Hujan mengguyur deras sejak pagi. Aira berdiri di balik tirai tebal kamarnya, memandangi halaman rumah yang kini dipenuhi tamu dan kendaraan mewah. Payung-payung hitam bergerak seperti semut dari kejauhan. Tapi hatinya kosong. "Hari ini kamu akan menjadi istri Adrian Ardiansyah. Jangan pernah membuat malu Ayah," suara tegas Pak Bram—ayah Aira—masih terngiang jelas di telinganya. Pernikahan ini bukan karena cinta. Jauh dari itu. Ini tentang utang. Tentang kehancuran nama baik keluarga yang tinggal selangkah lagi jatuh ke jurang. Dan Aira—anak sulung dari keluarga sederhana itu—dipaksa menjadi tameng. Ia menghela napas panjang. Gaun putih yang ia kenakan terasa berat. Bukan karena bahannya, tapi karena beban hidup yang kini sepenuhnya ada di bahunya. --- Adrian Ardiansyah. Nama itu men

