Bukan pernikahan Impian Pov Chaira

1682 Kata
Setelah pertemuan dua bulan yang lalu, tibalah hari ini. Hari yang paling tidak aku inginkan. Impian kecilku disaat masih remaja, menikah sekali seumur hidup bersama orang yang kucintai. Merayakan pesta meriah. Berbagi rasa bahagia bersama teman, kerabat dan sahabat harus pupus. Pernikahan ala princess disney selalu menjadi impianku. Salahkan aku yang bermimpi terlalu tinggi hingga lupa bahwa aku bisa saja terjatuh. Suara lantang Papa dan Farhan mengucap ijab kabul disaksikan keluarga membuatku menitikkan air mata. Kakakku mengusap lenganku dengan lembut memberikan ketenangan untukku. "santai aja Dek, Mbak juga lalu tegang begitu. Nggak usah nangis toh, ini awal kamu menjemput bahagiamu" Mbak Priyanti memang sudah menikah beberapa bulan yang lalu dan sekarang dia sedang mengandung buah cinta bersama suaminya. Aku menggenggam tangan mbak Priya saat mempelai pria di tuntun memasuki kamar. Farhan sangat gagah dengan tuksedo abu-abu yang dipakainya serasi dengan gaun putih kombinasi abu yang kukenakan. Farhan memasang dua buah cincin berlian di Jariku. Tidak ada pesta meriah seperti pernikahan impianku, yang ada hanya proses ijab kabul saja setelah itu makan bersama sebagai bentuk syukur kami sekeluarga atas bersatunya kedua belah keluarga. Ini adalah pertemuan keduaku dengan Farhan, setelah hari itu kami diperkenalkan. Aku tidak buta, hari ini aku mengakui penampilannya cukup menawan dan sangat berkharisma. Mbak Priya sempat menggodaku saat aku tidak berkedip memandanginya tadi. ''Tahan dulu pandangannya, masih banyak orang disekitar sini. Kalian sudah halal, tapi masih banyak keluarga di sini. Kalau kalian berdua di kamar, baru lanjutkan sepuasmu" Mbak Priya berlalu setelah berhasil membuat wajahku memerah akibat kalimat bisikannya. Kenapa aku terpesona dengannya, sedang aku sudah berusaha untuk mengenyahkan keberadaannya. Maksudku bukan ingin membencinya tapi untuk menjaga hatiku agar tidak jatuh pada orang yang salah. Aku tahu, pernikahan ini terpaksa untuknya begitupun denganki. Kami tidak memiliki pilihan untuk menolak. Setelah makan bersama, kami melakukan sesi foto bersama keluarga besar yang hadir. Sebisa mungkin aku mengusahakan mengeluarkan senyum manisku, ini adalah hari pernikahanku tapi mengapa rasanya seperti aku sedang berduka. "Maafkan aku Khairul aku sudah melupakan semua janji kita. Semoga kamu mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku. Maafkan aku yang tidak mampu melawan kehendak orang tuaku. Kamu boleh membenciku kalau sudah mengetahui tentang pernikahanku kelak. Tapi biarkan namamu kusimpan dalam hatiku" 'Ya Allah ampuni hamba, yang merindukan pria lain dihari pernikahannya.' Aku menghapus jejak air mataku. Sekelebat bayangan terakhir kali aku bertemu dengan Khairul, silih berganti mengganggu pandanganku. Rasa sesak didadaku tidak mampu kutahan, aku membenamkan wajahku di bawah bantal mengeluarkan tangisku, meluapkan segala emosi yang selama ini bergejolak. Biarkan saja Farhan melihatnya, aku tidak perduli apapun saat ini. Biarkan aku mengeluarkan air mata ini hingga kering, karena esok akan kusambut matahari dengan senyum tidak kalah cerahnya. Biarkan lukaku kering malam ini agar esok aku bisa merasakan kelegaan. ***** Aku terbangun dipagi hari, sudah menjadi kebiasaanku terbangun sebelum shalat subuh. Aku beranjak dari tempat tidurku, melangkahkan kaki seperti biasa. Aku hampir saja berteriak saat melihat sofa yang berada di sudut kamarku, ada yang menghuninya. Setelah kesadaranku kembali aku melanjutkan langkahku menuju kamar mandi membersihkan diri lalu mengambil wudhu dan shalat. Aku bingung apa aku harus membangunkan Farhan atau cukup membiarkannya saja. Kuberanikan diri menepuk pelan bahunya agar dia terbangun tapi dia tidak bergerak sama sekali. Karena tidak ingin waktu shalat terlewatkan, aku segera menggelar sejadah lalu melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat aku melihat dia sudah terbangun dan bersiap untuk melaksanakan shalat juga. Aku turun kedapur mengambil minum dan sepotong roti lalu membawanya ke kamarku. Aku mendapati Farhan sudah selesai shalat dan kembali berbaring di sofa. "Kamu bisa menempati tempat tidurku" aku mencoba mengajaknya berbicara. Karena sejak kemarin aku berusaha terus memghindarinya. Aku sadar jika tidak mungkin selamanya aku menghindar darinya, karena dia sudah menjadi suamiku. "aku disini saja" ucapnya tanpa memalingkan pandangannya kearahku. 'Ya Allah akan kemana rumah tanggaku ini bermuara, jika para pendayungnya tidak sejalan. Apakah akan terombamg ambing di tengah laut, lalu tenggelam sampai ke dasar terdalam?' "aku ingin kita membuat kesepakatan " Farhan bersuara memecah kesunyian diantara kami. " Kesepakatan? Kesepakatan apa? Aku tidak mengerti." "Aku tau kamu tidak menginginkan pernikahan ini, akupun sama. Aku memiliki kekasih dan karena pernikahan sialan ini aku menghianati kekasihku" "Jangan mengatakan pernikahan ini sialan. Pernikahan itu sakral dan pernikahan yang kita jalani sah dimata agama, hukum dan negara. Aku memang menentang perjodohan ini tapi aku tidak pernah mengutuk hubungan kita. Pernikahan ini tidak salah tapi tujuan kitalah yang tidak benar, jadi aku mohon padamu berhentilah mengatakan hal beruk tentang hubungan ini". "Aku ingin kita berpisah setelah dua tahun dengan alasan kita tidak bisa memperoleh keturunan" Ucapnya tanpa mempedulikan kata-kataku. "Kenapa harus menunggu selama dua tahun, kamu bisa menolaknya sebelum pernikahan ini terjadi" Ucapku dengan nada bergetar. Baru kemarin statusku resmi menjadi seorang istri, sekarang suamiku bahkan sudah berencana untuk menceraikanku. 'Malang sekali nasibku bukan?' Batinku. "seperti yang kamu lakukan, aku pun tidak punya pilihan selain menerima. Jadi jangan pernah terlalu berharap lebih atas hubungan ini. Dan satu lagi aku tidak bisa tinggal dirumah ini lama-lama. Jika kamu mau, kamu bisa ikut tinggal dirumahku." Tentu saja aku mengikuti semua kemauan suamiku. Meski minim ilmu agama, aku cukup tahu jika seorang wanita yang sudah menikah adalah milik suaminya karna orang tuanya sudah menyerahkan tanggung jawab penuh kepadanya. Jika ingin mengharap surga maka aku harus patuh sama suami. Seperti yang diinginkan Farhan, kami pindah kerumahnya. Rumah bertingkat kalau dilihat dari luar sangat indah, imut dan tampak minimalis. Disini kami menempati kamar yang berbeda tapi masih di lantai yang sama. Ya Allah ampuni hamba yang tidak bisa menjadi istri yang baik . Bukan maksud hamba untuk mempermainkan pernikahan ini. Hamba akan tetap berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Farhan mempekerjakan Bibi Sumi dengan suaminya di rumah ini. Mereka tidak tinggal bersama kami, jika pekerjaan mereka sudah selesai mereka akan pulang dan kembali esok hari. Sampai saat ini kami masih lebih banyak diam jika bersama. Meskipun Farhan melarangku melakukan apapun untuknya tetap aku melakukannya. Karna sudah menjadi kewajibanku melayaninya.Tidak banyak yang kulakukan hanya menyiapkan makanan yang sudah di masak oleh bibi karna aku tidak tau urusan masak memasak. Lagipula aku takut Farhan tidak menyukai masakan yang kubuat nantinya. Aku melangkahkan kakiku mengetuk pintu kamarnya pagi ini. "aku sudah menyiapkan sarapan, kamu harus sarapan sebelum bekerja" Dia hanya mengangguk saja, aku membalikkan badan menuruni anak tangga lalu menunggunya di meja makan. Saat melihatnya turun dengan setelan kerjanya, aku berharap dia menghampiri meja makan dulu. Tapi ternyata aku salah. Dia sama sekali tidak menoleh bahkan seketika itu dia berlalu. 'Pria dingin yang egois' itulah nama belakang yang kusematkan lagi padanya. *** Aku masuk ke kamarku setelah menikmati sarapanku seorang diri. Kami sudah hampir satu tahun menjalani pernikahan. Seperti biasa tidak ada yang berubah dari hubungan kami. Dia tetap menjadi pria dingin yang minim suara. 