Penghulu Marah

1428 Kata
Kanaya merasa telah melakukan hal yang bodoh dengan minta dinikahi Adrian agar dia bisa menyentuhnya malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Sedangkan kedua orang tuanya sangat bahagia dan mendukung dia menikah lagi. Memang sedikit gesrek mungkin kepala bapa sama mama gara-gara tidak peduli sama anaknya malah minta cucu lagi. "Akhhhh...... " teriak Kanaya merasa frustasi. Ini adalah hal konyol pertama kalinya dalam hidup Kanaya mengambil keputusan tanpa berpikir ke depannya. Bagaimana masa depan dia nantinya? Aduh... "Akan ku pastikan hidup Adrian tidak tenang dan bahagia saat bersamaku, akan aku buat di jengah dan secepatnya menyuruhku menjauh pergi dari hidupnya" ucap Kanaya dalam hati bertekad untuk membuat Adrian merasa kesal terhadapnya. "Yakin aku pasti bisa" ucapnya memberi semangat kepada dirinya. "Ya Allah, jahat banget ya aku kalau begini. Apalagi seolah-olah aku akan mempermainkan hubungan sebuah pernikahan yang sakral ini nantinya. Ya Allah tuntun dan bimbing aku dalam setiap langkahku, berikan jalan yang terbaik buat hidup hambamu ini ya Allah" ucap Kanaya dalam hati seolah tersadar akan niat buruknya terhadap Adrian nanti jika dia jadi suaminya. Benar-benar menjadi sebuah dilema yang rumit bagi Kanaya sekarang ini. Sudah waktu dzuhur, sebelum habis Kanaya ingin menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim dengan melangkah keluar kamar untuk mencari tempat beribadah di dalam hotel ini. Disaat keluar kamar hendak mencari mushala Tora datang melangkah menghampiri Kanaya. "Neng mau kemana? Nanti bos Adrian marah kalau neng kabur" ujar Tora yang berbicara lembut kepada Kanaya. Mungkin dia sedikit merasa takut jika dia mencari masalah dengan Kanaya, bisa-bisa asetnya tidak bisa berdiri lagi. Ingat Tora saat kejadian di dalam kamar tadi. "Mushalanya dimana ya bang. Sudah waktunya shalat dzuhur nih? " tanya Kanaya kepada Tora. "Eh, mau shalat ya neng. Sini biar saya antar, saya jagain shalatnya sekalian neng, biar tidak ada yang mengganggu shalat neng bos nanti" kata Tora sambil terkekeh. "Ah lebay. Memangnya bang Tora nggak ikut shalat juga. Biar sekalian shalatnya barengan" ujar Kanaya. "Saya sudah shalat neng tadi, barusan datang dari mushala. Mushalanya diujung sebelah kiri ini" tunjuk Tora sambil berjalan mengantarkan Kanaya untuk shalat. "Nggak bohong kan kalau sudah shalat. Nggak baik lo bang" kata Kanaya seakan tak percaya dengan perkataan Tora. "Seriusan sudah neng. Itu juga didalam ada bos Adrian sama bos Tony mau shalat juga. Kalau mau kerja sama bos Adrian itu kudu musti rajin shalat neng. Kalau nggak shalat dapat sepuluh pukulan dipantat sama potong gaji sepuluh persen" ucap Tora menjelaskan tentang peraturan bekerja terhadap Adrian. Kanaya yang mendengar seakan tidak percaya pria yang menyebalkan itu tidak terlalu buruk. Kanaya pun mengambil wudhu, saat akan masuk mushala dia berpapasan dengan Adrian yang keluar dari mushala menuju tempat wudhu. "Kamu mau shalat? " tanya Adrian ramah. Dijawab anggukan oleh Kanaya. "Mukenanya ada didalam lemari sana. Kalau mau berjamaah nanti biar aku yang jadi imamnya" ujar Adrian lembut. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Serta tatapan matanya juga lebih terlihat teduh, tidak ada tatapan mendiskriminasi. "Baiklah aku tunggu didalam ya" Kanaya melangkah masuk ke dalam dan mengambil satu mukena dari dalam lemari. Tony terlihat sedang khusyuk membaca sebuah buku do'a. Mungkin dia sudah selesai shalat, ujar Kanaya membatin. Saat setelah selesai melaksanakan shalat sunah Adrian masuk ke dalam mushola dan menatapnya begitu dalam. Entah kenapa Kanaya merasa tatapan Adrian kali ini tampak begitu berbeda. Ada getaran-getaran menggelitik dihatinya hanya karena saling pandang tadi. Setelah Adrian datang Tony langsung mengumandangkan adzan dan iqomat. Tanpa menoleh ke belakang kalau Kanaya sekarang berada dishaf menjadi makmum. Saat mendengar Adrian memulai perannya menjadi seorang imam Kanaya tak menyangka jika lantunan ayat-ayat suci yang dibaca oleh Adrian terdengar begitu merdu. Kanaya merasa khusyuk shalat berjamaah yang di imami oleh Adrian si pria menyebalkan. Setelah selesai shalat Tony terkejut melihat Kanaya ternyata shalat berjamaah bersama mereka. "Oh,kamu tadi shalat juga ya?" tanya Tony dan diangguki oleh Kanaya yang menyatakan iya. "Bagus" kata Tony sambil menunjukkan jempolnya. "Aku mau kembali ke kamar dulu. Permisi, Assalamu'alaikum" ucap Kanaya lembut. Ucapan lembut Kanaya dan sopan tingkahnya serta sifatnya yang terlihat begitu taat beribadah membuat hati Adrian merasa bahagia jikalau dia benar-benar akan menikahi wanita hebat tersebut. "Aku akan memiliki dirimu selamanya Kanaya" ucap Adrian dalam hatinya. Memang sedari pertama menatap matanya Adrian merasakan getaran yang belum pernah dia rasakan sebelumnya terhadap wanita lain. Dia mampu membuat hati Adrian berbunga-bunga serta bersiul kegirangan seakan meriah seperti perayaan tahun baru ini. Tora yang menunggu Kanaya dari tadi mengikuti Kanaya kembali ke kamar. Kanaya akan menunggu prosesi ijab kabul dimana Adrian sebentar lagi akan menjadi suaminya. Sudahlah, semuanya sudah terlambat semoga dia adalah suami dan imam yang baik buat diri Kanaya. "Dia terlihat sangat berkharisma saat jadi imam tadi" ucap Kanaya dalam hati sambil membayangkan sosok Adrian untuk pertama kalinya menjadi imam shalatnya. Wajahnya merona merah seakan seperti seorang remaja yang baru saja bertemu dengan idolanya. Seperti itulah mungkin raut wajahnya. Setibanya di kamar Tora menemani Kanaya kembali agar tak seorang diri kamar. Walaupun ada sedikit rasa cemas pada di Tora kalau Kanaya akan kabur jika dia berubah pikiran. "Bang, boleh nanya nggak? " tanya Kanaya kepada Tora. "Iya neng mau nanya apa? " jawab Tora. "Nggak ada makan siang kah bang dihotel mewah ini? " tanya Kanaya yang memang sedari tadi menahan lapar. Sudah sekitar tiga jam berada disini, ya tentu pasti haus dan lapar. Apalagi tenaganya begitu banyak terkuras karena berkelahi dan beradu mulut dengan Adrian tadi. "Ya ampun neng, sampai lupa. Jangan bilang sama bos Adrian ya kalau saya lupa menawari neng Kanaya makan" kata Tora sambil melipat kedua tangannya memohon agar tidak diadukan kepada Adrian karena kelalaiannya. Tora pun memesan makanan lewat sambungan telpon agar para pelayan hotel nanti mengantarkan makanan ke kamar khusus milik Adrian. "Bang Tora sudah lama ikut Adrian dan Tony? " tanya Kanaya mencoba mengetahui tentang sosok Adrian. "Sudah lama neng. Sejak bos Adrian sekolah SMA dulu" jawabnya. "Bos Adrian itu orangnya baik neng, pertama kenal dulu waktu saya ketahuan nyopet sama bos Adrian terus mau dihajar massa. Nah bos Adrian yang nolongin. Sayakan waktu itu baru keluar dari penjara karena kasus curanmor. Saya dijebak oleh teman saya, saya dititipin motor sama dia. Katanya milik sepupunya eh nggak taunya barang curian. Akhirnya saya dikenakan pasal penadah barang curian"ujar bang Tora mulai bercerita. Kanaya pun mendengarkan dengan seksama. "Jadi bos Adrian nanya kenapa saya mencopet? Saya ceritakan tuh tentang kehidupan saya. Saya bilang, tidak seorang pun yang percaya dan mau memberikan pekerjaan kepada dirinya yang mantan napi ini. Terus dia tawarin buat kerja sama dia aja. Saya ya kaget, masa iya anak SMA bisa ngasih kerjaan buat saya. Walau sedikit ragu sih awalnya, akhirnya saya mau ikut sama anak SMA yang terlihat polos itu pulang untuk melihat kerjaan apa yang dia berikan". "Ternyata dia meminta ayahnya menjadikan saya bodyguard khusus nya. Sebenarnya sudah ada beberapa calon bodyguard khusus buat bos Adrian tapi dia nggak mau. Entah kenapa dia mau saya? Sejak saat itu saya sangat menghormati dia, dia bukan hanya sekedar seorang bos melainkan sudah seperti adik bagi saya" ujar Tora mengingat momen pertemuan nya dengan Adrian yang dia rasa begitu berkesan. Ada panggilan telpon masuk di handphone Tora, rupanya kawannya mengabarkan kalau pak penghulu sudah datang dan akan segera dibawa keatas. "Neng penghulunya sudah datang, neng bersiap aja dulu ya. Tapi neng tetap cantik biar tanpa make up lagi wajahnya" ujar Tora mengatakan sejujurnya, tapi Kanaya merasakan hal yang berbeda. Dia yakin sekarang make upnya sudah hilang karena dia cuci muka sebelum mengambil air wudhu. Pak penghulu datang bersama Adrian, Tony, beserta Iwan masuk ke dalam kamar kembali. Penghulu yang baru saja menikahkan Ades dan Dio sebelumnya di kamar ini malah akan menikahkan seorang lagi di kamar yang penuh misteri dan drama. "Kalian ini bolak balik menjemput saya untuk menikahkan orang lagi disini, ditempat ini. Sebenarnya ada apa sih hah? Pernikahan itu bukan mainan, pernikahan itu sakral. Jangan dibuat sebagai taruhan atau pun kesepakatan" kata pak penghulu marah. Seakan-akan dia mengetahui kejadian sebelum kesepakatan menikah di setujui oleh Adrian. "Cepat siapa yang mau menikah? Biar saya nikahkan, cape saya bolak balik kesini. Jangan mempermainkan saya lagi ya. Saya ini mau istirahat. Selama satu minggu ini full job saya menikahkan orang. Jadi saya benar-benar ingin sekali istirahat.Jadi saya harap pernikahan ini terakhir untuk saya lakukan hari ini disini" ucap pak penghulu curhat tentang kesedihannya. "Nikah itu adalah sebuah janji, pernikahan adalah sebuah ikatan. Jadi saya mohon untuk yang mau menikah saat ini, keinginan itu murni keinginan kalian berdua dalam hati karena ingin membina rumah tangga sakinah, mawaddah, warrahmah"jelas pak penghulu kepada semua yang ada di dalam kamar. Walaupun sebenarnya dia tidak tahu siapa yang akan menikah. Namun sudah bisa dipastikan kalau calon wanitanya adalah Kanaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN