"Di gelapnya malam pun aku bisa melihat cahaya, bukan karena aku memegang senter atau ada setitik api disekitar ku, melainkan karena untaian doa ibuku yang senantiasa menemani aku"
-------------
Hari-hari berlalu, di detik-detik Sheila akan berangkat, banyak doa yang dilambungkan Anin kepada Tuhan. Disepanjang malam yang begitu sunyi Sheila yang terlelap disebelah ibunya, tiba-tiba terbangun tapi tidak sampai duduk, Sheila mendengar Anin berdoa dan isi doanya terselipkan namanya dan harapan Anin untuk Sheila.
"Tuhan, aku mohon kepadamu, teguhkan lah hati anakku dalam menjawab panggilan suci mu. Aku bersyukur ternyata doaku agar salah satu anakku yang akan menjadi pelayan khusus mu Kau kabulkan. Tuhan, meskipun aku bersyukur atas terpilihnya anakku sebagai Suster, tapi di kedalaman hatiku, aku sangat ketakutan. Aku takut jika karena kerinduanku kepadanya disetiap hari nantinya, ia menjadi terganggu dalam menjalani hidup salehnya, aku bukanlah Ibu yang suka jauh dari anakku, aku adalah ibu yang sangat manja, aku ingin anakku selalu disisiku dan tidak pernah jauh dari jangkauan mataku. Tuhan, pada saat-saat ini, hatiku dirundung duka yang begitu dalam, sangat berbeda ketika suamiku Kau jemput. Yang ku rasakan saat ini adalah hatiku seperti tertusuk tombak yang sangat melukai hatiku, aku akan menyaksikan bagaimana anakku dibawa pergi oleh kendaraan yang membawanya menuju Biara dan tidak akan pernah lagi bisa melihat tubuhnya yang berjalan kesana-kemari diruangan-ruangan rumah yang Engkau ijinkan kami tempati. Ah Tuhan, jika saja Engkau bisa ku sentuh ingin rasanya aku memelukmu saat ini, aku begitu lemah dan aku bukanlah Ibu yang kuat. Namun, dari semua ini aku hanya minta tolong anakku Sheila dalam menjalani kehidupannya diBiara nanti, tolong luluhkan hati orang-orang yang akan hidup bersamanya nanti atau yang akan ia jumpai disetiap hari, berikan kemudahan kepada Sheila agar ia mampu menjalani kehidupan yang Engkau pilihkan kepadanya. Tuhan tolong kabulkan doaku, demi Yesus Kristus Putra-Mu dan pengantara kami, Amin."
Itulah doa yang terus Sheila dengar, setiap kali ia terbangun saat tengah malam, ternyata ibunya tidak tidur nyenyak hanya untuk bisa berdoa kepada Tuhan dengan tenang dan leluasa. Semuanya untuk kehidupannya nanti. Sheila menjadi bimbang, disaat informasi tanggal kepergiannya sudah ia dapatkan dan itu tinggal tujuh hari lagi, Sheila merasa bahwa ia salah mengartikan kehendak Tuhan, ia menjadi ragu bahwa Tuhan memanggilnya. Tapi semua keresahannya itu tidak ia ungkapkan kepada siapapun bahkan kepada Anin. Ia terus menampilkan keceriaan diwajahnya, dan semakin menciptakan kalimat yang pas untuk meyakinkan semua orang bahwa ia benar-benar yakin akan pilihannya untuk meninggalkan segala sesuatu yang ia miliki untuk menjadi Suster, suatu kehidupan yang tidak pernah menjamin kebahagiaan didunia karena tidak memiliki uang untuk membeli segala yang diinginkan, tidak memiliki tempat tidur empuk yang nyaman ditiduri dan tidak akan pernah merasakan manisnya mulut pria dan hangatnya pelukan sayang dari laki-laki yang mencintainya.
Sheila pernah ditanyai mengapa ia sangat mantap mengatakan bahwa ia akan menghidupi hidup murni tanpa terikat kepada siapapun dan hal apapun, secara khusus kepada seorang pria. Sedangkan sheila sangat tau dijaman yang begitu modern ini sentuhan pria sangat dirindukan oleh banyaknya wanita. Bahkan sangat banyak wanita yang sudah bersuami masih mencari sentuhan dan pelukan dari pria lain karena alasan tidak puas. Apalagi Sheila yang sama sekali tidak akan merasakan dan mengalaminya.
"Emang kamu tahan enggak enak-enakan diranjang pas hujan turun?" pertanyaan gila yang pernah diajukan kepada Sheila.
"Sheila, aku siap ko menjadi suami kamu. Bahkan aku sanggup ngebiayain kebutuhan kamu seumur hidup, aku janji enggak akan ngecewain kamu dan ninggalin kamu" godaan yang tidak membuat Sheila lemah akan pilihannya. Sampai pernah dituduh tidak menyukai lawan jenis, bahkan sampai diteror dengan vidoe tak senonoh hanya untuk mengetes apakah Sheila tidak b*******h melihat video itu?
Mungkin karena doa Anin yang tidak kunjung putus membuat Sheila tahan dengan semua yang ia alami. Banyak kejadian lainnya yang menguji imannya, tapi semuanya bisa ia lalui hanya dengan terus berdoa dan mohon kebaikan Tuhan atas dirinya.
"Sheila, ciuman setiap hari itu bakal buat kita awet muda loh, emang kamu gak mau dilihat muda terus? apalagi kalau..."
"Hush... enyahlah engkau setan!" hardik Sheila kepada salah seorang temannya. Sheila belum mengatakan niatnya untuk menjadi Suster kepada teman-teman sekolahnya, karena ia yakin tidak akan ada yang percaya, dengan memilih untuk tidak berpacaran saja Sheila sudah dianggap gila, apalagi ketika melihat Sheila menolak mentah-mentah pria yang ingin mendekatinya, membuat teman-temannya menganggap bahwa Sheila memiliki kelainan dan sangat buta akan hidup percintaan masa remaja.
Dan ketika akhirnya dia memberitahu niatnya, dan dengan sopan menolak tiket untuk masuk perguruan tinggi dengan jalur prestasi, salah satu guru yang pernah dekat dengan Biarawan/i sekalipun dia beragama Islam, mencoba membujuknya untuk tidak melanjutkan niatnya itu dan memilih untuk kuliah.
"Sheila, Bapak pernah dekat dengan seorang Romo, waktu ketika tempat kerja Bapak dekat dengan Biara mereka. Bapak melihat bagaimana Suster itu menyiapkan makanan untuk Pastor dan mencuci pakaian pastor, bisa dibilang suster itu hanya dijadikan b***k para Pastor. Kamu kuliah ajalah, urungkan niatmu untuk menjadi Suster, jadi Suster itu enggak enak, enggak menikah" lagi-lagi kalimat terakhir membuat nafas Sheila keluar dengan kasar, semua orang sangat menyayangkan nasibnya yang tidak akan menikah, padahal dia sudah berjanji bahwa tubuhnya tidak akan ia persembahkan untuk seorang manusia satupun, ia tidak akan mengijinkan satu laki-laki pun menyentuh dirinya dengan penuh nafsu dan gairah. Karena Sheila sudah mempersembahkan dirinya hanya untuk Tuhan sampai akhir hayat. Suatu komitmen yang lumayan tajam dan penuh resiko, tapi itulah yang dikatakan Sheila kepada dirinya dan disaksikan oleh Tuhan yang menciptakannya.
"Bapak doain saja saya, supaya ketika diBiara bisa sehat-sehat, semangat dan rajin berdoa. Bapak tidak usah takut karena saya tidak menikah, memang seumur hidup saya tidak akan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang memilih untuk hidup berumah tangga, tapi ini keputusan saya, Pak. Untuk mengabadikan diri seutuhnya kepada Tuhan dengan tidak menikah, yaitu dengan cara hidup membiara" mendengar penuturan Sheila yang tidak bisa digugat, Guru olahraga tersebut tidak mampu lagi mengeluarkan sepatah kata untuk menggoyahkan semangat Sheila. Melihat bagaimana Sheila bersikap tenang dan menjawabnya dengan penuh keyakinan, Bapak Guru itu seperti melihat Suster yang pernah ia temui diBiara yang ia datangi dulu. Sehingga dengan pelan Bapak Guru tersebut berpesan agar Sheila nantinya tetap semangat dan setia dalam menjalani kehidupan diBiara nantinya, dan mendoakan mereka semua, tak terkecuali dirinya sendiri.