bc

Senja dibalik Tirai

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
contract marriage
family
HE
opposites attract
stepfather
mafia
heir/heiress
drama
sweet
mystery
scary
loser
campus
city
office/work place
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

【Mafia Kejam×gadis tomboy,Gadis Bar-bar+Benci jadi Cinta+cinta penuh tantangan dan rahasia】Di balik keindahan Bali yang memukau, tersembunyi dunia yang tak semua orang bisa lihat—dunia kekuasaan, rahasia, dan bahaya yang mengintai dalam diam.

Meisha, seorang mahasiswi sekaligus pelayan di vila elite Seminyak, hanya ingin menjalani hidup sederhana: kuliah, bekerja, dan bertahan. Namun semuanya berubah saat ia bertemu dengan Alejandro De La Vega—pria misterius dengan tatapan dingin, aura berbahaya, dan kendali yang seolah tak terbantahkan.

Alejandro bukan pria biasa.

Dia terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk orang-orang di sekitarnya.

Tapi Meisha… berbeda.

Di saat semua orang tunduk, dia justru melawan.

Di saat semua orang takut, dia tetap berdiri.

Dan justru itu yang membuat Alejandro tertarik.

Namun ketertarikan itu bukan tanpa risiko.

Karena semakin dekat Meisha dengan Alejandro, semakin dalam ia terseret ke dalam dunia gelap yang penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan yang mematikan. Di sisi lain, ada San—sosok hangat yang selalu ada untuknya, menawarkan cinta yang sederhana… dan aman.

Dua dunia.

Dua pilihan.

Dua takdir yang saling bertolak belakang.

Tapi bagaimana jika… semuanya tidak sesederhana itu?

Bagaimana jika pertemuan mereka bukan kebetulan?

Bagaimana jika Meisha sebenarnya memiliki peran dalam dunia Alejandro yang bahkan ia sendiri tidak ketahui?

Dan bagaimana jika pria yang tampak paling berbahaya… justru bukan satu-satunya ancaman?

Saat rahasia mulai terungkap, Meisha harus memilih—

bertahan di dunia yang aman, atau terjun ke dalam bahaya yang memanggilnya.

Karena dalam dunia Alejandro…

sekali masuk, tidak ada jalan keluar.

Dan pertanyaannya sekarang—

Apakah Meisha akan jatuh cinta… atau justru hancur di dalamnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1 Arrival
Bali, pagi cerah dengan angin laut yang lembut. Suara deburan ombak terdengar samar dari kejauhan, sementara aroma kopi dan bunga tropis menyelimuti vila mewah tempat aku bekerja. Aku menahan napas sebentar, menatap sekeliling: kolam renang biru jernih, taman tropis yang tertata rapi, dan deretan vila yang tampak seperti surga pribadi. Ini pekerjaan paruh waktuku—menjadi pelayan di salah satu villa elite di Seminyak. Aku berjalan cepat, nampan di tangan gemetar sedikit karena gugup. Hari pertama selalu menegangkan. Baru saja aku menata gelas-gelas di meja lounge, sebuah bayangan gelap melintas di ujung mataku. Seorang pria tinggi, jas hitam yang kontras dengan sinar matahari pagi, berdiri di teras. Aura yang dia bawa… bukan seperti tamu biasa. Ada sesuatu yang memerintah, membuat udara di sekitarnya terasa berat. “Excuse me…” aku membungkuk sedikit, mencoba menata senyum sopan. Pria itu menatapku. Mata hitamnya menembus, seperti menilai setiap detail dari aku—cara aku berdiri, gerakanku, bahkan ketegangan di pundakku. Jantungku tiba-tiba berdegup lebih cepat. “Careful,” katanya, suaranya dalam, lembut tapi ada nada perintah yang membuat tubuhku merinding. “You almost dropped that.” Aku menelan ludah, merasa wajahku panas. “I… I’m sorry, sir.” Aku berusaha tersenyum, tapi terasa kaku. Dia melangkah mendekat, setiap gerakannya begitu tenang tapi penuh d******i. Hanya beberapa langkah, tapi cukup membuatku sadar: ada sesuatu yang berbahaya tapi memikat tentang pria ini. “Don’t apologize too much,” katanya sambil menatapku dalam. “Confidence… it’s attractive.” Aku menunduk, entah karena malu atau karena tatapannya yang menusuk. Aku tidak bisa menyangkal, ada sensasi aneh di tubuhku—jantung berdebar, tangan berkeringat, dan pikiran yang menolak untuk fokus pada pekerjaan. Tiba-tiba, aku tersandung sedikit pada kaki kursi, dan nampan hampir jatuh. Dalam sekejap, dia bergerak lebih cepat, menahan nampan dari terhempas ke lantai. Tangannya menyentuh pergelangan tanganku sebentar. Sekejap itu… seperti listrik menyambar. “Be careful,” katanya lagi, kali ini dengan nada lebih rendah, hampir seperti bisikan yang hanya untukku. “I don’t like accidents.” Aku mengangguk, hampir tidak mampu berkata-kata. Pria ini… berbeda. Ada bahaya di balik ketenangannya, tapi juga magnetisme yang membuatku ingin melihat lebih dekat, ingin tahu lebih banyak. Aku tahu seharusnya aku menjauh. Tapi tubuhku, entah kenapa, menolak patuh. Dan aku tidak tahu… hari itu baru permulaan dari sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang mungkin akan membuatku tergoda, terjerat, dan… jatuh ke dalam dunia pria ini. Pagi di villa pegunungan itu terasa lebih dingin dari biasanya — kabut masih menggantung rendah, menutupi jambangan-jambangan bunga yang berbaris rapi di sepanjang teras restoran. Cahaya matahari menembus tipis, membuat embun di kaca jendela berkilauan. Suasana begitu damai… setidaknya bagi orang-orang yang datang ke villa untuk bersantai. Tapi tidak untuk Meisha. “Mei, tolong cek meja nomor lima ya. Mereka sudah duduk,” panggil manajer shift lewat earset kecil di telinganya. “Siap, Kak.” Suara Mei datar, namun profesional. Di usia 21 tahun , Mei mungkin lebih mungil daripada kebanyakan staf restoran lainnya — hanya 155 cm, rambut pendek butterfly cut yang membuatnya tampak tegas, tubuhnya ramping, kulit kuning langsat, dan gaya tomboy yang membuat orang sering salah menebak posisinya sebagai pelayan perempuan. Mei adalah mahasiswi tingkat akhir yang sedang melakukan kerja partime di villa Seminyak, Bali. Kemeja putih, apron hitam, celana panjang serbaguna—penampilan Mei selalu rapi, walau sederhana. Ia menarik napas panjang sebelum berjalan menuju meja lima. Langkahnya mantap, tapi di dalam hatinya ada beban kecil yang ikut berjalan bersamanya setiap hari—sisa masa sekolah yang tidak akan pernah benar-benar hilang. Dulu, ketika SMA, hidupnya bukan hanya sulit—tetapi penuh luka. Ia sering dibully karena penampilannya yang tomboy. Ada satu nama yang sangat membekas di pikirannya. Vanessa. Si ratu SMA. Si mulut pedas. Si cantik yang hobi merendahkan. Dan pacarnya saat itu… Bagas. Cowok yang dulu pernah Mei sukai diam-diam. Lelaki yang pada akhirnya ikut membullynya hanya untuk menyenangkan pacarnya. Semua itu kini hanya kenangan yang seharusnya terkubur. Seharusnya. Mei menarik napas lagi, mencoba merilekskan bahunya sebelum memasuki area restoran. Namun begitu ia sampai di meja lima… Langkahnya membeku. Tidak. Tidak mungkin. Wanita berambut panjang coklat honey-blonde itu menoleh. Senyuman mengejek muncul di bibirnya. Vanessa. Dan di sebelahnya, dengan jaket bomber hitam dan rambut sedikit berantakan… Bagas. Dunia Mei serasa menjadi bisu sejenak. Bagas menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. Lalu ia tersenyum miring, senyum yang dulu pernah membuat hati Mei berdegup… kini membuatnya ingin muntah. “Lah, ini… Meisha?” Vanessa menyipitkan mata. “Astaga. Liat deh, Gas. Dia kok masih kayak dulu sih? Pendek banget. Tomboy banget.” Bagas tertawa kecil. “Aku kira dia bakal glow up, tapi ternyata… ya gini-gini aja.” Mei meremas buku menunya hingga jari-jarinya memutih. Ia menunduk sopan, walau hatinya berperang. “Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu pesankan?” Vanessa menyandarkan punggungnya, tangan terlipat di d**a. “Oh tentu, pelayan kecil. Aku mau cappuccino. Tapi baristanya jangan salahin suhu ya. Kemarin aja tehnya hambar banget.” “Mereka pakai mesin otomatis, Bu,” jawab Mei pelan. Vanessa mengetukkan jarinya ke meja. “Kamu membantah aku?” Mei langsung menahan napas. “Tidak, saya hanya menjelaskan.” “Terdengar seperti membantah,” timpal Bagas. Mei menahan diri sekuat tenaga. Vanessa tersenyum puas melihat ekspresi Mei yang tegang. “Yaudah, bawa cappuccino yang enak ya. Dan bersihkan dulu meja ini. Kok masih ada bercak air sih? Kamu bersihin gak sih restoran ini?” “Itu bukan dari saya, Bu. Sebelumnya—” “MEISHA.” Nada Vanessa tajam. “Bersihkan. Sekarang.” Mei mengangguk, menunduk, lalu mengambil tisu dan pembersih meja. Ia mengelap, tetap sopan meski hatinya mulai panas. Namun saat ia sedang membersihkan sudut meja, Vanessa tiba-tiba menggeser gelas bekas air mineral yang ada di sana. Gelas itu jatuh dan pecah di lantai. “Yah! Kamu gimana sih? Ceroboh banget!” Vanessa berdiri dengan dramatis. Mei menatap pecahan gelas itu, bingung. “Bu, tadi—” PLAK! Vanessa menepuk meja keras, membuat banyak pelanggan menoleh. “Aku lihat jelas kamu yang dorong gelasnya! Kurang ajar banget ya? Mau bikin aku celaka?” “Itu bukan saya,” kata Mei. “Gelas itu—” Vanessa melangkah maju, wajahnya mendekat pada wajah Mei. “Kamu ini pelayan atau sampah? Susah banget ngaku salah?” Mei mengepalkan tangannya. Ia benar-benar berusaha sabar. Tapi Vanessa menunduk, mengambil pecahan gelas paling besar, lalu mengangkat tangannya— Hampir memukul. Refleks, Mei menangkap pergelangan tangan Vanessa sebelum benda itu mengenai wajahnya. Semua orang membeku. Mei juga. Vanessa menatapnya dengan mata membelalak, tersinggung. “Kamu BERANI pegang aku?!” Bagas berdiri dari kursinya, wajah merah. “Hei, Meisha! Jangan kurang ajar sama pacarku! Dulu kamu cuma bocah cupu yang naksir aku. Dan sekarang mau nyakitin Vanessa, hah?” Mei mendongak, menatap Bagas tanpa takut. “Dulu aku memang cupu. Dan aku pernah naksir kamu.” Ia menahan tawa sinis. “Tapi sekarang aku jijik. Mukul aku demi perempuan yang kerjanya nindas orang? Pantes waktu SMA aku cuma bisa suka sama kotoran.” Wajah Bagas memerah hingga kuping. “Kamu—!” Ia melangkah maju, tangan terangkat untuk memukul Mei. Namun sebelum tangannya melayang… Seseorang menangkapnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
43.8K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
37.5K
bc

DARI LUKA MENUJU KAMU

read
1.4K
bc

Ranjang Panas Ayah Kekasihku

read
9.8K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
23.5K
bc

Menikah dengan Mantan

read
7.4K
bc

Pengantin Pengganti sang Pewaris Dingin

read
8.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook