepada Adrian. Dia merasa sudah terlalu lama meninggalkan anak-anaknya dan juga rindu dengan aktivitas bekerja di perusahaan. Meski kata Andre urusan pekerjaan sekarang diurus langsung oleh bapanya. Tetap saja Kanaya rindu dengan kesibukannya dulu. Tanpa terasa hampir dua bulan sudah dia tinggal di Jakarta setelah menjadi istri Adrian. Ingin rasanya kembali ke kota tempat tinggalnya sekarang, dia rindu dengan makanan khas kalimantan. Membayangkannya saja sudah membuat Kanaya ingin meneteskan air liurnya. Nasi kuning sambal bumbu merah, lontong orari, pakasam, manday goreng dan makanan lainnya. Ah, belum lagi keributan yang dibuat oleh anak-anak nya ketika sedang bermain. "Apa yang kamu lamun kan sayang? " tanya Adrian kemudian mengecup pucuk kepala Kanaya. "Kamu bosan dikamar terus kan, kita jalan keluar yuk. Maafin aku ya karena beberapa hari terakhir ini terlalu sibuk, dan kurang waktu menemani kamu" ucap Adrian memeluk Kanaya dari arah belakang. Kanaya pun memutar badannya hingga sekarang mata mereka saling bertemu. Sebuah kecupan langsung mendarat dibibir Kanaya, sudah hal biasa kalau Adrian akan menciumnya secara tiba-tiba. "Ada apa sayang?"melihat ada sedikit kedukaan dari sorot mata Kanaya yang seakan menusuk ke jantung Adrian. "Aku kangen..... "ucap Kanaya lirih dan menjeda perkataannya. "Aku disini, aku akan melepaskan kerinduanmu" dengan lembut Adrian menyibak rambut Kanaya yang menutupi wajahnya. "Iih... Dasar m***m. Bukan itu,aku kangen anak-anak ku" dengan nada sedih Kanaya mengucapkannya, matanya seketika berembun ketika mengingat wajah-wajah anaknya. Adrian merangkul tubuh Kanaya ke dalam pelukannya. Mengusap punggung belakangnya dengan lembut, Adrian merasa dadanya kini telah basah. Mungkin Kanaya menangis dalam diamnya berada dalam pelukan Adrian. Dia memberikan waktu dan tempat untuk Kanaya menumpahkan semua rasa yang ada di hatinya. Kanya melepaskan diri dari dalam pelukan, terlihat wajahnya sedikit sembab dan raut wajah kesedihan tetap ada di wajah cantiknya. Seakan ditorehkan sebuah luka, begitu sakit hatinya melihat Kanaya yang bersedih. Ditangkupkan kedua tangannya, dan menciun dahi dan pucuk kepala Kanaya. "Bulan depan kita pulang menemui keluargamu, sekaligus aku akan melamarmu secara langsung kepada orang tuamu. Sebenarnya aku ingin membicarakan hal ini, tapi setelah semua pekerjaan rampung ku kerjakan. Oleh sebab itu sekarang ini aku lagi menuntaskan semua urusan dikantor. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak-anak ku"celoteh Adrian dan mencubit pipit Kanaya serta hidungnya. Kanaya mengangguk dan tersenyum bahagia mendengar ucapan suami bucinnya. "Kita jalan-jalan yuk, aku ingin mencari udara segar dan pengen nyari makanan yang lagi viral disini. Bolehkan" kata Kanaya sambil mengedipkan kedua matanya, bersikap imut agar suaminya itu luluh. Padahal tanpa beraksi seperti itupun Adrian pasti akan mengabulkan apapun yang diinginkan oleh Kanaya. "Boleh, tapi dengan satu syarat"kata Adrian. "Apa syaratnya?"goda Kanaya yang tau maksud arah pembicaraan Adrian. "Give me a baby" ucap Adrian langsung melumat bibir Kanaya. Sedangkan tangannya bergerilya melucuti semua pakaian Kanaya, meraba setiap inci tubuh indah Kanaya. Tubuh yang selalu membuat dirinya tergila-gila sehingga selalu menginginkan lagi dan lagi. Pernikahan yang sedari awal hanya dijadikan sebagai pemutus perjodohan namun kini berubah menjadi pernikahan yang memang berlandaskan karena cinta tulusnya. Hingga sampai detik sekarang Adrian belum mengenalkan Kanaya pada keluarga besarnya, hanya menunggu waktu yang tepat memperkenalkan Kanaya sebagai istrinya. Setelah selesai dengan kegiatan pergulatan keringatnya Adrian bergegas langsung membersihkan diri, karena dia mendapat pesan dari Tony untuk segera ke kantor. Oma Rachel heboh mencari Adrian yang tidak pernah lagi menemuinya. Adrian sudah pasti bisa menebak perihal kedatangan oma kesayangannya yang super bawel. Pasti tentang perjodohan antara dirinya dengan Giselle. "Sayang, aku ke kantor dulu ya sebentar. Selesai dari kantor aku akan mengajak kamu jalan-jalan untuk menjelajahi kuliner yang kamu sukai. Ok" Adrian melingkarkan jarinya membentuk huruf O sambil mengedipkan matanya. Kanaya juga membalas hal serupa dengan melingkarkan jarinya membentuk huruf O. Setelah Adrian pergi Kanaya mengambil handphonenya untuk menghubungi bapanya. Setiap kali dia ingin menelpon selalu handphone dari pria yang selalu dihormatinya itu pasti tidak aktif. Kalau tidak panggilannya akan di reject dengan alasan sibuk tidak bisa bicara dan menyuruh Kanaya untuk menunggu telpon dari bapanya saja. Dengan penuh harap panggilannya kali ini akan diterima oleh bapanya. Sekali panggilan telpon darinya langsung diangkat. "Halo, assalamu'alaikum pa" ucap salam dari Kanaya. "Waalaikumsalam.Ada apa Nay?" tanya bapanya to the point. "Gimana kabar bapak sama mama serta anak-anak disana? Aku kangen kalian semua" jawab Kanaya mengutarakan perasaan yang kini tengah bersarang di dalam dadanya. "Kami semua baik-baik saja. Tenang, kamu nggak usah khawatir masalah anak-anak mereka aman pastinya. Kalau kangen kan bisa hubungi mama kamu kalau mau bicara sama anak-anak kamu" ucap bapanya Kanaya. "Setiap nelpon pasti dimatiin sama anak-anak terlebih dahulu. Katanya nelponnya nanti, lagi asyik main sama nenek atau asyik main sama om Andre. Jadi berasa dicuekin anak sendiri aku pa" Kanaya merengek seperti anak kecil yang lagi di gangguin temannya dan sekarang mengadu ke orang tuanya. "Namanya juga anak kecil, masih asyik sama dunianya. Oh ya anak-anak nanyain kapan punya adek bayi?"ucap bapa Kanaya dengan sedikit tertawa karena tau pasti anaknya akan kesal jika ditanya masalah punya anak lagi. "Huh, alasan. Anak aku apa bapa aku yang bertanya? Udah punya cucu tiga masih pengen nambah lagi. Emang Kanaya pabriknya untuk mencetak anak apa? Kalau bicara sama bapa pasti bawaannya kesal deh" kini Kanaya terdengar seperti sedang merajuk. "Emang yang melahirkan itu pria apa wanita? Wanita kan, makanya pabrik buat cetak anak ya memang wanita. Kan bahan-bahan untuk bikin anak kan kamu sudah punya. Tinggal produksinya aja ditingkatkan lagi. Apa perlu bapa kirimin jamu kuat buat suami kamu biar topcer bikin kamu hamil" kata bapanya Kanaya diiringi tawanya yang mengejek Kanaya. Mendengar hal tersebut Kanaya menepok jidatnya seakan tidak percaya dengan omongan dari bapanya. "Bapa ini, sudah tua juga masih mikirin buat Kanaya nambah anak lagi. Capek tau pa" jawab Kanaya sekenanya karena tau dia pasti bakalan kalah kalau dia debat sama bapanya. "Ya memang harus, soalnya gini Nay setiap kali bapa ketemu teman-teman bapa atau kolega lainnya yang mereka tanyakan itu berapa banyak bapa punya cuma cucu. Bukan seberapa banyak isi saldo rekening