"Eh, wanita gila lepasin kepalaku. Mau kau bunuh aku ya. Dasar cewek brutal" teriak Adrian kesakitan karena rambutnya dijambak oleh Kanaya.
Kanaya pun melepaskan jambakannya di kepala Adrian. Dia merasa kesal dan marah karena merasa telah dilecehkan oleh Adrian. Tidak ada ampun bagi siapapun yang mencoba untuk menyentuh tubuhnya.
"Salah siapa coba? Kamu sendiri kan yang duluan melakukan pelecehan terhadapku. Wajar dong aku membela diri. Masih mending tidak ku patahkan lehermu" kata Kanaya dengan nada ngegas karena emosi pada sikap Adrian yang menurutnya menyebalkan.
"Dasar wanita sinting, nggak waras" ujar Adrian sambil memegangi kepalanya yang sakit. Kulit kepalanya berasa akan terlepas dari kepalanya.
"Tadikan sudah ku bilang. Kalau kamu ingin menyentuhku kamu harus menikahi aku. Tak akan aku biarkan siapa pun bisa menyentuh apalagi menikmati tubuhku kalau bukan haknya" kata Kanaya yang mulai reda emosinya dan duduk kembali di atas kasur.
Tony dan Tora hanya bisa menjadi penonton yang setia melihat perdebatan dua insan yang berbeda jenis dan karakter ini. Sungguh cerita yang memukau untuk para penonton.
"Kalau aku menikahimu apa aku boleh menyentuh tubuhmu? " tanya Adrian.
"Tentu, karena kamu suamiku. Itu hakmu dan kewajibanku untuk melayanimu. No marry no touch" ucap Kanaya tegas.
"Ok, deal. Kita akan menikah hari ini juga" kata Adrian lantang.
"Setelah jadi istriku. Awas kamu akan aku balas perbuatan kasarmu. Akan aku bikin kamu sengsara dan menderita" ujar Adrian.
"Tora panggilkan pak penghulu tadi, bawa dia kemari. Suruh dia untuk menikahkan kami berdua sekarang" teriak Adrian emosi karena terlalu kesal terhadap Kanaya.
Adrian pun keluar dari kamar tersebut dan pintu kamar dibanting begitu keras membuat Tony dan Kanaya terkejut. Mereka berdua saling pandang heran, Tony hanya mengangkat bahunya seolah tidak peduli.
"Aku ingin menelpon bapaku dulu" kata Kanaya ke Tony.
"Ok,silahkan.Aku keluar dulu" ujar Tony pergi meninggalkan Kanaya seorang diri kamar.
Kanaya pun memanggil nomer orang tuanya berulang kali namun tidak juga terhubung. Baik bapanya atau mamanya tidak ada yang mengangkat telpon darinya.
"Pada kemana sih mereka. Apa terlalu sibuk jadi tidak mengangkat telpon dariku?" gerutu Kanaya kesal.
Setelah sekian kali mencoba menelpon akhirnya panggilannya tersambung.
"Ada apa Nay?dari tadi kok nelpon terus" tanya bapanya Kanaya.
"Gimana ya kanaya mau ngejelasinnya. Ceritanya rumit pa. Jadi intinya gini, Kanaya minta izin mau nikah lagi" kata Kanaya merasa bingung mau menjelaskan ke bapanya perihal pernikahan yang mendadak seperti ini.
"Bagus tuh kalau kamu mau nikah lagi. Siapa calonnya? Tapi bapa yakin kok, pria pilihan kamu buka pria sembarangan. Secara kamu orangnya pemilih. Hebat dong calon mantu bapa bisa membuat anak bapa yang cantik ini mau berumah tangga lagi" jawab bapanya Kanaya dengan santai malah terkesan senang mendengar perihal pernikahan anaknya. Aneh memang.
"Bapa nggak mau nanya gitu kenapa jadi mendadak Kanaya mau menikah?q" tanya Kanaya yang mendapat respon bapanya yang begitu santai. Walaupun sebenarnya dia tau kalau bapanya sangat ingin melihat Kanaya menikah lagi.
"Nggak penting, yang penting kamu mau menikah lagi" jawab jujur bapanya yang terdengar senang.
"Kapan kamu nikahnya? " tanyanya ke Kanaya.
"Sebentar lagi" jawab Kanaya.
"Hah, dikira nanti. Maksudnya hari ini. Bukannya hari ini yang menikah Ades?" tanya bapa Kanaya lagi.
"Acara nikah Ades sudah selesai. Sekarang giliran Kanaya" jawabnya dengan nada sedikit ragu dan terdengar kesal.
"Wah hebat berarti kamu, pergi ke Jakarta untuk menjemput jodohmu" katanya dengan gelak tawa merasa lucu dengan takdir anaknya. Alih-alih merasa bingung dia malah merasa senang dan bahagia.
"Kalau begitu bapa restuin, bilang aja nanti ke pak penghulu diganti wali hakim saja dulu. Nanti sepulang dari Jakarta kamu nikah secara hukum negara lagi sama suamimu disini. Sekalian nanti bapa adakan pesta yang meriah" kata bapanya Kanaya.
"Memang bapa nggak mau tanya gitu siapa suami Kanaya? Orangnya bagaimana? Kerjaannya apa? " tanya Kanaya yang merasa heran dengan respon bapanya yang terlalu girang mendengar dia akan menikah lagi.
"Tidak terlalu penting. Kalau dia nggak punya uang, nanti biar bapa modalin buat usaha dia nanti. Dia buat kamu mau menikah lagi aja sudah bisa bapa bilang dia hebat menaklukan hatimu" ujar bapanya Kanaya tertawa bahagia mendengar putrinya mau menikah lagi.
Mama Kanaya yang mendengar suaminya yang sedari tadi terlihat senang dan tertawa begitu bahagia datang menghampiri untuk bertanya.
"Ada apa sih pa dari tadi ketawa terus kaya lagi bahagia banget? " tanya mama Kanaya kepada bapanya Kanaya yang terdengar jelas dalam panggilan suara oleh Kanaya.
"Ini loh, putri semata wayangmu yang super dingin dan anti laki-laki ini katanya mau menikah lagi" ucapnya senang.
"Seriusan. Sini mama mau bicara sama Kanaya dulu pa" kata mamanya Kanaya yang berbicara kepada sang suami.
"Nay, Naya" panggil mamanya.
"Iya ma. Kanaya disini" jawabnya.
"Kamu seriusan mau menikah lagi Nay? " tanya mamanya.
"Iya, Kanaya mau nikah sama orang gila. puas mama" ujarnya sedikit kesal sama kedua orang tuanya yang merasa senang mendengar kabar dia akan menikah lagi.
"Yeeee... Ditanya gitu kok sewot. Yang gila itu kamu, kasian sama calon suamimu itu beristri cewek gila super jutek dan dingin kaya kamu itu" ledek mamanya.
"Mama salut sama dia yang bisa buat kamu mau menikah lagi. Benar-benar pria yang luar biasa berarti dia" ujar mamanya yang membuat dia jadi lebih frustasi.
Kedua orang tuanya kenapa begitu girang sekali mendengar dia mau menikah lagi. Bukannya diinterogasi kenapa mendadak akan menikah? Ini mereka malah tertawa bahagia dalam derita yang akan Kanaya hadapi.
"Ma, udah dulu ya. Kanaya tutup dulu telponnya" ujar Kanaya yang tidak ingin lagi mendengar ocehan cerewet dari mamanya lagi. Menyebalkan memang tapi seperti itulah orang tua Kanaya. Padahal baru dua tahun Kanaya menyandang status janda tapi orang tuanya merasa itu terlalu berat bagi Kanaya. Padahal Kanaya sangat menikmati hidupnya walaupun tanpa suami lagi.
"Tunggu dulu Nay, nanti kalau pulang kesini jangan lupa bawa oleh-oleh cucu baru buat mama ya. Tiga cucu masih kurang buat mama" ledeknya lagi terhadap putrinya itu. Kanaya menjadi benar-benar dibuat pusing oleh kedua orang tuanya yang terdengar antusias sekali dengan berita pernikahan dirinya yang mendadak ini.
"Dasar mama stress" kata Kanaya mematikan telponnya.
Kanaya merasa telah terjebak dalam permainan dan perkataannya sendiri yang membuatnya akan menikah dengan Adrian sebentar lagi. Ya Allah apakah semua ini cobaan atau anugerah yang akan saya jalani? Tanyanya dalam hati kepada sang pemilik hidupnya.