Hari ini hari terberat untuk Farhan. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari keberangkatan Livi ke Jogja untuk melanjutkan pendidikannya disana. Farhan sangat merasa berat ditinggal orang terkasihnya, dia mengantar Livia ke Bandara, tidak pernah sekalipun dia melepas genggaman tangan dari kekasihnya itu.
"Kamu janji kan sayang, ingat yah disana kamu harus selalu memberiku kabar"
"Iya sayang, kamu juga harus menjaga mata dan hati kamu disini hanya untukku" balas Livia
"Promise, only you in my heart, now and then forever only you"
Farhan menangkup kedua pipi Livia lalu memberi kecupan hangat disana.
"I belive your love for me, i love so much, love you more "
Livia balas mencium pipi Farhan lalu memeluk kekasihnya tersebut, seolah memberi keyakinan pada kekasihnya bahwa semua akan baik baik saja. Selama mereka saling menjaga hati, tapi tidak ada manusia yang bisa memprediksi hari esok akan seperti apa. Sejujurnya Livia pun merasa sangat berat meninggalkan Farhan, mereka sudah lama menjalin hubungan tidak pernah terfikir hari ini akan tiba.
Mereka berpisah dengan janji saling menjaga hati. Selama Livi berada di Jogja setiap ada kesempatan luang, pasti dia selalu menyempatkan berkomunikasi dengan Farhan. Lambat laun mereka sudah mulai terbiasa dengan hanya berkomunikasi secara intens.
Semua berjalan dengan baik, sampai suatu hari ayah dan bundanya membicarakan masalah perjodohan dwngannya. Tentu saja Farhan menolak, dia sangat mencintai Livia dan menurut Farhan hanya Livi satu-satunya cinta dalam hidupnya. Dia tidak akan menerima apapun itu, harga dirinya sangat jatuh mendengar kata perjodohan.
'Memangnya aku sejelek itu apa? Sampai harus dijodohkan segala! Mereka yang diaturkan jodoh, biasanya adalah golongan yang tidak laku. Diluar sana tidak ada perempuan yang sanggup menerima cintanya. Tapi aku beda, aku punya Livi bahkan dia mencintaiku lebih dari yang kuberikan untuknya' gerutu Farhan dalam hatinya.
"Katakan apa alasanmu menolak perjodohan ini Nak?" Andiramengajak putranya berkomunikasi, agar menemukan titik tengah.
"Bun, aku tidak ingin di jodohkan. Aku masih mampu kalau hanya sekedar mencari pasangan. Terus calon yang kalian pilihkan untuk aku, belum tentu juga aku menyukainya atau dia bisa saja sudah memiliki kekasih. Bunda jangan bilang dia belum punya kekasih itu artinya dia tidak laku. Bunda tega melemparkan anak satu-satunya kepada wanita jelek" Jeweran tangan Andira mendarat di telinga Farhan.
"Aduh bunda apaan sih, aku bukan anak kecil lagi loh, masa bunda main jewer"
Farhan memegang daun telinganya yang baru saja dikikis oleh tangan bundanya.
"Kamu mengaku dewasa tapi masih saja berfikiran remaja labil, malu tuh sama jambang" Lagi-lagi sang bunda menoel kepalanya.
"Asal kamu tahu Nak, calon istri yang telah kami siapkan untukmu adalah yang terbaik. Bunda yakin setelah kamu melihatnya kamu pasti langsung jatuh hati padanya" Andira menyunggingkan sebuah senyum, sebagai bentuk meyakinkan untuk putranya.
"Bun aku jujur sama bunda, aku sebenarnya sudah punya kekasih. Hubungan kami sudah berjalan selama satu tahun lebih, aku nggak mungkin ninggalin dia. Dia yang selama ini bersamaku, aneh kan tiba-tiba saja aku harus nikah sama orang lain. Ini nggak adil bun untuk Livi"
"Jadi namanya Livi, apa kamu yakin dia yang terbaik untukmu?"
Andira mencoba meyakinkan Farhan sekali lagi.
"Harus yakin bunda, hanya dia yang bisa ngertiin aku selama ini. Jadi stop mengatur perjodohan ini lagi, please yah Bun, bilang sama ayah" Farhan menangkup kedua tangan di hadapan wajahnya, memohon kepada sang bunda agar melobi ayahnya yang tetap kekeh atas keputusan sepihkanya.
"Baiklah, bunda akan bicarakan sama ayah tentang alasan kamu ini. Tapi Bunda tidak bisa menjanjikan bahwa ayah akan setuju dengan pilihan kamu saat ini. Bunda akan berusaha menjadi penengah kalian, Bunda juga ingin melihat anak bunda bahagia"
***
Sudah berminggu-minggu sejak pembicaraannya dengan sang ibu dirumahnya. Farhan memang sudah memiliki rumah pribadi. Bundanya sengaja datang padanya hari itu untuk berbicara dari hati ke hati.
'Datang lah kerumah sebentar malam nak, ayahmu ingin membicarakan sesuatu'.
Farhan melemparkan handphonenya disembarang tempat setelah membaca pesan dari bundanya. Apalagi yang akan mereka bahas selain perjodohan, Farhan yakin bundanya gagal meyakinkan ayahnya. Mengingat sang ayah cukup keras jika menyangkut keinginan kakek, perjodohan ini sudah diatur oleh kakek sejak Farhan masih kecil.
"Assalamu alaikum Bun"
Sapa Farhan saat Andira menyambut kedatangannya di depan pintu.
"Waalaikumsalam nak, bunda sangat senang kamu datang. Ayah sudah menunggumu di meja makan, makanlah dulu baru kita bicarakan semua dengan baik."
Mereka kemudian berpelukan sesaat, lalu Farhan menggandeng tangan sang ibu memasuki ruangan.
Mereka makan dalam suasana tegang. Hanya Andira yang sering berceloteh sedang kedua pria yang juga berada dalam satu meja itu tetap memilih bungkam, meski senyum dan tawa masih menyertai wajahnya.
''Sudahlah! Bunda juga akan diam, dari pada ngoceh sendiri seolah kalian mendengar suara dari radio yang sudah rusak'' Keluh Andira kemudian melanjutkan makannya.
Makan malam sudha berakhir, Andira meminta Farhan bergabung dengan ayahnya di ruang keluarga. Sejenak masing-masing tetap bergeming, hingga Daniel memulai pembicaraan.
"Ayah sudah mengatur pertemuanmu dengan Key akhir pekan ini" Daniel langsung menikam Farhan di titik kelemahannya. Sekilas Farhan melirik ke arah Andira yang memberinya kode melalui kedipan mata. Farhan mengerti bahwa sang bunda pasti menginginkan dirinya menuruti ucapan ayah.
" Ingatkan aku nantinya menuntut alasan bunda melakukan ini, padahal aku sangat berharap bunda akan merayu ayah agar perjodohan ini tidak dilanjutkan."
"Baik ayah" ucapnya tanpa bantahan.
"Baguslah ayah berharap kamu tidak akan melakukan hal yang akan membuat kami kecewa padamu"
Kata-kata penekanan yang diucapkan Daniel bagai petir di siang hari. Semua kenangan indahnya bersama Livia, menari dan berputar di sudut matanya. Di saat seperti ini, dirinya merindukan kehadiran sang kekasih.
***
"Bun coba bunda jelaskan apa yang terjadi jika Farhan tidak melaksanakan perjodohan ini" Farhan terlihat sangat kacau.
"Maafkan bunda nak, bunda tidak memberitahukan ayahmu mengenai Livia karna ayah lebih dulu mengemukakan alasan yang sangat kuat. Hingga bunda juga berfikiran bahwa kamu tidak punya pilihan lain Nak, selain menerima perjodohan tersebut"
Farhan menjadi pendengar ketika Bundanya bercerita panjang lebar dari awal mula kisah kakek yang akhirnya memiliki hubungan dengan keluarga calon jodohnya.
Farhan sangat terharu akan kisah tersebut. Kakeknya ternyata memiliki Utang uang, utang jasa dan utang budi yang sangat besar di keluarga tersebut. Hingga saat ini, semua belum terbayar. Justru mereka mengikhlaskan utang kakek dan memberi kakek modal untuk memulai bisnis, hingga bisnis yang kakeknya jalani berkembang cukup pesat kemudian terbentuklah perusahaan yang masih terkelola sampai sekarang. Wijaya group yang sudah memiliki anak cabang dibeberapa kota besar. Sampai kapan pun mereka akan tetap berutang jasa pada keluarga tersebut, dari situlah kakeknya merencanakan perjodohan ini.
Seperti kata bundanya tidak ada pilihan lain untuk Farhan, selain menerima perjodohan ini. Ia menerimanya tapi dalam hati tidak untuk melepas Livia seperti permintaan Bundanya waktu itu. Farhan sudah menerima apapun yang dikehendaki oleh ayahnya, dan ia merasa masih berhak juga menentukan jalannya tanpa merusak rencana kedua orang tuanya. Hingga saat ini dirinya masih tetap merahasiakan pada Livi tentang perjodohan itu, menurutnya Livi tidak perlu tahu karna ia berencana setelah Livi kembali dirinya akan mengajukan perceraian dan menikahi pujaan hatinya , hanya Livia perempuan yang ia cintai.
Andira memang memintanya memutus komunikasi dengan Livi agar fokus di perjodohan ini. Farhan hanya menuruti agar ibunya tidak terlalu banyak fikir. Padahal kalau sudah sampai dirumah, ia akan menghabiskan banyak waktu sekedar saling melepas rindu via panggilan video, bahkan tidak jarang sampai tertidur ketika sambungan telepon masih berlangsung.