bapa. Malu dong kalau masih punya tiga cucu bapa. Kemaren bapa ngomong ke teman bapa kalau kamu lagi hamil lagi" kata bapanya Kanaya dengan nada serius. Mendengar perkataan bapanya Kanaya benar-benar terkejut, bisa-bisanya mengatakan sesuatu hal yang belum terjadi. Hadeh gini amat ya punya bapa yang gengsian kalau punya cucu sedikit, wajarlah punya cucu sedikit kan punya anak cuma satu. "Salah bapa sendiri kenapa punya anak cuma satu, coba banyak pasti juga punya cucu yang banyak? " Kanaya yang tidak kalah sengit ingin memenangkan debat antara anak dan bapanya. "Mana bisa bapa punya anak lagi, kan mamamu sudah nggak punya rahim setelah kecelakaan waktu kamu masih kecil dulu. Bapa nggak mau punya anak dari wanita lain lagi, karena mamamu istri yang paling baik bagi bapa. Bapa nggak mau nyakitin hatinya, melihat dia tersenyum saat bermain dengan anak-anak kamu itu membuat hati bapa itu sungguh bahagia Nay. Makanya itu cepetan kamu hamil" curhat bapanya Kanaya yang sedikit membuat dirinya terharu karena memang bapanya adalah pria yang setia sama istri selama ini. "Tapi kan nggak harus Kanaya juga yang dituntut buat punya anak banyak pa"sekali ini Kanaya memprotea dengan keinginan bapanya yang ingin memiliki cucu baru. "Sakit pa kalau melahirkan itu, jadi masih sedikit ragu Kanaya mau hamil lagi. Mungkin nantilah" Kanaya mencoba negosiasi dengan bapanya berharap bapanya akan merubah keinginannya, karena Kanaya tau setiap apa yang diinginkan oleh bapanya itu harus didapatkan. "Kan cuma pas melahirkan, sesudahnya kan nggak sakit. Biasa nanti bapa bawakan air minum sama minyak bintang buat kamu setelah lahiran nanti. Dijamin seperti semula lagi bentuk tubuh kamu, buktinya kan tubuhmu tetap bagus seperti masih gadis dulu. Mirip mamamu zaman dia muda dulu"kata Bapa Kanaya sedikit tertawa kecil terkenang masa mudanya dulu. "Pokoknya untuk urusan hamil nanti dulu, yang paling penting Kanaya mau pulang dulu kesana. Kanaya sudah kangen banget sama anak-anak pa" ucap Kanaya sedikit memohon. "Kamu boleh pulang ke sini kecuali kamu harus sudah hamil. Kalau kamu belum hamil jangan harap bisa menemui bapa sama anak-anak lagi disini. Paham!" ucap bapanya tegas. "Iih bapa kok ngancam anak kok sampai segitunya.... " belum selesai lagi Kanaya berbicara sudah dipotong bapanya. "Pokoknya kamu nggak boleh pulang kesini kalau kamu belum hamil titik. Nggak ada negosiasi lagi. Mau ditaruh dimana muka bapa kalau kamu kesini nanti belum hamil, bapa sangat bahagia saat bercerita kalau kamu sudah menikah lagi dan sekarang sedang hamil muda. Makanya tinggal di Jakarta ikut sama suami kamu"terang bapanya Kanaya perihal ceritanya kepada teman sejawatnya, karena teman-teman seumurannya sudah memiliki banyak cucu sehingga membuat dirinya menjadi iri. Kanaya hanya bisa menepok jidatnya sekarang mendengar celoteham bapanya yang dia rasa kurang masuk akal. Apalagi bercerita tentang kehaluan bapanya yang mengatakan kalau dia sekarang sedang hamil. Tak ingin mendengar celotehan bapanya yang kurang masuk akal Kanaya mematikan panggilannya. Sekarang dia malah dirundung dilema tentang permintaan sang bapa, apakah dia harus menceritakan hal ini kepada Adrian atau tidak? Keinginan konyol sang bapa kini merusak suasana hatinya dan moodnya yang bahagia akan pergi keluar bersama Adrian telah buyar dalam sekejap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN