"Serius?" Baskara membulatkan matanya. "Nggak usah nge-prank aku, Mas." Gilang menggeleng, tatapan matanya tak sedikit pun menunjukkan kebohongan. Dia tahu kapan waktu yang tepat untuk bercanda atau pun serius. "Aku serius, Bas. Ini semua hasil tes labor dan obat obat yang sedang di konsumsi Dirga." Tubuh Baskara mendadak lemas. Seperti tersambar petir di siang bolong. Rasanya semua ini seperti mimpi buruk. "Sejak kapan?" tanya Baskara, lalu meraup kasar wajahnya. "Aku juga nggak tahu pasti. Tapi, kalau di lihat dari tanggal yang tertera di kertas itu, kurang lebih sudah delapan bulan." "Artinya, nggak lama setelah kecelakaan Kak Letta terjadi?" "Aku rasa juga seperti itu. Dan Dirga menutupi itu semua dari kita." Baskara menendang kaki meja hingga mengeluarkan bunyi yang cukup