'Ya pada saat dia berkomunikasi dengan seorang perempuan yang aku tidak mengetahui sama sekali siapaa perempuan itu, maka dia akan menjadi sosok yang sangat lembut dan perhatian'. Selama ini Farhan sering berkomunikasi dengan perempuan bahkan dihadapanku dia tidak segan memamerkan kemesraannya lewat telepon. Terkadang aku sedikit geli mendengar obrolan mereka yang melewati batas kewajaran. *** Di belahan bumi yang jauh disana nampak seorang pria yang sangat resah. Bagaimana tidak dia tidak bisa berkomunikasi sama sekali dengan pujaan hatinya. Dari sekian banyak pesan yang dia kirimkan tidak satupun yang terkirim bahkan untuk menelponnya langsung pun tidak bisa. Sudah hampir tujuh bulan ini dia tidak mendengar kabar dari Key, jujur Khairul sangat merindukannya. Kabar terakhir yang dia dengar dari sahabatnya yang mengatakan Key sudah menikah dengan pengusaha sukses. Kabar tersebut, sukses juga memporak-porandakan hatinya. Khairul merasa sangat sakit. Manakala dia ingin mengetahui kabar langsung dari Key tapi tidak bisa berkomunikasi sama sekali. Ingin sekali rasanya dia langsung mendatangi wanita tersebut dan meminta penjelasan atas apa yang telah terjadi di antara mereka. Kenapa Key sangat tega mengkhianatinya. 'Mana janji yang pernah kita ucapkan Key? Katanya kamu akan menungguku!' 'Hanya sebatas ini kah rasa yang kamu katakan sangat mencintaiku'. 'Aku tau kita memang berbeda, aku memang sulit untuk menggapaimu, akulah yang salah telah memimpikan dirimu terlalu tinggi'. 'aku akan mengikhlaskanmu Key semoga kamu bahagia dengan pilihanmu' Khairul menitikkan air matanya mencoba untuk menerima apapun yang telah terjadi. Manusia hanya mampu berencana, tapi kembali lagi Tuhanlah yang menakdirkan semuanya. "Ketika seseorang hadir dalam hidup kita, bukan berarti dia akan selalu bersama kita. Kadang kita lupa, boleh jadi tujuan terbesarnya adalah agar kita belajar dari hal yang paling menyakitkan dan menyenangkan setelah dia memilih pergi." Khairul memasrahkan semuanya, mungkin niatnya selama ini yang salah. Makanya dia sekarang memperbaiki tujuannya. 'Aku akan fokus untuk kebahagiaan orang tuaku, ayah dan ibu maafkan aku yang mungkin mengabaikan kalian, aku lupa akan perjuangan kalian, disaat aku mengejar larut dalam obsesiku untuk mendapatkan wanita yang kucintai. Harusnya aku lebih mementingkan kalian diatas segalanya'. Sambungan teleponnya diangkat diseberang sana. "Assalamualaikum " "Waalaikumussalam. Bagaimana kabar Bapak sama ibu" "Alhamdulillah Nak, kamu apa kabar kenapa lama sekali baru memberi kabar?Ibumu sakit-sakitan memikirakan dirimu. Pulanglah Nak kami sangat merindukanmu". Khairul sangat menyesal atas sikapnya yang terlalu ambisius selama ini, hingga melewatkan waktu untuk memberi kabar pada orang yang sepenuhnya tulus berdoa untuk kebahagiaannya. Bukan dia tidak menyayangi orang tuanya tapi dia terlalu fokus bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi uang agar bisa bersama Key secepatnya. "Aku akan pulang Pak, tapi tunggu dua tahun lagi, Bapak dan ibu tetap jaga kesehatan. Aku akan bekerja dengan baik disini agar kita bisa hidup dengan layak" "Kamu juga jaga kesehatan yah nak disana" "Ibu mana Pak, Aku mau bicara dengan ibu" Tidak lama kemudian suara Ibunya terdengar menangis. "Ibu jangan menangis aku punya sesuatu untuk ibu". "Ibu tidak peduli Nak, Ibu hanya ingin melihatmu". "Ibu jangan begini. Doakan saja anakmu disini, kita akan bertemu InshaAllah tidak lama lagi. Oh yah, Ibu aku akan mengirim uang. Ibu bisa memakainya membangun rumah impian Ibu, kalau bisa Ibu beli tanah sekalian di kota seperti impian ibu selama ini". "Apa uangmu sudah banyak Nak?" "Untuk Ibuku, apa sih yang tidak. Tunggu yah bu setelah ini aku akan mengirimkannya. Ibu yang sehat disana" "Wassalamualaikum" "Waalaikummusalam warahmatullah wabarakatuh" Setelah panggilan berakhir, Khairul mengirim semua uang yang ia miliki. Tabungannya dua tahun terakhir ini sudah lumayan, sengaja ia kumpulkan untuk menunaikan janjinya kepada Chaira. Namun takdir berkata lain, tapi Chairul yakin ada maksud lain dari kepergian Chaira di hidupnya. Semua kepahitan yang terjadi memiliki sisi baik, dengan sakit ditinggal menikah oleh Key membuatnya kembali pada orang tua. Allah memberinya teguran atas kesalahannya berharap pada Manusia, yang sejatinya hanya mendapatkan kekecewaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN