bc

Wanita Lain, Oleh-oleh Suamiku

book_age18+
1.5K
IKUTI
9.2K
BACA
revenge
love-triangle
HE
opposites attract
heir/heiress
drama
bxg
selfish
like
intro-logo
Uraian

Bab 1 - 91 : Kirana dan Aksa

Bab 92 - Tamat : (Spin off) Irfan dan Santi

Ditinggal sejak hari pernikahan. Pulang-pulang, suami yang telah ditunggu-tunggu justru membawa oleh-oleh tak terduga.

Karena sebuah perjodohan paksa, Kirana terpaksa mengorbankan mimpi dan pendidikannya. Tak hanya harus menikah di usia muda, dia juga harus mengabdi pada keluarga sang suami yang bahkan tak pernah terlihat sejak hari pernikahan mereka.

Tiga tahun berlalu, Aksa kembali. Pria itu datang bersama wanita yang konon sangat dicintainya dan akan segera dipersunting dalam waktu dekat. Hati Kirana patah, remuk dan hancur. Semua pengorbanan serta penantiannya selama ini berujung sia-sia.

Tak ingin terpuruk lebih dalam, Kirana memutuskan untuk mengalah. Pergi dan membiarkan Aksa bahagia bersama wanita pilihannya. Namun, takdir seolah tak ingin memisahkan mereka. Karena suatu insiden, keduanya menghabiskan malam bersama hingga akhirnya membuat Kirana hamil.

Nahasnya, baru saja ingin menyampaikan kabar tersebut. Sebuah pil pahit kembali harus ia telan. Sebuah janin telah lebih dulu tumbuh dalam rahim kekasih Aksa.

Kirana tak sanggup lagi. Dengan penuh amarah dan rasa kecewa, wanita itu pergi. Menghilang bak ditelan bumi, lalu kembali dalam keadaan yang jauh berbeda.

Bagaimana kelanjutannya? Akankah pertemuan keduanya mengembalikan benih-benih cinta yang sempat tercipta? Lalu, apa sebenarnya tujuan Kirana kembali, sementara ada pria lain yang akan ia nikahi? Penasaran? Baca selengkapnya di sini ....

chap-preview
Pratinjau gratis
Dipaksa Menikah
“Duduk dulu, Kirana.” Kirana menelan salivanya dengan susah payah saat mendapat perintah dari sang ayah. Entah kenapa, tapi perasaannya mulai tak enak saat ini. “Kenapa, Pak?” tanyanya penasaran. Tak langsung menjawab, ayah Kirana justru menatap pria di depannya. Membuat gadis yang rambutnya masih setengah basah karena habis mandi itu ikut mendongak. Menatap pria yang ia taksir berumur sama seperti sang ayah. “Begini ….” “Kenapa, Pak?” Kembali Kirana mengulangi pertanyaannya. Entahlah, Kirana bukannya ingin bersikap tak sabaran. Hanya saja, semakin ayahnya menjeda kalimat, semakin besar pula rasa curiga di dalam dirinya. Jujur saja, berbagai pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya saat ini. Mimpi yang sempat ia anggap sebagai bunga tidur pun, kini malah terasa seperti sebuah pertanda. Ah, tidak. Tidak mungkin. Mana mungkin ada hal seperti itu, kan? Sebisa mungkin Kirana menepis pikiran-pikiran buruknya. “Ini Om Andra, teman Bapak. Kami lahir dan besar di kampung yang sama, tapi saat sudah remaja kami berpisah karena sibuk dengan urusan masing-masing.” Ayah Kirana menjelaskan. Kirana hanya mengangguk pelan kepada pria paruh baya di hadapannya. Berusaha bersikap sopan, meski perasaannya sendiri sudah benar-benar tak karuan. “Tepat satu bulan lalu, Om Andra menghubungi Bapak, katanya dia punya anak yang sudah mapan dan siap menikah. Dia minta dicarikan calon yang cocok untuk anaknya. Tentunya harus satu suku dengan dia. Jadi, Bapak pikir daripada sibuk mencari orang lain, lebih baik kalau Bapak menikahkan kamu dengan anaknya.” Bagai tersambar petir di siang bolong, rasanya tubuh Kirana tak bisa bergerak sama sekali. Sungguh! Benar-benar mengejutkan berita yang dibawa ayahnya. Dengan pupil mata yang masih melebar, Kirana mengatupkan bibir yang sebelumnya sempat terbuka karena terlalu kaget. Kemudian kembali menelan salivanya dengan bersusah payah. “Kamu enggak keberatan, kan?” tanya sang ayah kemudian. Kirana tak menjawab. Tak sempat menjawab lebih tepatnya, karena sang ayah telah lebih dulu membuka suara. “Bagaimana menurutmu, Ndra? Apa kamu setuju dengan keputusanku?” Tanpa perlu menunggu lama, sebuah kalimat persetujuan terdengar di telinga Kirana. Hal ini tentu membuat wanita yang sudah cukup tercengang itu, jadi semakin tercengang dibuatnya. “Tentu saja aku setuju, Rif, tapi sebelum itu, bagaimana dengan anakmu? Apa dia sudah siap menikah? Kalau dilihat-lihat, sepertinya dia masih sekolah?” “Ah, jangan risaukan hal itu. Sebentar lagi dia lulus. Tapi kamu enggak keberatan kan, punya menantu yang hanya tamatan SMA? Secara, anakmu kan, bertitel. Lulusan universitas luar negeri.” “Itu bukan masalah. Lagi pula tugas wanita itu di rumah. Mengurus anak dan suami. Jadi, buat apa sekolah tinggi-tinggi. Iya, kan?” Ya Tuhan …. Sungguh! Kirana benar-benar dibuat tak bisa berkata-kata karena percakapan kedua pria paruh baya di depannya ini. Bisa-bisanya mereka membuat persepsi seperti itu tentang tugas seorang wanita. Huh! Menghela napas pelan, Kirana mencoba mengumpulkan keberanian. Tidak, dia tak bisa diam saja saat masa depannya sendiri sedang terancam begini. Sementara ayah dan sang sahabat sedang membahas pernikahan, Kirana menatap sang mama. Berharap akan mendapat pertolongan dari wanita itu. “Bu …,” panggilnya setengah berbisik. “Tolong bilang ke Bapak kalau Rana belum mau menikah,” sambungnya kemudian. Mendengar hal itu, bukannya mengiyakan, Kirana justru melihat raut wajah mamanya berubah drastis. Dari yang semula tersenyum riang, jadi berubah suram. Sesuram masa depannya kelak. “Jangan macam-macam, Kirana!” bisik mamanya penuh penekanan. Sadar bahwa sang mama tak akan memenuhi permintaannya, Kirana nekat mengemukakan pendapat. Ah, bukan pendapat, tetapi penolakan. “Maaf, Om, tapi Rana belum siap menikah. Rana memang sudah mau lulus, tapi setelah ini Rana masih mau lanjut kuliah. Jadi--” “Kirana! Di mana sopan santunmu! Kamu enggak lihat orang tua lagi bicara? Kenapa seenaknya menyela begitu?” sela sang ayah cepat. Sangat cepat, bahkan sebelum Kirana sempat menyelesaikan perkataannya. Sorot mata pria paruh baya itu tampak berapi-api. Rahangnya pun, tampak mengeras, menandakan bahwa emosi tengah menguasai dirinya. Sungguh! Belum pernah Kirana melihat ayahnya seperti ini. “Maaf, Pak, Rana bukannya mau bersikap enggak sopan, tapi dari tadi Bapak sibuk membahas pernikahan tanpa meminta pendapat Rana dulu. Rana--” “Tutup mulut kamu, Kirana!” Ayah Kirana kembali menginterupsi. “Tapi, Pak--" “Kirana! Ayo ikut Ibu!” Kali ini sang mama yang menginterupsi sebelum menarik tangan Kirana dan membawanya meninggalkan kedua orang dewasa yang tampak kembali melanjutkan perbincangan. “Jangan khawatir, Ndra. Semua akan berjalan seperti yang sudah kita rencanakan.” Itulah kalimat terakhir yang sempat Kirana tangkap sebelum dibawa masuk ke kamar sang mama. “Kamu apa-apaan sih, Ran?” protes sang mama dengan tatapan tak senang. Kirana balas menatap manik mata mamanya. Ia juga ingin protes. “Ibu yang apa-apaan?! Kenapa bisa seenaknya nyuruh Rana nikah? Memangnya sejak kapan Rana bilang setuju, buat nikah sama anaknya Om Andra?” Untuk beberapa saat, suasana mendadak hening. Tak ada yang berbicara, baik dirinya maupun sang mama. Entah kenapa, tapi hal ini membuat Kirana merasa bersalah karena sudah berbicara dengan nada tinggi. “Maaf, Bu. Rana enggak bermaksud--” “Kamu harus menikah, Rana!” “Ibu ….” Kirana mengerang frustrasi. “Rana belum mau menikah, Bu. Rana masih mau lanjut kuliah.” “Buat apa, Kirana? Kamu itu cewek! Buat apa sekolah tinggi-tinggi? Toh, ujung-ujungnya juga bakal ke dapur. Coba kamu lihat ibu! Ibu sekolah tinggi-tinggi, tapi apa? Ibu cuma jadi ibu rumah tangga, kan?” “Tapi, Bu--” Kirana nyaris menangis saat mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh sang mama. Demi Tuhan, dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran mamanya yang sama sekali tak masuk di akal itu. “Sudahlah! Ibu enggak mau dengar apa-apa lagi. Pokoknya kamu harus nikah sama anaknya teman Bapak. Dia orang kaya, jadi hidup kamu pasti enak nantinya!” pungkas mamanya sebelum pergi meninggalkan Kirana yang tangisnya telah benar-benar pecah. “Ibu …, Rana belum mau nikah! Rana masih mau sekolah …,” lirih Kirana. Sungguh! Ia benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa. Mimpi yang dialaminya beberapa waktu lalu bahkan terasa jauh lebih baik dibanding apa yang ia alami saat ini. *** Beberapa pekan berlalu, Kirana benar-benar berharap bahwa berita tentang pernikahan itu hanyalah sekedar wacana. Mengingat, selama beberapa waktu belakangan tak ada satu pun, dari kedua orang tuanya yang menyinggung tentang hal ini. Namun, ternyata …, tidak. Dunia tak sebaik itu pada Kirana. Nyatanya, tepat pada hari di mana dirinya dinyatakan lulus, Kirana dikejutkan dengan kehadiran sahabat sang ayah. Tidak, andai pria paruh baya itu datang sendiri, mungkin dia tak akan seterkejut ini. Namun, masalahnya, orang itu datang bersama rombongan keluarga. Bahkan pria yang konon akan dinikahkan dengannya pun, turut hadir. “Seperti yang sudah kita sepakati tempo hari, aku mau melamar Kirana untuk anakku, Aksa.” Sahabat sang ayah berbicara dengan penuh percaya diri. Dan percaya tak percaya, perkataan itu langsung disambut dengan penuh suka cita oleh kedua orang tuanya. Sementara Kirana, dia tak tahu harus berbuat apa. Wanita yang bahkan masih menggunakan seragam sekolah itu hanya dapat terpaku di tempatnya tanpa berkedip sedikitpun. Baru ketika mendengar suara berat nan khas milik seorang pria lah, dia berhasil tersadar. “Bisa kita bicara sebentar?” Tak langsung menjawab, Kirana memilih untuk menatap lawan bicaranya. Tampan. Pria itu sangat tampan. Sesuai dengan tipe pria idamannya selama ini. Tak terlalu tinggi, tapi juga tak terlalu pendek. Memiliki rahang kokoh, d**a bidang, berkulit sawo matang dan yang paling utama, terlihat baik dan penyayang. Ya, Kirana sempat seterpesona itu selama beberapa detik. Benar-benar hanya beberapa detik, karena tak lama kemudian, dirinya langsung tersadar bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk memuji ketampanan seseorang. “Bisa?” tanya pria itu lagi. “Kirana! Kenapa diam aja? Sana pergi!” tegur sang mama sambil mendorong pelan pundak Kirana. Kirana yang didorong seperti itu pun, mau tak mau menurut. Berjalan lebih dulu, usai dipersilahkan oleh pria yang konon bernama Aksa. Entah kenapa, tapi mendapat perlakuan seperti ini membuat Kirana merasa tersanjung. Belum pernah dia diperlakukan selembut ini oleh laki-laki. Bahkan oleh ayahnya sekalipun. “A-ada apa, P-pak?” tanya Kirana ragu. Merasa bingung harus memanggil pria di depannya dengan sebutan apa. “Saya enggak setua itu sampai harus dipanggil Pak. Lagi pula kita akan menikah. Enggak lucu kalau nanti kamu manggil saya dengan sebutan itu di hadapan orang-orang. Panggil Mas saja,” jelas Aksa panjang lebar. Mendengar hal itu, sontak saja Kirana mengalihkan pandangan ke arah lain. Berusaha menyembunyikan rona merah yang ia yakin tengah menghiasi kedua pipinya. “Saya to the point saja.” Belum selesai Kirana bergelut dengan perasaannya yang campur aduk, tiba-tiba saja suara Aksa kembali terdengar. “Sama seperti kamu, saya juga menolak pernikahan ini.” Kirana tertegun. Untuk beberapa saat, wanita dengan perawakan mungil itu menahan napas. Sedikit terkejut karena pernyataan Aksa barusan. Meski perkataan ini adalah kalimat yang sangat ingin dia dengar, tapi tetap saja rasanya mengejutkan. “Selain karena belum siap, saya juga merasa enggak mungkin menikahi wanita seperti kamu.” “Memangnya kenapa dengan wanita seperti saya?” tanya Kirana to the point. Tak ingin berbasa-basi dan tenggelam lagi dalam pesona pria yang sedikit kurang ajar, menurutnya. “Kamu terlalu muda untuk saya, Kirana. Dan saya yakin, kamu pun, merasa bahwa saya terlalu tua untuk kamu. Iya, kan?” Baiklah. Kirana paham jika maksud pria di depannya adalah ini. Jika dilihat-lihat, perbedaan usia mereka memang cukup jauh. Hanya saja …, ah, sudahlah! “Jadi, Mas mau membatalkan rencana pernikahan kita? Saya setuju saj--” “Tapi meskipun begitu, pernikahan ini akan tetap berlangsung.” “A-apa?” Kirana terkesiap. Gila! Apa lagi maksud pria ini? Batin Kirana dibuat bertanya-tanya. “Kita akan tetap menikah, tapi mungkin kondisi pernikahan kita akan berbeda dari pernikahan kebanyakan.” “Tunggu! Tunggu! Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Seperti yang Mas bilang, saya enggak mau menikah. Saya masih mau lanjutin pendidikan. Jadi, jangan berpikir kalau saya akan pasrah-pasrah saja disuruh menikah dengan Mas Aksa.” “Tapi kamu harus, Kirana! Enggak ada alasan untuk kamu menolak pernikahan ini. Bahkan meski kamu mau, sekalipun.” “Maksudnya? Kenapa saya enggak bisa menolak? Saya punya hak di sini.” Bukan jawaban, yang Kirana dapatkan justru sebuah senyum tipis dari wajah rupawan Aksa. Entah apa maksud pria itu sebenarnya. *** Menikah karena perjodohan. Tak mencintai dan tak dicintai pasangannya, serta memiliki mertua yang memandang rendah harkat dan martabat wanita. Kirana pikir itu adalah hal terburuk yang menimpa nasibnya. Namun, ternyata …, tidak. Dibandingkan hal itu, ada hal yang jauh lebih buruk menimpa gadis yang telah resmi dipersunting oleh seorang Renaksa Adipura beberapa waktu lalu. Yaitu …. -Bersambung-

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook