"Siapa yang mau nikah? " tanya si pak penghulu kepada para pria yang ada di kamar. Adrian menghela nafas panjang dan mengangkat tangannya. Dia pun melangkah mendekat ke arah pak penghulu.
"Apa mas kawinnya? " tanya si pak penghulu to the point tidak bertele-tele.
Adrian bingung mau memberikan mas kawin apa? Nyatanya dia tidak mempersiapkan apapun. Uang satu juta,seratus juta, satu milyar, sepertinya dia tidak butuh. Tiba-tiba dia ingat tentang cincin berlian yang rencananya akan dia berikan kepada Ayu untuk melamarnya nanti. Ada rasa ingin menjadikan cincin tersebut menjadi mas kawin untuk Kanaya,karena ada rasa pesimis jika dia tidak akan bertemu lagi dengan Ayu cinta pertamanya. Namun ada pemikiran enggan melepaskan cincin itu untuk disematkan dijari Kanaya. Lagipula dijarinya juga ada cincin berlian.
"Mas kawinnya apa? Mau nikah tapi tidak ada persiapan apapun? Gimana sih kamu ini, ini seriusan mau nikah apa tidak? Nikahan yang pertama tadi juga bingung mas kawinnya. Padahal pakaiannya terlihat siap mau nikah. Nah kalian berdua, seperti dadakan begini nikahnya.Benar dadakan? "tanya pak penghulu dengan nada yang sedikit emosi. Beliau benar-benar merasa mengantuk dan ingin sekali istirahat. Maklum pak penghulu nya masih muda, jadi kurang sabaran meladeni pasangan yang sedikit kacau seperti Adrian. Kalau dilihat dari wajahnya si pak penghulu mungkin umurnya berkisar hampir empat puluh tahunan. Bisa dibilang mungkin masih berumur kepala tiga puluhan.
"Tidak juga pak, hanya lebih baik dipercepat saya. Mas kawinnya sudah ada, saya cuma mengingat dimana menaruh cincinnya. Tunggu saya ambil di dalam laci dulu" Adrian pun melangkah menuju lemari di samping tempat tidurnya, di dalam lemari tersebut ada sebuah laci kecil dan Adrian mengambil sebuah kotak kecil beludru berwarna merah. Dia pun melangkah menuju ke pak penghulu.
"Langsung saja kita adakan pernikahan siri kalian, karena saya benar-benar ingin istirahat" ucap pak penghulu sambil menutup mulutnya karena sedari tadi dia menguap tiada hentinya.
"Baik pa. Habis ini sebaiknya bapak tidak usah pulang ke rumah" kata Adrian.
"Kamu mau melarang saya pulang? Terus sesudah menikahkan kalian, kamu mau menyuruh menikahkan siapa lagi? " jawab si pak penghulu kesal.
"Eh... Maksud saya tidak begitu pak. Bapak habis menikahkan saya dengan calon istri saya ini nanti, bapak istirahat saja di hotel ini. Biar nanti anak buah saya yang akan melayani kebutuhan dan keperluan bapak nanti" jelas Adrian disambut senyum girang oleh si pak penghulu.
"Nah begitu dong, kalau seperti itu saya bisa istirahat dengan tenang. Kalau di rumah kurang tenang saya istirahat. Selain anak saya yang ribut bermain, mertua saya juga super cerewet. Jika saya istirahat mulutnya itu tidak pernah berhenti mengomel. Saya dibilang malas kerja lah, tidak tanggungjawab sama anak istri lah, suka keluyuran nggak jelas. Kasian saya kadang sama istri saya,kaya tekanan batin dia kalau diomeli sama ibunya"curcol si pak penghulu tiba-tiba.
"Tuh kan, jadinya saya cerita kekesalan saya" kata pak penghulu lagi sambil cengar cengir malu telah keceplosan membuka masalah rumah tangganya.
"Lebih baik diceritakan pak. Biar hati sedikit lega" ucap Tora.
"Ya sudah kita laksanakan ijab kabulnya sekarang" kata si pak penghulu.
"Nama yang mau menikah siapa? " tanyanya ke Kanaya.
"Adrian Rizaldy Anggara" jawab Adrian.