Biarkan semua seperti ini saja sampai masanya akan indah. Begitulah kalimat yang selalu terucap dalam hatinya.
'Maafkan aku Vi, aku bukannya mau mengingkari kebersamaan yang kita lalui selama ini. Ini kulakukan untuk kakek. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan bahagia sampai aku hanya bersamamu. Disaat kamu sudah kembali aku akan berpisah dengannya dan kita akan bahagia bersama. Biarlah aku yang mengatur semuanya, kamu cukup bahagia saja disana'. Aku merindukanmu sayang. Farhan mengecup gambar Livia yang menjadi screen layar handphonenya.
***
Hari ini Daniel meminta agar putranya ikut kerumah keluarga yang akan dijodohkan dengannya. Sebenarnya Farhan malas menyebutkan namanya, jadi biarkan saja ia terus menyebutnya jodoh yang tidak dia inginkan. Farhan terlihat sudah sampai pada alamat yang dikirimkan ayahnya tadi. Ayahnya memang berangkat lebih awal karena lokasi tempat tinggal mereka yang berbeda, itu sebabnya tidak terlihat berangkat bersama.
Farhan memandangi semua yang ada di sekitar rumah tersebut setelah memarkirkan mobil tepat di samping mobil ayahnya. Halamannya sangat luas begitupun rumahnya besar dan megah.
'Rumah sebesar ini penghuninya ada berapa orang yah? Nggak pernah kebayang aku tinggal di rumah sebesar ini.' Batin Farhan bergidik ngeri.
"Ayah aku sudah diluar". Farhan menelpon ayahnya. Ia kemudian berjalan menuju pintu utama sesuai yang dititahkan oleh Daniel via telepon barusan.
Farhan mematikan panggilan saat pintu terbuka lebar untuknya. Ia melangkahkan kakinya masuk.
'Subehanallah rumah ini bahkan empat kali lipat lebih besar dari yang ayah miliki. Apa tidak salah mereka memilihkan jodoh untuk putrinya dari keluarga yang seperti kami.'
"Sini nak, makan dulu" Seorang perempuan seumuran bundanya mempersilahkan dirinya ke meja makan.
"Terimaksih Bu, nanti saja kebetulan tadi saya sudah sarapan sedikit di rumah"
Mereka akhirnya mengobrol di ruang tamu yang cukup luas, bagaimana tidak ruang tamu tersebut seluas aula yang biasa mereka gunakan untuk meeting dengan banyak klien.
"Oh yah Pak Andi kenalkan ini putra kami Farhan" ucap Pak Daniel seraya memperkenalkan putranya kepada keluarga calon besannya.
Terlihat Andira memberi kode dengan senyuman. Farhan segera beranjak dari tempat duduk dan menghampiri pasangan tersebut dan menjabat tangannya tidak lupa ia juga mencium tangan mereka.Hal yang selalu diajarkan bundanya sejak ia masih kecil agar tetap patuh dan sopan pada orang yang lebih tua.
Ia merasakan belaian lembut di pucuk kepalanya ketika mencium tangan perempuan seumuran bundanya. Farhan mengakui jika pada saat itu hatinya sedikit berdesir.
"Perkenalkan juga, kami orang tua Chaira yang akan dijodohkan denganmu. Kamu bisa panggil Papa dan ini istri papa namanya Mama indaryanti."
"Terimakasih, saya senang mengenal Papa dan Mama" jawab Farhan dengan sopan..
'Tidak kusangka keluarga ini sangat terbuka menerima kami. Yang ada dalam bayanganku sebelumnya, mereka akan bertingkah dengan sombongnya. Tapi itu tidak aku dapat setelah mengenalnya beberapa jam yang lalu. Kami juga sempat shalat berjamaah bersama di Mushallah yang tersedia di dalam rumah tersebut. Aku sekali lagi salut pada keluarga ini, sudah kaya tapi mereka tidak melupakan kewajibannya pada Tuhan. Mungkin karna ibadahnya yang taat, rezekinya selalu dimudahkan.' Fikir Farhan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri.
"Ma panggilkan Chaira turun kesini kita makan. Ini sudah jam makan siang" terdengar suara Pak Andi memberi perintah pada istrinya. Yang membuat Farhan tersadar dari lamunannya.
Tampak Indar sudah berlalu, nmaun beberapa saat dia pun kembali terlihat menuruni tangga kemudian mempersilahkan semua tamunya ke meja makan.
'Dimana Chaira yang akan dijodohkan denganku, kenapa dia tidak turun, apa dia menolak perjodohan ini?' Farhan merasakan hatinya kecewa disaat memikirkan perempuan itu menolak dijodohkan dengannya.
'Wahh aku merasa sangat terhina jika ini sampai terjadi. Aku yang sudah ganteng dan gagah sejak lahir. Tidak kuijinkan seseorang menginjak harga diriku dengan menolakku. Awas saja, akan kubuat perhitungan dengannya.' Farhan terus meracau dalam hatinya.
'Bukankah kalau dia menolak ini justru bagus buatku, maka aku akan bebas berhubungan dengan Liviaku'
'beginilah hati dan fikiranku yang sudah berseberangan jalan. Bahkan mataku belum melihat rupa jodohku mereka sudah berperang duluan.' Farhan berdecih melempar senyuman bodohnya. Ia terus mengenyahkan fikirannya yang sudah menghianatinya.
"Key mana Ma" Papa Andi bertanya disela makan bersama. Aneka hidangan lezat sudah tersaji, Semua melahapnya dengan nikmat.
"Waktu mama ke atas dia sedang bersiap untuk melaksanakan shalat. Key akan turun setelahnya. Mama sudah memberitahunya tadi"
'Mereka tampan dan cantik, pasti anaknya adalah bibit unggul yang diwariskan oleh orang tuanya. Tadi aku sedikit mendengar pembahasan tentang Chaira dia anak bungsu dari dua bersaudara. Mereka terlahir kembar dan sang kakak baru saja menikah beberapa bulan yang lalu dan menetap di Jakarta mengikuti suaminya yang bekerja disana.' Farhan mengangguk anggukkan kepalanya mengulang setiap kata yang ia sempat dengar tadi di dalam hatinya.
"Key sini Nak, disamping mama"
Farhan segera mengangkat wajah setelah mendengar Mama Indar bersuara. Farhan gugup ketika wanita tersebut menarik kursi kosong yang berada tepat dihadapannya.
Wajah Farhan bahkan enggan menoleh ketika matanya menatap gadis tersebut.
'Benar kata mama aku akan jatuh hati setelah melihatnya pertama kali.'
Farhan merasakan tendangan kecil dikakinya, ia melirik kebawah melihat kaki bundanya yang sengaja menendang. Ia menundukkan pandangannya, malu sekali rasanya seperti kepergok mencuri sesuatu saja.
Setelah makan mereka pun melangkah keruang keluarga. Disini terlihat lebih santai, ada sofa dan karpet terbentang jika ingin duduk melantai. Farhan melirik ke arah Key yang dari tadi hanya menunduk. Ia memilih duduk di sofa sambil menyandarkan pungggungnya. Kedua orang tua mereka berbincang- bincang di ruang tamu. Mereka memberi kesempatan untuk berbicara tapi Farhan melihat Key yang seolah enggan berlama-lama dengannya.
Melihat respon Key, membuag Farhan merasa di acuhkan. Perempuan pertama yang mengabaikan keberadaannya adalah Key.
"Dia anggap aku apa? Apa dia mengira aku poster pajangan yang menakutkan sampai dia lebih memilih tunduk memainkan karpet bulu ketimbang mengajakku berbicara" ucap Farhan dalam hati.
"Hai, kenalkan namaku Farhan" Ia mencoba mencairkan suasana dengan memperkenalkan diri.
"Aku sudah tahu. Kamu pasti sudah tahu namaku juga, mama dan papaku pasti sudha bercerita banyak mengenaiku" Jawabnya lalu mengangkat wajahnya melihat manik mata yang juga memandang kepadanya. Pandangan mereka saling bertemu, Key memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain..
Hanya seperti itu lalu mereka terlihat diam lagi, bedanya sekarang Key tidak lagi menunduk. Tapi menatap pada layar TELEVISI yang terpampang di depan mereka.
Lama keduanya saling diam, di antara mereka tampak kehilangan kata untuk memecah keheningan yang tersaji. Hanya Farhan yang menatap wajah Key dari samping, hidung mancung
dan bola mata hitamnya yang besar, seperti boneka hidup. Kedipan matanya sesaat terlihay berat karena bulu matanya yang lebat dan panjang. Persis boneka yang sering terpajang di Mall.
'Sangat cantik, ini lebih dari kata cantik. Polesan make up naturalnya menambah elegan penampilannya' Ucapnya dalam hati. Ia terlihat tidak bosan memandangi wajah tersebut dengan tatapan memuja.
Farhan akhirnya pamit pulang setelah merasa tidak ada lagi yang perlu mereka bahas, ayah dan bundanya juga sudah pamit beberapa saat yang lalu. Ia pun memutuskan kembali ke rumahnya untuk beristirahat.
'Aku yakin kalau aku ke rumah bunda, pasti bunda akan mengungkit kejadian aku melongo memandangi wajah Key tadi. Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa mengendalikan mataku saat melihatnya pertama kali.'