Ditinggalkan

1488 Kata
"Kamu tahu apa maksud dari perkataan saya tempo hari?" Suara serak nan khas milik Aksa memenuhi gendang telinga Kirana. Membuat wanita yang masih mengenakan setelan kebaya berwarna putih gading itu mendongakkan kepala, setelah sebelumnya hanya sibuk menunduk dalam. “Kamu belum siap menikah, kan?” tanya Aksa lagi. Kali ini sembari meraih kedua pundak Kirana dengan lembut, kemudian mengeratkan pegangannya pada pundak itu. Ditatapnya manik mata Kirana dengan lekat, seolah ingin menjelaskan sesuatu melalui tatapan tersebut. “Bukannya sudah terlambat untuk memberi saya pertanyaan ini?” tanya Kirana sembari menghalau tangan Aksa dari pundaknya. Dia kesal. “Lagi pula, bukannya Mas sendiri yang bilang kalau pernikahan ini enggak akan bisa dibatalkan, bahkan meski saya ingin sekalipun? Terus kenapa sekarang malah tanya begini? Sengaja, mau mengolok-olok saya?” Kembali Kirana membuka suara. Melayangkan pertanyaan yang lebih terdengar seperti sebuah sindiran di telinga Aksa. Biar saja! Kirana tak peduli mau Aksa kesal padanya karena sudah berbicara tak sopan atau tidak. Lagi pula, apa yang ia katakan adalah kebenaran. Pria itu tak jelas! Setelah resmi mempersuntingnya beberapa waktu lalu, sekarang dia malah mengemukakan pertanyaan yang tak masuk akal begini. Apa maksudnya coba, jika bukan untuk mengolok-olok? “Saya tahu kok, orang tua saya sudah minta uang jujuran yang terlampau tinggi ke keluarga Mas, tapi meskipun begitu, apa harus Mas bersikap seper—" “Tunggu, tunggu! Maksud kamu apa? Saya enggak pernah berpikir untuk mengolok-olok kamu, kok. Saya juga enggak berniat mengungkit tentang uang jujuran itu. Kenapa kamu jadi berpikir ke sana?” sela Aksa cepat. Tak dibiarkannya Kirana bicara lebih banyak. Khawatir jika pikiran wanita itu akan semakin melantur ke mana-mana. “Lagi pula, perkara uang jujuran, itu urusan kedua orang tua kita. Enggak ada sangkut pautnya dengan kamu ataupun saya,” sambung Aksa kemudian. Kirana membuang muka ke arah lain, tak begitu ingin menanggapi pernyataan Aksa, meski pria itu berkata bahwa dia tak peduli tentang apa yang ia bahas barusan. "Jangan tunjukkan ekspresi begitu di depan saya!” Aksa kembali meraih kedua pundak Kirana. Berusaha membuat wanita itu menghadap ke arahnya. Jujur saja, ada rasa kesal dalam dirinya saat mendapat respons ogah-ogahan dari Kirana. Bagaimana tidak, pasalnya ini pertama kali dia diacuhkan oleh seorang wanita. Biasanya, bukan dia, tapi para wanita lah, yang dirinya acuhkan. “Kirana!” “Apa sih, Mas?” sahut Kirana malas. “Memangnya apa maksud dari perkataan Mas tempo hari?” sambungnya kemudian. Memilih kembali ke topik awal. “Kita menikah, tapi saya enggak akan menyentuh kamu.” “Uuhuukkkk!!!” Kirana terbatuk hebat saat mendengar pernyataan Aksa. Pegangan pria itu di pundaknya pun, turut dia lepaskan untuk kedua kalinya. Sungguh! Kirana tahu kalau mereka mungkin tak akan pernah melakukan ‘ritual’ suami istri seperti pasangan kebanyakan. Dan percaya tak percaya, dia juga tak begitu ingin melakukannya. Setidaknya di usia ini. Namun, hei! Apa harus Aksa mengatakannya segamblang itu? Terlebih di hari yang sama dengan hari pernikahan mereka? Ah, gila! “Kenapa? Kamu berharap kalau kita akan melakukannya?” tanya Aksa sembari mengangkat tinggi sebelah alisnya. “Enggak! Mana mungkin!” sangkal Kirana cepat. Tak terima dituduh yang tidak-tidak. Mendengar hal itu, sontak saja Aksa mengangkat kedua sudut bibirnya. “Baguslah,” ujarnya. Sedikit merasa lega karena ternyata Kirana tak berpikir sama seperti dirinya. “Seperti yang sudah saya bilang tadi, kita enggak akan melakukan apa yang dilakukan pasangan suami istri kebanyakan. Bukan hanya itu, saya juga akan bebaskan kamu sepenuhnya, Kirana. Kamu bebas menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Dan masalah finansial, kamu enggak perlu khawatir. Saya akan kirimi kamu uang setiap bulannya.” Bukan kalimat persetujuan, yang keluar dari mulut Kirana justru pertanyaan yang serat akan kekesalan. “Maksud Mas Aksa apa, sih? Mas pikir saya ini cewek apaan, sampai berani melakukan semua itu?” “Jangan salah paham, saya hanya mencoba memberikan solusi buat kamu, Kirana.” “Atas dasar apa?” sambar Kirana berapi-api. Ada kekesalan yang tergambar jelas dalam sorot mata wanita itu. “Saya enggak mau terjebak dalam pernikahan ini. Jadi, saya sudah putuskan untuk pergi ke Amerika,” jelas Aksa hati-hati. “Hari ini juga,” sambungnya. Tubuh Kirana menegang sempurna saat kalimat demi kalimat itu melayang di udara. Sungguh! Rasanya seperti dipaksa bernapas saat hidung dan mulut ditutupi. Sangat sulit! “M-maksud Mas apa? Mas mau melarikan diri gitu?” tanya Kirana to the point. Entah apa ini pertanyaan atau justru tuduhan, Kirana pun, tak tahu. Namun, yang jelas, dia tak terima. Sungguh! Maksud Kirana, bagaimana bisa Aksa pergi ke luar negeri di hari pernikahan mereka? Meski tak pernah menginginkan pernikahan ini, tapi …, hei! Dia juga punya keluarga besar yang harus dijaga nama baiknya. Apa kata orang nanti kalau tahu dia ditinggalkan oleh suami, tepat di hari pernikahannya? Apa lagi selama ini ayah dan ibunya sudah banyak membual di hadapan semua orang. Ah, tidak. Kirana tak ingin jadi korban dari kegilaan ini. Sudah cukup dia jadi korban perjodohan! “Bukan melarikan diri. Saya hanya enggak mau kita sama-sama terjebak dalam pernikahan ini. Itu saj—“ “Terlambat, Mas! Kita sudah sama-sama terjebak di sini!” sambar Kirana cepat. “Harusnya Mas bilang dari awal kalau Mas juga enggak mau menikah, bukannya malah setuju, tapi pada akhirnya melempar semua masalah kepada saya!” sambungnya kemudian. Dengan wajah merah padam serta nada bicara yang telah naik beberapa oktaf, Kirana berdiri. Memutuskan untuk meninggalkan Aksa yang tampak bergeming di tempatnya. “Terserah kalau Mas Aksa mau pergi ke mana pun, tapi sebelum melakukan itu, tolong selesaikan acara pernikahan ini. Saya enggak mau menghancurkan nama baik keluarga. Cukup masa depan saya yang hancur di tangan laki-laki enggak bertanggung jawab kayak Mas!” pungkas Kirana sebelum benar-benar keluar dari kamar pengantinnya. Sial! Benar-benar sial nasib pernikahannya. Kirana merutuk di dalam hati. Setelah keluar dari kamar pengantin, Kirana melangkah menuju kamar kedua orang tuanya tanpa memedulikan kehadiran orang-orang. Ah, persetan dengan orang lain! Yang terpenting, sekarang dia harus mengadu! Begitu pikir Kirana. Namun, belum sempat niat itu terlaksana, tangan Kirana telah lebih dulu ditarik oleh seseorang hingga membuatnya nyaris