Adrian melihat kedatangan Tora yang mencoba berjalan menuju ke arah dia yang sedang duduk santai di restoran hotel bersama Tony.
"Apa yang kalian bicarakan didalam kamar? Apa kalian membicarakan aku? " tanya Adrian mencoba menyelidiki.
"Ah, itu bos. Dia... " bingung Tora akan memanggil Kanaya dengan sebutan apa, secara sekarang dia sudah jadi istri bosnya.
"Dia kenapa? " tanya Adrian sekali lagi.
"Bos, kalau manggil neng Kanaya sebaiknya saya manggilnya apa? Kan masa iya manggilnya neng terus" kata Tora yang sedikit bingung dengan panggilan untuk diri Kanaya.
"Apa kamu manggil dia neng?" Adrian melotot ke arah Tora dan dia pun mengangguk.
"Astaga. Kenapa jadi panggil neng sih. Kan bisa kamu manggil dia dengan sebutan nona" kata Adrian sedikit kesal merasa bodyguardnya ini agak kurang sopan manggil Kanaya neng.
"Baik bos, saya akan panggil dengan sebutan nona Kanaya" jawab Tora tegas.
"Back to the topic. Apa yang bicarakan? " tanya Adrian lagi.
"Owh itu. Neng, eh salah. Nona Kanaya minta diantar buat ngambil bajunya di rumah temannya yang bernama Ades tadi bos" jawab Tora dengan mantap. Tony memberikan kode ke Tora, apakah dia mau mencicipi kue yang sedang di santapnya?.
Tora pun langsung duduk disamping Tony, dan mengambil piring yang berada dj hadapan Tony.
"Pas banget nih bos Tony, lagi laper. Pengertian banget jadi bos sampingan" kekehnya sambil memasukan sesendok kue ke dalam mulutnya.
"Apa maksudmu? Apa kamu pikir aku kurang pengertian sama kamu Tora? " kata Adrian sedikit emosi tersinggung dengan perkataan Tora.
"Yaelah bos, baperan amat sih. Jangan marah-marah ntar nggak jadi lo malam pertamanya" ejek Tora. Terkadang dia takut membuat Adrian marah. Tapi ketika Adrian marah, malah dia akan sangat senang mengejeknya. Apalagi jika bersama Tony, maka berdua yang akan membully Adrian habis-habisan.
Adrian mulai merasa jengkel dengan sikap Tora, dan melihat ke arah Tony yang senyam senyum nggak jelas apa maksudnya. Adrian malah merasa dia akan tambah stress jika selalu bersama dengan duo evil laknat ini. Dia pun berlalu pergi meninggalkan mereka berdua yang malah asyik mentertawakan Adrian.
"Aku rasa mereka pasangan yang sangat cocok" ujar Tony.
"Menurut saya juga begitu, terlihat sekali kalau bos Adrian hanya bisa lembut dan takut dengan nona Kanaya. Nona Kanaya persis seperti nyonya besar" ujar Tora memberikan pendapat.
"Tepat sekali" kata Tony sambil menjentikkan jarinya.
****
Adrian masuk ke dalam kamar dan melihat Kanaya yang tengah asyik memainkan ponselnya. Wanita itu tidak menghiraukan kedatangan Adrian dan tetap khusyuk menatap ponselnya.
"Katanya kamu ingin minta ditemani mengambil baju-bajumu di tempat kawanmu itu tadi" ujar Adrian yang memulai pembicaraan di antara mereka.
"Iya. Memangnya kenapa? " tanya Kanaya.
"Tidak usah diambil. Beli yang baru saja" kata Adrian dengan cuek sambil membuka dan melepas jasnya dan meletakkannya di sofa.
"Nggak mau, aku mau ambil bajuku saja" ucap Kanaya.
"Sekarang kita keluar untuk membeli pakaian buatmu" ujar Adrian ingin mengajak Kanaya jalan-jalan.
"Lagi malas mau keluar" jawab Kanaya. Kanaya benar-benar membuat Adrian emosi dan merasa ingin sekali memberikan pelajaran yang bisa membuatnya tunduk terhadap dirinya.
"Kamu bilang ingin mengambil baju dirumah temanmu, diajak keluar jalan beli baju kamu bilang malas" kata Adrian mulai kesal.
"Kamu maunya apa? Aku nggak mau tau sekarang kita pergi berbelanja baju kamu" ucap Adrian memerintah.
"Ya sudah, aku beli online saja. Aku lagi nggak mau keluar. Titik" ucap Kanaya tegas.
"Nih pakai kartu kreditku" ujar Adrian meletakkan kartu kreditnya disamping Kanaya.
"Aku bisa beli sendiri. Aku kan punya uang" kata Kanaya agar Adrian tidak bisa meremehkan dia.
"Kamu itu istriku, sudah tanggung jawabku memenuhi kebutuhan dan keperluan dirimu" kata Adrian.
"Simpan kartunya dan pakailah" ucap Adrian lagi.
"Aku nggak butuh, aku juga punya di dompetku tapi sayang aku lupa bawa dompet" ujar Kanaya tak ingin Adrian pamer kalau dia punya kartu kredit.
"Kamu bisa nggak sih. Sedikit saja menghormatiku sebagai suamimu. Kamu ini ya selalu membantah dari tadi" kata Adrian yang sudah kesal.
"Aku mau mandi sekarang, setelah itu kamu harus melakukan kewajibanmu sebagai istriku. Paham" kata Adrian tegas dan berpaling melangkah menuju kamar mandi. Namun ada guratan senyum kebahagiaan karena dia bisa menakuti Kanaya.
Kanaya pun memesan beberapa baju dari aplikasi oranye di handphonenya. Namun dia tidak menggunakan kartu kredit Adrian. Dia memakai uangnya sendiri untuk membeli bajunya. Serta membeli beberapa keperluan dirinya sebagai seorang perempuan.
Saat Adrian keluar dari kamar mandi, dia melihat Kanaya sudah tertidur dengan pulas. Dia mengira Kanaya hanya pura-pura tidur untuk menghindar darinya. Namun ternyata dia benar-benar tertidur. Adrian begitu terpana melihat wajah Kanaya yang cantik, dengan polesan make up yang sudah luntur namun dia tetap masih terlihat cantik. Wanita gila ini sungguh membuat dia merasa tidak bisa merasakan yang namanya untuk bersikap dingin dan angkuh terhadap diri Kanaya. Malah sebaliknya, dia merasa tidak berkutik. Sihir apa yang kamu gunakan terhadap diriku Kanaya, lirihnya berbisik di telinga Kanaya.
Saat Adrian ingin mencium bibir Kanaya, bunyi ketukan pintu kamar menggagalkan keinginannya. Pelayan kamar hotel yang datang untuk memberikan beberapa paketan atas nama dirinya. Rupanya pesanan online Kanaya, tapi dia menggunakan nama Adrian sebagai penerima paketannya. Adrian tampak ragu ingin membuka semua paketan yang datang. Namun dia penasaran baju-baju seperti apa yang dipesan oleh istrinya ini. Satu per satu paketan itu dibukanya. Paketan pertama yang dibukanya berisikan pakaian dalam. Bra dan celana dalamnya. Adrian pun melirik ke arah Kanaya yang sedang tidur. "Lumayan besar ukuran miliknya" gumamnya sambil tersenyum.
Paket kedua yang dibukanya ternyata perlengkapan mandi, perlengkapan perawatan wajahnya serta parfumnya. Adrian menyemprotkan parfum Kanaya di pergelangan tangannya dan menghirup aromanya, dia sangat menyukai aroma parfum khas kanaya itu. "Wanita yang elegan" hanya itulah kata yang lumayan cocok buat dirinya, selain kata wanita gila yang kasar.
Adrian pun membuka paketan yang ke tiga, ternyata beberapa lembar baju daster. Hah, daster. Dia makai baju daster, kenapa tidak membeli baju dress mini, atau baju-baju yang kebanyakan wanita muda seumuran dia suka untuk memakainya. Pikiran Adrian pun mulai traveling dan membayangkan Kanaya memakai daster tersebut. Tidak terlalu buruk juga motif dasternya. Ada beberapa yang terlihat imut motif-motifnya. Pasti dia akan terlihat cantik memakainya. Adrian melihat total belanja yang dikeluarkan istrinya itu, ternyata hanya menghabiskan uang sebesar tiga ratus empat puluh ribu. Baju daster yang dia dapatkan sebanyak sepuluh lembar. Wow, semurah itu. Adrian pun membuka paketan yang ke empat, ternyata empat pasang baju tidur. Adrian pun tak sanggup untuk menahan tawa, dia merasa aneh dengan selera wanita pemarah yang telah jadi istrinya ini. Tidak ada satu pun pakaian bermerk mahal yang dibelinya. Hanya pakaian rumahan biasa yang sering dipakai orang-orang biasa. Dia punya uang banyak tapi tidak suka berbelanja mewah. Patut dipertahankan, Adrian pun mencek kartu kredit yang dia berikan kepada Kanaya tadi. Ternyata dia berbelanja menggunakan uangnya sendiri. Dasar wanita keras kepala. Adrian pun menghitung semua belanjaan online Kanaya. Semuanya tidak sampai dua juta rupiah. Hanya perlengkapan khusus wanita miliknya yang sedikit mahal. Tapi bagi Adrian itu tidaklah mahal sama sekali. Wanita kaya raya ini sungguh sederhana sekali.
Adrian mengambil handphonenya dan memanggil nomer sekretarisnya.
"Halo Amanda, saya ingin meminta kamu untuk membelikan satu paket perlengkapan buat shalat untuk wanita. Karena saya ingin memberikan hadiah untuk seseorang" kata Adrian.
"Oh, satu lagi. Belikan beberapa baju casual wanita ya. Saya akan transfer uangnya ke rekeningmu. Belikan sekarang juga, setelah itu antar ke Aston Hotel dan serahkan saja nanti kepada Tora" kata Adrian singkat kepada sekretaris nya kemudian menutup panggilannya.
Ketika waktu ashar sudah tiba, Adrian pun melaksanakan shalat terlebih dahulu. Dia masih tidak tega untuk membangunkan Kanaya untuk shalat. Nanti sajalah setelah mukenanya datang saja dia dibangunkan. Tanpa Adrian sadari, ternyata Kanaya sudah bangun dan menatap Adrian yang sedang shalat. Memandanginya dari belakang membuat detak jantung Kanaya berdebar seakan tak percaya kalau suami barunya ini ternyata rajin shalat. Inilah takdir, siapa sangka dia akan mendapatkan suami dadakan yang tidak terlalu buruk juga pikirnya. Kanaya pun melirik ke arah tumpukan baju di sofa yang berserakan. Baju-baju pesanannya sudah dibuka oleh Adrian. Dasar pria tidak tahu sopan santun,kemudian dia teringat akan pakaian dalam serta bra yang dia beli tadi. Spontan mukanya langsung memerah karena merasa malu dan memikirkan pasti Adrian sudah melihatnya.
"Sial, kenapa juga aku tadi ketiduran? Dia bongkar semua paketanku lagi" ucapnya dalam hati.
Saat Adrian selesai shalat dia langsung berpaling ke arah Kanaya dan dia terkejut saat melihat Kanaya sudah bangun dan tengah menatapnya. Adrian pun jadi seperti salah tingkah dipandangi oleh Kanaya seperti itu.
"Oh, sudah bangun kamu rupanya. Sebenarnya aku akan membangunkan kamu selesai shalat" kata Adrian untuk mengurangi rasa canggungnya.
"Kenapa kamu bongkar paketanku? " tanya Kanaya dingin.
"Owh, aku cuma mau menceknya saja" jawab Adrian dengan entengnya.
"Tapi itu milikku dan juga privacyku" kata Kanaya.
"Kenapa kamu marah? Aku cuma membukanya saja. Apa ada yang salah? " tanyanya seakan tidak bersalah. Kanaya pun jadi terlihat kesal mendapatkan pertanyaan dari Adrian seperti itu.
"Capek kalau bicara sama pria seperti dirimu menyebalkan" kata Kanaya berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi. Setelah itu dia keluar kembali.
"Dimana handuknya, aku mau mandi? " tanya Kanaya ke Adrian. Adrian hanya menunjuk ke arah lemari. Kanaya pun mengambil selembar handuk dari dalam lemari. Lalu mengambil barang-barang yang baru dibelinya secara online tadi.