"Perempuan nya? " tanya pak penghulu.
"Kanaya Febriyanti Rahayu binti Hendri Alfiandi pak" jawab Kanaya.
"Kalian duduk berdampingan disini" suruh pak penghulu.
"Saya mulai ya" katanya sekali lagi mendapat anggukan dari Adrian dan Kanaya.
"Kalian harus ingat dalam menjalin rumah tangga kalian harus saling sayang menyayangi dan saling mendukung satu sama lain serta kepercayaan itu nomer satu untuk kelanggengan rumah tangga kalian. Selain itu juga kalian harus tau seperti apa hak dan kewajiban kalian masing-masing" kata si pak penghulu memberikan wejangan.
"Saya mengerti dan insyaallah saya tidak akan lalai tanggungjawab sebagai seorang suami" kata Adrian yang merasa mulai gugup karena sebentar lagi dia akan mengucapkan ijab kabul dan mengubah status singlenya menjadi seorang suami
"Bagus lah kalau kamu mengerti" kata pak penghulu santai.
"Kita mulai proses ijab kabulnya" ucapnya lagi
Adrian dan pak penghulu saling berjabat tangan, suasana dalam ruangan kamar seketika hening. Saksi-saksi yang menyaksikan pernikahan tersebut juga menunggu prosesi ijab kabul khitmat begitu.
Tony, Tora, dan Iwan yang jadi saksi pernikahan Adrian dan Kanaya. Tak lupa bagi Tony untuk merekam momen berharga ini sebagai kenangan untuk Adrian dan Kanaya ingat.
"Adrian Rizaldy Anggara, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan seorang wanita bernama Kanaya Febriyanti Rahayu binti Hendri Alfiandi dengan mas kawin satu buah cincin berlian seberat lima gram di bayar tunai"ucap pak penghulu lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Febriyanti Rahayu binti Hendri Afiandi dengan mas kawin cincin berlian seberat lima gram dibayar tunai" jawab Adrian dengan mengatakan secara lantang dan lancar dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, sah? " tanya pak penghulu kepada saksi yang duduk disamping menyaksikan prosesi ijab kabul Adrian.
"Sah..... "teriak ke tiganya serempak dan tepuk tangan riuh dari Tora dan Iwan.
"Alhamdulillah" ucap pak penghulu. Kemudian ditutup dengan do'a-do'a yang dibacakan si pak penghulu.
Setelah semuanya selesai Iwan mengantarkan pak penghulu ke kamar yang sudah disiapkan untuknya beristirahat. Adrian memberikan bonus kepada pak penghulu untuk beristirahat selama satu minggu secara gratis disambut kegirangan olehnya. Tak lupa dia bertanya apakah boleh membawa istri dan anaknya kemari? Tentu saja permintaan sepele seperti itu diizinkan oleh Adrian. Tak lupa dia juga mentransfer sejumlah uang dengan nominal yang membuat syok si penghulu itu.
Dengan ini sah sudah mereka menjadi suami istri. Status baru yang disandang oleh keduanya. Kanaya sudah melepas status jandanya dan Adrian melepas status singlenya. Namun Adrian malah terlihat malu-malu terhadap Kanaya setelah sah menjadi suaminya dan dia memilih keluar bersama Tony dan Tora. Namun Kanaya meminta Tora untuk menemaninya sebentar karena dia ingin meminta tolong sesuatu. Tora pun diizinkan untuk tinggal di kamar itu, padahal dia merasa tidak nyaman karena sekarang Kanaya sudah resmi menjadi istri bosnya jadi tidak perlu dijaga atau takut dia akan kabur. Namun ini permintaan Kanaya jadi dia menurut saja, karena sekarang Kanaya otomatis sudah menjadi bosnya. Padahal tujuan Kanaya menyuruh Tora untuk tetap tinggal dia ingin mengulik lebih dalam lagi tentang kehidupan Adrian sebelum bertemu dengannya.
"Bang cerita lagi dong tentang Adrian" kata Kanaya yang masih penasaran dengan Adrian.
"Neng mau tau cerita tentang apa ya? " tanyanya bingung mau bercerita tentang Bosnya itu.
"Bukannya dia dikatakan seorang yang kejam dan dingin. Tapi kok beda ya" tanyanya yang bingung dengan karakter Adrian yang sebelumnya dia tau menyeramkan.
"Oh itu, memang bos itu tegas. Kalau sudah marah memang tidak bisa dikontrol. Apalagi kalau sudah berkelahi pasti lawannya babak belur" jawabnya.
"Dia itu sudah beristri belum? Takutnya aku malah menikah suami orang. Lupa tadi bertanya sama Adrian. Sesudah ijab kabul tadi baru keingatan bang" tanya Kanaya yang merasa dirinya sudah ceroboh.
"Tenang neng, bos Adrian masih single. Walaupun sudah tidak perjaka tingting" katanya sambil sedikit tertawa.
"Maksudnya, dia suka berzina? " selidik Kanaya.
"Tidak juga. Dulu dia pernah sengaja dijebak oleh seorang perempuan dengan mencampur minumannya dengan obat perangsang. Hingga akhirnya bos pun melakukan hubungan itu kepada perempuan yang menjebaknya. Namun tanpa ampun bos Adrian tidak melepaskan si wanita itu. Dia dikurung selama satu bulan untuk dijadikan pemuas nafsu birahinya dan setelah bosan di menyuruh yang lainnya untuk memakai wanita itu" kata Tora menceritakan tentang Adrian. Ada rasa sedikit pilu di hati Kanaya saat mendengar kenyataan ini.
"Apa bang Tora juga ikut meniduri perempuan itu? " tanyanya sedikit ragu.
"Siapa sih neng yang menolak kalau soal begituan? " jawabnya malu dengan memberikan pertanyaan yang bisa dikatakan bahwa jawaban yang harusnya dia katakan adalah iya.
"Terus nasib wanita itu bagaimana? " tanya Kanaya.
"Dia pergi keluar negeri karena merasa malu telah menjebak Adrian dan disiksa seperti itu oleh Adrian. Tapi sebelum dia pergi jauh, sudah dipastikan kalau dia tidak dalam keadaan hamil. Takutnya nanti dia akan datang dan mengatakan kalau dia hamil anak bos" ucap Tora. Kanaya sedikti bingung mau bertanya apalagi, karena takut dia merasa lebih kecewa terhadap Adrian dan tak sanggup menerima keburukkan dalam diri Adrian.
"Tenang saja neng, sesudah kejadian itu. Bos lebih menutup diri terhadap wanita dan juga selalu waspada terhadap rekan kerjanya. Takutnya ada yang mencoba menjebaknya seperti itu" Tora mencoba menjelaskan karena melihat wajah Kanaya yang sedikit berubah setelah mendengar ceritanya tadi.
"Tapi neng harus janji ya, neng jangan cerita ke bos kalau saya cerita masalah ini. Ini menyangkut masa kelamnya bos Adrian. Sebenarnya dia itu pria yang baik neng, tapi ya gara-gara si Ivanka licik itu bos jadi berubah dingin" kata Tora.
"Tenang, pasti aman sama saya. Bang Tora juga jangan bilang-bilang kalau saya bertanya tentang Adrian. Nanti kalau dia nanyain bang Tora bilang aja saya minta tolong dianterin pulang sama bang Tora buat ngambil baju-baju saya sama perlengkapan saya di rumah Ades. Ok"ujar Kanaya sambil memberikan kode bulat ditangannya. Dibalas juga oleh Tora dengan membentuk kode bulat ditangannya. Mereka berdua langsung bisa dekat seperti sudah lama saling kenal. Ternyata Tora yang terlihat garang dan sadis itu bisa diajak kompromi dan asyik diajak ngobrol.
Tora pun meminta izin untuk keluar meninggalkan Kanaya karena dia merasa tidak enak jika terlalu lama bersama istri bosnya ini. Walaupun sejujurnya dia sangat senang mengobrol dengan Kanaya, dia sama persis seperti mamanya Adrian. Melihat sosok Kanaya seperti menyaksikan wanita superhero dikeluarga Aston. Ya, Aston hotel adalah milik mamanya Adrian warisan dari keluarganya kemudian diserahkan kepada Adrian untuk mengelolanya.