berteriak karena terlalu kaget. “Ibu! Bikin kaget aja!” protes Kirana saat tahu siapa orang yang menarik tangannya. Tanpa memedulikan protesan Kirana, sang mama justru menyeret putrinya yang berada dalam balutan gaun pengantin ke tempat sepi. “Ibu sudah tahu." Belum sempat Kirana mengadukan perbuatan Aksa, mamanya telah lebih dulu membuka suara. Mulut Kirana spontan terbuka saat itu. Matanya pun, ikut terbelalak. Dia bahkan sampai menahan napas selama beberapa detik. Tidak, bukannya ingin bersikap berlebihan, hanya saja …, dia tak menyangka bahwa mamanya akan mengatakan hal ini. “Apa yang ibu tahu?” tanya Kirana setelah berhasil menguasai diri. Sebisa mungkin dinormalkan raut wajahnya. “Semua. Tentang Aksa yang mau pergi ke Luar negeri, tentang dia yang mau membebaskan kamu, dan tentang dia yang akan mengirimi uang untuk kamu setiap bulannya,” jawab mamanya serius. Kirana tertegun. Dari sekian banyak kalimat yang sang mama ucapkan, kalimat tentang uang adalah kalimat yang paling menyita perhatiannya. Entah kenapa, tapi dia merasa bahwa ada sesuatu yang tak beres di sini. “Jadi, gimana? Ibu enggak akan tinggal diam, kan, melihat anak ibu diperlakukan seperti ini? Tolong, Bu, tolong batalkan saja pernikahan ini. Dalam Undang-undang, pernikahan yang seperti ini bisa dibatalkan, kok. Rana pernah bac—“ “Jangan bercanda, Kirana! Enggak akan ada pernikahan yang dibatalkan!” “Tapi, Bu—“ “Kirana! Harusnya kamu bersyukur bisa jadi bagian dari keluarga Adipura! Memangnya kenapa kalau Aksa pergi? Toh, hidup kamu juga akan tetap terjamin. Bukan cuma kamu, tapi kami juga. Dan lagi, dia enggak mungkin pergi selamanya. Dia pasti kembali.” Lihat! Sudah Kirana duga. Pasti ada sangkut-pautnya dengan uang. “Apa yang patut disyukuri, Bu? Ditinggalkan oleh suami, di hari pernikahan? Atau memiliki mertua yang memandang rendah status wanita? Enggak, Bu! Enggak ada yang bisa disyukuri!” geram Kirana pelan. Beberapa detik kemudian, wanita itu melemaskan otot-otot wajahnya. Berusaha meredam emosi yang sempat menguasai diri. Setelah merasa sedikit lebih baik, barulah dia kembali melanjutkan perkataan. “Tolong, Bu …, tolong berhenti menjadikan Rana tumbal dari keserakahan kalian. Rana enggak mau hidu—“ “Jaga mulut kamu, Kirana! Berani-beraninya bicara seperti itu di depan orang tua.” “Tapi memang itu kan, kenyataannya? Kalian tega menikah kan, anak yang bahkan baru lulus SMA, demi sejumlah uang. Demi bisa hidup enak! Kalian enggak pernah mik—“ “DASAR ANAK ENGGAK TAHU DI UNTUNG!” Kirana terdiam. Tak tahu harus bereaksi bagaimana saat sebuah tangan yang biasa membelainya dengan sayang itu justru memberikan sebuah cap lima jari di pipinya. SAKIT. Satu kata itu bahkan tak cukup untuk mendefinisikan perasaannya saat ini. "Ibu jahat!" Hanya dua patah kata ini lah, yang mampu Kirana ucapkan sebelum berlari meninggalkan mamanya. "Kirana!" panggil mamanya nyaring. "Kirana! Hei! Ibu belum selesai bicara!" Tak peduli meski mamanya terus memanggil, Kirana tetap melanjutkan pelariannya. Masa bodoh dengan kesopanan. Toh, mamanya saja tega melakukan hal ini padanya. Menjerumuskan anak sendiri ke dalam jurang penderitaan yang sangat dalam. "Kirana, kamu--" "AAAHHHKKKK!!!" -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN